Unschooling Berijasah

Biar nggak penasaran, mari saya bisiki kegiatan Sofia selama nyaris 6 tahun nggak sekolah.

  1. Les piano cuma 3 bulan. Berhenti karena nggak cocok dengan yang diajarkan. Pengajarnya biasa ngajarin eskul anak sekolah, sih. Lalu uang les dikumpulin buat beli keyboard dan sofi sekarang malah sudah bisa main Fur Elise dan sedang ngapalin, Turkish March. Untuk lagu-lagu populer, sambil lihat notnya dia bisa langsung mainin. Alhamdulillah.
  2. Les renang. Hanya 2 atau 3 bulan saja. Setelah anaknya bisa renang lalu berhenti, karena dia nggak cocok berlama-lama di dalam air kolam. Padahal anaknya seneng banget berenang (hiks)
  3. Les bahasa Inggris level pertama, setelah 2 tahun berhenti karena jadwal bentrok dengan les taekwondo.
  4. Taekwondo 2 tahun. Berhenti karena diam-diam dia diet ketat mengurangi makan. Baru tahu ternyata modusnya biar kurus, biar ngga di-sparing sama anak yang lebih berat dari dia. Secara bodi tinggi tapi hati bayi. Alasan lainnya pelatihnya melanggar “aturan” keselamatan. Hag dez! Karena tingginya dia sering di-sparing sama anak cowok lagi! Tahu sendiri, anak-anak cowok agresif banget tendangannya, Sofia pernah ketendang kepala. Memang nggak sengaja tapi bikin pusing. Jadinya anakku kutilang (kurus tinggiiii langsiiiing) banget, hiks. Dia sendiri jadi tidak berminat dengan olahraga adu fisik.
  5. Ikut english club. Bertahan 1 tahun lalu berhenti karena ikut yang junior pesertanya kecil-kecil unyu-unyu trus jauh di bawah level Sofia tingkat pelajarannya. Kalo ikut yang kelas dewasa dia jengah dengan guyonan-guyonan orang dewasa. Ikut junior ketinggian, ikut senior keriwehan.

Setelah itu kembali ngendon di rumah. Dan kegiatannya antara lain:

  • Puas-puasin baca buku, ke perpustakaan, baca buku yang lain, baca buku lagi, pokoknya semua buku yang menarik baginya dia baca, bahkan ada yang diulang-ulang dan diulang lagi. Sekutu-buku dengan ayahnya, lah, nggak takut sama yang namanya buku tebal. Seluruh serial Harry Potter saja dibaca khatam nggak sampai 2 minggu. Setelah itu sering banget diulang-ulang, hihihi.
  • IXL-an (matematika online) hanya setahun lalu tidak diperpanjang. Kemudian belajar matematika dari buku Cambridge. Belajar biologi dari buku Cambridge.
  • Menggambar, melamun, bikin komik, melamun, nggambar lagi, melamun, dan mengambar lagi. Jadinya nggambarnya makin jago dan makin detil juga lebih spesifik di gambar strip. Saya paling suka kalau dia gambar sebuah ruangan atau bangunan dengan segala pernak-perniknya. Dia pernah bilang, “Aku tuh kalo lagi marah, kesel, sebel gitu gitu, trus nggambar langsung hilang perasaan itu lho, Mah.” Saya jawab,”E bagus itu! Itu namanya kamu sudah menemukan self healing sendiri. Kan orang marah memang sebaiknya melampiaskannya dengan cara-cara yang bagus. Setidaknya tidak menyakiti dirinya sendiri.” Bisa dibilang bakatnya mulai terlihat mengerucut ke dunia yang berhubungan dengan gambar menggambar.
  • Crafting, melamun, jahit, melamun, ngrajut.
  • Ngerjain pekerjaan rumah, nonton tv, instagraman, ngegame minecraft, ngegame yang lain, ngaji, melamun.
  • Main sama adik, marahan sama adik, ngajarin adik, ngomelin adik, kejar-kejaran sama adik, ngambeg, main lego, nulis, ngobrol apa aja sama mama/ayah, sholat berjamaah, makan bersama 1 meja, english time, belajar investasi.
  • Sering diajak ke sana, pergi ke sini, touring, travelling, tidur, olahraga, maen ke temen sesama HS, ke pantai, ke alun-alun, ke pasar, ke warung, ke PDAM, ke kantor pos, ke kantor pajak, ke museum, ke kebon binatang, ke Singapur, ke Chiang Mai dan Bangkok, Thailand, ke rumah embah, ke rumah eyang, ke Jakarta, Malang, ke mall, pergi ke Solo, Yogya, Magelang, Jombang, Lampung, hingga Palembang. Dan lain-lain dan sebagainya.

Hingga….

Pada suatu masa emaknya tergoda dengan pendaftaran masal NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) untuk anak-anak homeschooling via teman-teman di grup PHI. Toh syaratnya gampang ini. Rayu saya pada suami. Setelah berdiskusi sedemikian rupa, kami ikutan. Lalu terlupakan.

Tiba-tiba ortu temen yang sama-sama HS ngasih kabar kalo Sofia dapet KIP! Asyiiiiiik…. Makasih pak Jokowii… yeay!

Tapi, keriaan kami meleret dengan pertanyaan kami sendiri. Jadi kami dianggap kurang mampu atau putus sekolah, ya? Padahal alasan kami nggak-sekolah bukan karena itu. Kami merasa tak nyaman dengan KIP ini, pinginnya dikembalikan saja. Lalu kami menghubungi langsung pihak Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) yang menaungi kami. Sejak itu kami berkomunikasi aktif dengan mereka.

Ternyata semua anak pesekolahrumah yang terdaftar di PKBM berhak dapat Kartu Indonesia Pintar itu. Nggak pandang bulu. Mau si anak dari keluarga berbulu ayam maupun berbulu panda. Pokoknya semua dapat.

Selama kami berkomunikasi dengan pihak PKBM, kami mendapatkan info-info terkini, misal:

  • Anak HS wajib merapat ke PKBM.
  • Anak HS sekarang mendapat no. NISN yang sama dengan anak sekolah pada umumnya. Jadi, John..selama ini anak HS tuh dikucilkan dengan diterbitkan no. NISN tersendiri gitu, bro. Awesome deh pak Jokowi dalam penerapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia-nya (week). Kok saya punya firasat, sinyal membangun SDM di periode ke-2 itu sepertinya doi mau mereformasi pendidikan di Indonesia. Saya paham dengan faktor prioritas dalam membangun negara.  Semoga ya Allah…semoga mestakung. Aamiiin.
  • Ijasah ujian paket A harus berumur 3 tahun kalau mau mengambil ujian paket B, demikian juga paket C. Jadi kalau ujian paket A th 2018, anak harus nunggu th 2021 agar bisa ambil paket B. Begitu seterusnya. Jadi ngga boleh lagi akselerasi th ini paket A tahun depan paket B tahun depannya lagi paket C.
  • Karena poin terakhir di atas, pihak PKBM yang baik hati ini meyakinkan kami agar kalo anaknya sudah masuk usia kelas 6, lebih baik diikutkan saja. Itu hak anak. Padahal lhoo kami membidik ujian Cambridge. Dilema.

Mau nggak mau kami harus menggelar sidang Dewan Istimewa yang bertempat di ruang oval (meja makan kami bentuknya oval). Yang hadir adalah saya, suami, Sofia, dan Sonia sebagai pihak penggembira, dan tak kalah heboh, nyamuk (ruang makan memang terbuka, pisang di gantungin aja dimakan codot).

Seperti biasa kami selaku pihak yang dituakan mengungkapkan fakta-fakta. Lalu bertanya pada Sofia, menurut kamu gimana? Setelah dipertimbangkan segala hal—terutama kesedian Sofia, toh dia yang mau peres otak buat belajar, kan?—maka diputuskan untuk ikut ujian paket A.

Yang disayangkan oleh Sofia, nanti ujiannya ngga ada bahasa inggrisnya, ish. Yang disayangkan ortunya, dia terlanjur masuk madrasah sore sebulan yang lalu. Apalagi di madrasah buku pelajarannya arab pegon! Ck ck ck…emak bapaknya aja belum pernah. Etapi dikit-dikit bisalah…apalagi belajar bareng Sofia, hehe.

Begitulah kawan, detik-detik menuju hari-H kian mendekat. Melihat Sofia pindah kesibukan dari yang biasanya sibuk melamum jadi sibuk belajar untuk Paket A plus madrasah di sore harinya, saya merasa kasihan. Lalu saya bilang ke dia, kalau madrasahnya berhenti dulu gimana? Nanti kalau sudah selesai paket A bisa masuk lagi. Lagian kamu masuknya juga telat 8 bulan?

Dia malah protes, “Ga papa ma…malah buat selingan biar ga bosen belajar (pelajaran) paket A terus kok.”

Bener-bener yaa…anak-anak itu kalau sudah tahu tujuan dan manfaatnya, mereka akan senang hati melakukan dan rela berjuang. Ituh! Itu teori pertama saya dapat pas ndlongop di depan bu Elly yang menampar-menampar muka saya (hiperbola) di seminar parentingnya 7 tahun lalu. Kini, kami sudah beberapa kali membuktikannya. Doa terbaik dari kami untuk ibu Elly Risman.

Demikianlah. Terimakasih sudah membaca. Mohon doanya agar semua lancar kami jalani. Semoga Tuhan memberkati anak-anak kita dengan ilmu yang bermanfaat di dunia wal akhirat. Aamiin ya robbal alamin..

Apa Kabar Unschooling Kami?

Beberapa waktu yang lalu kami, suami dan saya, diundang oleh sebuah komunitas yang terdiri dari orang tua yang ingin menyekolahrumahkan anaknya. Mereka ingin mendengarkan sharing dari kami selaku pelaku homeschooling, lebih tepatnya unschooling.

Sebelum hari-H, saya banyak bertanya pada Sofia mengenai pengalamannya. Bagaimana perasaan-perasaannya selama menjadi anak tidak-sekolah. Siapa tahu bisa kami sampaikan di forum itu. Ada beberapa hal yang dia sampaikan, ada yang positif ada juga negatifnya. Beberapa membuat saya terkejut.

Saya akan mendahulukan cerita negatifnya

Dia pernah merasa enggak pintar. DUER! Saya sedih mendengarnya. Saya ingat dia pernah cerita, dulu waktu dia ikut Taekwondo, dia pernah dikasih tebakan perkalian matematika oleh temannya dan dia nggak bisa jawab dengan cepat. Dia perlu berpikir untuk menghitung. Dia merasa sangat malu. Hiks. Waktu itu saya bilang ke Sofia, “Kamu bilang sama temenmu kalau kamu belum belajar itu. Nggak adil kan membandingkan mereka yang belum belajar dengan mereka yang sudah hafal? Mama nggak masalah anaknya nggak hafal perkalian, yang penting anak mama bisa cara berhitung perkalian. Kamu ingat cerita ayah waktu SD disuruh maju ke depan kelas untuk menghafalkan perkalian? Ingat, hafal (perkalian) bukan berarti bisa cara menghitungnya.”

Dulu dia sangat takut matematika, sampai-sampai tabel perkalian yang pernah saya print dia sembunyikan katanya, hahaha.

Tapi tidak dengan sekarang.

Pernah dia bilang ke saya, setelah membaca buku “Math Doesn’t Sucks” dia jadi mau dan tertarik belajar matematika. Dia bilang, “Bukan berarti aku suka matematika, Mah.. Tapi aku ngerti kalau itu perlu gitu lho…”

Betapa leganya hati saya mendengarnya. “Ibarat mama masak sayur asem, kamu mau memakannya, bukan berarti suka banget sayur asem, tapi karena kamu lapar gitu, ya?” kata saya. “Naaa..betul, Mah”, jawabnya kocak.

Karena mau menghadapi ujian paket A bulan Mei ini, sejak 2 bulan yang lalu kami men-drill, berlatih rutin, untuk belajar matematika dan pelajaran lainnya, setiap hari. Mirip sekolah, deh. Kadang ada ketegangan karena kelambanannya memahami rumus atau alur operasi hitungnya. Lalu suatu ketika dia datangi saya di dapur, curhat.

“Mamah, aku tuh bisa paham matematika cuma…aku butuh orang yang sabar ngajarin aku. Karena aku nggak bisa cepet memahaminya. Perlu waktu”.

“Ooo jadi selama ini mama sama ayah nggak sabar ya? Aduh nak…maafkan kami ya…,” Saya peluk dia dengan kesedihan rasa bersalah. Sejak itu, mendampinginya belajar matematika menjadi sangat menyenangkan bagi saya.

Problemnya memang ada pada kami orang tuanya. Bagaimana, ya, otak kami sudah dewasa dan tua, sudah mampu menghitung cepat. Menunggu dia yang lamban mengerjakan soal yang bagi kami mudah sering kali tidak sepadan dengan stok sabar yang kami miliki. Saya bangga, saya bangga anak kami selalu terbuka dengan orang tuanya.

Ohya, sejak membaca buku panduan matematika karangan Danica McKellar yang sudah diterjemahkan oleh Serambi itu, Sofia malah lebih canggih cara menghitungnya. Selain menghitung ngawang (tanpa corat-coret), tekhnik berhitungnya pun lebih asik dan cepat! Subhanallah… Padahal dulu saya suka gemas, kok ngitung gitu aja susah sih? Luama lagi. Astaghfirullah…Saya lupa kalau otaknya belum tersambung sempurna. Maafkan kami ya, Nak…(hiks).

Hanya matematika yang belajarnya kami dampingi karena pelajaran yang lain dia mampu belajar sendiri dan baru kalau ada sesuatu yang tidak dia pahami dia akan datang pada kami untuk bertanya.

Tidak hanya matematika, kami selalu menitik-beratkan padanya untuk memahami teori maupun soal yang sedang dipelajari. Dia harus paham cara menghitungnya, paham penggunakan rumusnya dan bukan hanya sekedar hafalan. Karena bagi kami yang penting dia sudah mempelajari dengan baik dan benar, perkara waktu mengerjakan soal ujian kelak dia lupa, itu kami serahkan pada Tuhan.

Kami tekankan padanya pentingnya berdoa karena dia sudah berikhtiar (belajar dengan sungguh-sungguh), supaya Allah merahmatinya dengan daya ingat yang bermanfaat. Sungguh, berapapun nilai yang ia dapat kelak kami akan menerima dengan lapang dada. Itu janji kami sejak dulu.

Cerita di bawah ini entah negatif atau positif

Sebelum mulai belajar untuk persiapan ujian Paket A, Sofia baru saja masuk kelas mengaji sore di madrasah Ma’arif di dekat sini. Orang bilang sekolah agama. Di sana dia belajar akidah, bahasa Arab, sejarah, kaligrafi (khat), dll. Inilah kegiatan mirip sekolah yang rutin dia ikuti saat ini. Bedanya kelas mengaji tidak seragam, hanya rok panjang dan berjilbab. Kalau cowok pakai sarung dan kopyah.

Saat makan malam, Sofia tanpa rasa takut laporan kalau ulangan di madrasah hari ini dapat nilai paling rendah. Tak masalah, nak. Jauh hari kami bilang sama dia, kalau kamu nggak lulus tes kenaikan kelas sekali pun kami tak apa. Karena apa? Ya karena dia masuk madrasah sore dari kelas 3 tidak dari awal tahun ajaran, melainkan 4 bulan sebelum kenaikan ke kelas 4. Malah kami anggap wajar kalau dia nggak naik kelas. Yang penting adalah dia sudah belajar.

Namun ada hal yang menarik, dia bilang dia menjawab dengan benar beberapa soal. Lucunya, SELURUH teman-temannya justru salah menjawab soal-soal itu. Kami kaget, kok bisa? Dia pun menjawab dengan enteng. “Lha memang gampang kok, tinggal pakai logika.”

Jadi?!

Ini kami rasa semacam sebuah bukti bahwa anak-anak sekolah pada umumnya mengandalkan hafalan! Saya rasa soal ujian sekolah lainnya juga seperti itu, terlalu menekankan hapalan. Logika berpikirnya terabaikan. Pantas saja bukan? Begitu banyak teori pendidikan karakter dijejalkan tapi hanya sedikit yang dapat menyubang perbaikan karakter anak Indonesia, kan? Tentu kami bangga pada anak kami dengan kemampuan berpikirnya. Tapi di sisi lain sungguh kami sangat sedih. Sedih. Iya, sedih dengan keadaan pendidikan seperti itu.

Sisi positifnya

Sofia bilang, pada suatu masa sekitar usia 9 tahun dia sudah merasa cukup bermain. Dia merasa sudah waktunya belajar. Apalagi melihat teman-temannya yang sekolah mendapat beban pelajaran sedemikian rupa. Saya kaget dengar pengakuan dia ini.

Dari sini kami menyimpulkan bahwa artinya masa kanak-kanaknya yang identik dengan naluri bermainnya tercukupi. Selesai.

Walau pun dia masih kami anggap anak-anak (menjelang baligh sih), namun sifat kekanak-kanakannya sudah pudar. Kedewasaan cara berpikirnya sudah tampak. Hal itu diamini oleh keluarga besar kami.

Suatu hari, kami sekeluarga nongkrong di pinggir jalan utama kota Jepara. Kami membeli kopi dan teh sebagai teman menikmati sore yang cerah itu. Di sepanjang trotoar yang sedang hits di Jepara -karena baru jadi, indah dan rapi- banyak sekali anak-anak remaja nongkrong dengan teman-teman sebayanya. Bisa dibilang mereka semua datang dengan motor. bahkan ada yang merokok! Sedangkan kami jalan kaki karena kendaraan kami parkir di alun-alun kota yang berjarak +/- 300 meter.

Saya bilang pada Sofia, “Lihat tuh, yang nongkrong sekeluarga cuma kita”. “Iya ya, Mah”. Lalu kami terdiam. Tiba-tiba Sofia bersuara, “Aku tuh baru paham, ternyata tujuan lain homeschooling itu juga untuk mendekatkan anak dengan ortunya ya, Mah?” “Lha memang dulu menurutmu gimana?” “Aku kira cuma cara lain pendidikan aja.”

Mendengar hal itu saya sangat terharu. Begitu pula ayahnya. Bangga rasanya anak kami mempunyai pemahaman yang datang dari kesadarannya sendiri.

Saya juga sering bilang ke Sofia, ketika melihat anak-anak remaja war wer naik motor kesana kemari rame-rame sama teman-temannya alias sibuk mejeng. Kalau mereka mempunyai cita-cita mereka tidak akan sempat melakukan itu. Mereka akan sibuk belajar atau melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk menggapai cita-citanya. Mereka adalah anak-anak yang bosan dengan rutinitas di sekolah, mereka butuh kebebasan berekspresi, butuh melepaskan tekanan-tekanan sehari-hari dalam meraih nilai terbaik.

Sekarang hampir memasuki bulan ke-3 Sofia masuk madrasah sore. Banyak hal yang selalu dia ceritakan ke kami. Salah satunya adalah semacam perasaan bangganya. “Ternyata aku bisa, Mah! Aku kira aku nggak sepintar teman-temanku (yang sekolah). Mereka malah bingung kok aku nggak sekolah tapi kok pintar.” Dia bercerita dengan mimik sumringah. “Lha iya, kan.. Jadi kamu sekarang lebih percaya diri dong…?” Goda saya. “Iya…” jawabnya dengan wajah makin berbinar.

Di samping itu adalagi hal-hal positif lain yang kami dapat dari kegiatan unschooling selama ini.

Sebagai anak usia 12 tahun yang belum datang bulan, tingginya kini sudah menyamai mamanya di angka 165cm!
Bagaimana itu bisa terjadi? Menurut kami tidak hanya faktor genetik dan gizi makanan, tapi juga karena dia mendapat istirahat yang cukup terutama waktu tidur. Ayahnya memang tinggi. Makanan kami sama saja dengan orang lain, lebih sering tempe dan tahu, meski selalu saya jaga sayur+protein terpenuhi. Seperti yang kita ketahui, pertumbuhan fisik anak-anak itu terjadi ketika mereka tidur. Jadi kalau orang tua merasa pola makan anaknya bagus dengan asupan gizi yang baik tapi tetap pendek (stunting), bisa jadi ada yang merampas hak tidurnya.

Ada satu bukti lagi, teman saya yang memutuskan menghomeschoolingkan anaknya setelah selesai kelas 3 SD mendapati fakta yang menarik, pertumbuhan tinggi badan anaknya tiba-tiba sangat pesat. Orang tua teman-teman sekelasnya dulu sampai kaget. Dulu tingginya di bawah anaknya tapi sekarang jauh lebih tinggi.

Sementara untuk menghadapi ujian paket A, salah satu cara kami mempersiapkan bekal anak adalah dengan latihan soal Ujian Nasional tahun-tahun sebelumnya. Kami menemukan soal-soal tiga tahun sebelumnya, dari 2015-2017.

Yang mengagetkan, saat menjawab soal UN mata pelajaran Bahasa Indonesia, setelah saya koreksi, Sofia hanya salah 10 dari 50 soal! Padahal dia belum pernah belajar khusus teori Bahasa Indonesia. Kebanyakan yang salah terkait teori yang belum dia pelajari seperti sinonim, antonim, jenis-jenis paragraf, dll. Dari tidak paham itu akhirnya dia paham teori. Perlu diketahui Sofia anaknya pelahap bacaan. Pengalaman mengerjakan soal ini membuat kami lebih percaya diri dengan kemampuan anak kami.

Sharing di Komunitas

Usai kami berbagi di komunitas yang sudah kami sebutkan diatas, di rumah saya berbicara sendiri tapi didengar Sofia karena dia ada bersama saya di dapur.

“Lha iya tho, mereka (para orang tua) itu sebenarnya sudah mempunyai pengetahuan yang lebih cukup dibanding kami dulu ketika hendak memulai unschooling, tapi mereka itu nggak berani. Padahal mereka mengeluh beban anak-anak di sekolahnya terlalu berat.”

“Dulu mama sama ayah kok nggak ada takutnya ya? Kita soalnya kalo sudah yakin ya dilakukan, nggak suka niru-niru orang lain soalnya”.

Apa coba jawaban Sofia? Dia bilang, ”Mungkin karena dulu mama sama ayah takut sama dunia di luar.”

OMG anak ini analisanya tepat sekali. Sepertinya memang itu alasan yang tepat kenapa kami tanpa ragu balik kanan jalan langsung tidak sekolah (unschooling).

Waktu sharing kami bercerita alasan kami melakukan pendidikan di rumah:

Dari suami:

  1. Dapat email dari teman berisi info cara mendapat ijazah jika anak hendak kuliah, yaitu ujian Cambridge. Yang mana ijasahnya bisa digunakan kuliah di banyak negara di dunia.
  2. Sekolah itu buang-buang waktu, energi, juga biaya.
  3. Tujuan sekolah sendiri itu apa? Kalau alasannya ijasah, sedangkan untuk dapat ijasah bisa dengan ujian cambridge atau Paket A. Apalagi syaratnya relatif mudah dipenuhi.

Dari saya:

  1. Ketika punya anak perempuan dengan melihat dunia luar seperti itu, saya sebagai ibu sangat was-was.
  2. Sejalan dengan ilmu parenting yang kami pelajari, saya jadi tahu bagaimana cara membesarkan putri kami dengan lebih manusiawi. Didukung ide tidak sekolah yang cocok untuk menerapkan ilmu parenting yang kami pelajari.
  3. Dunia sekolah yang trennya diamini hampir seluruh sekolahan bahwa untuk masuk SD harus bisa calistung, padahal tidak sesuai dengan perkembangn kognitif anak.
  4. Pergaulan dunia luar yang di luar kendali kami. Buktinya saat TK B anak saya diancam teman laki-lakinya nggak akan mau temenan lagi kalau dia nggak mau dicium! Sedangkan di madrasah ini, baru hari pertama sudah ada teman perempuan sekelasnya yang mengancam Sofia agar tidak “merebut” si A karena dia pacarnya. Gila nggak tuh? Duh saya lupa menyampaikan ini.

Pada kesimpulannya kami memang takut dengan dunia di luar sana. Kami belum berani melepaskan putri kecil kami ke dunia semacam itu. Tapi kini putri kami sudah tumbuh dengan bekal prinsip dan karakter baik yang mampu ia pegang dan pertahankan. Dia sudah berani bilang TIDAK. Dia sudah tahu mana yang boleh, baik, benar dan mana yang tidak boleh, juga menolak yang buruk dan salah.

Kami siap melepaskan anak kami melesat dari busurnya. Kami mendoakanmu selalu putriku… (elap mata)

 

*Mengenai alasan kenapa kami mengikuti Ujian Paket A dan memasukkannya ke madrasah sore insyallah akan saya tulis di post tersendiri*

Disunting oleh AW

Menengok Blog

 

Wow! Sudah lama juga ternyata saya nggak ngurusin apalagi nulis di sini. Dua tahun ternyata. Kalau mau tahu kenapa pasti capek jabarinnya. Jadi cukup saya dan alam semesta saja yang tahu ya?

Sebenarnya selama dua tahun itu pengen banget bisa ngeblog. Banyak banget pengalaman yang pengen ditulis tapi cuma melayang-layang di pikiran. Gitu deh.

E ternyata dua tahun nggak pegang laptop bikin grogi juga mau pake lagi. Bikin laporan PKK di pages aja bingung ngubek-ngubek formatnya. Jadinya yaa belajar lagi ngapalin letak-letak si ini untuk ini si itu untuk ini.

Iya, saya sekarang ditunjuk jadi sekretaris PKK. Keren nggak? Maunya sih nggak mau, tapi nggak boleh nggak mau. Ya sudah, mau nggak mau harus temenan lagi sama laptop.

Jadi geli kalo inget jabatan sekarang. Ish, jabatan, semacam gimana gitu kayaknya. Ya gimana ya? 10 tahun yang lalu sekretaris dirut operasional & marketing, sekarang…sekretaris PKK, itu artinya naik apa turun ya? Yang jelas dulu saya happy  jadi sekretaris pak bos, sekarang juga dibawa happy aja jadi sekretaris PKK hehehe.

Trus? Ngomongin apa ya? Kita ngopi dulu aja deh… Monggo silahkan disruput sendiri sendiri kopinya..

Karena saya belum punya bahan untuk ditulis, jadi sudah dulu deh. Soalnya saya juga mau siap siap ke PKK hehehe. Semacam sibuk banget ya jadi sekretaris PKK…hadeuh….

Sudah sudah, wassalamualaikum…..

Lulus Jadi Kontraktor

Setelah 8th lebih menikah dan tinggal di kontrakan di 4 tempat yang berbeda, akhirnya kami memiliki sebuah rumah sendiri. Rumah. Iya rumah..

Awalnya karena sering pindah rumah kontrakan, kami pernah berinisiatif untuk hidup nomad saja. Di dukung jg oleh pencerahan yang kami dapat di tengah tahun 2012 yaitu meng-unschooling-kan Sofia. Apalagi pada dasarnya suami kerjanya memang di rumah jadi tak terikat tempat.

Alasan di atas itulah yang mendasari kami untuk keluar dari Jakarta. Ehya, ditambah karena kami gak betah dengan kehidupan di sana. Ya lalulintasnya ya ruang terbukanya yang tidak nyaman.

Akhirnya setelah menelusuri peta dan melakukan beberapa riset, kami memutuskan di Jepara sebagai rumah kontrakan kami berikutnya. Sempet lho kami tergoda hijrah ke luar pulau. Yaitu Sulawesi atau Kalimantan!

Proses kepindahan kami yg kami urus sendiri mulai dari packing dan unpacking ternyata sangat luar biasa melelahkan. Walau tetep kami happy sekali. Tapi badan rasanya remek ketika itu. Dan terbersit kata “kapok pindahan” hahaha
Lalu tepat setahun kami tinggal di Jepara, lahirlah putri kedua kami, Sonia.

Kami telah betah di Jepara. Kota kecil ini berjarak kurang lebih dari 2 jam berkendara pribadi tanpa macet ke Semarang. Dimana tempat-tempat yg mendukung kehidupan kami (fav kami yg terbawa dr Jakarta) selama ini berada yaitu TB Gramedia, mall, bioskop, super/hyperrmarket, bengkel Peugeot & kantor cabang sekuritas.

Karena jarak yang lumayan, hal itu menjadikan kami jauh mengurangi gaya hidup hedonis. Bayangkan, di Jakarta butuh apa2 larinya ke mall, mall dan mall. Godaan mata dan perut sangat sulit terhindarkan. Awalnya ga butuh beli ini jadi dibeli. Padahal sdh masak di rumah jadi jajan di tempat makan langganan. Lha gimana, udah laper kalo nunggu nyampe rumah tapi pasti macet menghadang. Kepaksa kan?
Sungguh kami lega akhirnya mampu melepaskan diri dari kegilaan Jakarta.

Semakin lama di Jepara, kami pun semakin bisa mengukur kebutuhan kami. Contohnya: beli sesuatu yg penting kami bisa mensurveinya terlebih dahulu secara online, jd kalau kirakira lebih murah beli online + ongkir ya ga usah lari ke Semarang. Kan ke Semarang butuh pertamax.

Bioskop. Kami belum pernah nonton di bioskop Semarang. Keinginan untuk nonton pilm terbaru sudah hilang dari kamus kami. Satu mahal, dua jauh, tiga ga ngaruh, empat sayang waktu, lima ga penting hehehe. Mending nongkrong di depan BBC Knowledge sambil bercengkrama dengan keluarga ^_^ tp langganan tv kabel udh kami hentikan pas pindah ke rumah beneran ini. Kami pun memanfaatkan internet cepat di rumah jd tontonan kami pindah ke bioskop25 dan hulu hehehe.. Apa itu? Googling sendiri ya.. 🙂

Nah, kalau urusan belanja mingguan kami bisa mengandalkan swalayan disini. Memang sih ga segede Giant/Carrefour/Hypermart/Lottemart dkk. Tp juga ga sekecil Superindo kok. Jd klo cuman kebutuhan sehari-hari disitu cukup mendukung.
Nah klo pingin sedikit jalan2 sambil belanja mingguan kami bisa ke Hypermart Kudus. Jaraknya 45menit tanpa macet 🙂

Untuk yg lainnya ini ga bisa ditawar. Mau ga mau harus ke Semarang: beli buku ke Gramedia, ke bengkel si merah dan ke sekuritas.
Untuk itu biasanya kami menjadikannya dalam satu hari kunjungan sekaligus. Dan sekalian membeli barang2 kebutuhan yang susah dicari di Jepara dan Kudus. Contoh: [gula aren semut, saringan Pure it, minyak goreng kelapa /coconut oil dan belakangan pospak harga miring buat Sonia :)] ternyata semua sdh bisa kami penuhi dari Jepara. Horee!

Serius. Kami jadi lebih banyak berhemat tanpa berasa kiamat dengan tinggal jauh dari kota besar. Sangat membanggakan malah.

Hal lainnya yang membuat kami betah tinggal disini antara lain:

1. Kehausan kami akan buku bacaan terpenuhi di Perpustakaan Daerah yg cukup memuaskan. Ada pada angka 7 lah dari 1 – 10. Selain Perpusda ada juga taman bacaan yaitu di dekat alunalun kota. Kalau ingin baca koran gratis tinggal ke tempat koran publik yg setiap pagi diganti. Setahu kami ada dua titik di dalam kota ini yaitu dekat alunalun selokasi dengan taman bacaan dan di bagian depan terminal bis utama. Setiap saat selalu ramai oleh pembaca. Lucunya mereka kebanyakan masih pakai helm saat membacanya 😀

2. Pantai berpasir putih berair jernih tempat berburu sunset or sunrise? Ga perlu booking tiket pesawat or penginapan. Cuma 15 menit dari kami tinggal.

3. Taman kerang ada dekat dari rumah. Letaknya di tengah2 simpang empat. Ada playgroundnya n bisa buat joging juga. Jadi kalo anakanak bisa dilepas maenan sendiri, ortunys bisa joging atau sekedar nongkrong liatin kendaraan lewat atau (penting) pacaran ngobrol tentang kita hahay.. :))
Taman yang lain banyak sih..selain alunalun, di dua belah alunalun juga ada taman bermain anak lengkap dengan playgroundnya. So terpenuhilah urusan anak maen di luar.

4. favourite outdoor place iiiiiiisssss alunalun…mo ngapain? Just morning or afternoon walk? Joging? Nongkrong sambil makan jagung bakar/rebus? kadang nonton wayang, karnaval budaya, pameran a-z. Akh…we love alunalun.

5. Ngga bising. Coba deh yang tinggal di Jakarta n sekitarnya, mo kita tinggalnya keliatannya di kampung bukan di perumahan, kalo lagi sekitar kita sepi tapi pasti kedengeran suara kendaraan nun jauh disana. semacam denger tawon berdengung. apalagi malem! We called it: polusi suara.
Disini? Kalo malem bisa sampe taraf sepi banget ngeeet. Senyap.

6. Mo makan di luar? tempat makan banyak yg enak. Mo yang murah ato mahal ada. Resto jepang/korea hayuk. Apalagi menu barat. Secara ya, Jepara tempat turis transit mo ke Karimunjawa n tempat bisnis furniture para pengekspor. Jadi bule bukan barang langka. Rumah belakang aja dikontrak bule. Trus?? Gapapa si cuma ngasih tau aja.

7. Tempat nongkrong (kerja) dng wifi. Banyak, titik.

8. Pasarrrrrr dengan ikan segar sampe segede paha orang dewasa ada! Aneka seafood tinggal milih. Lha iya wong pesisir kok 🙂

9. Apalagi yaa?? ubi. krupuk. Komunitas. kolam renang. Ada. Ada. Ada.

We love Jepara!

Sepasang Relawan Jokowi

Senin, 19 Mei, saya dan suami kaget melihat berita di TV yg menayangkan kesanggupan Jokowi menjadi capres PDIP. Rasanya tak percaya. Kami girang. Tersenyum lebar. Hati kami lega.

Jauh hari kami sering berandai-andai Jokowi nyapres tahun ini. Tapi angan itu kerap kami pupuskan sendiri. Kami tak berani meneruskan angan itu karena merasa tidak mungkin. Hingga TV mengabarkan Jokowi nyapres, maka angan kami mulai nampak bisa jadi nyata.

Sejak itu kami sudah berbulat tekat menyoblosnya. Bahkan kami tidak mau tahu siapa capres yang lain dan siapa cawapresnya kelak, kami seakan tutup mata. Yang penting tokoh idaman sungguhan nyapres, tenang dan tinggal nunggu waktu nyoblos tiba.

Rupanya kami sangat salah. Memasuki masa kampanye, hidup kami malah menjadi tidak tenang sejak kami begitu menginginkan Jokowi yang jadi presiden.

Musabab ketidaktenangan itu datangnya bertubi-tubi. Awalnya adalah fitnah-fitnah yang ditujukan kepada Jokowi yang kami tahu itu adalah kebohongan besar. Kami tak tenang ketika fitnah itu ditulis di media cetak, online maupun elektronik, lalu disebar di media sosial.

Kami semakin tidak tenang menikmati hidup melihat teman maupun saudara sendiri ikutan menyebarkan berita fitnah nan bohong itu di akun media sosial mereka.

Ketenangan kami pecah ketika orang tua kami yang notabene tidak bisa mencari mana berita benar dan mana yang salah seperti rakyat Indonesia kebanyakan pun ikut termakan fitnah itu.

Kami merasa tak pantas hidup tenang ketika tahu bahwa lawan Jokowi dengan strateginya sedemikian rupa mengacaukan pikiran rakyat Indonesia yang kebanyakan masih susah menelusuri kebenaran sebuah informasi.

Kami merasa Tuhan mendengar doa kami, tapi Dia belum mengabulkannya. Maka kami pun harus berusaha agar doa pendukung Jokowi terkabul. Maka kami tergerak menjadi relawan Jokowi.

Awalnya saya menyatakan diri di akun facebook sebagai relawan juru kampanye. Saya dan suami pun bergerak di dunia maya. Sejak itu banyak perdebatan yang terjadi. Perdebatan yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan yang begitu melelahkan. Karena kami berdebat dengan teman baru maupun lama, teman baik, dan juga saudara sendiri.

Masa kampanye yang berlangsung sebulan itu rasanya berjalan sangat lambat. Kami ingin ini segera berakhir. Segera nyoblos Jokowi. Segera menikmati hidup kami dengan ketenangan lahir batin lagi. Karena banyak konsekwensi kami hadapi selaku relawan jurkam di dunia maya: suami yang bekerja di rumah kacau tak bisa fokus kerja, kami sering tidur kelewat malam karena rasanya waktu tak cukup untuk menangkis serangan fitnah yang begitu masif itu. Jadwal sehari-hari ikut berantakan karena sering tidur setelah subuh. Tapi kami ikhlas karena kami yakin sedang membela kebenaran dan kami juga merasa perlu memaklumi karena percaya hal ini akan berakhir tanggal 9 Juli. Tapi ada lucunya juga, ada keromantisan yang “lain” diantara kami. Keromantisan yang hanya ada dimasa kampanye pilpres ini hehehe.

Kami terus memantau perkembangan apapun tentang pilpres. Dan pada akhirnya, seminggu lagi masa kampanye berakhir. Saya menonton di youtube video yang diunggah oleh Jakartanicus: “Anies Baswedan’s Great Speech: Mengapa Jokowi?” Sebelumnya Suami telah lebih dulu menontonnya. Selesai menonton saya termangu. Rupanya menjadi jurkam di dunia maya dapat dikatakan tidak menjamin memperbanyak pemilih Jokowi-Jk. Perlu turun ke dunia nyata agar efeknya lebih konkrit. Saya pun tergugah!

Sebagai relawan mandiri, kami berbagi tugas. Suami ke posko seknas Jokowi di kota kami Jepara untuk meminta materi kampanye. Dapat 50an lembar sticker dan dua buku tentang Jokowi.

Kami sengaja ingin turun kejalan di hari terakhir masa kampanye. 5 Juli, selepas sholat dhuhur kami sekeluarga keluar rumah. Suami memfotokopi selebaran “10 Alasan Memilih Jokowi” sebanyak 50 lembar. Lalu menuju pusat kota yaitu area pertokoan pecinan Jepara.

Awalnya saya akan menyebar selebaran dan sticker ini di pasar, tapi takut melanggar aturan tentang larangan kampanye di fasilitas umum. Karena tidak ingin melanggar aturan kampanye yg lain yaitu dilarang melibatkan anak-anak, kami sepakat, suami di mobil menemani dua putri kami (8 tahun & 1 tahun) Sedangkan saya yang beredar.

Aduh. Campur aduk rasanya. Takut dicemooh. Menanggung malu. Terbayang-bayang asas LUBER lah yang paling menghantui. Sebelum keluar mobil saya berusaha menenangkan diri. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. Berusaha ceria dan percaya diri. Saya pun minta di foto di dalam mobil karena tak punya nyali bergaya di luar dan ketahuan orang saya pendukung Jokowi. Suami pun menguatkan saya dengan tatapan mesranya. Si sulung juga menguatkan mamanya. Ini penting untuk mencontohkan pada putri kami yang ’homeschooling’ tentang bela negara. Akhirnya dengan tekat bulat dan hati bergetar saya buka pintu mobil lalu keluar. Bismillah..

Seingat saya harus santun dan tidak mendikte. Saya tegakkan bahu lalu melangkah. Pertama saya masuk ke toko perhiasan. Dan inilah kata-kata yang meluncur: siang bu, ini dari relawan jokowi,,silahkan buat baca-baca dulu..yang penting tgl 9 jangan lupa nyoblos ya bu..biar surat suaranya tidak di salah gunakan..

Saya kaget. Ternyata saya bisa dan berani! Tak terasa kelimapuluh selebaran dan sticker itu habis. Saya tersenyum juga tertawa dalam hati: I did it!

Banyak reaksi saya terima. Kebanyakan sumringah. Yang cemberut hanya beberapa. Ketahuan mereka milih siapa hehehe. Senang rasanya dapat salam dua jari dari tukang parkir yang juga relawan Jokowi dari desa lain. Geli dan malu-malu senang juga dapat salam dua jari dari sekumpulan bapak-bapak di kios reparasi yang minta kaos. Mereka tak percaya saya relawan mandiri.

Inilah pertama kalinya dalam hidup saya merasa sungguh-sungguh berbuat nyata demi negara. Rasa bangga begitu membuncah di hati saya. Sampai kini masih terasa sensasi itu. Tak terlupakan. Rasanya sulit untuk mempercayai apa yang telah saya lakukan.

Tanggal 9 Juli datang dan meninggalkan rasa sedih karena tak berhasil meyakinkan Bapak dan Bapak mertua untuk memilih Jokowi-Jk. Tapi kami tetap menghormati pilihan mereka yang penting alasannya bukan karena percaya dengan fitnah yang ada.

Pada akhirnya Tuhan sungguh mengabulkan doa kami dan mewujudkan mimpi kami menjadi nyata. Jokowi secara resmi menang dan kami pun tersenyum karena pada akhirnya Bapak dan Bapak mertua menyesal telah memilih lawan Jokowi. Merdeka!

20140905-201826.jpg

Antara Jakarta dan Jepara ada Ungaran

Setiap kelahiran bayi pasti mempunyai ceritanya sendiri. Demikian juga bayi Sonia, putri kedua kami. Saya ingin merekamnya sebagai sejarah indah dalam tulisan ini.

Persalinan kali ini saya ingin senikmat mungkin, sealamiah mungkin, secara aman, nyaman, dan minim trauma. Saya kapok dijadikan barang industri ketika dulu melahirkan Sofia, putri pertama kami. Mari berkilas balik sejenak.

Ya, saya melahirkan putri pertama kami di sebuah RSB besar di Jakarta. Sebuah RSB besar, menurut pengetahuan saya juga cukup punya reputasi di wilayah tersebut, tapi ternyata prosedurnya tak ramah jiwa ibu dan bayi. Setelah 6 tahun kemudian saya belajar tentang persalinan dari para bidan, semua itu ternyata memang sungguh menyakitkan raga dan jiwa ibu dan bayinya. Kenapa? Mari kita urai pangkal dan ujungnya:

  1. Induksi. Waktu itu saya diinduksi karena menurut sang dokter SPOG jika HPL (Hari Perkiraan Lahir) tiba sang bayi harus segera dilahirkan, tidak boleh lebih bulan.
  2. Karena diinduksi maka saya kesakitan luar biasa. Padahal saya tipe orang yang derajat tahan sakitnya level 5 dari angka 10.
  3. Akibat diinduksi, kontraksi rahim (baca: mulas) nya sangat intens tak ada jeda. Ada sih jeda tapi cuma dalam hitungan detik. Padahal kemajuan bukaan 2 ke 3 sangat lambat.
  4. Jadinya saya kelelahan luar biasa. Saya seperti orang yang tidak mengenali diri saya sendiri. Tidak berdaya. Linglung. Tak mampu mengontrol pikiran. Hanya sakit dan sakit yang menguasai pikiran dan tubuh saya.
  5. Tak ada privasi. Akhirnya pada pembukaan 8 saya didorong masuk ke kamar bersalin. Ada tiga ibu bersalin termasuk saya di ruangan itu. Saya tak sempat peduli privasi. Bukaan 10 dokter datang. Saya diminta tidur terlentang untuk bersalin. Saya tak mampu lagi mengejan. Oksigen lalu dipasang di lubang hidung. Episiotomi dilakukan dan Suami pun menandatangani prosedur kelahiran dengan bantuan vakum. Akhirnya putri pertama kami lahir pada pukul 13.00. Yang membuat saya tak berakhir di meja operasi adalah tekat saya yang sudah sangat bulat: saya ingin melahirkan normal!
  6. IMD yang singkat. Bayi Sofia hanya sebentar banget saya peluk di dada karena suster sudah memintanya untuk dibersihkan, diukur, ditimbang dan disuntik. Saya percaya saja. Apalagi saya memang lelah luar biasa.
  7. Pisah kamar. Bayi saya dibawa ke kamar khusus bayi. Karena dia divakum jadi harus masuk inkubator dan tidak boleh diangkat entah berapa lama. Bayi saya tak tidur seruangan dengan saya tetapi dengan bayi-bayi lainnya yang merindukan induknya.
  8. Karena ASI saya belum keluar, bayi saya pun dikasih susu formula. Dari sekian penderitaan di atas, saya menderita sekali tidak bisa langsung memeluk bayi yang baru keluar dari Rahim, lebih-lebih menyusuinya. Padahal saya punya tekad untuk menyusui ekslusif sampai 6 bulan dan melanjutkan sampai 2 tahun.
  9. Karena kurangnya informasi dari suster dan dokter, saya tak berani bergerak maupun duduk di kamar inap. Mungkin mereka menganggap semua ibu yang baru melahirkan sudah paham tata cara pasca melahirkan. Padahal suami dan keluarga yang menunggu pun tidak ada yang mengerti. Maklum cucu pertama dari kedua belah pihak. Akhirnya, hampir 12 jam sesudahnya, atau kira-kira pukul 23:00 malam, ada suster yang memberitahu bahwa saya boleh duduk. Baru kemudian saya bisa membersihkan badan.
  10. Pulang dari RS, ASI saya tetap belum keluar dan kami dibekali susu formula. Seminggu setelah pulang dari RS akhirnya ASI saya keluar. Saya bersyukur sekali. Itu pun setelah saya menangis-nangis mengadu mengaduh pada Tuhan disamping berusaha memompa, memerah, dan memberikannya pada Sofia (merangsang). Di RS tak dikasih tahu cara memijat payudara dan saya pun juga tak tahu kalau itu perlu.
    Setelah melahirkan sampai usia Sofia sekitar 6 bulan, tulang ekor saya sakit luar biasa ketika posisi akan duduk dan hendak bangkit dari duduk.

Kesebelas poin diatas merupakan efek domino yang pangkalnya adalah ketidaktahuan saya sebagai ibu hamil tentang ilmu-ilmu kehamilan dan persalinan sehingga saya hanya pasrah, sepasrah-pasrahnya, pada tenaga medis dan pada ujungnya adalah pengalaman-pengalaman yang sangat traumatis tersebut diatas. Baru 4 tahun dari persalinan yang pertama, saya memberanikan diri untuk berhenti kontrasepsi. Sofia makin besar dan semakin sering menginginkan adik.

Kembali pada kelahiran Sonia.
Pada waktu itu internet sudah terjangkau sehingga saya bisa riset dan membaca berbagai artikel tentang melahirkan. Saya ingin tahu apakah melahirkan memang mesti mengerikan seperti pengalaman saya sebelumnya? Setelah membaca cukup banyak cerita kelahiran, saya akhirnya mendapat jawabannya. Ternyata, melahirkan bisa nikmat. Melahirkan tidak perlu trauma. Bahkan ada yang mengalami senikmat orgasme!

Ketika dinyatakan positif hamil. Saya mulai kembali mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kehamilan yang sehat dan bahagia serta persalinan yang menyenangkan. Disamping banyak menggali informasi baik dari buku, internet dan lainnya, saya juga bergabung dengan komunitas Gentle Birth Untuk Semua (GBUS) di Facebook. Dari sana saya menyimak banyak diskusi. Selain itu saya juga memfollow akun Bidan Kita baik Facebook maupun Twitternya dan banyak bertanya.

Makan bergizi menjadi salah satu prioritas saya, jadi kami mulai mengkonsumsi nasi merah, makan lebih banyak buah. Tidak minum susu hamil. Menahan diri untuk menyeruput nikmatnya kopi dan teh, serta tidak mengkonsumsi mie instan. Kami memang menghindari makanan ber-MSG. Hasilnya berat badan saya hanya naik 7 kg dengan BB janin normal padahal hamil dulu saya sampai naik 20kg!

Prioritas saya yang lain adalah banyak bergerak. Jadinya saya lebih rajin mengurus pekerjaan rumah tangga. Suami pun sempat memuji bahwa kehamilan kali ini saya lebih aktif dari pada yang pertama. Di usia kandungan ke 28 minggu saya mulai mengikuti kelas senam hamil setiap hari minggu. Dan saya pun rajin mempraktekkannya di rumah terutama sebelum tidur malam. Saya senang ketika tahu bahwa bola besar yang biasa suami pakai untuk duduk ketika bekerja ternyata juga berfungsi sebagai birthing ball jadi pada waktunya saya pun mulai sering menggunakannya.

Kehendak Tuhan. Pada usia kandungan bulan ke-7 bersyukur sekali saya dan suami dapat mengikuti seminar hipnobirthing di Semarang dengan nara sumber Bidan Yessie dari Bidan Kita, Klaten. Penyelenggara acara adalah RB Ngesti Widodo dari Ungaran. Banyak sekali pencerahan yang membuka mata kami tentang kehamilan dan persalinan.

Saya menonton banyak video melahirkan, terutama proses kelahiran di rumah dan tanpa bantuan. Semua itu membantu saya memahami dan meresapi bahwa kelahiran adalah sesuatu yang sangat normal dan alami. Hal ini memotivasi saya untuk melahirkan di rumah apabila saya tidak mendapatkan bidan yang sesuai dengan harapan saya. Yang penting bukan di RS.

Kehendak Tuhan berikutnya. Saya membaca salah satu artikel di bidankita.com, ternyata sakit tulang ekor yang saya alami setelah melahirkan pertama dulu disebut Pain Gilder Pelvis (PGP). Ibu melahirkan yang pernah mengalami hal tersebut disarankan untuk menjalani persalinan water birth. Yang pasti saya menghendaki persalinan gentle birth. Disamping itu saya juga ingin menerapkan penundaan pemotongan plasenta.

Pada awalnya saya ingin melahirkan di Klaten di RB Bidan Kita yang dekat dengan rumah orang tua saya di kab. Sukoharjo. Tapi karena satu dan lain hal, keinginan itu tidak mungkin terlaksana. Saya pun ikhlas dimana dan bagaimana bayi saya lahir kelak. Semua itu saya rasakan ketika bidan Yesie dari Bidan Kita mengatakan “semoga berjodoh” ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk melahirkan di tempatnya.

Saya tak patah arang dan tetap berusaha mencari tempat bersalin yang bisa water birth dan dekat dengan tempat kami tinggal saat ini, di Jepara, Jawa Tengah. Hasil survei mengarahkan kami ke sebuah RSB di Kab. Pati, kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah kami. Ternyata saya belum beruntung, sang dokter yang bisa menangani water birth sedang sakit keras, hingga tidak praktek. Saya temukan lagi sebuah RSB di Semarang, tapi ketika saya telpon ternyata RS tersebut tak lagi mempraktekkan persalinan dalam air.

Saya yakin dan percaya, segala sesuatu yang diawali dengan niat harus dibarengi dengan doa dan ditindaklanjuti dengan usaha. Untuk hasilnya tinggal saya serahkan pada Tuhan, biar Dia yang menentukan. Dan inilah hasil dari keyakinan saya tersebut. Pada usia kandungan minggu ke 37, saya teringat goodie bag dari seminar yang saya ikuti. Saya temukan brosur Rumah Bersalin Ngesti Widodo di Ungaran. Tapi daftar layanannya tidak terdapat water birth. Saya tetap mencoba menghubungi sang bidan, bidan Naning via Facebook. Ternyata mereka melayani water birth. Plong rasanya hati ini. Saya pun langsung membuat janji kunjungan ke sana.

Rupanya Tuhan masih ingin menguji kesabaran kami. Rencana kunjungan tiba-tiba terhalang. Mobil kami bermasalah hampir 2 minggu baru selesai. Padahal jarak Jepara-Ungaran 2.5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kemudian saya terjatuh dari motor, jari kelingking kaki sobek. Saya khawatir sekali tidak boleh water birth dikarenakan luka ini.

Kehendak Tuhan lainnya, Bidan Yessie meluncurkan bukunya yang berjudul Art of Water Birth. Suami membelikannya untuk saya sehingga saya bisa baca sambil menunggu HPL.

Kehendak Tuhan lagi, akhirnya pada minggu ke 39 atau 5 hari sebelum HPL saya bisa berkunjung ke Ungaran. Diantar Suami, Sofia dan Ibu saya, kami sampai disana siang dan langsung diperiksa. Ketika diperiksa dalam, ternyata jalan lahir sudah lunak. Lalu bidan Naning memberi saya kapsul pelancar ASI yang saya minum siang itu juga setelah makan siang. Kapsul pelancar ASI membantu merangsang pembukaan jalan lahir.

Pulang dari Bidan kami masih sempat ke Gramedia Pemuda, Semarang, untuk mengantar Sofia beli buku. Di sana bagian atas pantat saya berasa seperti ditusuk-tusuk. Tapi saya tetap santai karena tidak disertai mulas. Ketika saya katakan pada Ibu, beliau langsung meminta kami segera pulang dengan nada agak marah karena saya tak bilang dari tadi.

Dalam perjalanan pulang ke Jepara, perut saya mulai terasa kencang dan ada jeda tapi tidak mulas. Memasuki kota Jepara Saya kirim SMS ke Bidan Naning. Beliau kaget dan menyarankan saya segera kembali ke Ungaran. Tiba di rumah setelah isya. Karena belum makan malam kami membungkus bakso lalu dengan gerak cepat makan, mandi dan langsung balik ke Ungaran dengan membawa tas melahirkan.

Jam 8 kami berangkat, di jalan kontraksi mulai terasa intens dan disertai mulas. Wow! Inikah yang namanya “Gelombang Cinta” itu? Kata hati saya. Sampai di Demak kontraksi mulai 4 menit sekali padahal jarak Demak Ungaran masih 1.5 jam lagi. Alhamdulillah semua tenang. Tak ada yang panik baik saya, suami yang nyetir, Sofia maupun Ibu saya. Mereka bergantiaan memijit dan mengelus-elus punggung saya. Setiap berasa kencang dan mulas saya memberi aba-aba Suami untuk memelankan laju mobilnya atau berhenti sama sekali dengan tanda lambaian tangan. Karena saya nggak bisa ngomong sibuk mengatur nafas. Baru kalau mulas dan kencangnya reda saya bilang: yuk! Suami pun ngebut lagi dan saya pun bisa ngomong dengan normal bahkan bercanda. Saya bisa menyiapkan diri bila gelombang cinta akan mulai datang lagi. Berkali-kali kami berhenti. Akhirnya pukul 11 sampai juga kami di RB.

Masih bukaan 2. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan disana. Saya pun sempat tertidur 15 menit saking ngantuknya. Tapi terbangun karena semakin tak tertahankan rasanya. Anehnya saya sangat menikmati proses ini, kencengnya, mulesnya… Saya punya kuasa atas pikiran dan tubuh saya. Memang saya tetap mengaduh, cengar cengir, sesekali menjerit karena level ketahanan saya akan rasa sakit rendah. Kalau sedang jeda kontraksinya, saya tetap bisa berbicara normal. Saya senang karena bisa dan boleh bebas berbaring atau berdiri. Atau jalan-jalan. Atau dipeluk suami. Juga memakai birthing ball.

Pukul 2 dini hari sudah bukaan 6, lalu saya diijinkan oleh bidan Naning untuk masuk ke kolam hangat. Pukul 2 lewat 10 menit lahirlah putri kedua kami, Sonia.

Selanjutnya satu demi satu tahapan persalinan gentle birth yang saya impikan tercapai: water birth, IMD hampir 4 jam, menunda pemotongan tali pusar hingga 3 hari, tidur sekamar dengan bayi dan ASI esklusif. Padahal baru di hari ketiga ASI saya mulai keluar. Tetapi bayi Sonia tidak rewel dan tetap mau bekerjasama dengan saya merangsang sang air kehidupan keluar dari sumbernya.

Saya bangga pada diri saya sendiri dan tentunya bersujud syukur kepada Allah SWT Tuhan semesta alam karena mengabulkan cita-cita saya melahirkan dengan konsep aman dan ramah jiwa ibu, bayi dan keinginan saya menjalani kehamilan dan melahirkan dengan indah dan nikmat ini.
Saya selalu tersenyum jika mengenang serunya perjalanan kami hari itu dan luar biasanya proses kelahiran Sonia.

Tentu, tidak hanya saya, anda pun berhak mendapatkan pengalaman indah itu. Berusahalah!

20140905-192025.jpg

Babi Juga Ciptaan Tuhan (Soal Vaksin)

Piprim Basarah Yanuarso
Friday at 4:01pm
Untuk yg terpengaruh omongan eyang Menkes kemarin ttg babi silakan baca ini ya…
Ahmad Sarwat
Friday at 9:40am

Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi

Sebagian dari teman saya banyak yang punya semangat ’45 sebagai aktifis anti babi untuk semua produk. Maksudnya, mereka amat gencar mengkampanyekan (baca:mengharamkan) segala sesuatunya, lantaran produk itu menurut mereka dipastikan mengandung babi. Walaupun di dalam keterangan pada kemasan, sama sekali tidak tercantum.

Buat bangsa Indonesia, kampanye anti babi ini amat diterima dan banyak penggemarnya. Sebab babi itu selalu dikaitkan dengan benda najis yang derajatnya sampai ke tingkat mughallazhah.

Maka ketika ada isu babi yang terkandung secara tersembunyi pada suatu produk, kontan serentak mereka langsung mengeluarkan vonis : HARAM.

Dengan cara seperti ini, sebagian teman saya itu merasa sudah beramar-makruf nahi munkar, yaitu mengingatkan orang-orang untuk tidak makan babi.

Namun kalau saya baca literatur fiqih, ada sebuah istilah yang nyaris jarang diungkap, yaitu istihalah. Istihalah adalah berubahnya wujud suatu benda menjadi benda yang lain, sehingga membuat benda yang asalnya najis itu menjadi tidak najis.

Contohnya adalah khamar yang najis itu berubah menjadi tidak najis dan halal diminum, ketika berubah menjadi cuka. Bahkan Rasulullah SAW amat gemar makan dengan lauk cuka.

Contoh lainnya adalah air mani. Jumhur ulama terkecuali Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa air mani itu najis. Tetapi apabila air mani yang najis itu sudah menjadi janin atau bayi manusia, maka hukumnya tidak najis lagi.

Contoh ketiga adalah kulit bangkai yang hukumnya najis sebagaimana dagingnya. Tetapi jika bangkai itu dikuliti, lalu kulitnya disamak (dibagh), maka oleh Rasulullah SAW difatwakan hukumnya sudah tidak najis lagi.

Ayyuma ihabin dubigha faqad thahura (semua kulit bangkai yang telah disamak, maka hukumnya menjadi suci).

Intinya adalah suatu benda yang najis itu apabila mengalami perubahan mendasar menjadi benda yang lain, maka hukum najisnya sudah hilang alilas menjadi suci.

Daging ikan lele sebenarnya terbuat dari benda najis, sebab lele tumbuh subur di kolam yang menampung kotoran hewan bahkan kotoran manusia. Tetapi ketika semua kotoran yang najis itu sudah masuk ke perut lele dan diolah sedemikian rupa, sudah bukan benda najis lagi.

Sepanjang pengetahuan saya, belum ada satu pun ulama yang mengharamkan daging ikan lele. Padahal 100% makan kotoran, namun kotorannya sudah berubah menjadi daging lele.

Bangkai babi yang dipendam di dalam tanah, apabila sudah busuk dan berubah menjadi tanah, lalu di atas tanah itu kita tanami tanaman singkong, maka singkong yang itu tidak najis. Sebab meski dapat ‘gizi’ dari unsur hara tanah yang subur lantaran ada kuburan babi, namun yang kita makan bukan babi, melainkan singkong.

Kita sepakat bahwa babi itu haram, tetapi tidak mungkin kita mengharamkan singkongnya, hanya lantaran menyerap unsur dari babi. Rasanya tetap rasa singkong dan bukan rasa babi. Bagaimana mungkin singkongnya jadi haram hanya gara-gara punya masa lalu dari unsur babi?

Singkong itu adalah mantan babi dan bukan babi. Maka singkong itu halal dimakan.

Merah Putih di Dadaku

Siangsiang. Panasnya bukan main. Sambil menggendong bayi 2.5blnku yg lagi nyusu, ku sapu lantai rumah yg lebar ini, rasanya ngosngosan.

Sampai juga ke ruang tamu. Buka pintu depan anginnya kencang nian. Debunya kembali beterbangan. Dng susah payah kukeluarkan segala rupa debu dan kotoran dari dalam. Lega.

Bayiku sdh lelap ternyata. Kuatur posisi gendongannya. Kuambil toples isi kacang telor sisa lebaran. Cuma aku yg doyan. Suami alergi telurnya. Sofia nggak suka kacang tanahnya. Rejeki mamanya.

Ku makan sambil duduk di teras depan. Entah mengapa hatiku gundah. Gundah memandang bendera merah putih yang berkibar diterpa angin. Gundah pada presiden yg seperti tak punya nyali. Seperti wayang yang jalannya ditetah dalang. Gundah pada sesama warga negara yg tak mau mentolelir keyakinan warga negara lain. Gundah pada warga negara yg bersikeras menolak Pancasila. Gundah pada warga negara non muslim yg dipaksa berjilbab. Gundah pada warga negara yg diusir dari tanah lahirnya. Gundah pada TKW yg disiksa majikannya di luar negaranya. Gundah pada warga negara yang ngotot mengimpor budaya kolot negara lain. Gundah pada para koruptor yang tidak ditembak mati.
Gundah gundah ndah ndah dah dah ah ah

Bayiku melek. Kususui lagi. Tibatiba basah. Ngompolin rokku sedalamannya. Kremmus! Sekali emplok tiga empat kacang telor ku kunyah. Lalu Sofia dan ayahnya minta ijin nonton karnaval 17an di alunalun kota. MERDEKA!! Pekikku gundah di dalam dada.

20130818-133516.jpg

Liburan Th 2013

Alhamdulillah, akhirnya terlaksana juga rencana liburan kami di tahun 2013 ini. Secara kami beli tiket ke Bangkoknya sudah dari 6 bulan yang lalu. Ya, kami memanfaatkan early birdnya maskapai Garuda Indonesia. Harganya dapet lumayan banget, bertiga sekali terbang ke BKK cuma dibanderol Rp 3 juta rupiah! Kami pun hanya memesan tiket one way saja karena kami memang berencana akan lama jalan dan berencana pulang dari Singapura, jadi urusan terbang balik nanti beli di jalan.

Tiket Garuda

Seneng rasanya dapat tiket Garuda murah. Pengalaman betapa nyamannya terbang dari Bali dengan Garuda yang super besar (1 baris 10 kursi) membuat kita ketagihan pingin nyoba lagi. Padahal dulu pun seharusnya naik Citilink, tapi karena satu dan lain hal dipindahlah kami ke pesawat jurusan Australia – Denpasar – Jakarta itu hahaha.

Rencana awal kami hendak membawa si unschooling girl kami ini keliling ASEAN. Sekalian nyobain bagaimana hidup di negara ASEAN lain dan suami tetep sambil kerja. Tapi kenyataan demi kenyataan datang dan membuat rencana itu berubah halauan hehe. Pertama, sebulan setelah pesan tiket saya positif hamil! Dan di bulan-bulan pertama kehamilan sempat ngeflek. Ditambah sampai minggu ke 11 baru keliatan dedek janinnya. Semua itu membuat saya ikhlas-ikhlas saja kalo emang rencana jalan ini batal. Suami juga gak masalah kalo tiket Garudanya hangus, Sofia juga tak kalah ikhlas dari saya (love you Sofia), toh kehamilan saya yg lebih penting. Sudah 5 tahun menanti dan Sofia juga sudah hampir 7 tahun sudah cukup besar untuk punya adek 🙂

Kenyataan kedua, juga sebulan setelah tiket di pesan Suami mendapatkan karyawan! Ya, kami memang sudah mengagendakan penerimaan karyawan sejak bulan Juli, tapi ternyata baru bulan September kami mendapatkannya. Namanya punya karyawan yang sudah pasti bertanggung jawab untuk menggajinya masak mo ditinggal gitu aja gak dikasih kerjaan? Makan gaji buta dong? hehehe.

Waktu semakin mendekati hari H. Sebulan sebelum tanggal keberangkatan saya memaksa suami yang super sibuk dengan karyawan dan proyek-proyek barunya untuk rembugan. Maka kami pun membuat beberapa pertimbangan:

1. Alhamdulillah kehamilan saya sudah memasuki trimester kedua dan kondisinya semakin bagus dan sehat. Keluhan-keluhan ekstrem di trismester awal sudah menghilang sama sekali.

2. Hasil baca-baca, konon trismester kedua kehamilan adalah saat yang tepat buat traveling. Dari sisi kesiapan kondisi ibu dan juga keribetan dengan maskapai penerbangan. Banyak baca pengalaman ada yang di tolak terbang oleh maskapai waktu kehamilan memasuki trismester ketiga. Sedangkan trismester pertama masih sangat riskan.

3. Mau punya bayi lagi yang artinya paling enggak nunggu dua tahun lebih untuk bisa jalan jauh. Padahal tahun 2012 kami nggak jalan kemana-mana sibuk oleh urusan pindah rumah hehehe.

4. Urusan pekerjaan suami, so far dia berdiskusi dengan partner kerjanya di Jakarta menggunakan Face Time dan Trello. Jadi asal ada internet ngomongin kerjaan bisa dipantau dari jarak jauh. Nah, sekalian nih mo nyoba ngendaliin kerjaan para (dua) karyawannya dari jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Dari keempat pertimbambangan di atas, kami pun memutuskan untuk,”oke, kita jadi jalan-jalan tapi dengan catatan pindah halauan yaitu hanya ke satu negara saja yaitu Thailand”. Dan saya pun dengan senang hati kebagian tugas membuat itinerary dan yang menriset serta mempersiapkan ini itunya. Suami yang sudah sibuk dengan kerjaannya maunya tinggal mesenin hal-hal yang harus di pesan dimuka seperti penginapan, transportasi, dll. Pastinya yang sudah saya survey terlebih dahulu.

Hasil riset saya mengarah ke Chiang Mai selain ke Bangkok tentunya. Memang saya dan suami sudah pernah ke Bangkok tapi belum buat Sofia. Disamping itu dulu Madame Tussauds belum ada dan kami juga kelewatan menyusuri Chao Phraya. Kami pun memperpendek perjalanan dari yang rencananya sebulan lebih jadi 16 hari dengan rincian 10 hari di Chiang Mai dan 4 hari di Bangkok. Sisanya adalah dalam perjalanan.

 

Tuhan Mengabulkan Doa Kami

Alhamdulillah,,,setelah 2.5 tahun menunggu sejak keguguran di awal tahun 2011 kemarin, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa kami: saya hamil kembali. Dan saat saya menulis ini sudah memasuki minggu ke 18.

Rasanya tak terkira kembali merasakan ada yg berdenyut-denyut di dalam perut saya lagi ketika janin sedang cegukan atau bergerak 🙂

Tidak seperti ketika hamil Sofia dulu atau yg kedua kemaren yg tidak merasakan apapun kecuali cepet banget capek. Kehamilan kali ini agaknya lebih ribet hehehe. Untungnya cuma di trimester pertama saja. Dari gak bisa bau wangi2an: deodorant suami, sabun sekeluarga, sabun cuci, obat pel, bawang, dll. Lalu nggak doyan manis manis..maunya yang asyem syem syem. Akhirnya ngerasain juga yg namanya hamil suka asem2. Dulu jaman Sofia sampe bingung: katanya ibu hamil suka asem-asem kok aku enggak? 🙂
Yg sekarang untung depan rumah ada yg punya pohon belimbing wuluh dan sebelah rumah punya jambu rujak yg kecil2 itu lho. Enak deh bisa minta hehehe…tp setelah habis buah2 itu baru deh kelabakan. Lucunya, bikin teh manis/minuman manis lainnya mo dikasih gula segimana aja gak berasa manis.
Yg menyusahkan tapi dinikmati adalah…morning sicknya! Sebenernya bukan morning sick sih, wong muntahnya tiap sore. Dan begahnya perut benar2 masyallah! 😀 Posisi tidur gimana aja serba salah.
Yg lebih aneh lagi masalah liur dan dahag. Buset, mulut rasanya ga berhenti berliur. Sehari bisa puluhan kali meludah. Entah, mulut tiba2 seperti orang berkumur aja bawaannya. Susahnya kalo lg sholat sama mo tidur. Kalo sholat lafalnya dibatin hihihi. Kalo mau tidur harus mangap biar keanginan n liur gak keluar hahaha! Aneh deh pokoknya. Dan dahaglah yg memicu si jackpot 😀

Sampai sekarang pun berat badan kok gak bertambah-tambah ya? Tenang sih, secara pas mulai hamil masih punya kelebihan berat badan 5kg kalo pingin seperti waktu perawan hahay! 😀

Yang penting sehat. Dan semoga sehat terus sampai melahirkan nanti dengan lancar dan selamat. Amin ya Allah….
Eh ya gak lupa saya ucapkan terimakasih banyak berkat doa temen2 pembaca blog yg waktu saya nulis tentang keguguran saya kemaren. Semoga yg masih sedang menunggu momongan juga segera dikabulkan oleh Allah. Aminnn.

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: