Pagi yang Luar Biasa

Pagi td sangat luar biasa. Saya terbangun oleh ketukan pintu kamar. Terdengar suara Sofi dibalik pintu stlh dibisikin ayahnya: Permisi, room resvis, bu…! (ayahnya bisikin lagi, “room servis!”) Permisi, room resvis buu.. (wakakak! Tetepp)
Saya buka pintu ternyata dia masuk bawa 2keping roti bakar diatas piring buat mamanya! ^_______^
Terharuuu sekali. Pas ngikutin si bocah ke meja makan, jeng jeng jeng… ternyata Ayah lagi nyupir (nyuci piring) di dapur!!!
Ahhh dibuat terkejut kali awak hari ini :))) pas lihat jam. Angkanya pukul 8 pagi hehehe
Peluk cayyang buat dua orang cintaku inih >:D<

Secara tekstual, kelihatan banget ya emak2 ini keseeet banget. Bangun aja jam 8 pagi. Cuci piring sampe suaminya yg ngerjain wakakak!
Tapi secara kontekstual, hanya kami dan Tuhan yang tahu :)))

Belajar jadi Ortu dari Ortu

Berbahagialah para ortu yg dulu dibesarkan oleh ortunya dng pola asuh yg baik. Karena tak ada sekolah mjd ortu, maka kita mempelajarinya secara turun temurun. Saya yg berbapak galak (kalau memakai skala mak icih, galaknya ada di level 10 xixixi) sedangkan suami mengaku lebih banyak diasuh dng manja oleh kakek neneknya krn kesibukan ke2 ortunya.

Tp bukan berarti kita harus menyalahkan ortu/orang2 yg telah mengasuh kita! Bisa kualat 7turunan awak! Itukan namanya mengingkari takdir?
Tugas kita sekarang adl belajar dr kesalahan ortu kita, ambil yg baik buang yg buruk dan doakan mereka. Dan belajar dari para ahlinya. Baca bukunya, ikuti seminarnya, demi untuk kebahagian kita sendiri hehehehe… Kan kalo anak kita bahagia ortunya bahagia, kan?

Komentar:

  • Nurul Fitriana聽SUPER sekali….
    sangat setuju sama mbakyu cantik ini…. subhanallah… 馃檪

    November 17 at 10:20pm聽路
  • Yani Widianto聽Nah,,, tanya adekku yang cantik ini kalo nggak percaya kalo bapakku galak hahahaha! Ya kan dek?

    November 17 at 10:22pm聽路
  • Alfin Mustikawan聽Tahun 1980an di UGM ada 3 bersaudara yang meraih gelar Cumlaude! setelah mereka diwisuda banyak orang bertanya, dia anak siapa dan bagaimana cara mengasuh ketiga anak tsb. Ternyata ketiga anak tersebut seorang hanyalah seorang anak Janda buta huruf yang tidak bisa baca tulis, ketika diberi kesempatan untuk memberikan sambutan sang ibu itu bercerita bagaimana dia mengasuh dan mendidik ketiga puteranya tsb ibu itu berkata “Saya tidak menyangka dan mengira ketiga anak saya menjadi anak yang seperti ini, karena saya tidak tahu apa yang mereka pelajari dan lakukan di sekolah karena saya juga tidak pernah sekolah, yang saya lakukan sedari mereka kecil hingga dewasa hanyalah ketika mereka tidur saya elus-elus kepala mereka dan berkata Nak jadi anak yang pinter ya Nak begitu setiap hari setelah sholat malam”
    November 17 at 10:31pm聽路路
  • Nurul Fitriana聽hahahaa…

    tau sendiri mb,kalo aku malah galak kubik bukan kuadrat lagi xixixiii…
    betul yang penting jangan jadikan anak ajang “balas dendam” kalo pola asuh ortu dl “cukup keras” dan juga jangan melemah krn pola asuh ortu dl yang “cukup longgar”…
    anak2 jaman sekarang beda betul sama jaman kita dl mb… yang terpenting komunikasi, afeksi, trust, tapi tetep kontrol… 馃檪 betul ga sihh?? hehee….
    ahh seneng ya kalo udh jad orangtua, asik gitu sepertinya… jadi pengen *lhohh, hihihii….

    November 17 at 10:32pm聽路
  • November 17 at 10:39pm
  • Yani Widianto聽Anak anak itu bisa hidup tanpa harta yg berlimpah dan wah. Buktinya jaman dahulu yg serba kekurangan kini mereka jadi orang2 hebat dibidangnya. Doa dan usaha ekstra keras orang tualah yg mampu mengantarkan anak anak kita menjadi individu yg mampu mengubah dunia. Tapi usaha ekstra keras itu bukan berarti dengan disiplin yg KERAS, HUKUMAN, MEMARAHI,bukann bukan seperti itu. Tp disiplin dengan kasih sayang.

    November 17 at 10:47pm聽路
  • Yani Widianto聽Dek Nurul: apa yg sampean katakan tidak ada yg salah dek. Nantinya caranya memang begitu. Tapi untuk jaman sekarang yg sering dilupakan ortu tanpa sadar adl, orang tua tdk menghargai perasaan anaknya, tdk menjadi pendengar yg baik isi hati anaknya. Karena mereka sibuk. Sibuuuuk sekali. NO TIME FOR THEIR SUNSHINE. Kalaupun tak sibuk yaa menyibukkan diri. Pdhal yg dibutuhkan anak dr lahir ceprot sampe gede itu waktu orang tuanya unt saling bertukar pikiran; ortu jg Terus menyakiti hati anaknya dng cap2 buruk spt: bandel! Malas! Ngeyel! Pembohong! Nakal! Bodoh! Nyusahin orang tua! Dan label2 buruk lainnya. Itu semacam stempel yg di tok dijiwanya dan akan dibawanya sampai mati. Kalau hal itu terus ortu lakukan, apa2 yg sampean sebutkan itu spt komunikasi, dll tdk akan tercapai dng baik.

    November 17 at 11:31pm聽路
  • Toto Rahman聽mantab.semua jari jempol deh,,,, eh tapi bapakmu galak jeng… tapi hasile anak yo api iki loh…

    November 18 at 1:08pm聽路
  • Yani Widianto聽Pak Toto: Teh ga nya pak Toto… Yg bagus cuma sitok iki Pak, daftar ueleke mblerooot huhuhu Eh pak, aku selalu terngiang percakapan kita jaman msh sekantor yg sampean ngomongin om ato siap sampean gitu deh, kalo mendidik anak tuh jng pake kata “JANGAN” tp dibalik dng kata2 yg positif. Contoh: bukan “jangan lari2 di dlm rumah!” tp “kalo di dlm rumah itu gimana?” Itu bener banget lhoh hehehe tengkyu ilmunya ya pak! 馃檪

    November 18 at 6:02pm聽路
  • Toto Rahman聽sip…jangan malas nak, di ganti ayo yang rajin, ayo jadi anak baik, ayo berbagi, ayo minta maaf, memang harus memahami cara kerja otak…. Tapi ga gampang, klo gampang lahirin aja robot, pasti nurut heheheh… ucapan kita adalah doa kita…. kapan nambah lagi biar tambah tantangannya. eniway, istri ade ndut dah hamil loh..

    November 18 at 6:16pm聽路
  • November 18 at 6:19pm

Terimakasih Bu Elly Risman & Betsy Brown Braun

Anak gue gak bakalan jd sekarang ini kalo kami nggak mengikuti seminar ibu Elly Risman! Panjang umur untuk beliau atas ilmu parenting yang beliau sebarkan pada ortu2 seperti kami.
Selain dari ikut seminar2 parenting ibu Elly Risman, berkat buku ini pula kami merasa PD mengasuh anak kami. Saya yg awalnya sangat paranoid sbg ibu dr anak perempuan kini enggak lagi! Kami kini lebih siap dng pengetahuan parenting yg kami miliki dan sisanya kami pasrahkan pd Allah ta’ala. FYI, kami ga sengaja dapet buku ini dng diskon 70% di Gramedia. God Bless!

www.amazon.com

Parents are often perplexed by their children’s typical behaviors and inevitable questions. This down-to-earth guide provides “Tips and Scripts” for handling everything from sibling rivalry and the food wars to questions about death, divorce, sex, and “whyyyy?” Betsy Brown Braun blends…

Belajar dari Kesalahan Orang

Dia bilang ga bisa n ga suka belajar dr org semacan Mario teguh & orang2 lain yg sok bijak dng kata2nya. Dia lbh suka baca buku2 biografi tebal unt belajar dr kesalahan yg telah org lain lakukan. Memang org yg mau mengakui bersalah itu sedikit (yg kebanyaakan adl org2 hebat dibidangnya) dibanding yg merasa paling benar, sok bijak & menutup2i kesalahannya. Saya yg beruntung. Tanpa baca buku2 itu sy dpt inti sarinya langsung drnya krn saya ga sanggup baca buku teuebuel yg dia habiskan dlm 4hari. Enak deh jd istrimu *kedip2in suami*

Bertengkar dengan Pasangan

Seorang sahabat di pulau seberang mengirim SMS ke saya: Apakah kalian berdua juga sering bertengkar?

Saya langsung berargumen dalam hati. Bukankah sesuatu yang mustahil dalam sebuah rumah tangga tanpa pertengkaran? Dan ingatan pun berbalik arah ke masa di tahun-tahun awal pernikahan kami.

Rasa-rasnya dulu kami sangat intens bertengkar. Dan saya rasa semua pengantin baru juga begitu karena merupakan proses penyatuan dua kepala dan hati yang berbeda. Namun semua harus pada batasannya. Bagi kami pertengkaran itu perlu tapi tidak boleh ada kekerasan fisik & tidak ada kekerasan verbal (merendahkan kekurangan pasangan). Satu lagi, jangan teriak-teriak sampai tetangga dengar 馃榾 malu dong ah.

Ohya, saya juga selalu melaksanakan petuah orang tua dan agama yang pernah saya dengar, bahwa jangan sampai suami istri yang tinggal seatap tidur terpisah gara-gara bertengkar. Makanya, entah saya yg salah atau yg benar, saya akan nguntit kemanapun si dia tidur. Kalau pun dia tidur di lantai saya akan tarik selimut tidur disebelahnya hahaha. Manjur lho *kedip2*. Kalau kita memang dasarnya sayang sama pasangan dan niat hidup berdua sudah komitmen hakiki nggak tahan kok bertengkar lama-lama, percaya deh 馃榾 Jangankan 3 hari berturut-turut, sejam aja bosen marahan 馃榾

Pertengkaran pada awal-awal tahun perkawinan merupakan penggemblengan egoisme diri masing-masing pihak. Biasanya masalah yang menimbulkannya adalah topik-topik besar seperti keuangan, tentang keluarga besar kedua belah pihak dan sebagainya. Untuk itu, prinsip kami adalah: lebih baik disini, rumah ngontrak sendiri… Begitu Ahmad Albar bilang 馃榾 So, dengan tinggal terpisah dari ortu dan mertua, kami bisa bebas berekspresi dalam menumpahkan pertengkaran (isi hati dan nurani) 馃檪

Semakin menua usia perkawinan yang diharapkan adalah kedewasaan kedua belah pihak semakin matang. Alhamdulillah sekarang kami mampu menghadapi masalah-masalah besar dengan baik. Tidak seperti dulu lagi. Karena kami sudah mampu berbicara dengan kepala dingin, makin terbuka, makin menghormati pendapat pasangan dan makin memahami pribadi masing-masing.

Tapi jangan salah, walau kami mampu menangani masalah-masalah besar dengan mudah, justru malah masalah yang kecil dan sepele-sepelelah yang kini membuat kami bertengkar. Contohnya: memilih tempat makan saat kita berada di luar hahaha. Dan alasan pertengkaran itupun dikarenakan masing-masing pihak ingin menyenangkan pasangannya. Jadinya kami tak saling mengungkapkan pengen makan di mana huahahaha. Serius ini. Bisa-bisa kami malah nggak jadi makan dan di sepanjang perjalanan pulang kami akan saling diem-dieman sampai rumah. Baru kalo anak sudah tidur meledaklah bom yang sudah tersulut sumbunya hahahaha. Soalnya nggak lucu kalau saya makan di tempat makan A dia di tempat B, kecuali kalo di foodcourt sih gak masalah ya? Tapi kalo di bioskop bisa lho kami berangkat bareng tapi nonton pelemnya beda. Dia di studio 1 saya di studio 5 hihihi ini sih nggak masalah wong memang selera pelem berbeda dan kebutuhannya memang nonton pelem hehehe.

Dan sampai sekarang masalah demi memuaskan pasangan itulah yg membuat kami bertengkar wkwkwkwk. Bahkan聽saya bisa menebak, apakah nanti soal makan akan jadi bahan pertengkaran atau tidak hihihi. Lucunya, teteeeeep aja kejadian. Perlu disyukuri sih, pertengkaran kami adalah sesuatu yang sebenanarnya menggelikan.

Tapi percayalah, bertengkar itu ngangeni! Kalo sudah lamaaaa nggak bertengkar–tau sendiri kan, suami kerja di rumah jadi kita ketemu tiap jam tiap menit tiap detik–saya kadang mancing emosi dia. Dan kalau dia sudah kepancing dan marah, lalu saya bilang: Horee ayah marah… Muahahahaha…*istri kurang hajyar* :))

Kadang sayanya sendiri juga pengen banget marah, kadang dia juga menunjukkan gelagatnya lagi pengen marah, kalau sudah begitu kami sudah punya insting antara perlu dibiarkan atau perlu dirayu ahhahahaaha.聽Yang perempuan pahamkan kalau lagi mau datang bulan kadang ada bawaan pengen maraaah mulu dan itu si dia sudah bisa membacanya lhoo hehehe.

Biasanya kalau kami bertengkar saya jadi nangis. Hey! Kapan lagi nangis kalo nggak pas bertengkar. Trus gitu enaak banget kalo sudah nangis. Rasanya lega. Crying is healing, right? heee.聽Disamping itu, kalo habis bertengkar biasanya berlanjut bla bla bla, bla bla bla wkwkwkwkwk… tau sendiri kan buibu pakbapak 馃榾

Ngomongin soal rumah tangga kami, misi聽paling jauh rumah tangga kami hanya sesuatu yang simple: Saat kami sudah menjadi kakek nenek yg berjalan tertatih-tatih, kami masih bisa berdua nonton film di bioskop. Tapi saya tidak menjamin berada dalam 1 studio yang sama lho, mungkin dia di studio 1 saya di studio 5 hahaha.

Walau misi itu sangat sederhana, tapi filosofinya dalem lho. Artinya:

1. Kami hidup sehat dan setua itu masih mampu berjalan nonton di Bioskop.

2. Uang pensiun kami cukup, buktinya kami mampu nonton ke bioskop.

3. Anak-anak dan cucu-cucu kami telah sukses dan mandiri, karena kami pergi tanpa digelendoti mereka, hahahaha!

Semoga Allah SWT selalu menjaga kesehatan dan memberikan umur panjang yang barokah untuk keluarga kami dan selalu merahmati dan meridhoi keluarga kecil kami ini dan keluarga Anda semuanya. Aminnn.

Akhirukata, sudahkan anda bertengkar hari ini? wkwkwkwkwk yuuuk!

Sofia Tak (Belum) Jadi Punya Adik

dia pergi saat ku sampai pd Surat Al-Rahman. dia coba mengingatkanku bahwa Dia sungguh Mahapemurah walau ada yg Dia ambil dariku

Sofia 'n sepupunya, adek Gendis.

Sofia 'n sepupunya, adek Gendis.

Sebelum memutuskan mudik, saya menemui obgin untuk pemeriksaan rutin sebulan sekali karena masih trimester pertama. Saat di USG, dokter bilang usianya 7 minggu. Saya protes, kok 7 minggu? Konsultasi terakhir sebulan yang lalu saja sudah 5 minggu. Harusnya sudah 10 minggu. Dokter diam saja dan mengukur ulang janinku juga mencoba mencari detak jantung yang tak juga terdeteksi. Lalu dia menjelaskan gambar di layar bahwa ini adalah plasenta yang menyalurkan makanan ke janin. Saya pun tak cemas.

Flek yang Mencemaskan

Di rumah embah, Sabtu, 26 Desember malam saya susah tidur karena saya mendapati bercak kecoklatan di cd saya. Saya berusaha tenang jadi saya tak beritahu suami juga ibu saya. Esok paginya saya lega karena tak lagi kutemui bercak semalam.聽 Tapi sore bangun tidur siang, kembali saya dapati bercak dengan warna yang sama. Ooh. Saya pun bilang ke suami dan ibu saya. Ibu langsung panik meminta saya pergi ke bidan dulu saja yang kebetulan se-RT dengan kami.

Malam itu hujan sangat deras sekali mengguyur. Menjadi alasan yang kuat bagi saya untuk menolak anjuran ibu pergi ke bidan. Saya bilang, kita lihat besok saja dulu. Mereka pun mengiyakan dalam diam. Semua kepala penuh prasangka. Apakah saya kecapekan menjalani perjalanan panjang enam hari yang lalu?

Esok paginya, hari Senin, bangun tidur, lagi-lagi ada flek disana. Saya sangat khawatir. Karena flek itu tak berwarna coklat tapi merah darah segar. Tanpa pikir panjang kami putuskan mencari dokter kandungan. RS Dr Oen Solo Baru menjadi tujuan utama kami. Atas referensi beberapa keluarga dan tetangga yang ditanyain ibu saya yang panik, RS Oen memiliki banyak pilihan dokter kandungan yang bagus.

Apa Kata Dokter?

Pukul 6 pagi kami sudah meluncur ke RS Oen setelah sarapan. Diiringi doa oleh kedua orang tua saya yang nampak kecemasan diraut muka mereka. Ternyata pendaftaran buka pukul 7 dan dokter datang pukul 8. Tapi pukul 8.45 dokter baru masuk ruang prakteknya. Dokter yang kami pilih adalah dr Kandung Bowoleksono, Spog alasannya hari ini beliau dokter terpagi yang praktek.

Setelah bilang ada flek di kehamilan minggu ke 11 ini, saya langsung di USG. Hasilnya, tak ada detak jantung juga dari janin saya. Dokter bilang setelah diukur menunjukkan usia janin 9 minggu. Saya pun katakan hasil konsul dengan dokter saya di Jakarta. Dia sempat meninggikan suaranya saat tahu kalau tidak ada detak jantung di usia 10 minggu. Katanya sejak 5 minggu detak mulai ada walau lemah. Dan 8 minggu detak sudah sangat kencang. Jadi kalau sampai 10 minggu detak tak juga ada, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan sang janin. Beliau juga bilang kalo flek itu cara sang janin memberikan tanda tentang keadaannya.

Dokter Kandung memvonis saya mengalami Blight Ovum (BO) yaitu kehamilan kosong. Dimana alat penyangga kehidupan bayi ada yaitu air ketuban dan plasenta tapi janinnya tidak berkembang melainkan semakin mengkeret. Buktinya seharusnya sepanjang janin 11 minggu tapi dia cuma 9 minggu.

OH! Begitu reaksi saya sebelum bertanya apa itu BO. Anehnya saya merasa kosong. Tak sedih sedikitpun. Jadi begitu ya? (keadaan kandungan saya) begitu pikir saya. Tapi ketika dokter bilang bahwa saya harus dikuret, baru saya berkaca-kaca menahan airmata luruh. Tapi saya tetap tabah. Buktinya tak ada air mata yang jatuh. Hanya tarikan nafas panjang agar saya lancar bertanya lebih banyak pada dokter. Saya tak tahu apa yang dipikirkan suami. Saya tak tega memandangnya. Dan saya tahu dia memandangi saya.

Saya tanyakan ke dokter, apa yang terjadi kalau tidak dikuret dan biar dia keluar sendiri? Karena saya merasa nyeri mendengar kata kuret. Beliau bilang bisa keluar sendiri tapi tetap harus di kuret biar bersih.

Dokter pun memberikan opsi: Apakah ingin diperyakin dengan USG transvaginal? Atau menunggu dulu seminggu dua minggu? Atau kalau besok mau kuret juga nggak papa. Tapi kalau dikuret dibius total kan dok? Tanya saya. Ohya tentu. Jawabnya menenangkan saya.

Karena kami tak tahu harus memilih yang mana, sayapun meyakinkan suami untuk pulang dulu biar bisa berpikir jernih. Suami lebih banyak diam ketika saya lebih banyak bicara dengan dokter. Kamipun diberi dokter surat pengantar jika sewaktu-waktu memutuskan kuret.

Dalam perjalanan pulang mata sayapun meleleh. Bukan apa-apa. Saya merasa langsung ikhlas ketika dokter bilang janinku tak berkembang dan harus dikuret. Saya menangisi Sofia yang sangat menginginkan kehadiran seorang adik ini. Saya teringat kata-katanya beberapa waktu yang lalu sebelum saya hamil.

Ma, aku ingin ada orang lain di rumah ini.

Maksudnya nak? Kan sudah ada om Taqim? (jawab saya seraya berpikir apakah dia kesepian di rumah)

Bukan, Maa鈥 Aku pengen punya adek.

(Ohh Sofiaa)

Tapi saya segera menghapus airmata ini. Saya nggak mau mengganggu konsentrasi suami yang sedang nyetir.

Mencari Opini Kedua

Sampai di rumah bapak dan ibu sudah menunggu dan mengharapkan segalanya baik-baik saja. Saya tak tahu harus berkata apa. Sambil menahan airmata, sambil masuk kerumah saya bilang lirih 鈥渉arus dikuret鈥. HAH?! Astagfirullah鈥 dan entah apalagi reaksi mereka. Saya lihat bapak yang berkaca-kaca sedang menungguin saya yang sedang menangis di dalam rumah. Saya pun bilang. Saya nggak papa kok, pak. Saya cuma kasian sama Sofia鈥

Rupanya tadi pagi ibu saya sudah menelepon eyang Sofi menceritakan rencana kejutan kami yang sepertinya akan tertunda. Suamipun kembali mengabari keluarga Jombang. Adiknya yang di Malang memberi saran untuk mencari opini dokter lain. Katanya ada temennya yg begitu juga tapi dokter ke dua bilang baik-baik saja dan juga akhirnya lahir sehat wal afiat.

Saya pikir seminggu yang lalu dokter di Jakarta bilang 7 minggu, seminggu kemudian dokter di sini bilang 9 minggu. Saya merasa ada harapan bahwa janinku sebenarnya berkembang. Saya pun mengiyakan ajakan suami mencari opini kedua.

Sore itu juga kami ke dokter Ahmad Sutamad, SpOg yang praktek juga di rumahnya selain di RS Dokter Oen Solo Baru. Hasilnya? Idem. Menguatkan analisa dokter Kandung. Ya sudah semua harus ikhlas. Ibu saya yang mendengar sendiri apa kata dokter Ahmad juga jadi percaya dan hanya pasrah.

Akhirnya saya memutuskan untuk kuret besok pagi dengan beberapa pertimbangan yaitu kalau memang harus dikuret lalu apalagi yang ditunggu? Saya nggak tau kapan janinku akan gugur keluar sendiri, ini lebih mencemaskanku; kalau nunggu kuret di Jakarta akan merepotkan ibuku yang pastinya ngotot ikut padahal bapak sedang tak sehat; dokter Kandung bilang 1 鈥 2 jam setelah kuret bisa pulang dan pemulihan paling 2 hari. Ya sudah, berarti kalau saya kuret besok pagi saya masih bisa pulang sebelum tanggal 3 Januari karena tanggal itu Sofia kembali masuk sekolah.

Kuret

Selasa 29 Desember. Jam 8 pagi saya diantar Sofia dan ibu dengan disopiri suami kembali ke RS dr Oen untuk kiret. Mbah kakung (bapak) pilih tinggal di rumah. Beliau takut nggak bisa menahan air mata. Kata-katanyalah yang lebih membuat mata saya memerah.

Setelah suami selesai mengurus pendaftaran dan ini itu akhirnya saya menjalani proses untuk kuret. Pertama sampel darah saya diambil. Kemudian diberi obat transvaginal untuk merangsang pembukaan yang berlaku tiap enam jam sekali. Hah?! Seperti melahirkan normal dong kalau begitu? Para suster dan dokternya sih cuma berdalih agar lebih mudah memasukkan alat kuret dan saya tidak banyak menghabiskan obat bius nantinya. Ahh cuma untuk menenangkan hati saya rupanya. Nyatanya obat induksi itu diberikan sampai 2.5 kapsul (setiap pemberian 1 kapsul). Ini mah namanya induksi. Karena setelah kontraksi selama 4 jam akhirnya pecah ketuban dan sejam kemudian segumpal darah yang tak jadi mewujud bayi itu keluar tepat pukul 24:15.

Ahh rupanya dia sebenar-benarnya sayang aku, ibunya. Karena dia lahir sama dengan wetonku, Rabu Legi. Must be a good baby : )

Keesokan harinya, pukul 8 pagi baru saya didorong ke ruang operasi minor untuk dikuret. Pertama paha saya di suntik hanya terasa cekit sedikit. Dan semuanya berjalan sangat cepat secepat si suster bilang, 鈥淚nfusnya saya suntik ya, buu鈥. Seketika rasa panas menjalar di tangan kanan saya dan saya menangis kesakitan. Saya tidak malu lagi untuk menjerit. Panasnya minta ampun!

Ternyata itu adalah suntikan bius. Nyatanya bangun-bangun saya masih nangis tapi kok kata suami sudah selesai? Loh, sudah tho? Perasaan saya nangisnya lama, ternyata setelah biusnya hilang saya kembali nangis. Tapi saya menangisi Sofia yang tak (belum) jadi punya adik L begitu kata suami dan ibu saya yang nungguin saya sampai sadar. Maafkan mama, Sofiaa鈥

Sekepal Raga Tak Terpeluk

Sekepal Raga Tak Terpeluk


Sekepal raga itu tak terpeluk
Lupakan tangisnya
jangan kau tangisi

Sekepal raga itu tak terpeluk
Kenangan yang kau ratapi
adalah luka yang kau buat sendiri

Sekepal raga itu tak terpeluk
Memang bukan milikmu!

Sekepal raga itu tak terpeluk
Setidaknya telah kau genggam
sebelum kau kembalikan

Sekepal raga itu tak terpeluk
Demi waktu,
waktunya abadi dalam pelukan-Nya

.:Untuk anak ke-2 ku yang 11 minggu kupeluk dalam rahimku.

Cerita (Senang & Sedih) Libur Akhir dan Awal Tahun

Horee! Sofia libur 2 minggu. Libur akhir semester pertama plus libur natal dan tahun baru. Saya dan suami pun sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan untuk memanfaatkan libur panjang ini.

Rencana pertama dan satu-satunya adalah pulang kampung :). Alasannya, kita, khususnya suami pengen nyobain nyetir sendiri dari Jakarta ke Solo. Suamipun sibuk ke bengkel dengan si Singa. Mesra banget deh dua makhluk berbeda itu. Ada cacat setitik di cat body aja, kesannya panik gitu ngadepinnya hahaha.

Ijin Obgin

Kepastian jadi pulang kampung apa enggak kita gantungkan pada dokter kandungan saya, dr Soemanadi yang praktik di Pavilium Kenanga, Pondok Pinang. Kehamilan yang baru masuk bulan ketiga trimester pertama ini menjadi prioritas kami. Setelah hari Sabtu kami gagal bikin janji dengan obginku, akhirnya hari Senin kami bisa bertemu.

Setelah menasehati makanan apa yang perlu saya konsumsi, dokter pun bilang nggak papa kalau mau mudik. Asal jangan terlalu capek. Ukuran capek itu hanya ibunya sendiri yang tahu. Begitu kata dokter.

Wokeee dehhh… akhirnya kita positif mudik. Mentang-mentang bawa mobil sendiri, masalah packing santai-santai saja. Karena nggak harus mikir ngatur bawaan di dalam koper. Akhirnya malam itu juga saya yang kebagian packing super cepat segala sesuatunya kecuali gadget n alat tempur suami lainnya alias perlengkapan kerja dia.

Meluncur Ke Solo

Habis subuh jam 5 pagi hari Selasa, 21 Desember 2010, kami start dari rumah. Mampir dulu ke Shell Bintaro buat isi bensin full tank dan cek angin ban. Setelah itu baru kami melakukan perjalanan yang sebenarnya.

Hati kami semua dipenuhi kegembiraan yang tiada tara. Karena ini kali pertama kami mudik dengan berkendara sendiri. Secara psikologis kami sangat menikmati perjalanan panjang ini sehingga kami tak merasakan lelah yang berarti sampai tujuan, rumah embah.

Begitupun Sofia. Putri kami yang baru berumur 4.5 tahun ini mau duduk sendiri di jok belakang dari rumah Jakarta sampai rumah embah di Solo! Luar biasa dia. Setelah diberi pengertian, tanpa protes sedikitpun dia enjoy menikmati perjalanannya dari jok belakang. Anak hebat! 馃檪

Jam menunjukkan pukul 23.30 malam saat kami tiba di rumah embah. Total perjalanan kami adalah 16.5 jam dikurangi waktu istirahat hampir 5 jam. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat walau hampir tengah malam sampai tujuan.

Nikmatnya di Rumah Embah

Yuhuuuu! Di rumah embah selalu menyenangkan. Tiap pagi kami sarapan bubur lemu. Soal cuaca sama saja. Sebentar panas sebentar mendung sebentar gerimis tak lama hujan. Tapi anginnya lebih bersahabat. Tak seperti di Jakarta yang anginnya sembribit dan dingin. Nggak enak banget deh pokoknya.

Di rumah embah bisa sering-sering beli serabi notosuman dan makan ayam goreng mbah Karto. Nongkrongnya di depan rumah di bawah po on mangga sambil ngerumpi ngalor ngidul bikin betah hehehe. Asik deh pokoknya. Yang teristimewa, setiap hari dibikinin mbah kung wedang teh anget yang sedap! Nasgitel gitu deh 馃榾

Kami pun baru sadar kalau perkiraan kelahiran adek Sofia di bulan Juli yang artinya lebaran kami nggak bakalan mudik. Kamipun mantap untuk mengunjungi eyang Sofi di Jombang hari Senin, 27 Desember selepas lohor. Rencananya kami ingin memberikan kejutan kepada eyang Sofia dengan tidak mengabari rencana kami ini.

Tak Jadi ke Rumah Eyang

Rencana tinggal rencana, Allah SWT yang mahamenentukan segalanya. Kami tak jadi berikan kejutan untuk eyang karena ternyata saya harus kiret. Sedih iya tapi sebatas ungkapan saya sebagai manusia biasa. Menangis tentu saja karena saya adalah calon ibu dari anakku kedua. Tapi semua saya ikhlaskan dan serahkan kepada Allah SWT sesaat ketika saya mendengar kata kiret dari dokter. Karena Dia pemilik segalanya.

Pulang

Jadinya kami di rumah embah selama 10 hari nih. Tiga hari setelah saya kuret, kami kembali pulang ke Jakarta. Ternyata pulangnya lebih capek. Tapi saya kira karena factor psikologis aja sih. Lama perjalanan cuma lebih lama 1 jam :). Bedanya sampe Solo jam 1/2 12 malam, sampe Jakarta jam 1 malam hehehe. Yaa begitulah cerita liburan awal th 2011 dan akhir th 2010 keluarga kecil kami.

eMbak

Punya pembantu rumah tangga sudah biasa di Jakarta. Tapi punya asisten rumah tangga seperti embak di rumah saya ini adalah tidak biasa. Ya, saya lebih senang menyebutnya asisten rumah tangga dari pada pembantu.

Embak Anti begitu namanya, sudah bekerja di rumah kami sejak kepindahan kami ke kontrakan ini 2 tahun yang lalu. Dia tinggal di kampung belakang komplek. Jadi dia tidak tinggal bersama kami. Dia hanya melaksanakan tugasnya paling lama 4 jam sehari.

Namun sejak kakak saya yang sekomplek dengan saya tak punya pembantu, kini mbak Anti juga kerja di rumah kakak. Berhubung rute dari rumahnya lewat rumah kakak terlebih dahulu, jadi dia bekerja di rumah kakak baru ke rumah saya.

Dulu jam 8 datang, lama-lama jam 9 baru dateng. Setelah kerja di rumah kakak juga datangnya jadi lebih mundur jadi jam 10/11 eh sekarang malah kadang jam 1 siang baru datang. Saya sih nggak masalah. Yang penting kerjaan beres.

Dulu saya perlu asisten karena saya masih kuliah. Jadi nggak mungkin ngurusin beres-beres rumah sendiri. Apalagi kontrakan kami ini lumayan besar. Rumah seluas +/- 170m2 dengan 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Nyapu saja rasanya capeek banget. Belom ngepelnya? Belom ngelap kaca? Kebetulan rumah ini kaya dahan pintu dan jendela berkaca. Pas pindah aja yang paling berasa beli gordennya heheh. Tapi kami suka sih.

Jadi mbak Anti saya kasih 5 tugas utama yang harus dilaksanakan dari Senin sampai Jumat, ya, kami sengaja memberi libur dia 2 hari dalam seminggu. Tugas itu adalah: nyapu tiap hari, ngepel 2 hari sekali, ngelap kaca kalo udah keliatan kotor, nyuci & seterika. Selain itu tugas saya. Apalagi untuk urusan masak-memasak mutlak saya sendiri yang menjalankannya 馃檪

Apa Luar Biasanya?
Belum keliatan ya luar biasanya? Dibawah ini deh daftarnya 馃榾
1. Mbak Anti ini tenaganya luar biasa besar. Dia tipe orang yang gatel kalo tidak ngapa-ngapain. Ketahuan udah seharian kerja di tempat saya dan kakak eh di rumah masih buka warung jualan mie ayam. Padahal kanan kirinya banyak yg jualan mie ayam juga. Belom kalo Sabtu Minggu, kita liburin tapi dia tetep ngobyek entah nyuciin seragam bola kek, borongan seterika kek. Hadehhh gigih banget deh pokoknya. Padahal usianya udah hampir 50th! Tapi kalo jalan kayak lari. Udah badannya kecil lagi. Kalo ketemu di jalan meleng sedikit udah nggak nampak deh. Ngilang kayak kijang! :))
Saking besar tenaganya, semua gagang pintu di rumah kami dia yang matahin. Lubang kunci dia pula yang bikin macet hahaha. Pas pulang kampung lebaran ini eh dia mo buka pintu kamar tapi kuncinya salah. Tapi dipaksa dengan tenaga besarnya sampe tu lubang kunci rampal! Ujung-ujungnya pulang-pulang mana nyampenya malem, mana lap masjid depan rumah lagi ada Uje ceramah, kita nunggu orang bubar baru berani ngedobrak kamar. Ancur deh. Tapi geli hihihi. Sabarrr sabarrr,,,
Sekarang pintu kamar mandi belakang. Sudah tahu kuncinya lagi macet dan nggak bisa ditutup ee nekat didorong. Padahal orang rumah nggak satupun yng bisa nutup lho. Dia lagi nyuci di kamar mandi tapi mo pipis. Padahal kalo pintu udah ketutup (harus diganjel ember) nggak adalah yang bakalan maksa buka. Lha ini dia paksa tutup rapat ujung-ujungnya ngga bisa buka. Kekuncilah dia. Katanya dia udah teriak-teriak tapi nggak ada yang denger. Ya iyalah. Di rumah cuma suami yang ada trus lagi kerja di kamar kerja dengan kondisi hujan derass sekali. Suami sempet curiga kok embak nggak keliatan. Dia pun ke belakang trus manggil, mbakkk? Eh si embak jawab “kekunci paakkk”, Suami dengernya, nyuci pakk… Ya sudah, jawab suami saya kembali kerja hahahaha. Baru beberapa jam suami curiga lagi trus ke belakang kali ini manggilnya lebih dekat, baru jelas kalo di ngomong kekunci! masaampunnnn… Jadinya kunci kamar mandi belakang sekarang bolong gara-gara dibongkar paksa suami. Ngakak deh! :))

2. Masih berhubungan dengan kebesaran tenaganya nih. Kalo nyapu, ngepel dan nyuci cepet banget! Dan emang orangnya cekatan sih saya akui. Tapi ya itu, kalo nyuci udah dibilang nggak usah disikat teteeeeep srak srek srak srek. Kalo baju sekolah Sofi kena lumpur sih nggak papa. Lha ini semua jenis baju di sikat habess. Sampe daleman suami baik atas dan bawah bolong kabeh! BH saya juga ancur lebur *geleng-geleng lah*. Padahal saya maunya cucian kalo udah direndem ya sudah kucek buat ngilangin sabunnya aja. Wong kotornya paling cuma bau keringat.
Padahal cucian selain baju-baju yang nggak cocok digiling saya cuci pake mesin cuci. Tapi kalo lupa ngasih tau “jangan dicuci” dia dateng-dateng pasti langsung rendemin pakaian kotor. Padahal udah dibilang, besok aja mbak biar sekalian gilingnya. Jawabnya pasti, ah nggak papa bu cuma sedikit kok. Hadehhhh padahal seember juga.

3. Kebalikan dengan kebesaran tenaganya, mbak Anti sangat rapiiiiiiii sekali. Ya, er a pe i. Contonya seterika. Kalo ngeliat die nyetrika nggak 聽ngira kalo dia orang gesit yang melakukan apa saja dengan cepat dan tenaga besar. Tiap helai baju di seterika dengan sangat teliti, pelan dan ditekan-tekan dan luaaaama. Bahkan renda sprei dia strika sampai lipitnya licin. Jangankan sprei, lap dapur aja sampai lipatannya kaku!
Sudah berkali-kali saya bilang tapi sekarang udah capek jadi sesekali saja saya sindir jenaka. Bahkan Suami juga ikut gemes ngomonginnya. Kita bilang gini: “mbak.. kita itu nggak ada yang kerja kantoran, jadi kalo sterika itu sat set sat set aja. Yang penting dilipet rapi. Nggak perlu licin-licin”. Jawabnya apa coba?: “ah nggak papa Pak/Bu, biarin. Sudah biasa”. Selalu begitu jawabnya.

4. Masih berhubungan dengan kerapiannya nih. Dulu Sofi pernah tidur beberapa minggu di kamarnya sendiri. Tapi karena tiap pulkam di kampung tidur juga ma ortunya jadi sekarang balik deh dia tidur ma kita lagi. Nah, mbak Anti tuh biar dikata tempat tidur udah diberesin, dia tetep turun tangan membereskan ulang sampai kayak tempat tidur hotel. Siapa yang nggak seneng coba? Yang bikin gemes, karena Sofi tidur ma kita otomatis bantal juga jadi 3 dong. Tapi oleh mbak Anti bantal Sofi selalu dikembalikan ke kamar Sofi. Jadi kita klo mo tidur udah diatas tempat tidur pasti turun lagi ngambil bantal Sofia. Hahaha ngakak deh pokoknya. Sampai keluar aer mata hihihi.

5. Sekarang soal hak-hak dia nih. Mbak Anti paling susah disuruh makan siang. Dulu awal-awal sampai ditarik-tarik sama ibu saya pas beliau lagi disini. Cuma untuk MAKAN. Ada aja alasannya, masih kenyanglah padahal kerja dari jam 8 dan sekarang jam 12 siang. Atau nggak barusan makan padahal ke rumah kakak jam 10 ke rumah saya jam 1/2 1. Emang sarapannya jam berapa coba? Padahal kalo cerita dia sarapannya kalo nggak ngeteh ya ngopi. Nggak biasa sarapan katanya. Masya Allah. Sampe saya hampir nangis. “Embak nggak doyan masakan saya ya?” pernah saya gituin. Kalau nggak saya bilang, “ohh enakan masakan mami ya? (kakak saya)” Padahal di tempat kakak juga sebelas duabelas ngak mau makannya.
Pernah dia sakit nggak masuk. Pas masuk saya marahin:”biarin aja. Salah sendiri suruh makan aja nggak mau.” Dianya sih cuma hahahihi cengar cengir. Tapi saya dan kakak sepakat kalau dia emang sangat pemalu. Buktinya kalo kita pergi dia pasti mau ambil makan. Atau nggak kalo saya tinggal pura-pura tidur dia juga makan. Lucukan?
Pernah saya tiduran. Dia di ruang makan sama Sofi. Saya masak sayur bobor dan oseng leunca. Trus dia makan pake leunca. Eh Sofi nyeletuk:”Kok embak makannya nggak pake sayur Sofi yang ada kuahnya itu?” Hahaha dia keliatan salah tingkah banget. Dia bilang:”ee enggak Sof, embak pengen ngincipin leuncanya mama.” hihihi embak… embak…
Jadinya kalo dia mau makan pas di depan mata saya, saya selalu bilang, “Nah gitu dong mbak..” Dan diapun cengar cengir malu-malu gitu deh.

6. Hak yang lain adalah gajian. Belum setahun kemarin gajinya udah kami naikin. Tapi ini bukan perkara kurang atau tidak. Tapi soal waktu gajian. Biasa tiap tanggal 1 saya berikan gajinya. Kadang kalo dia lagi perlu trus diminta lebih awal juga kita kasih kok. Saya senangnya dia orangnya kalau berhutang nggak berlarut-larut. Maksudnya bertanggung jawab gitu lho. Lagian dia ngutang paling berapa sih? Keliatan deh kalo dia pinter ngelola uang.
Begini nih lucunya. Pas tanggal 1 kadang saya lupa membayar haknya. Kesel deh. Kayak kemaren, pas dia dateng kita udah mo keluar mo nonton Babies di bioskop. Jadinya saya lupa menyerahkan gajinya. Besoknya dia datang langsung saya kasih. Saya bilang:”Mbak maaf ya, kemaren lupa. Mbok embak tuh bilang kalo saya lupa. Bilang, tanggal satu buu. Gitu lho”. Eh dia jawabnya pasti:”Ah enggak ah, masak kita minta-minta malu ah. Biarin aja bu, nggak papa kok.” Hadehhhh. Wong itu haknya dia kok malu-malu sih. Trus saya nanya:”Kalo aku lupaaa terus sampe seminggu, embak juga diem aja?” “Yaa biarin aja, bu hehehe.” Aduh embakkkk!

Sekarang saya tinggal nunggu sidang. Jadi udah nggak pernah kuliah lagi. Mau memberhentikan embak rasanya nggak tega. Pernah kerumahnya dia minta daun pisang, yang ada ibunya sama tetangganya depan rumah. Baik banget mereka. Ibunya bilang kalo udah cocok en kerasan di tempat mamanya Sofi. Kalo tetangganya bilang,”pernah saya tawarin, tuh disono gajinya lebih gede. Tapi Anti jawabnya ah enggak ah udah cocok ma mamanya Sofi.” Aduh si embakk… saya dan suami sepakat untuk tidak menghentikan dia apalagi sekarang alhamdulillah saya sedang hamil anak ke dua *ups!* :). Kalau orang jawa bilang, idep idep menolong orang. Sehat selalu ya mbak….. *Elap air mata*

Monas Panas

Monas di siang bolong

Maksudnya ke Monumen Nasional pas siang hari pas panas-panasnya. Padahal Oktoberkan musim hujan. Tapi ya syukurlah kita nggak ribet kehujanan.

Rencana awal sih ke Museum Nasional. Sampai sana pas masuk waktu sholat Jum’at. Dan ternyata sudah tutup. Hari Jum’at hanya buka dari jam 8.30 sampai 11.30. Ya sudah kita belok saja ke Monas.

Sampai Monas kami berpencar. Ayah Jum’atan saya dan Sofi masuk ke kawasan taman Monas, ngadem sambil buka bekal.

Makan siang sambil nunggu ayah Jumatan

Hari ini ke Monas gara-gara di rumah mati listrik. Padahal saya pagi udah rapi masak rapi ngurusin anak. Habis itu mau ngeprint skripsi yang sudah siap cetak. Namun agaknya niat baik tak selalu berjalan mulus. Baru mo mandi eh lampu mati. Daripada mati gaya, kita putuskan membawa makanan yang baru mateng ini. Buat piknik. Mumpung Sofia lagi libur sekolah juga.

Sepanjang perjalanan Sofia sangat senang mau diajak ke museum. Diapun mulai nanya, apa sih museum itu? Kamipun dengan antusias menjelaskannya. Tapi dia juga nggak kecewa saat tahu museumnya ternyata sudah tutup soalnya dia juga pengen ke Monas. Sudah lama dia tak ke Monas. Bahkan dia sudah lupa. Pengen kesana karena dia lihat photonya pas di Monas sedang bermain ayunan dengan saya.

Setelah ayah selesai sholat lalu nyusul makan, kami pun mengarah ke bangunan yang menjulang keangkasa itu. Menyebrang lapangan luas di bawah terik matahari bikin pening kepala.

Untung bawa payung, bawa stroller juga untung.

Sampai sana saya kecewa. Kok isinya cuma diorama? Jujur saja baru kali ini saya masuk ke bangunan Monas. Sering kesini tapi hanya memanfaatkan taman sekitarnya saja. Dulu pas masih tinggal di Pasar Minggu, tiap sabtu kami sering mengajak Sofi kesini. Saya jadi penasaran, apakah sejak Pak Karno isinya memang diorama seperti ini?

Salah satu diorama yang membuat Sofi takut.

Yang bikin saya nyesek dan bilang “bulshit!” pas liat diorama dimana pak Karno terbaring di atas ranjang dan di sampingnya duduk tiga orang jendral. Tahu sendiri lah. Males saya bahasnya. Saya juga nggak melihat semuanya, soalnya Sofia sekali lihat tampilan diorama yang gelap dan terkesan serem langsung ketakutan ngajakin menjauh. Ya sudahlah.

Senangnya lihat rusa totol

Akhirnya kita memutuskan ke taman deket kandang rusa setelah duduk-duduk sebentar di kantinnya sambil menegak minuman dingin.

Ayunan dengan mama

Diayun ayah

Ayunan dengan ayah

Inilah bagian yang paling menyenangkan di Monas, main ayunan!! Yeay! Semua suka bermain ayunan di taman kota yang teduh seperti ini. Setelah puas kamipun pulang dengan rasa lelah kepanasan tapi hati gembira. Sampai di dalam mobil Sofipun langsung tidur tengkurap dan baru bangun sampai rumah 馃榾

%d blogger menyukai ini: