Menengok Blog

 

Wow! Sudah lama juga ternyata saya nggak ngurusin apalagi nulis di sini. Dua tahun ternyata. Kalau mau tahu kenapa pasti capek jabarinnya. Jadi cukup saya dan alam semesta saja yang tahu ya?

Sebenarnya selama dua tahun itu pengen banget bisa ngeblog. Banyak banget pengalaman yang pengen ditulis tapi cuma melayang-layang di pikiran. Gitu deh.

E ternyata dua tahun nggak pegang laptop bikin grogi juga mau pake lagi. Bikin laporan PKK di pages aja bingung ngubek-ngubek formatnya. Jadinya yaa belajar lagi ngapalin letak-letak si ini untuk ini si itu untuk ini.

Iya, saya sekarang ditunjuk jadi sekretaris PKK. Keren nggak? Maunya sih nggak mau, tapi nggak boleh nggak mau. Ya sudah, mau nggak mau harus temenan lagi sama laptop.

Jadi geli kalo inget jabatan sekarang. Ish, jabatan, semacam gimana gitu kayaknya. Ya gimana ya? 10 tahun yang lalu sekretaris dirut operasional & marketing, sekarang…sekretaris PKK, itu artinya naik apa turun ya? Yang jelas dulu saya happy  jadi sekretaris pak bos, sekarang juga dibawa happy aja jadi sekretaris PKK hehehe.

Trus? Ngomongin apa ya? Kita ngopi dulu aja deh… Monggo silahkan disruput sendiri sendiri kopinya..

Karena saya belum punya bahan untuk ditulis, jadi sudah dulu deh. Soalnya saya juga mau siap siap ke PKK hehehe. Semacam sibuk banget ya jadi sekretaris PKK…hadeuh….

Sudah sudah, wassalamualaikum…..

Sepasang Relawan Jokowi

Senin, 19 Mei, saya dan suami kaget melihat berita di TV yg menayangkan kesanggupan Jokowi menjadi capres PDIP. Rasanya tak percaya. Kami girang. Tersenyum lebar. Hati kami lega.

Jauh hari kami sering berandai-andai Jokowi nyapres tahun ini. Tapi angan itu kerap kami pupuskan sendiri. Kami tak berani meneruskan angan itu karena merasa tidak mungkin. Hingga TV mengabarkan Jokowi nyapres, maka angan kami mulai nampak bisa jadi nyata.

Sejak itu kami sudah berbulat tekat menyoblosnya. Bahkan kami tidak mau tahu siapa capres yang lain dan siapa cawapresnya kelak, kami seakan tutup mata. Yang penting tokoh idaman sungguhan nyapres, tenang dan tinggal nunggu waktu nyoblos tiba.

Rupanya kami sangat salah. Memasuki masa kampanye, hidup kami malah menjadi tidak tenang sejak kami begitu menginginkan Jokowi yang jadi presiden.

Musabab ketidaktenangan itu datangnya bertubi-tubi. Awalnya adalah fitnah-fitnah yang ditujukan kepada Jokowi yang kami tahu itu adalah kebohongan besar. Kami tak tenang ketika fitnah itu ditulis di media cetak, online maupun elektronik, lalu disebar di media sosial.

Kami semakin tidak tenang menikmati hidup melihat teman maupun saudara sendiri ikutan menyebarkan berita fitnah nan bohong itu di akun media sosial mereka.

Ketenangan kami pecah ketika orang tua kami yang notabene tidak bisa mencari mana berita benar dan mana yang salah seperti rakyat Indonesia kebanyakan pun ikut termakan fitnah itu.

Kami merasa tak pantas hidup tenang ketika tahu bahwa lawan Jokowi dengan strateginya sedemikian rupa mengacaukan pikiran rakyat Indonesia yang kebanyakan masih susah menelusuri kebenaran sebuah informasi.

Kami merasa Tuhan mendengar doa kami, tapi Dia belum mengabulkannya. Maka kami pun harus berusaha agar doa pendukung Jokowi terkabul. Maka kami tergerak menjadi relawan Jokowi.

Awalnya saya menyatakan diri di akun facebook sebagai relawan juru kampanye. Saya dan suami pun bergerak di dunia maya. Sejak itu banyak perdebatan yang terjadi. Perdebatan yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan yang begitu melelahkan. Karena kami berdebat dengan teman baru maupun lama, teman baik, dan juga saudara sendiri.

Masa kampanye yang berlangsung sebulan itu rasanya berjalan sangat lambat. Kami ingin ini segera berakhir. Segera nyoblos Jokowi. Segera menikmati hidup kami dengan ketenangan lahir batin lagi. Karena banyak konsekwensi kami hadapi selaku relawan jurkam di dunia maya: suami yang bekerja di rumah kacau tak bisa fokus kerja, kami sering tidur kelewat malam karena rasanya waktu tak cukup untuk menangkis serangan fitnah yang begitu masif itu. Jadwal sehari-hari ikut berantakan karena sering tidur setelah subuh. Tapi kami ikhlas karena kami yakin sedang membela kebenaran dan kami juga merasa perlu memaklumi karena percaya hal ini akan berakhir tanggal 9 Juli. Tapi ada lucunya juga, ada keromantisan yang “lain” diantara kami. Keromantisan yang hanya ada dimasa kampanye pilpres ini hehehe.

Kami terus memantau perkembangan apapun tentang pilpres. Dan pada akhirnya, seminggu lagi masa kampanye berakhir. Saya menonton di youtube video yang diunggah oleh Jakartanicus: “Anies Baswedan’s Great Speech: Mengapa Jokowi?” Sebelumnya Suami telah lebih dulu menontonnya. Selesai menonton saya termangu. Rupanya menjadi jurkam di dunia maya dapat dikatakan tidak menjamin memperbanyak pemilih Jokowi-Jk. Perlu turun ke dunia nyata agar efeknya lebih konkrit. Saya pun tergugah!

Sebagai relawan mandiri, kami berbagi tugas. Suami ke posko seknas Jokowi di kota kami Jepara untuk meminta materi kampanye. Dapat 50an lembar sticker dan dua buku tentang Jokowi.

Kami sengaja ingin turun kejalan di hari terakhir masa kampanye. 5 Juli, selepas sholat dhuhur kami sekeluarga keluar rumah. Suami memfotokopi selebaran “10 Alasan Memilih Jokowi” sebanyak 50 lembar. Lalu menuju pusat kota yaitu area pertokoan pecinan Jepara.

Awalnya saya akan menyebar selebaran dan sticker ini di pasar, tapi takut melanggar aturan tentang larangan kampanye di fasilitas umum. Karena tidak ingin melanggar aturan kampanye yg lain yaitu dilarang melibatkan anak-anak, kami sepakat, suami di mobil menemani dua putri kami (8 tahun & 1 tahun) Sedangkan saya yang beredar.

Aduh. Campur aduk rasanya. Takut dicemooh. Menanggung malu. Terbayang-bayang asas LUBER lah yang paling menghantui. Sebelum keluar mobil saya berusaha menenangkan diri. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. Berusaha ceria dan percaya diri. Saya pun minta di foto di dalam mobil karena tak punya nyali bergaya di luar dan ketahuan orang saya pendukung Jokowi. Suami pun menguatkan saya dengan tatapan mesranya. Si sulung juga menguatkan mamanya. Ini penting untuk mencontohkan pada putri kami yang ’homeschooling’ tentang bela negara. Akhirnya dengan tekat bulat dan hati bergetar saya buka pintu mobil lalu keluar. Bismillah..

Seingat saya harus santun dan tidak mendikte. Saya tegakkan bahu lalu melangkah. Pertama saya masuk ke toko perhiasan. Dan inilah kata-kata yang meluncur: siang bu, ini dari relawan jokowi,,silahkan buat baca-baca dulu..yang penting tgl 9 jangan lupa nyoblos ya bu..biar surat suaranya tidak di salah gunakan..

Saya kaget. Ternyata saya bisa dan berani! Tak terasa kelimapuluh selebaran dan sticker itu habis. Saya tersenyum juga tertawa dalam hati: I did it!

Banyak reaksi saya terima. Kebanyakan sumringah. Yang cemberut hanya beberapa. Ketahuan mereka milih siapa hehehe. Senang rasanya dapat salam dua jari dari tukang parkir yang juga relawan Jokowi dari desa lain. Geli dan malu-malu senang juga dapat salam dua jari dari sekumpulan bapak-bapak di kios reparasi yang minta kaos. Mereka tak percaya saya relawan mandiri.

Inilah pertama kalinya dalam hidup saya merasa sungguh-sungguh berbuat nyata demi negara. Rasa bangga begitu membuncah di hati saya. Sampai kini masih terasa sensasi itu. Tak terlupakan. Rasanya sulit untuk mempercayai apa yang telah saya lakukan.

Tanggal 9 Juli datang dan meninggalkan rasa sedih karena tak berhasil meyakinkan Bapak dan Bapak mertua untuk memilih Jokowi-Jk. Tapi kami tetap menghormati pilihan mereka yang penting alasannya bukan karena percaya dengan fitnah yang ada.

Pada akhirnya Tuhan sungguh mengabulkan doa kami dan mewujudkan mimpi kami menjadi nyata. Jokowi secara resmi menang dan kami pun tersenyum karena pada akhirnya Bapak dan Bapak mertua menyesal telah memilih lawan Jokowi. Merdeka!

20140905-201826.jpg

Antara Jakarta dan Jepara ada Ungaran

Setiap kelahiran bayi pasti mempunyai ceritanya sendiri. Demikian juga bayi Sonia, putri kedua kami. Saya ingin merekamnya sebagai sejarah indah dalam tulisan ini.

Persalinan kali ini saya ingin senikmat mungkin, sealamiah mungkin, secara aman, nyaman, dan minim trauma. Saya kapok dijadikan barang industri ketika dulu melahirkan Sofia, putri pertama kami. Mari berkilas balik sejenak.

Ya, saya melahirkan putri pertama kami di sebuah RSB besar di Jakarta. Sebuah RSB besar, menurut pengetahuan saya juga cukup punya reputasi di wilayah tersebut, tapi ternyata prosedurnya tak ramah jiwa ibu dan bayi. Setelah 6 tahun kemudian saya belajar tentang persalinan dari para bidan, semua itu ternyata memang sungguh menyakitkan raga dan jiwa ibu dan bayinya. Kenapa? Mari kita urai pangkal dan ujungnya:

  1. Induksi. Waktu itu saya diinduksi karena menurut sang dokter SPOG jika HPL (Hari Perkiraan Lahir) tiba sang bayi harus segera dilahirkan, tidak boleh lebih bulan.
  2. Karena diinduksi maka saya kesakitan luar biasa. Padahal saya tipe orang yang derajat tahan sakitnya level 5 dari angka 10.
  3. Akibat diinduksi, kontraksi rahim (baca: mulas) nya sangat intens tak ada jeda. Ada sih jeda tapi cuma dalam hitungan detik. Padahal kemajuan bukaan 2 ke 3 sangat lambat.
  4. Jadinya saya kelelahan luar biasa. Saya seperti orang yang tidak mengenali diri saya sendiri. Tidak berdaya. Linglung. Tak mampu mengontrol pikiran. Hanya sakit dan sakit yang menguasai pikiran dan tubuh saya.
  5. Tak ada privasi. Akhirnya pada pembukaan 8 saya didorong masuk ke kamar bersalin. Ada tiga ibu bersalin termasuk saya di ruangan itu. Saya tak sempat peduli privasi. Bukaan 10 dokter datang. Saya diminta tidur terlentang untuk bersalin. Saya tak mampu lagi mengejan. Oksigen lalu dipasang di lubang hidung. Episiotomi dilakukan dan Suami pun menandatangani prosedur kelahiran dengan bantuan vakum. Akhirnya putri pertama kami lahir pada pukul 13.00. Yang membuat saya tak berakhir di meja operasi adalah tekat saya yang sudah sangat bulat: saya ingin melahirkan normal!
  6. IMD yang singkat. Bayi Sofia hanya sebentar banget saya peluk di dada karena suster sudah memintanya untuk dibersihkan, diukur, ditimbang dan disuntik. Saya percaya saja. Apalagi saya memang lelah luar biasa.
  7. Pisah kamar. Bayi saya dibawa ke kamar khusus bayi. Karena dia divakum jadi harus masuk inkubator dan tidak boleh diangkat entah berapa lama. Bayi saya tak tidur seruangan dengan saya tetapi dengan bayi-bayi lainnya yang merindukan induknya.
  8. Karena ASI saya belum keluar, bayi saya pun dikasih susu formula. Dari sekian penderitaan di atas, saya menderita sekali tidak bisa langsung memeluk bayi yang baru keluar dari Rahim, lebih-lebih menyusuinya. Padahal saya punya tekad untuk menyusui ekslusif sampai 6 bulan dan melanjutkan sampai 2 tahun.
  9. Karena kurangnya informasi dari suster dan dokter, saya tak berani bergerak maupun duduk di kamar inap. Mungkin mereka menganggap semua ibu yang baru melahirkan sudah paham tata cara pasca melahirkan. Padahal suami dan keluarga yang menunggu pun tidak ada yang mengerti. Maklum cucu pertama dari kedua belah pihak. Akhirnya, hampir 12 jam sesudahnya, atau kira-kira pukul 23:00 malam, ada suster yang memberitahu bahwa saya boleh duduk. Baru kemudian saya bisa membersihkan badan.
  10. Pulang dari RS, ASI saya tetap belum keluar dan kami dibekali susu formula. Seminggu setelah pulang dari RS akhirnya ASI saya keluar. Saya bersyukur sekali. Itu pun setelah saya menangis-nangis mengadu mengaduh pada Tuhan disamping berusaha memompa, memerah, dan memberikannya pada Sofia (merangsang). Di RS tak dikasih tahu cara memijat payudara dan saya pun juga tak tahu kalau itu perlu.
    Setelah melahirkan sampai usia Sofia sekitar 6 bulan, tulang ekor saya sakit luar biasa ketika posisi akan duduk dan hendak bangkit dari duduk.

Kesebelas poin diatas merupakan efek domino yang pangkalnya adalah ketidaktahuan saya sebagai ibu hamil tentang ilmu-ilmu kehamilan dan persalinan sehingga saya hanya pasrah, sepasrah-pasrahnya, pada tenaga medis dan pada ujungnya adalah pengalaman-pengalaman yang sangat traumatis tersebut diatas. Baru 4 tahun dari persalinan yang pertama, saya memberanikan diri untuk berhenti kontrasepsi. Sofia makin besar dan semakin sering menginginkan adik.

Kembali pada kelahiran Sonia.
Pada waktu itu internet sudah terjangkau sehingga saya bisa riset dan membaca berbagai artikel tentang melahirkan. Saya ingin tahu apakah melahirkan memang mesti mengerikan seperti pengalaman saya sebelumnya? Setelah membaca cukup banyak cerita kelahiran, saya akhirnya mendapat jawabannya. Ternyata, melahirkan bisa nikmat. Melahirkan tidak perlu trauma. Bahkan ada yang mengalami senikmat orgasme!

Ketika dinyatakan positif hamil. Saya mulai kembali mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kehamilan yang sehat dan bahagia serta persalinan yang menyenangkan. Disamping banyak menggali informasi baik dari buku, internet dan lainnya, saya juga bergabung dengan komunitas Gentle Birth Untuk Semua (GBUS) di Facebook. Dari sana saya menyimak banyak diskusi. Selain itu saya juga memfollow akun Bidan Kita baik Facebook maupun Twitternya dan banyak bertanya.

Makan bergizi menjadi salah satu prioritas saya, jadi kami mulai mengkonsumsi nasi merah, makan lebih banyak buah. Tidak minum susu hamil. Menahan diri untuk menyeruput nikmatnya kopi dan teh, serta tidak mengkonsumsi mie instan. Kami memang menghindari makanan ber-MSG. Hasilnya berat badan saya hanya naik 7 kg dengan BB janin normal padahal hamil dulu saya sampai naik 20kg!

Prioritas saya yang lain adalah banyak bergerak. Jadinya saya lebih rajin mengurus pekerjaan rumah tangga. Suami pun sempat memuji bahwa kehamilan kali ini saya lebih aktif dari pada yang pertama. Di usia kandungan ke 28 minggu saya mulai mengikuti kelas senam hamil setiap hari minggu. Dan saya pun rajin mempraktekkannya di rumah terutama sebelum tidur malam. Saya senang ketika tahu bahwa bola besar yang biasa suami pakai untuk duduk ketika bekerja ternyata juga berfungsi sebagai birthing ball jadi pada waktunya saya pun mulai sering menggunakannya.

Kehendak Tuhan. Pada usia kandungan bulan ke-7 bersyukur sekali saya dan suami dapat mengikuti seminar hipnobirthing di Semarang dengan nara sumber Bidan Yessie dari Bidan Kita, Klaten. Penyelenggara acara adalah RB Ngesti Widodo dari Ungaran. Banyak sekali pencerahan yang membuka mata kami tentang kehamilan dan persalinan.

Saya menonton banyak video melahirkan, terutama proses kelahiran di rumah dan tanpa bantuan. Semua itu membantu saya memahami dan meresapi bahwa kelahiran adalah sesuatu yang sangat normal dan alami. Hal ini memotivasi saya untuk melahirkan di rumah apabila saya tidak mendapatkan bidan yang sesuai dengan harapan saya. Yang penting bukan di RS.

Kehendak Tuhan berikutnya. Saya membaca salah satu artikel di bidankita.com, ternyata sakit tulang ekor yang saya alami setelah melahirkan pertama dulu disebut Pain Gilder Pelvis (PGP). Ibu melahirkan yang pernah mengalami hal tersebut disarankan untuk menjalani persalinan water birth. Yang pasti saya menghendaki persalinan gentle birth. Disamping itu saya juga ingin menerapkan penundaan pemotongan plasenta.

Pada awalnya saya ingin melahirkan di Klaten di RB Bidan Kita yang dekat dengan rumah orang tua saya di kab. Sukoharjo. Tapi karena satu dan lain hal, keinginan itu tidak mungkin terlaksana. Saya pun ikhlas dimana dan bagaimana bayi saya lahir kelak. Semua itu saya rasakan ketika bidan Yesie dari Bidan Kita mengatakan “semoga berjodoh” ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk melahirkan di tempatnya.

Saya tak patah arang dan tetap berusaha mencari tempat bersalin yang bisa water birth dan dekat dengan tempat kami tinggal saat ini, di Jepara, Jawa Tengah. Hasil survei mengarahkan kami ke sebuah RSB di Kab. Pati, kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah kami. Ternyata saya belum beruntung, sang dokter yang bisa menangani water birth sedang sakit keras, hingga tidak praktek. Saya temukan lagi sebuah RSB di Semarang, tapi ketika saya telpon ternyata RS tersebut tak lagi mempraktekkan persalinan dalam air.

Saya yakin dan percaya, segala sesuatu yang diawali dengan niat harus dibarengi dengan doa dan ditindaklanjuti dengan usaha. Untuk hasilnya tinggal saya serahkan pada Tuhan, biar Dia yang menentukan. Dan inilah hasil dari keyakinan saya tersebut. Pada usia kandungan minggu ke 37, saya teringat goodie bag dari seminar yang saya ikuti. Saya temukan brosur Rumah Bersalin Ngesti Widodo di Ungaran. Tapi daftar layanannya tidak terdapat water birth. Saya tetap mencoba menghubungi sang bidan, bidan Naning via Facebook. Ternyata mereka melayani water birth. Plong rasanya hati ini. Saya pun langsung membuat janji kunjungan ke sana.

Rupanya Tuhan masih ingin menguji kesabaran kami. Rencana kunjungan tiba-tiba terhalang. Mobil kami bermasalah hampir 2 minggu baru selesai. Padahal jarak Jepara-Ungaran 2.5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kemudian saya terjatuh dari motor, jari kelingking kaki sobek. Saya khawatir sekali tidak boleh water birth dikarenakan luka ini.

Kehendak Tuhan lainnya, Bidan Yessie meluncurkan bukunya yang berjudul Art of Water Birth. Suami membelikannya untuk saya sehingga saya bisa baca sambil menunggu HPL.

Kehendak Tuhan lagi, akhirnya pada minggu ke 39 atau 5 hari sebelum HPL saya bisa berkunjung ke Ungaran. Diantar Suami, Sofia dan Ibu saya, kami sampai disana siang dan langsung diperiksa. Ketika diperiksa dalam, ternyata jalan lahir sudah lunak. Lalu bidan Naning memberi saya kapsul pelancar ASI yang saya minum siang itu juga setelah makan siang. Kapsul pelancar ASI membantu merangsang pembukaan jalan lahir.

Pulang dari Bidan kami masih sempat ke Gramedia Pemuda, Semarang, untuk mengantar Sofia beli buku. Di sana bagian atas pantat saya berasa seperti ditusuk-tusuk. Tapi saya tetap santai karena tidak disertai mulas. Ketika saya katakan pada Ibu, beliau langsung meminta kami segera pulang dengan nada agak marah karena saya tak bilang dari tadi.

Dalam perjalanan pulang ke Jepara, perut saya mulai terasa kencang dan ada jeda tapi tidak mulas. Memasuki kota Jepara Saya kirim SMS ke Bidan Naning. Beliau kaget dan menyarankan saya segera kembali ke Ungaran. Tiba di rumah setelah isya. Karena belum makan malam kami membungkus bakso lalu dengan gerak cepat makan, mandi dan langsung balik ke Ungaran dengan membawa tas melahirkan.

Jam 8 kami berangkat, di jalan kontraksi mulai terasa intens dan disertai mulas. Wow! Inikah yang namanya “Gelombang Cinta” itu? Kata hati saya. Sampai di Demak kontraksi mulai 4 menit sekali padahal jarak Demak Ungaran masih 1.5 jam lagi. Alhamdulillah semua tenang. Tak ada yang panik baik saya, suami yang nyetir, Sofia maupun Ibu saya. Mereka bergantiaan memijit dan mengelus-elus punggung saya. Setiap berasa kencang dan mulas saya memberi aba-aba Suami untuk memelankan laju mobilnya atau berhenti sama sekali dengan tanda lambaian tangan. Karena saya nggak bisa ngomong sibuk mengatur nafas. Baru kalau mulas dan kencangnya reda saya bilang: yuk! Suami pun ngebut lagi dan saya pun bisa ngomong dengan normal bahkan bercanda. Saya bisa menyiapkan diri bila gelombang cinta akan mulai datang lagi. Berkali-kali kami berhenti. Akhirnya pukul 11 sampai juga kami di RB.

Masih bukaan 2. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan disana. Saya pun sempat tertidur 15 menit saking ngantuknya. Tapi terbangun karena semakin tak tertahankan rasanya. Anehnya saya sangat menikmati proses ini, kencengnya, mulesnya… Saya punya kuasa atas pikiran dan tubuh saya. Memang saya tetap mengaduh, cengar cengir, sesekali menjerit karena level ketahanan saya akan rasa sakit rendah. Kalau sedang jeda kontraksinya, saya tetap bisa berbicara normal. Saya senang karena bisa dan boleh bebas berbaring atau berdiri. Atau jalan-jalan. Atau dipeluk suami. Juga memakai birthing ball.

Pukul 2 dini hari sudah bukaan 6, lalu saya diijinkan oleh bidan Naning untuk masuk ke kolam hangat. Pukul 2 lewat 10 menit lahirlah putri kedua kami, Sonia.

Selanjutnya satu demi satu tahapan persalinan gentle birth yang saya impikan tercapai: water birth, IMD hampir 4 jam, menunda pemotongan tali pusar hingga 3 hari, tidur sekamar dengan bayi dan ASI esklusif. Padahal baru di hari ketiga ASI saya mulai keluar. Tetapi bayi Sonia tidak rewel dan tetap mau bekerjasama dengan saya merangsang sang air kehidupan keluar dari sumbernya.

Saya bangga pada diri saya sendiri dan tentunya bersujud syukur kepada Allah SWT Tuhan semesta alam karena mengabulkan cita-cita saya melahirkan dengan konsep aman dan ramah jiwa ibu, bayi dan keinginan saya menjalani kehamilan dan melahirkan dengan indah dan nikmat ini.
Saya selalu tersenyum jika mengenang serunya perjalanan kami hari itu dan luar biasanya proses kelahiran Sonia.

Tentu, tidak hanya saya, anda pun berhak mendapatkan pengalaman indah itu. Berusahalah!

20140905-192025.jpg

Merah Putih di Dadaku

Siangsiang. Panasnya bukan main. Sambil menggendong bayi 2.5blnku yg lagi nyusu, ku sapu lantai rumah yg lebar ini, rasanya ngosngosan.

Sampai juga ke ruang tamu. Buka pintu depan anginnya kencang nian. Debunya kembali beterbangan. Dng susah payah kukeluarkan segala rupa debu dan kotoran dari dalam. Lega.

Bayiku sdh lelap ternyata. Kuatur posisi gendongannya. Kuambil toples isi kacang telor sisa lebaran. Cuma aku yg doyan. Suami alergi telurnya. Sofia nggak suka kacang tanahnya. Rejeki mamanya.

Ku makan sambil duduk di teras depan. Entah mengapa hatiku gundah. Gundah memandang bendera merah putih yang berkibar diterpa angin. Gundah pada presiden yg seperti tak punya nyali. Seperti wayang yang jalannya ditetah dalang. Gundah pada sesama warga negara yg tak mau mentolelir keyakinan warga negara lain. Gundah pada warga negara yg bersikeras menolak Pancasila. Gundah pada warga negara non muslim yg dipaksa berjilbab. Gundah pada warga negara yg diusir dari tanah lahirnya. Gundah pada TKW yg disiksa majikannya di luar negaranya. Gundah pada warga negara yang ngotot mengimpor budaya kolot negara lain. Gundah pada para koruptor yang tidak ditembak mati.
Gundah gundah ndah ndah dah dah ah ah

Bayiku melek. Kususui lagi. Tibatiba basah. Ngompolin rokku sedalamannya. Kremmus! Sekali emplok tiga empat kacang telor ku kunyah. Lalu Sofia dan ayahnya minta ijin nonton karnaval 17an di alunalun kota. MERDEKA!! Pekikku gundah di dalam dada.

20130818-133516.jpg

Tuhan Mengabulkan Doa Kami

Alhamdulillah,,,setelah 2.5 tahun menunggu sejak keguguran di awal tahun 2011 kemarin, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa kami: saya hamil kembali. Dan saat saya menulis ini sudah memasuki minggu ke 18.

Rasanya tak terkira kembali merasakan ada yg berdenyut-denyut di dalam perut saya lagi ketika janin sedang cegukan atau bergerak 🙂

Tidak seperti ketika hamil Sofia dulu atau yg kedua kemaren yg tidak merasakan apapun kecuali cepet banget capek. Kehamilan kali ini agaknya lebih ribet hehehe. Untungnya cuma di trimester pertama saja. Dari gak bisa bau wangi2an: deodorant suami, sabun sekeluarga, sabun cuci, obat pel, bawang, dll. Lalu nggak doyan manis manis..maunya yang asyem syem syem. Akhirnya ngerasain juga yg namanya hamil suka asem2. Dulu jaman Sofia sampe bingung: katanya ibu hamil suka asem-asem kok aku enggak? 🙂
Yg sekarang untung depan rumah ada yg punya pohon belimbing wuluh dan sebelah rumah punya jambu rujak yg kecil2 itu lho. Enak deh bisa minta hehehe…tp setelah habis buah2 itu baru deh kelabakan. Lucunya, bikin teh manis/minuman manis lainnya mo dikasih gula segimana aja gak berasa manis.
Yg menyusahkan tapi dinikmati adalah…morning sicknya! Sebenernya bukan morning sick sih, wong muntahnya tiap sore. Dan begahnya perut benar2 masyallah! 😀 Posisi tidur gimana aja serba salah.
Yg lebih aneh lagi masalah liur dan dahag. Buset, mulut rasanya ga berhenti berliur. Sehari bisa puluhan kali meludah. Entah, mulut tiba2 seperti orang berkumur aja bawaannya. Susahnya kalo lg sholat sama mo tidur. Kalo sholat lafalnya dibatin hihihi. Kalo mau tidur harus mangap biar keanginan n liur gak keluar hahaha! Aneh deh pokoknya. Dan dahaglah yg memicu si jackpot 😀

Sampai sekarang pun berat badan kok gak bertambah-tambah ya? Tenang sih, secara pas mulai hamil masih punya kelebihan berat badan 5kg kalo pingin seperti waktu perawan hahay! 😀

Yang penting sehat. Dan semoga sehat terus sampai melahirkan nanti dengan lancar dan selamat. Amin ya Allah….
Eh ya gak lupa saya ucapkan terimakasih banyak berkat doa temen2 pembaca blog yg waktu saya nulis tentang keguguran saya kemaren. Semoga yg masih sedang menunggu momongan juga segera dikabulkan oleh Allah. Aminnn.

Salam Dari Jepara

Assalamualaikum…

Sudah dua bulan lebih nggak menulis di blog ini. Dikarenakan kesibukan keluarga kecil kami pindahan rumah & kelulusan TK B Sofia. Pindahan kali ini nggak tanggung-tanggung, yaitu pindah dari Jakarta ke Jepara, Jawa Tengah. Yes! Akhirnya cita2 kami tercapai: keluar dari JABODETABEK! Gembira luar biasa rasanya.

Alhamdulillah, proses pindahan kemaren lancar walau ada sedikit drama dari pemilik rumah yang kami kontrak di Ciputat. Ada semacam miskomunikasi antara pemilik lama dan pemilik baru. Jadinya, perjanjian kontrak kami sampai akhir Mei ee pemilik baru tahunya bulan Mei kami sudah tak lagi disitu. Panika gitu deh. Yg bikin ruwet, si pemilik baru hendak merenovasi rumah itu untuk persiapan pernikahan putrinya awal Juni. DOENG! Tp sudahlah, walau kami yg menjadi korbannya tp sudah kami ikhlasin semuanya.

Berkahnya, proses pindahnya lancar. Dapet angkutan murah cuma 1.5 juta rupiah untuk boyong isi rumah dari Ciputat ke Jepara. Ditambah waktunya fleksibel bisa kapan saja. Kami juga bersyukur dapat pemilik rumah kontrakan yang baik sekali. Pas pindahan kami tak perlu ada yg di Jepara untuk terima barang, jd mereka yg nanggung jawab memastikan barang-barang kami masuk rumah semua. Bayangin kalo kami harus stand by disana, berapa ongkos yg musti kami keluarkan? Trus gitu, kami jg dapet bonus seperangkat meja kursi makan, seperangkat meja kursi tamu, 2 buah bangku panjang dan 1 buah bangku taman sedang yg semuanya jati. *senyum* Kebeneran banget kami belum punya semua itu. *senyum lagi*  Soalnya pemilik rumah ini adalah bos mebel hehehe… Tp kan belum tentu semua bos mebel meminjamkan furniture dng cuma-cuma kan? Trus gitu, seminggu setelah kami pindah, garasi rumah dipasangin pintu akordion, biar lebih aman katanya. Duh….bersyukur banget deh pokoknya.

Sekarang sudah satu bulan lebih kami menempati rumah ini. Tinggal di Jepara, kota yg baru kami lihat setelah kami termangu di depan peta sambil bertanya-tanya: kira-kira kita mo pindah kemana ya yg cocok n sreg? Lalu kami memutuskan mengunjungi Jepara kemudian langsung jatuh cinta dengan kota kecil pesisir pantura yg menjorok ke utara ini. Here we are now, starting a brand new day in this new place. Bismillah…

Dr Ardi,SpA bagi Hometreatment Demam pd Anak

Eh ini dr MN Ardi Santosa,SpA yg berdomisili di Solo bagi2 tentang hometreatment untuk deman pd anak di twitternya dng akun @dr_ardi. Disimak yuk!
———
Sy mau bahas dikit tt hometreatment utk “Demam”pada anak..

Setiap anak didunia ini,didesa mau pun di kota pasti pernah mengalami yg namanya “Demam”..sering aybun jd panik karena hal ini..

Suhu normal tubuh anak berkisar 36.5-37.5 dg pengukuran via ketiak yaa..lbh nyaman dr pd via rektal..dan sdh dtinggalkan krn tlalu invasif

Kalau mau ngukur suhu anak jgn pakek “tanganMeter” yaa.tp pakek “thermometer”.ada yg digital cukup 1 dtk,ada yg manul air raksa yg bth 5 mnt

Kepala emang tkadang cendrung lbh “panas” dbanding anggota badan yg lain,maklum “pusat generator” tubuh,alias otak,dia bekerja terus.

Kalau anak demam jgn panik..ukur suhnya,jk datas 38 kasik paracetamol.kalau py anak drmh,gak salah kok kalau slalu sedia paracetamol..

Jgn kasik baju yg tebal,kasik baju yg tipis,nyerap keringat,gak perlu dikrukup krukup deh.kasik minum sbanyak yg dia bisa..

Saat anak demam,kompres dg air hangat ,knp dg air hangat?biar central pengatur panas,menurunkan suhu nya scr sentral krn tubuh sdh “hangat”

Kompres jgn di kepala doang yaa..sy kadang heran ada yg dtempel didahi dikit doang..hakikat mengkompres bkn spt itu

Kompres dgn air hangat,dketiak,perut dada,leher..segera ganti bila handuk da gak hangat..jd jgn ditaruh doang, lebih seperti dibasuh..

Kalau da 3 hari panas naik turun,atau panas diatas 39,anak gak mau minum,muntah,lemas,atau kejang..segera bawa ke dsa atau RS yaa

Sekian tt demam,bsk hometreatment dg topik berbeda. Say No to galau krn demam yaa..be a smart parents.sy mau siap2 bales ptanyaan dr pagi td
——
Maap yaa.. ejaannya nggak saya edit. Pegel posting lewat iPhone 😀

Hasil Seminar PD Bicara Sex dengan Anak

Aaah.. mumpung twit mbak Mona Ratuliu (@mratuliu), salah satu penyelenggara seminar PD Bicara Sex dengan Anak, masih belom ilang dari TL jadi saya sempatkan untuk mengumpulkannya disini. Berhubung kami sendiri tidak bisa ikut karena nemenin Sofia yang ikut lomba menggambar di Burger King Giant Bintaro, maka kumpulan twit ini penting bagi kami sebagai pengingat.

Untungnya kami sudah punya buku enSEXclopedia-nya bu Elly Risman, dkk jadi lumayan paham dengan garis besar dari seminar ini. Ohya, Pembicara utama dalam seminar ini adalah IBU ELLY RISMAN. Beliau adalah penyelamat kami dari jurang kebegoan sebagai orang tua. Mbak Mona ngetwitnya bertagar #EllyRisman & #PDbicaraSEXdngANAK. Ok, mari disimak!

——-

“Jadi ortu JELAS butuh ilmu. Sama aja kayak beli piano, emangnya langsung bisa maen? Ya belajar dulu laaaaah…. ” #EllyRisman#PDbicaraSEXdgnANAK

Faktanya hampir tiap hari di tv kita menyiarkan program/rekonstruksi perkosaan anak & balita. Media elektronik&cetak yg diakses anak byk yg mngandung unsur pornografi. Games, internet, hp, tv, vcd, komik, majalah, dsb

Hmmm.. Byk fakta yg diungkap bu #EllyRisman yg bs dibilang mengerikan… Smp gak enak mau ditweet. Rugi ah yg gak dtg :p

“86% anak usia SD kelas 4,5,6 yg diriset bu Elly sudah pernah lihat film porno… Engkaukah itu anakku?”

“Kami menemukan anak kelas 4,5,6 ngesex dan dishare di bb grupnya… ” #Keselek!

Digelar jg nih riset ibu #EllyRisman ttg pelecehan yg dialami anak SD sampai bgmn perasaan mereka.. SHOCKING!
Orang lain yg melakukan pelecehan kpd anak2.. saudara sendiri, teman, tetangga, supir antar jemput, guru les, dsb #puyeng

Beresin kitanya dulu. Sadari kelalaian kita sebagai ortu. Anak tdk salah, karena otaknya blm sempurna..

Ortu kurang punya waktu untuk anak, tidak punya tujuan pengasuhan, hanyut dgn TREND, pasrah pendidikan agama n penerapan ke sekolah.
Tidak membedakan pengaasuhan anak laki & perempuan, padahal mereka beda. Anak laki2 lebih butuh ayahnya, terutama diatas usia 7thn.
“Jgn kau cabut dunia bermain anak2mu terlalu cepat, nanti kau temukan anakmu dewasa dgn mental yg kekanak2an” Neil Postman
Ortu memberi perangkat teknologi kpd anak tanpa tahu: akibat negatif, penelasan, persyaratan & peraturan agama
Cara komunikasi ortu masih pake cara jadul, tidak paham perasaan anak & remaja. tidak paham cara kerja otaknya.
Nggak ada satu pun bapak2 di ruangan seminar#PDbicaraSEXdgnANAK yg diajak ngobrol/dikasih tau bapaknya dulu tentang persiapan akan mimpi basah..
Hanya 3 orang ibu2 diruangan yg sebelum menstruasi dijelaskan dulu sama ibunya tentang apa itu menstruasi dan mempersiapkannya.
“Jgn mengulang sejarah! Rubah perilaku parenting kpd anak! Siapkan anak laki n perempuan kita menuju dewasa”
Mengasuh seksualitas anak bertujuan: mempersiapkan anak menjadi calon istri/suami, calon ibu/ayah, calon penanggung jawab keluarga.
“Tak terasa nanti tiba saatnya PANEN kesalahan pengasuhan anak, akibat ketidak tahuan kita”

Bedakan SEKS dengan SEKSUALITAS…
– Seks: segala sesuatu yg berkaitan dengan alat kelamin, mejadi laki2 atau perempuan
– Seksualitas: totalitas kepribadian. Bagaimana berbudaya, bersosialisasi, berseksual, menunjukan siapa diri kita..

Balita suka imajinasi. Pura2 main dokter2an/kawin2an.. Ajarkan explorasi emosi, jelaskan juga tentang sentuhan…

Jenis sentuhan yg BOLEH: bahu keatas ( karena kasih sayang, mengusap, membelai kepala, memberi bedak, dsb)

Sekarang bu #EllyRisman praktek tentang bagaimana mengajarkan sentuhan kepada anak umur 5thn.

Sentuhan yg membingungkan: dari bahu smp atas dengkul. Jelaskan detil kpd anak siapa aja yg boleh sentuh, siapa yg tidak.
Sentuhan yg jelek: seseorang meraba2 bagian yg tertutup baju renang. Jelaskan detil apa saja, bentuk sentuhannya, dsb
Peserta belajar menjelaskan kpd anak ttg jenis2 sentuhan sebelum praktek dirumah nanti.
“Mayoritas konsep diri anak cenderung sangat buruk. Karena ortu mengajarkannya dgn terburu2”
Usia SD, ajari anak konsep diri, befikir kritis, mandiri & bertanggung jawab, berhati2 dengan teknologi, jadilah (ortu) model teladan, proaktif.
“Enak sekali bapak-ibu sekalian sekarang mudah mendapatkan info tentang mengasuh anak. Dulu saya…” Ibu #EllyRisman nangis cerita pngalamannya, nangis.
Jangan tunda ajari anak seks & seksualitas sedini mungkin, jangan borongan! Jangan export tanggung jawab! Hadirkan Allah dlm hidupnya…
Mengasuh seksualitas pada anak: ortu harus cepat menyikapinya dan mempersiapkan, melatih omongannya, jangan jaim, gunakan istilah kitab suci.
Ortu bagi tugas, jelaskan (misal dampak positif & negatif  TV, internet, PS, HP). Siapa yg menjelaskan? Ayah/ibu? Kapan target menjelaskannyanya?
Rasa ingin tau anak tentang seks adalah wajar, konsekuensi dari pekembangannya. Ortu harus siap jawab sesuai usia & kecerdasan anak.
Kiat menghadapi pertanyaan yg mengejutkan dr anak: tenang & kontrol diri, tarik nafas panjang “take it easy”,
Kiat menghadapi pertanyaan yg mengejutkan dr anak: cek pemahaman anak ” yg kamu tau apa?”. Ungkapkan apa yg anda rasakan ” mama kaget, dsb”
Jawabnya: KISS( keep information short n simple) / PS (pendek & sederhana). Gunakan kesempatan emas ini untuk menjelaskan.

Kalau belum bisa jawab pertanyaan dr anak.. TUNDA. Jgn terlalu lama dan jangan lupa tepati janji utk menjawab.

Nah, skrg peserta praktek belajar menjawab pertanyaan2 anak… Yg gak ikut seminar rugi ah! Hehehe…

Ayah-bunda peserta seminar #PDbicaraSEXdgnANAK praktek menjawab pertanyaan2 anak.. Susah bgt ih! Asli!http://lockerz.com/s/204720408

—-

Dan berikut ini adalah rangkuman hasil seminar PD Bicara Sex dengan Anak yang ditulis oleh Kelompok Peduli Anak di laman Facebooknya:

Alhamdulillah, banyak banget ilmu yg didapat dari bu Elly Risman,Psi di seminar “Pede bicara Sex dgn Anak” kmrn. Intinya, komunikasikan hal ini sejak anak msh kecil (balita). Bicarakan sesuai dgn tahapan usianya dgn bhs yg simpel, jelas dan kunci dgn nilai2 agama; Hadapi pertanyaannya dgn tenang. Rasa ingin tahu anak akan seks adl wajar, konsekuensi dari perkembangannya.Dual parenting dimana peran ayah tdk tergantikan oleh ibu dalam penegasan seksualitas pada anak. Hati2 dgn bahaya pornografi yg mengintai anak2 kita… Be a smart parents… 🙂

Gimana Pak, Bu? Bingung? Kaget? Nggak jelas? Kalau pingin jelas silahkan ikuti seminarnya. Kumpulan twit di atas hanyalah garis besarnya saja. Kelompok Peduli Anak sebagai penyelenggara seminar ini sering kok membuat seminar bersama ibu Elly tentang pengasuhan anak, dll. Silahkan saja gabung di FB/twitter-nya biar tahu apa tema dan kapan ada seminar selanjutnya. Nggak rugi kok, saya selalu sakau untuk ikut lagi dan lagi walaupun setelah ngikutin beberapa seminar bu Elly saya selalu merasa ditampar-tampar sampe melek mata dan pikiran saya. So, dont be hesitate to joint them!

Mengapa Banyak Pakar Menyusui Tidak Menyarankan Penggunaan Dot?

Berikut ini saya rangkumkan sharing dari mbak Nia Uamar di Twitter (@housniati) tentang alasan mengapa banyak pakar menyusui tidak menyarankan penggunaan dot. BEliau adalah Public Health Student & Deputy Chairwoman of Indonesian Breastfeeding Mothers Assosiation @AIMI_ASI.

——-

Mo sharing dikit ttg kenapa banyak pakar #menyusui tdk menyarankan penggunaan dot;

(1) Alasan terlazim: karena bikin bingung puting.

(2) a.Mungkin bayi kita bisa bolak balik ganti2an pake dot & balik nyusu ke payudara, tapi perlahan2 biasanya produksi asi ikut drop. Kenapa?
b. Krn mekanisme bayi menghisap botol dgn menyusu di payudara itu beda. Bayi mencari ‘aliran’ yg deras & botol fasilitasi itu…
c. Jika payudara tidak bisa imbangi derasnya ‘aliran’ dari botol itu,maka produksi ASI perlahan2 akan turun. Badan kita ‘kalah’ dengan botol.

(3) Dot lebih sulit dibersihkan dibandingkan penggunaan gelas kecil.

(4) Dari perspektif isu lingkungan; penggunaan dot tdk ramah lingkungan krn terbuat dari plastik & perhatikan jg jenis2 plastik

(5) Penggunaan dot yg jg ada pengaruhnya ke perkembangan otot & rahang mulut bayi. Krn mekanismenya yg beda tadi dgn menyusu .

(6) Ada busui yg beruntung produksi ASI ngga drop biar pun anaknya pake dot.Tp penting utk diingat,tdk semua pasang ibu-bayi sama ya 😉

(7) Penggunaan gelas kecil memang rasanya tdk mudah. Tp bs dilakukan, dgn komitmen, kemauan & berpikir positif. Cek vid:http://bit.ly/r5fQcD

(8) Ada yg bilang jika proses menyusui udah mantap antara ibu-bayi; bisa pake dot? Bisa ya & bisa tidak. Krn bisa jd bayi ngga papa tapi produksi ASI drop.

(9) Saran saya, drpd resikokan hal yg tdk pasti, lebih baik hindari dot. Spy proses menyusui lancar sampe tujuan yg diharapkan 🙂

(10) Ohya satu lagi: pemasaran dot (&empeng) itu masuk dlm aturan#kodeWHO. Jadi ini termasuk yg bisa banget ‘ganggu’ proses menyusui.
(11) Jadi terus terang saya #GagalPaham kalo ada nakes (tenaga kesehatan) yg bilang “bingung puting itu mitos” krn udah banyak faktanya & penelitiannya
(12) Mungkin nakes2 itu blum pernah liat langsung gimana bayi menolak menyusu & merasakan bagaimana perasaan ibu yg ditolak menyusu 🙁

(13) para #busui yg mungkin ‘terjebak’ dgn kondisi bayi menolak menyusu/tiba2 produksi #ASI drop, segera hub #KonselorMenyusui yaa

(14) Semoga dgn komitmen kuat, kerjasama dgn keluarga di rumah & berpikir positif,bayi bisa berhasil nyusu kembali & singkirkan dot selamanya 😉
————
Demikian semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang sedang menyusui. HIDUP MENYUSUI! PAYUDARA KITA HAK ANAK KITA 😀

Mama Nggak Boleh Nakal

He: brangkat dulu yaa.. Jng nakal di rumah ma anaknya.
Me: *ngakak sampe jongkok*
He: *ngguya ngguyu ketawa ketiwi* Loh iya dong. Kalo ma anaknya baru bilang: yg pinter yaa di rumah.

—–sensor—-

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: