Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung?

Bahkan Mice pun sadar dng masalah sekolah di negeri ini! @ Kompas 4/3/2012

Pertanyaan bpk ANH:

Apa dengan tidak mengajarkan ke anak (Calistung) di usia emas nya itu berarti memanjakankan anak yang memiliki kemampuan akademisnya…..

Kita khan bisa menyelipkan huruf2 ato angka2 dalam proses bermain anak. Kalau mereka mampu kenapa tidak diteruskan (kemampuan otak anak juga berbeda-beda ada yang mudah nangkap dan ingatannya tajam dan ada juga yang tidak khan Bu…..)

Jawaban:

Jd begini Pak, kami menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia itu tdk memahami perkembangan otak anak, hal itu mengakibatkan para ortu salah mengasuh dan para guru salah mendidik. Dan apa akibatnya dr salah2 itu?

Kita bisa lihat orang tua yg seharusnya sdh dewasa bertingkah spt anak2. Banyak. Contoh gampangnya anggota DPR kita yth. Tingkahnya persis anak TK. Kerja nggak bener tp minta imbalan lebih, nggak dikasih ma rakyat tp malah ngelunjak.

Contoh ke-2, kita lebih banyak mencetak insan2 bermental pegawai bukan visioner, bukan pakar/ahli dibidang masing2, bukan orang2 yg bermental pengusaha pembuka lowongan kerja. Rakyat Indonesia tdk suka mengambil resiko kegagalan, pilih jd pegawai krn tenang mendapat gaji bulanan tp ketika di PHK kelabakan nggak punya keterampilan.

Contoh ke-3, kita terbiasa mengapresiasi rangking teratas (5/10 besar), nilai sempurna (80-100) kita jarang mengapresiasi kerja keras mereka dalam belajar. Padahal ada anak yg sudah belajar mati2an tapi mereka tetep gak dpt nilai bagus gak dapet rangking krn kemampuan mereka tdk sama dan bakat mereka pun beda2. Akibatnya? ketika UN sekolah melakukan kecurangan diamini oleh ortu (sdh terjadi bukan?) Kalau anak2 kita terbiasa dihargai kerja kerasnya bukan angka atau nilainya semata, mereka pasti menolak disuruh curang, karena mereka PD dengan hasil usaha belajarnya sendiri, tapi nyatanya…buanyakkk anak2 itu yg melaksanakan perintah memalukan itu. Dan kita sekarang pun memiliki pahlawan cilik kejujuran segala.

Para ahli otak di dunia termasuk di Indonesia semacam Indonesian Neuroscience Society sdh lama melakukan penelitian bahwa: otak anak2 itu belum berkembang sempurna(matang) hingga dia berusia 20-25th! stlh sempurna baru mereka dianggap yg namanya “Dewasa”. Bayangkan!

Otak kita dibagi 3: batang otak (diatas leher), limbik (kepala bg belakang), dan pre frontal cortex/PFC (kepala bag depan/di jidat). Perkembangan ketiganya itu pun sesuai dng urutan diatas. Jd PFC itulah yg terakhir berkembang dng sempurna dan yg menandakan seseorang mjd dewasa.

Kita pasti sdh familiar dengan kisah Rosulallah yg ketika mengimami sholat beliau sujudnya lamaaaa sekali. Lalu para sahabat bertanya: “kenapa lama? apakah Rosulallah sedang menerima wahyu dr Allah SWT?” Rosul menjawab:”tidak, cucuku tadi menaiki punggungku”. Jd beliau menunggu sampai cucunya turun dr punggungnya. Beliau tdk memberi isyarat pd cucunya unt turun. Tak spt kita, kalau kita paling dicubit itu anak hahaha.. benar bukan?

Apa yg kita petik dr kisah diatas? Rosul lebih mementingkan/mendahulukan cucunya yg sedang bermain2 ketimbang ibadahnya! Subhanallah…!

Dan apa hubungan kisah diatas dengan perkembangan otak?

Sambungan otak anak2 itu belum sempurna, otak mereka baru siap menerima hal2 kognitif pada usia 7-8 th. Sebelum usia itu, dunia mereka yg pantas adalah hanya bermain, bermain dan bermain. Dan mereka PUN tidak boleh DIMARAHI. Allahuakbar! Sebelum ada ahli otak yg meneliti, Rosulallah sudah menerapkan hal itu pada cucunya!

Lalu apa akibatnya kalau masa2 usia bermain mereka direnggut untuk belajar hal2 yg kognitif? –> Dewasanya kelak mereka bertingkah spt anak kecil: suka mengurung burung demi kesenangannya sendiri, sakit2an karena ingin diperhatikan orang2 sekitarnya, spt anggota DPR yg saya tuliskan di atas, korupsi demi kepentingan diri sendiri/keluarga/golongan dan tdk merasa bersalah malah ngeles terus di pengadilan, dannn sikap kekanak2an lainnya

Kalau kita ingin membuktikannya, ada ciri2 yang mudah kita lihat bahwa perkembangan otak anak2 belum siap untuk menerima hal2 kognitif :

(1) ketika kita membacakannya sebuah cerita/dongeng mereka akan meminta kita mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Kita yg tua sampai bosen tp dia tak pernah bosen mendengar cerita kesukaannya itu diulang2 berkali-kali berhari-hari.
(2) mereka yg antusias belajar membaca lalu bisa, tapi mereka tidak paham dengan apa yg mereka baca.

Silahkan dipraktikkan.

Kalau mereka hari ini minta dibacakan cerita A besok minta cerita B besoknya lagi C esok lagi D dan kalau mereka sdh paham dengan apa yg dibacakan, artinya otak mereka sdh siap menerima hal2 yg kognitif.

Lalu apa yg seharusnya kita ajarkan pada mereka (0-7/8th)?

1. JANGAN DIMARAHI

2. TIDAK DIAJARKAN MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG.

3. Bermain role play; memahami bahasa tubuh, suara dan wajah; berbagi hal yg memberikan pengalaman emosional, field trip, mendengarkan musik, mendengarkan dongeng,

4. Bahkan, anak usia 0-12th pengasuhan dan pendidikannya ditujukan untuk membangun emosi yg tepat, empati, (mood & feeling)

 

Jadi, aturan pemerintah tentang usia masuk SD harus minimal 7th itu bukan tanpa alasan.

Tentu boleh2 saja menyelipkan angka dan huruf, tapi tidak belajar membaca dan menulis dan menghitung.

Mudah nangkep & ingatannya tajam atau tidak bukanlah ukurannya.

Bagaimana dengan tidak mengajarkan anak calistung diusia emas diartikan kita memanjakan anak? wong dia belum bisa mikir itu sudah waktunya dipelajari atau belum 🙂 Usia emas itu jualannya susu Formula Pak.. 🙂 Usia emas semestinya kita artikan sebagai masa2 tumbuh kembang anak yg paling pas untuk kita tanamkan budi pekerti dan akhlak yg mulia.

Slogan TK: bermain sambil belajar, belajar seraya bemain JANGAN diartikan dng BELAJAR calistung.

Para peneliti otak diseluruh dunia sepakat bahwa PFC seorang anak belum siap untuk dijejalkan hal2 yg kognitif. Apa akibat dr pemaksaan terhadap hal2 kognitif?

– membuat anak tidak mampu menunjukkan emosi yg tepat.

– kendali emosi (intra personalnya terganggu)

– sulit menunjukkan empati.

Sudah banyak ortu yg mengeluhkan: anak2nya ketika masih usia dini sangat antuasias belajar CALISTUNG lalu ortunya merespon dengan memberikan porsi lebih banyak entah mengajari sendiri secara intensif atau memasukkannya ke les2 calistung daaannnn ujung2nya datang pada satu masa anak2 itu bosan lalu akhirnya mogok belajar mogok sekolah. mereka menjadi malas. Itu terjadi karena otaknya yg terforsir sudah kelelahan. Bahkan ada yg saat mau ujian malahan blank, nggak bisa mikir sama sekali.

Tenang, Pak… kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ini sudah terbukti.

Jadi sudah sangat jelas alasan saya tidak setuju dengan diadakannya lomba calistung untuk anak TK dan sederajat di Madrasah kita. ahh belum lagi efek kejiwaan yg dihasilkan pd anak2 itu karena mengikuti lomba2 terlalu dini apalagi calistung. Sudah terlalu panjang, kapan2 Insyallah saya tulis jg disini.

Wassalam.

 

*Pengetahuan yg saya tulis diatas saya dapatkan (sarikan) dari hasil mengikuti seminar2 parenting ibu Elly Risman, Psi dan talkshow2 serta tulisan2 Ayah Edy.

*Ini saya lampirkan Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen tentang larangan Calistung pada PAUD dan larangan ujian/tes untuk masuk SD. Silahkan di download. Bisa ditunjukkan pada sekolah yg memberlakukan syarat tes calistung untuk masuk SD dan sederajat.

 

 

Meluruskan Vaksin/Imunisasi oleh Dokter Oei

Pagi ini, 15 Desember 2011, dapat ulasan yg sangat komprehensif tentang VAKSIN/IMUNISASI dari dokter Oei lewat akun twitternya @drOei. Saya sudah ijin untuk copy paste ke blog dan FB biar teman-teman yg lain bisa ikut membaca sebagai tambahan pengetahuan 🙂 Ini sdh saya urutkan sesuai tweetnya dr. Oei tanpa saya tambah atau kurangi. Kalau ingin berdebat lebih lanjut, silahkan lewat twitter dengan dr. Oei (@drOei) langsung ya… 🙂 Fyi: beliau muslim 🙂

———————-

Makin bingung dg vaksin? Atasi ‘ketakutan’ terhadap vaksin dengan cari tahu manfaat & kandungan vaksin, buka wawasan – percuma berdebat tanpa dasar.

Ketakutan no.1: tidak yakin manfaat vaksin? Vaksin dirancang untuk menggugah respon imun tubuh terhadap penyakit yg potensial berbahaya

Karena sifatnya spesifik, tiap vaksin bekerja mencegah penyakit tertentu – untunglah beberapa jenis vaksin bisa dicombo sehingga lebih efisien

Sifat yg spesifik ini berbeda dengan suplai zat2 imunitas pasif dari ASI yg bersifat umum – bayi ASI terbukti lbh sigap merespon vaksin apapun

Perlindungan vaksin memang tidak 100%, tp sangat berguna mencegah terjadi komplikasi fatal jika tertular (naudzubillah) » ini hrs dipahami 🙂

Ketakutan no.2: tidak yakin dg kandungan vaksin? Dlm vaksin terdapat komponen aktif, pelarut, pengaman, dan zat tambahan yg masing2 ada fungsinya.

1) Komponen aktif dlm vaksin terdiri dari bakteri/virus yg dilemahkan/dimatikan, atau sebagian/produk dr bakteri/virus yg dpt merangsang respon imun.

Komponen aktif vaksin yg beredar sdh melalui uji preklinis & uji klinis bertahun2, sehingga hanya buat tubuh bereaksi tanpa menjadi sakit

Karena itu hrs dipastikan, kondisi sebelum imunisasi hrs fit – agar tubuh bisa membuat perlawanan & jadi kebal saat tertular (kelak)

2) Pelarut vaksin – umumnya cairan fisiologis steril, ditambahkan utk membuat vaksin berwujud cair, sehingga dapat disuntikkan/diteteskan

3) Pengaman berfungsi mencegah vaksin terkontaminasi jamur/kuman – juga utk menjaga stabilitas & kinerja vaksin

Pengaman dlm vaksin sering dijadikan alasan menolak vaksin » vaksin mengandung merkuri? bisa bikin autis?

Faktanya, thimerosal (etil-merkuri) terbuang dari tubuh 7x lbh cepat dibanding metil-merkuri & kadar kumulatif slm 6 bln < ambang aman paparan

Sejak th 2001 thimerosal tdk digunakan lg dlm vaksin DTP, HepB & Hib – sedangkan MMR, yg ramai diperbincangkan, tidak mengandung thimerosal !

Anggapan MMR memicu autis sudah diklarifikasi dengan berbagai penelitian, bahwa tdk ada hubungan sebab-akibat » autis terjadi bkn krn vaksin !

4) Zat tambahan bisa berupa pengikat agar vaksin lebih mudah dikenali sel imun, atau sisa2 bahan yg dipakai selama proses pembuatan vaksin

Zat tambahan yg dikhawatirkan » paparan aluminium? gelatin dari bahan haram? albumin telur bikin alergi? Bahas 1-1 yuk biar puas 🙂

Selain dari vaksin, sejak lahir bayi terpapar garam aluminium dari lingkungan sekitar – udara, air, obat2an, makanan, bahkan ASI & sufor !

Kandungan gram aluminium ASI ±40mcg/L, pd sufor ±225mcg/L, dlm vaksin DTaP ±625mcg/L » tp ingat, dosis vaksin hanya 0,5mL saja kan?

Apa itu gelatin? Gelatin = bahan kolagen (dr sel/jaringan sapi/babi) » berfungsi sebagai stabilizer supaya vaksin tdk mudah rusak saat disimpan

Tidak semua vaksin mengandung gelatin, beberapa yg bersinggungan dengan produk porcine (enzim babi) adalah vaksin meningitis, MMR, IPV, rotavirus

Tentang alergi vaksin krn mengandung telur, yg terdapat pd vaksin MMR & influenza hanya residu (sisa) protein telur yg dipakai sbg media pembiakan

Ketakutan no.3: tidak yakin krn beda ideologi? Kita memang masih harus impor vaksin – tp apa iya barang impor sengaja ditujukan mencelakai anak2 kita?

Bagaimana dg vaksin produksi dlm negeri yg sudah diakui & digunakan di >100 negara – klo ini senjata bioteroris, artinya ‘ke-2 kubu’ sdh impas kan? :p

Ada lg argumen vaksin haram krn memakai janin – yg dimaksud adalah embrio, yg selnya bersifat ‘imortal’/hidup abadi » contohnya sel punca

FYI, krn virus rubella hanya bisa hidup pd sel manusia – sehingga membiakkan vaksin tersebut hrs dg kultur jaringan manusia, tp tetap pakai etika 🙂

Induk vaksin rubella diambil dr janin yg terinfeksi rubella (sdh abortus) di th 1965, sampai saat ini induk vaksin tersebut masih digunakan kok 🙂

‘Barang haram’ dlm vaksin » babi, masih diperdebatkan & terus disebut2, tanpa penjelasan bahwa tidak semua vaksin diproses dengan gelatin dari porcine

Pd kemasan vaksin yg beredar sdh ada peringatan ‘pd proses pembuatan bersinggungan dengan bhn bersumber babi’ – pls cek dulu, jgn asal curiga 🙂

Kembali pd iman masing2, apakah transformasi sel hewan menjadi substansi tidak murni (gelatin), sudah melalui pencucian berkali2 & tidak untuk dimakan = haram?

Rumor konspirasi, ‘pembantaian’ janin, vaksin mengandung babi, dll perlu direnungkan lagi – tidak lantas ikut arus tanpa tau asal muasalnya

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap otonomi ortu, imunisasi = hak anak. Tdk ada paksaan, cukup gunakan ilmu & keyakinan untuk pilih yg terbaik 🙂

—————

Bermain Akting

Sofi makan di meja makan, saya nyupir di dapur. Tiba2 dia tutup pintu dapur sambil bilang: Mammaa, Sofia mau pergi mammaa, Sofia mau pergii… (sedih)
Me: Sofffia, jangan tinggalkan mamma soffiaa.. Jangan tinggalkan mamma (menangis)

Lalu kembali dia buka pintu dan bilang: kita tadi akting ya ma? (wajah lempeng)
Me: iya (tak kalah lempeng)

…hening. Dia melanjutkan makan, saya tetap nyupir…

Disiplin dengan Kasih Sayang (1)

Ini fav ortu yg susah ngatur anaknya:
(bag 1) #parenting #ortu+anak bikin aturan bersama&sepakati bersama. #tegas #tegar #konsisten

Sofi sepakat dpt jatah nonton tv/maen iPad 2x dlm sehari: 30menit stlh maksi pulang sekolah & 30-45menit stlh makan malam.

Kami sdh lama memberlakukan aturan itu, jd kalo dia lg maen/nonton tiba2 alarm bunyi tanda waktu habis, dia sendiri yg bakalan matiin tv/iPadnya. Ga pake protes.

Tp namanya juga bocah bin anak2, kadang klo lg pengeeen bgt liat pelm/video yg baru mulai n tiba2 alarm bunyi dia nangis gero2. Maunya nambah, gak peduli waktu habis.

Anak2 itu persis kayak anggota DPR kita, kalau sdh ada maunya sukanya memaksakan kehendak.

Bedanya, otak anak2 itu sistemnya EAP (Emosi-Aksi-Pikir), jd klo punya kebutuhan (nonton pilm/main ipad) ya itu yg diperjuangkan. Nggak pake mikir2. Wong memang begitu. JADI ORTU MUSTI MEMAHAMI HAL INI.

Tp klo anggota DPR itukan manusia dewasa (mustinya otaknya bersistim EPA) yg sudah bisa memikirkan dulu keinginan/kebutuhannya sebelum bertindak untuk minta lebih.

Makanya, kalo dlm kondisi anak spt ini (nangis/ngamuk/tantrum) minta nglanjutin nonton tv/main iPad, kami sbg ortu hrs tahan ngadepin reaksi berlebihnya itu. BIARIN SAJA. CUEKIN. Biasanya Sofi (anak) akan diem dng sendirinya lalu tiba2 ceria itu artinya dia sdh sadar kalau itu adl aturan bersama yg ga bisa diganggu gugat jd dia merasa percuma gw nangis. Mak gue ga bakalan kasih!

Beda jauh ma Anggota DPR ya? Kalo didiemin bukannya nyadar malah ngelunjak! Dasar pethuk! Itulah kenapa alm. Gus Dur bilang anggota DPR tuh kayak anak TK!

Indonesia is a Fatherless Country!

Mumpung msh hangat, yg kemarin lihat Matanajwa dan ada pak Puspo Wardoyo sang penerima poligami award.

Jadi pak Puspo ini sibuuuuk sekali ekspansi ayam bakar Wong Solonya, jadinya dia perlu istri unt mendampinginya kemana2 jdnya sekarang istrinya 4: 1 di Bandung, 1 di Jakarta, 2 di Medan.
Saking sibuknya, pak Puspo sampe lupa. Katanya anaknya 12, stlh dia sebut namanya satu2, akhirnya ketahuan kalo ternyata 13. Eeeeeh… Ujung2nya dia bilang: “soal anak urusan ibunya” *petir pun menyambar* Bahkan ketika Najwa bilang “Nabi saja tak rela anaknya dipoligami” pak Puspo tetep keukeuh mengajarkan anaknya tentang berpoligami bahkan sejak dini (TK).

Astagfirullah… Pak Puspo ini lupa, bahwa anak2 tak sekedar butuh materi, tp juga figur bapak bagi jiwa2 mereka. Saya kasihan dng beliau karena apa? Berat hishabnya di hadapan Allah dng tanggung jawab ke 12 atau 13 anaknya itu!
Dia lebih mementingkan memperbanyak cabang wong solo (hartanya) drpd mengasuh jiwa anak2nya. Dia pikir yang penting dia sudah menafkahi, bahkan lebih. Dia kira kalau sudah bayar ustad, sudah sekolahin anaknya di sekolah islam yg mahal2, trus ngarepin doa Robighfirlli…dr ke 12 atau 13 anaknya dia akan masuk surga. Dia lupa tanggung jawabnya menjadi bapak bagi jiwa anak2nya.

Ibu Elly Risman mengingatkan kami para orang tua: Masa depan macam apa sih, yg orang tua harapkan pada anak2nya? Orang tua mana yg tahu anaknya kelak menjadi apa? Kita sibuk menekan anak kita dng apa yg kita bilang demi masa depanmu! Kita sibuk mencari uang unt membayar sekolah, kursus2 yg tak pernah mereka inginkan, yg tak sesuai dng minat dan bakatnya dng mengesampingkan kebutuhan jiwa mereka. Kita lupa. Lupa. Bahwa masa depan sesungguhnya anak2 kita yang pasti adalah menjadi orang tua juga seperti kita saat ini.

Cukup pak Puspo Wardoyo yg kita kasihani, jangan bapak2 anak2 kita, jangan suami kita kita para istri.

Wallahu A’lam bi-alShawab…

*Itulah kenapa NEGARA DENGAN PENDUDUK MUSLIM TERBESAR DI DUNIA ini dijuluki: FATHERLESS COUNTRY.

Orang Tua, Sadarlah!

Repost status FB mas Anton DHN
Jika engkau ingin melihat kecemasan-kecemasan orang tua, lihatlah pada wajah anaknya. Kebanyakan anak lebih banyak hidup dalam kecemasan orang tua ketimbang ia didorong lewat harapan-harapan penuh percaya diri. Orang-orang tua adalah orang yang cemas dan sikap cemas ini kerap menjadi penjara bagi kaum muda.
Komentar saya:
Yani Widianto

Benar sekali, Mas. Orang tua harusnya menciptakan zero emotion pd jiwa anak. Tp nyatanya, ortulah yg kini membuat anak2nya tertekan. Banyak memendam emosi yg tak tersalurkan. Akibatnya: tawuran antar pelajar sdh jamak, pun tawuran antar warga! Mereka merasa puas karena pada akhirnya bisa melampiaskan emosi tanpa berpikir panjang. Ortu lah yg membuat anak2 generasi penerus bangsa ini berhenti berpikir! It’s all about SALAH ASUH & SALAH MENGASUH.
Yani Widianto Jaman sdh berubah, dulu petani miskin bekerja bersama dng anak2nya yg banyak bisa sambil menanamkan nilai2 hidup pengisi jiwa. Tp kini, kedua ortu kerja diluar tanpa ada waktu berbagi nilai hidup dng “weekend children” mereka. Mereka menyerahkan pengasuhan pd pembantu & suster dng membayar murah!! Sadarlah wahai para orang tua, jng hanya mengeluh negeri ini bobrok! Krn kalianlah penyebabnya!!
Yani Widianto Jangan hanya berkoar-koar menyuruh para pemuda pemudi Indonesia bangkit! It’s not FAIR!

Kita para orang tua yg tak lagi pemuda/pemudi jng merasa lepas tanggung jawab. Kita juga harus bangkit. Orang tua seperti kita-kita inilah yang melahirkan para pemuda pengecut atau pemuda yang bangkit tanpa disuruh-suruh!


Mama Nggak Boleh Nakal

He: brangkat dulu yaa.. Jng nakal di rumah ma anaknya.
Me: *ngakak sampe jongkok*
He: *ngguya ngguyu ketawa ketiwi* Loh iya dong. Kalo ma anaknya baru bilang: yg pinter yaa di rumah.

—–sensor—-

Tak Hanya Pemuda, Orang Tua juga harus Bangkit!

Jangan hanya koar2 nyuruh pemuda pemudi Indonesia bangkit. It’s not fair!

Kita para orang tua yg sudah tak lagi pemuda&pemudi juga harus bangkit, jangan lepas tanggung jawab. Kita musti sadar bahwa ortu seperti kita2 inilah yg bakalan melahirkan pemuda pemudi pengecut atau pemuda pemudi yang bangkit tanpa harus disuruh-suruh!

Dua Cara Mengasuh Anak

Mengasuh anak dng penuh emosi, ngomel2, bentak2, marah2 dan ngasuh anak dng penuh usaha unt sabar, usaha unt tersenyum itu sama2 menguras energi dan melelahkan.

Obatnya pun juga sama, yaitu wajah polos anak-anak kita.

Bedanya yg satu tak menimbulkan penyesalan.

Ibu, Pembantu, Pembantu, Bapak

Kalau Nabi Muhammad SAW masih hidup dan tinggal di Indonesia lalu melihat kekacauan bangsa ini, beliau pasti akan mengubah redaksi sabdanya dalam Hadist yg diriwayatkan oleh at-Tirmizi:

“Daripada Muawiyah bin Haidatal Qusyairi katanya aku bertanya Rasulullah SAW, siapakah orang yang paling patut aku berbuat baik?,
Rasulullah SAW menjawab : ibumu (krn dia telah hamil & melahirkanmu),
kemudian aku bertanya lagi siapa?,
Rasulullah menjawab : pembantumu/pengasuhmu/sustermu (krn dia yg mengasuhmu dan merawatmu sehari-hari),
kemudian aku bertanya lagi siapa?
Rasulullah menjawab: pembantumu/pengasuhmu/sustermu (krn dia yang sehari-hari kamu bentak & kamu pancing emosinya),
kemudian aku bertanya lagi siapa?
Rasulullah menjawab : bapamu (krn dia hanya merasa sudah menafkahimu), kemudian orang yang paling hampir dekat denganmu dan seterusnya”.

Wallahu A’lam bi-alShawab…

%d blogger menyukai ini: