Liburan ke Singapura

Mimpinya tercapai: ketemu singa šŸ˜€

Jatah liburan kami tahun 2011 ini kami habiskan di Singapura selama 4 hari, yaitu tanggal 18 – 21Ā  April. Senang rasanya bisa kembali ke negeri ini bersama Sofia, putri kami. Dia memang sudah ngebet pengen banget melihat patung singa. Judulnya ngiri sama ayah dan mamanya yang sudah photo bareng si patung Merlion ini hehehe.

Continue reading

Backpacking#4 Singapura

Astagfir…. lelet banget ya saya ngupdate blog ini? Yaa begitulah. Mohon dimaafkan. Hehehe…

Peta sudah siap. Poto sudah siap. Catatan yang minim juga siap. Tinggal ingatan neh yang berusaha disiapkan. Rewind my mind! Well e well e well, langsung saja ya. Hari ke dua di Singapura ini agenda kami ke Kampong Glam dan Arab Street, trus ke Little India, lanjut ke Botanical Garden habis itu jalan ke Orchard Road. Buktinya, silahkan simak kemana kami keblasuk.

Bugis Street

Nah loh! Baru mulai saja sudah nggak sesuai dengan agenda. Tapi disitulah enaknya backpacking, keluar jalurpun kami tetep bisa enjoy. No problemo. Ga da yang mo marahin. Paling nanti juga ketahuan siapa yang marah-marah hihihi. Penasarankan?

Jam sepuluh pagi kami baru keluar dari Rucksack Inn. Hujan, ya. Singapura terkenal tak punya musim. Jadi tiap hari bisa hujan bisa pula panas. Wajar kalo aksessoris wajib warga Singapura adalah payung.

Dari penginapan kami berjalan ke Fu Tong Sen Street. Sebelumnya sarapan berat ke restoran melayu “Hikmah” yang menyediakan makanan halal di seberang jalan Fu Tong Sen yaitu New Bridge Road. Hasil nyoba-nyoba ternyata disini makanannya lebih mahal daripada di Circular road :D.

Kenyang. Kami sedikit berdebat mau naik kereta atau bis. Akhirnya dihitung-hitung lebih irit naik bis. Setiap rute yang ditentukan kami hanya membayar @S$0.90 dengan bis AC ini. Kami pun mengarah ke Bugis Market.

Karena tertarik dengan frasa “belanja di Singapura”, kami ditengah jalan memutuskan ke Bugis Street. Pasar oleh-oleh menurut saya. Karena disana yang dijual ya pernak-pernik berbau singapura dari gantungan kunci sampe baju dann lain-lainnya. Lihat saja foto-foto dibawah ini:

Bugis Street

Accecories Booth - Bugis Street

Bugis Street Map

Karena masih dua negara yang harus kami singgahi, maka disini saya cuma nyari gantungan kunci hehehe… Ingat, penghematan!

Arab Street dan Kampong Glam

Puas muter-muter pasar sampe mentok, kami kembali ke halte untuk naik bis. Lalu turun di perempatan Ophir road dan Victoria street. Tujuan kami adalah ke Sultan Mosque disekitaran Arab street untuk sholat dhuhur. Sultan Mosque adalah masjid terbesar di Singapura. Karena sampai sana belum masuk waktu dhuhur, maka kami memutuskan untuk makan siang dulu.

Sultan MosqueJalan terus membuat perut cepet lapar, euy! Bingung mo makan apa, akhirnya diputuskan mencoba lagi lagi mencoba masakan India. Kamipun terdampar di Al-Baik Mariam Restaurant Pte Ltd, menyediakan makanan India seperti beriani, martabak, roti perata dan lauk pauk India khususnya dari daerah Kerala. Kami memesan nasi beriani dan martabaknya dengan minuman wajib teh tareeekkkk… Butuh testimoni? Yang pasti mak nyus! dan pantas dicoba hehehe.

Nasi Beriani Ohya, lokasinya tepat di seberang Sultan Mosque ya. Alamatnya 709 North Bridge Road. Tambahan lagi, pemiliknya Encik Abdul Majid Ismail (45th) ternyata pernah tinggal di Jakarta, sodara sodara. Jadi obrolan kamipun nyambung :).

Setelah adzan dhuhur berkumandang kamipun sholat dhuhur disana. Inilah fakta-fakta yangĀ  kami temui di masjid ini:

  1. Tempat wudhu laki-laki ada tempat duduknya dan mereka berwudhu dengan duduk.
  2. Di toilet laki-laki sangat bersih. Dan kalau mau ke toilet disediakan sendal. Tempatnya juga super duper bersih dengan interior yang keren
  3. Tempat wudhu perempuan merangkap dengan toiletnya jauh terpisah dari bangunan masjid. Sudah pasti bersih juga.
  4. Disana disediakan gamis sewaan tapi gratis. So, para lelaki jangan khawatir kalo bercelana pendek gak bawa sarung :).
  5. Yang perempuan sholatnya dilantai dua. Juga disediakan mukena gratis nan bersih-bersih (mohon jangan bandingkan dengan mukena masjid di sini ya, maaf jauh mbak) yang tertata rapi di gantungan maupun di lemari.
  6. Tiap habis sholat diadakan ceramah. Kebetulan waktu di sana yang ceramah seorang Chinese, Subhanallah! šŸ™‚
  7. Masjid ini juga termasuk tempat wisata. Buktinya waktu itu sedang ada kunjungan rombongan remaja turis asing.
Tempat Wudhu Laki-laki

Tempat Wudhu Pria

Toilet Pria

Toilet Pria

Gratis Sewa Gamis

Gratis Sewa Gamis

Penceramah setelah Sholat Dhuhur

Penceramah

Begitulah. Setelah sempet bbs beberapa saat sambil dengerin ceramah, kami lanjut menyusuri Busaroh street. Belok kiri ke Baghdad street trus belok kiri lagi ke Sultan Gate. Disana kami mentok di Istana Kampong Glam. Dulunya adalah istana Sultan Singapura. Baru-baru ini direstorasi menjadi Pusat Kebudayaan Melayu.

Bussaroh Street

Bussaroh Street

Istana Kampong Gelam

Istana Kampong Gelam

Keluar dari situ kami berada di Kandahar street. Lalu Jalan Pisang dan kembali bertemu Victoria street. Kami sempat bingung mo kemana lagi. Karena waktu. Antara ke Little India atau ke Botanical garden. Keinginan Mbak Murni mengunjungi kebun anggrek yang pernah ia lihat di TV mendominasi aura tujuan kami. So, bye-bye Little India! maybe we meet you tommorow. Let’s see.

Botanical Garden

Kami naik bis lagi. Turun untuk oper bis tapi sempat jalan-jalan di sekitaran Victoria street, Raffles Hotel Shopping Arcade, Stamford road, juga numpang poto di sebuah Katedral.

Jam 03:07 Di perempatan Stamford Court
Chatedral of the Good Shepherd

Di Stamford naik bis lagi turun Grange road. Lalu jalan kaki sampai di Napier road. Jalanlah kami sepanjang Napier road sampai ketemu plang Cluny road. Berarti kami sudah sampai. Karena kebun nasional ini terletak di pojokan seberang kami. Artinya, kami masuk melalui Tanglin Gate.

Allahuakbar! Singapura benar-benar luarr biasa. Ada aja kejutan yang kami dapatkan di negara mungil ini. Belum habis kami terheran-heran dengan trotoar-trotoar di seluruh pelosok negeri ini -trotoar yang memanusiakan manusia, saya bilang- kami sudah dikejutkan lagi dengan sajian kebun raya yang luar biasa luas dan indah ini.

Karena waktu sudah hampir pukul empat sore, kami bergegas menuju National Orchid Garden. Hanya saya dan kakak saya yang masuk. Suami dan Mas Deni pilih tinggal di luar. Selain alasan capek ya maklumlah, laki-laki kaga ngerti indah-indahnya bunga. Huh! menyebalkan.

In the Gate of National Orchid Garden

O iya deng, selain itu tiket masuknya mahal buat kantong backpacker yang nggak tertarik bunga. Dewasa: S$5, pelajar dan usia diatas 60th: S$1, sedangkan anak-anak dibawah 12th: gratis. Ada kejutan lagi, saya cuma bayar S$1!!! Bukan karena saya sudah nenek nenek looohhh. Karena saya bawa kartu mahasiswa saya. Yeay! Berasa boo.. secara kakak saya musti bayar S$5 dan sudah pasti dia ngiri hihihi.

Di depan pintu masuk taman anggrek ini saja saya dan kakak sudah dibikin lemes dengan keindahan bunga yang di depan. Pas masuk, JEDER!!! rasanya saya pengen mati!! Oh Tuhanku.. Ya Robbi Ya Maha Suci!!! Inikah surgamu untukku???? Rasanya saya benar-benar sudah mati dan masuk surga. Klepek klepek saya melihat keindahan yang maha indah ini. Semua kosokata indah-indah yang dihiperbolakan digunakan untuk mengungkapkan taman anggrek ini.

Saya bilang ke kakak,”apakah disini menerima tukang kebun seperti aku? aku rela tidur disini. Rela!”. Kalo jadi tukang kebun saja nggak masuk kualifikasi saya jadi ketar ketir, apakah saya pantas masuk surga yang sesungguhnya? Hallah ngelantur! Maap. šŸ˜€

Kami pun memuas muaskan diri menikmati setiap jengkal keindahannya. Saya mabuk. Tak hirau waktu sibuk memotret, merekam dan membekukan semua keindahan ini dalam kamera. Sampai-sampai saya dan kakak sempat terpisah dan saling mencari dikebon luas ini. Pontang-panting seperti orang gila. Waktu sudah setengah tujuh (tapi masih seperti jam lima sore waktu Indonesia). Kami belum puas padahal sudah muter-muter disini sejak jam empat. Saya inget suami yang menunggu pasti jenuh dan bakal kena marah, tapi pikiran itu segera sirna saat anggrek-anggrek itu kembali menghipnotis saya.

Dengan hati seberat-beratnya dan dengan ancaman ditinggal kakak saya. Saya akhirnya menyerah dan keluar dari situ. Karena saya masih ada warasnya ternyata. Sampai diluar kami kena marah suami masing-masing. “Appaaa an sih?! Sudah setengah tujuh neh!” Hah?!!! Saya tertawa licik. Emang enak? Hahahahahahahahahahaha

Tapi suami bilang,” Enggak kok. Saya mah sudah tau kalau istri saya ini gila bunga anggrek”. OHHHHH ROMANTISNYAH! Itu, itulah bagi saya kata-kata paling romantis dari suami saya. I LOVE U, HONEY… MUUACH! (Hmm… plis deh, ini blog mbak!)

Okelah. Untuk foto-foto yang lebih lengkap silahkan klik flicker Suami saya disini ya!

Orchard Road

Lelah, lungkrah, tapi masih tetep semangat. Suami dan Mas Deni sempet istirahat. Sedangkan saya dan kakak energinya terisi di kebun anggrek tadi. Bener bener dua lelaki itu, ga da insting mengagumi keindahan bunga sama sekali. Milih tidur malah. Ahh God Bless Both of You! Dan kamipun memutuskan jalan lagi ke arah Orchard road yang kondang itu lewat Tanglin road terlebih dahulu.

Orchard road terkenal buat belanja. Surga belanjanya Singapuralah semua bilang. But, sory, we are light backpacker. Jalan-jalan pake ransel bukan pake koper. So we just window shoping here, Sir! hiehehe…

Kalo saya bilang, Orchard road lebih mirip sudirman euy ramenya. Lalu lalangnya. Cuma atmosfirnya sih laen aja gitu. Bersihnya jangan ditanya ya! Tapi teee tep, asik boo jalan-jalan malem-malem berduaan gandengan tangan. Kapan lagi dot com? Biar kata nggak belanja kami rela kok hehehe…

Korean Food

Korean Food

Kami jalan terusss dan terus jalan, sampai di Lucky plaza. Denger-denger dari blog tetangga (yang mana lupa. Banyak soalnya :D), di basementnya ada food court yang menyediakan makanan melayu. Masakan Indonesia juga ada. Tapi yang kami cari makanan halal. Dan kamipun memilih masakan Korea yang membuat saya jadiĀ  lapar kelamaan nulis blog ini heehhh… maap cari ransum dulu.

Lumayan, kacang Deka dan pepaya. Moga gak jadi lemak.

Oke, lanjuttt. Kami terus jalan menyusuri Orchard road sambil mencari cara yang tepatĀ  balik kepenginapan. Gara-gara salah baca jalur bis, kami jadi bolak balik kayak seterikaan. Mana kaki udah cenutt cenuttt, cuapeknya baru kerasa lagi. Biasa, udah lowbat. Jadinya kepala mulai panas neh. Persis kayak the Amazing Race deh :D. Akhirnya keputusannya, naik bis!

Orchard road

Orchard road

Akhirnya bis yang mengantar kami balik ke penginapan menurunkan kami di North Bridge road deket Hongkong street di mana Rucksack inn berada. Tinggal jalan sak nyuk an, kita pun sampai.

Nah udah ketauankan, siapa yang marah marah? Ya yang nulis blog ini, saya-red. hehehe. Biasa, kalo udah kecapekan maunya uring-uringan. Polah polahe dewe, kata suami saya hihihi.

Backpacking#3 Singapura

Ini masih dihari pertama kami sampai di Singapura. Haduhh masih banyak yah? Padahal energy sudah hampir habis dan daya ingat saya sudah hampir sirna šŸ™ nah loh! SEMANGAT! LANJUT!

Petang ini sesuai dengan rekomendasi Jacqui, staff Rucksack Inn tempat kami menginap, kami akan makan malam di sekitar Circular Road, lalu jalan-jalan menelusuri tepi sungai Singapura a.k.a Clark Quay untuk menikmati keramaian after hour Singapore. Tujuan kami adalah Marina Bay tempat Merlion park berada yang mempunyai patung simbol negara Singapura yaitu patung singa berbadan ikan a.k.a Merlion statue nongkrong disitu.

On the corner of Circullar road

On the corner of Circullar road

Suasana di pinggiran Singapore river

Suasana di pinggiran Singapore river

Circular Road

Tepatnya di pojokanĀ  Circular road kami mengisi perut untuk makan malam pertama di Singapura. Menurut Jacquin, harga makanan disini lebih murah dibandingkan dengan yang di sepanjang the boat quay atau tempat makan disepanjang pinggir sungai Singapura.

Pastinya karena menang viewnya saja. Tapi di Circular road juga tak kalah asik suasananya. Makan di pinggir jalan raya yang lebar dan resik juga tak berisik memberikan atmosfir yang sangat nyaman buat makan. Sambil melihat lalu lalang kendaraan yang-nggak-ada-yang jelek dan tak terlalu ramai makin menghangatkan kesan pertama kami disini. Enak deh pokoknya.

Yang paling penting adalah dapat makanan halal. Selama kita berada di tempat yang ada makanan halalnya, kita pasti akan cari hehehe. Penandanya kalau tidak tulisan “halal” yaitu tulisan “Allah” dan “Muhamad” dalam bahasa Arab. Ohya, untuk harga makanan disini paling murah S$3 dan untuk minuman, seperti teh susu (tea)/teh biasa (tea o) harganya S$0.9. Dijamin hemat dan kenyanglah :).

Jalan ke Marina Bay

Setelah kenyang, kami ajak kaki kaki ini mengarah ke timur menyusuri pinggiran sungai Singapura. Berawal dari jembatan Elgin, kami menyusuri boat quay tempat berjajarnya restauran mewah, cafe-cafe, bar dan pub dikanan kirinya. Semua tempat itu dipenuhi oleh orang-orang lokal, bule-bule maupun turis yang menghabiskan after hour mereka selepas ngantor. Jadi ramainya minta ampun.

Cara pegawai tempat-tempat makan disitu menggaet pembeli ternyata sama saja dengan di mall-mall Jakarta. Malahan mereka sampai ketengah-tengan jalan menghadang orang lewat sambil menunjukkan menu mereka. Sudah pasti yang menunjukkan kepada kami bilang,”halal! halal!” :D.

Selepas tempat makan yang menggoda iman (keinginan nongkrong disalah satu tempat itu. Damn, pricey!), kami menyusuri pinggiran sungai serba resik plus enak dilihat. Saya agak heran menyaksikan pemandangan disitu. Sungai lebar membentang sibuk dengan transportasi airnya, jalur pedestrian yang lebar dan bersih, patung-patung menghiasi beberapa titik jalan, ada orang-orang yang bersantai disepanjang jalan yang sarat dengan tempat duduk, ada yang lalu lalang sekedar menikmati suasana pinggir kali, ada yang terburu-buru dengan pakaian kantor, dan banyak juga orang-orang yang dengan asiknya joging! Benar-benar tempat yang memanusiakan manusia hee. Saya jadi berhayal dengan suami, “kapan ya kita bisa hidup di negara seperti ini?” Hallah! mulai deh berhalusinasi.

Marina Bay (Patung Merlion)

Karena kami terus saja menyusuri sisi selatan sungai, kami pun akhirnya bertemu dengan bangunan bekas kantor pos besar tahun 1928, yaitu the Fullerton Hotel. Kami terus mengikuti jalur pedestrian yang mulai sepi. Ternyata orang-orang pejalan kaki tadi belok kanan sebelum Fullerton. Tapi sebenarnya sama saja.

Kami pun akhirnya bertemu jembatan Anderson dan menyeberanginya. Di kanannya ada jembatan besar lagi, yaitu jembatan Esplanade. Rame-rame kami menyeberang di zebra cross bareng turis asal Korea yang sedang bingung nyari si patung Merlion.

Dengan peta ditangan pun sekeluarga turis Korea yang bingung itu, kami yakin sebentar lagi kami akan menemukan patung tersebut. Benar saja. Menyusuri sebelah timur jembatan Esplanade, kami dipertemukan dengan tangga turun mengarah ke terowongan bawah jembatan ini. Disebelah kanannya akhirnya terlihat juga si patung (bukan si Pitung).

Saya ingat tulisan di blog ini yang katanya beberapa kali ke Singapura tapi susah nemuin tempat patung Merlion bertahta. Memang dari atas patung tersebut tidak kelihatan. Baru setelah turun dan belok ke kanan, kita akan sampai di sebuah taman bernama Merlion Park. Disitulah rumah si singa berbadan ikan lambangnya negara Singapura.

Ada dua patung singa di situ. Yang satu kecil setinggi kurang lebih 2 meter berdiri ditengah kolam yang melingkar, yang satunya patung GUEDE segede gaban nongkrong tepat dipinggir muara sungai Singapura. Kedua patung itu masuk angin. Soalnya muntah-muntah ga berhenti-henti hahaha.

Merlion Statue at Marina Bay

Merlion Statue at Marina Bay

Patung Merlion yang kecilan

Patung Merlion yang kecilan

Senaaang sekali sampai disana. Jangan tanyakan lagi, acara photo-photo semakin menjadi-jadi dengan berbagai gaya hehehe. Capek? dikit sih, tapi gak berasa deng. Saking senangnya. Lalu kami pun habiskan malam itu berlama-lama nongkrong dipinggir teluk Marina. Ademmm…

Yang perlu dicatat, jalan-jalan dimalam hari itu sangat sangat romantis buat yang berpasangan. Saya dan suami saja terus bergandengan tangan bahkan saling memeluk pinggang sambil berjalan. Cuit cuittt *sensoorrr* eit! Muhrim.. muhrim hiehehehe…

Dari Marina bay ini, bisa kita lihat bangunan besar Esplanade yang seperti buah durian itu. Juga Esplanade theatres on the bay. Semuanya ada diseberang muara sungai ini.

Kembali ke Penginapan

Setelah puas menghabiskan waktu di Merlion park, kami pun memutuskan pulang. Kami perlu istirahat. Apalagi perjalanan kami balik kepenginapan jalan kaki juga. Tapi kali ini kami menyusuri sebelah utara sungai.

Setelah menyeberang sungai, kamipun melewati Museum Asian Civilisations lalu Empress place, old Parliament House dan kemudian Raffles Landing Site. Kami lurus terus dan sampai pula ke jembatan Elgin lagi. Artinya sudah selemparan batu dengan Circular road dan sudah dekat dengan penginapan kami di Hongkong street.

Baiklah, silahkan menunggu dengan sabar tulisan saya berikutnya tentang hari ke dua di Singapura. Karena kami akan ke Bugis Street dan Botanical Garden dengan bis, dan mengukur Orchard road dengan kaki.

Backpacking#2 Singapura

Mumpung di luar lagi hujan. Pagi ini kesempatan saya buatĀ  update lagi blog saya. Nglanjutin yang kemarenan. Sampe mana ya? Ohya, sampai HarbourFront Singapura.

Hostel Bintang 5, Rucksack Inn

Hostel Bintang 5, Rucksack Inn

Well, dari pelabuhan tujuan kami selanjutnya adalah mencari hostel yang telah kami pesan sebelumnya.Ā Kami akan menginap di Rucksuck Inn hostel. Alamatnya di 33-B Hongkong Street, Clark Quay. Segera setelah keluar imigrasi, kami lalu mencari MRT untuk menuju Clark Quay di NE-5 station.

Kami sempat mengalami kesulitan waktu ingin membeli tiket MRT. Kami ke mesin penjual tiket tapi bingung bagaimana mengoperasikannya. Masalahnya berapa uang yang harus kami masukkan ke dalam mesin ini. Karena kita akan mengetahui berapa biaya yang harus kami bayar setelah kami menekan tombol stasiun tujuan.

Kami bertanya kepada dua orang bule, suami istri. Dia bilang juga kurang begitu tahu biayanya. Karena dia juga baru disini. Tapi mereka menyarankan kami untuk bertanya ke petugas. Good idea! Kitapun langsung ngantri di tempat informasi dan juga tempat pembelian EZlink tiket.

Sejak dari pelabuhan Harbourfront tadi,Ā Singaporean officer areĀ veryĀ helpful and friendly. Begitu juga yang di stasiun MRT ini. Kamipun diantar oleh seorang petugas ke mesin yang lain tapi sama. Dia membantu kami membeli 4 tiket MRT tujuan Clark Quay.Ā  Dia bilang sepertinya mesin yang ini sedikit bermasalah, tapi jangan khawatir karena saya ada disini katanya. Artinya jangan khawatir kalau uang kami tertelan mesin tapi tiket tidak keluar hehehe.Ā Bikin tenang deh pokoknya.

Dengan uang S$10 kami mendapatkan 4 tiket tersebut dengan kembalian S$0.4. Tapi sesampainya di tempat tujuan, kami mendapatkan kembali deposit kami sebesar S$4 (per orang deposit S$1). Bingung nggak? Kalo bingung telfon saya yah hehehe.

Okey, sekarang waktunya naik MRT!
Luar biasa! MRT nya bikin saya geleng-geleng tapi literally :). Gimana ya menggambarkannya? Ya begitu deh. Gak kayak KRL Jakarta. Jauh neek. Sejauh Jakarta – Singapura. Halah!

Dan stasiun Clarck Quaypun sampai. Kami keluar mengikuti petunjuk yang diemail oleh pemilik hostel. Petunjuknya sangat mudah sekali dipahami. Dan ternyata hostel kami dekat sekali dari stasiun ini. Horee!!

Yes! We are Rucksacker!

Yes! We are Rucksacker!

Sampai hostel kami dikejutkan dengan tempat ini. Hostel kami terletak di lantai tiga tanpa eskalator :). Saat masuk ke dalam kami langsung disambut hangat oleh pegawainya. Aduhh payah saya lupa namanya. Panggil cuma miss ajah heheh. Orangnya lucu banget lagi. Ramah dan asik. Kami langsung di kasih welcome drink, masing-masing segelas air dingin dan satu handuk dingin. Hmm sangat menyegarkan. Setelah itu kami ditunjukkan fasilitas apa saja yang kami dapat dengan uang @S$20 per orang per malam ini.

Kami bebas bikin kopi atau teh. Terserah kami mo makan roti atau mie untuk sarapan pagi. Kami bebas menggunakan wifi dan atau internetan menggunakan 2 PC yang disediakan. Dan saya memakainya untuk mengupdate blog ini hehehe. Tersedia toaster, coffee makerdan microwafeĀ yang gratis untuk digunakan. Satu dispenser untuk minuman panas dan dingin. Sebuah lemari es untuk menyimpan makanan atau minuman milik anda. Tapi untuk menyimpannya di kulkas anda harus memberinya label. Kalau tidak, akan dibuang. hehe. Dan semuanya itu gratis.

Ohya, ada dua kamar mandi shower dan dua toilet duduk yang ceboknya tanpa air. haha. Untuk shower gel dan shamponya tersedia gratis juga di sana. Dan saya sekarang mau menggunakannya, soalnya kebelet. Nanti lagi yaa! Habis ini saya mau jalan lagi. Diluar hujanĀ tinggal rintik-rintik. Ke Little India dan Orchard Road adalah tujuan kami selanjutnya.Ā See ya!

Backpacking#1 Singapura

Wohoo!
Senangnya bisa langsung update blog dari Singapura. Soalnya, hostel tempat kami menginap menyediakan layanan gratis internet. Ada Wifi juga lagi. So iPod touch sayaĀ pun kepake juga :D.

Luar biasa!
Akhirnya wong ndeso ini keluar juga dari negerinya, bahaha! Ternyata untuk bisa ke negara tetangga tak harus mengeluarkan uang banyak. Toh kita bisa membayar lebih murah. Pengen tahu?Ā IkutiĀ cerita saya berikutĀ dan rinciannya.

Kami berangkat dari rumah (Ciputat) berempat ke Bandara Soekarno Hatta naik Taksi. Ongkosnya cuma Rp110.000,-. Karena kami lewat belakang (baca: Serpong), toh lebih dekat dari Ciputat. Kami adalah saya, Suami, kakak dan suaminya.

Sampai di bandara, kami menuju terminal 3. Terminal baru di Soekarno Hatta. Lumayan bagus sih. Dengan atap yang lebih terbuka, sehingga cahaya matahari bisa bebas masuk. Setelah chek in kami memutuskan membeli makan siang dahulu walaupun waktu baru menunjukkan pukul 10.00 AM. Lumayan ada beberapa pilihan makanan di sana. Dan kami pun memilih Bakmi GM.

Dengan jadwal keberangkatan pukul 11.30 AM, Air Asia menepati janjinya dengan terbang tepat waktu. Dan kami mencapai bandar udara Hang Nadim Batam pukul 13.00 PM. Ternyata Airasia sekarang pakai nomor tempat duduk yang diurutkan sesuai waktu chek in. Jadinya kita nggak keroyokan lagi masuk pesawat. Baguuusss.. ^ ^

Sesampainya di Batam kamipun segera mencari mushola. Sholat dhuhur + jamak ta’dhim sholat ashar :). Habis itu suami membeli tiket fery tujuan Singapura. Kami memilih Penguin. Disini kami mendapatkan harga S$16. Beli tiket fery di sini lebih murah S$1 dibanding membelinya di Pelabuhan. Berarti dipelabuhan kita harus membayarnya S$17. Aneh ya?

Tapi lucunya di pelabuhan kami harus membayar pajak pelabuhan atau harbour tax sebesar S$7. Padahal di kertasnya tercantum jelas-jelas S$6. Kami tahunya setelah mengeceknya beberapa saat kemudian.

Untuk menyeberang ke Singapura, kami tidak kena fiskal. Karena suami sudah punya NPWP demikian juga suami kakak saya, Mas Deni. Sehingga kami hanya diminta menunjukkan passport dan menyerahkanĀ foto kopi Kartu Keluarga, dan foto kopi NPWP suami. Setelah itu kami bisa chek in.

Waktu nunggu uang kembalian beli minuman di pelabuhan Batam, saya dikasih tahu seseorang yang tadi mendengar pembicaraan saya dengan suami tentang tuker uang ke money changer. Kata dia kalau mau tukar uang dari dolar ke rupiah mending di Batam saja. Karena kalau tukar di Singapura, mereka suka curang. KamiĀ akan dikasihĀ uang-uang lama yang disini udah gak laku. Tapi benar atau tidaknya sih saya tidak tahu.

Kami menunggu keberangkatan fery Penguin yang pukul 15.10PM. Jam Tiga kurang lima menit kamiĀ diminta boarding ke dalam fery. Beberapa saat kemudian kapal pun berangkat. Menyenangkan juga ya naik fery kecil seperti ini. Saya dulu pernah naik fery juga ke Bakahuni, Lampung. Tapi yang besar.

Sempat deg-degan waktu kapal mulai mendekati Singapura. Soalnya kapal kita sempat digiring oleh polisi laut Singapura. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah kapal kami agar mengikuti arah yang mereka tunjuk. Yang bikin serem adalah senapan laras panjang yang dikongkang tepat ke arah kami. ^ ^ Tapi untungnya gak ada masalah.Ā Dan kamipun mencapai pelabuhan Harbourfront pukul 05.00PM waktu Singapura. Karena waktu di sini lebih cepat satu jam dibandingkan dengan Batam dan Jakarta, berarti di Jakarta masih pukul 4 sore.

Photo photo?? Pastinya. Tak terlewatkan sejak kami mencapai pelabuhan Batam. Setelah photo lagi, kami mencari stasiun MRT. Tapi kami mau ke toilet dulu. Kebelet pipis hehehe… Saya melempar guyonan ke yang lain. “Wah masa sih aku akhirnya pipis di Singapura?!” Hahaha.. Saya juga posting di twitter kurang lebih begitu. Soalnya saya semacam kayak gak percaya, gitu. He he he.

Dan begitulah, akhirnya saya melangkahkan kaki di negara orang :). Tak lupa saya berucap syukur Alhamdulillah, karena sesuatu yang dulu sepertinya mustahil ternyata sekarang terlaksana.

Heff.. Masih pengen nulis sih. Tapii pengen istirahat juga. Soalnya besok pagi-pagi saya mau mengeksplorasi Singapura lagi. Ceritanya lanjut besok-besok lagi yah.. Udah jam 12.31 malam waktu Singapura neh. Nite nite!!

PS: Foto-fotonya nyusul yah!

Asiknya Susur Jawa dengan Bis

Baru kali ini kami menempuh perjalanan dari Jakarta ke Jombang, Jawa Timur, dengan menggunakan bis. Dengan waktu tempuh 22 jam, kami sampai di rumah Eyangnya Sofi dengan selamat. Selain ke Jombang, kami mengunjungi rumah Embahnya Sofi yang di Sukoharjo Solo, Jawa Tengah, juga naik bus. Jaraknya lebih dekat dan waktunya adalah 5 jam dari Jombang ke Sukoharjo. Terakhir, saya dan Suami pulang ke Jakarta juga naik bis. Dari Sukoharjo sampai rumah Ciputat waktunya 16 jam.

Berdua di dalam Bis

Perjalanan Solo - Jakarta naik bis Gajah Mungkur big top.

Karena musim liburan anak sekolah, maka kami yang hendak menghadiri pernikahannya om Pipin jadi nggak kebagian tiket kereta. Mau naik pesawat, kok kemahalan. Masa kami bertiga habis kira-kira Rp1.500.000,-. Sayangkan?

Akhirnya saya sambil jalan ke Point Square berdua sama Sofi mampir ke terminal Lebak Bulus. Ya, naik bis adalah alternatif terakhir kami. Selain itu juga paling murah.

Di terminal, saya mencari loket penjualan tiket bis Lorena atau Rosalia Indah. Karena tujuan kami adalah Jawa Timur, tepatnya Jombang. Hanya dua agen bis inilah yang melayani rute ke Jawa Timur. Itu pun kami hanya sampai Nganjuk untuk menuju ke Jombang. Karena Lorena menuju Blitar tidak melewati Jombang, sedangkan Rosalia Indah menuju mana saya kurang tahu. Yang pasti juga tidak lewat Jombang.

Akhirnya, dua tiket bis Lorena AC excutive pun sudah di tangan. Satu tiket harganya Rp215.000,- untuk tujuan Nganjuk jadi berdua ya Rp430.000,-. Tertera disana, nomor tempat duduk 5 dan 6. Berangkat hari Kamis tanggal 2 Juli 2009 pukul 17.00 (5 sore) dari terminal Lebak Bulus.

Bandingkan dengan tiket pesawat diatas. Untuk tiket kereta, kemarin saya lihat di koran @Rp450.000,- per orang! Waduhh waduh, mentang mentang musim liburan harganya dikatrol.

Awalnya kami membayangkan kalau naik bis pasti melelahkan. Ternyata bukan naik bisnya yang melelahkan, tapi nungguin bisnya datang dan macet yang lumayan lama trus juga hiburan video di dalam bus Lorena juga nggak asik.

Menurut jadwal yang diberikan petugas loket. Bis akan berangkat pukul 5 sore. Kamipun memesan taksi untuk berangkat dari rumah pukul 4. Pukul setengah lima kami sudah diterminal. Adegan menanti bis pun dimulai. Pukul 5 lewat sedikit, saya tanya ke petugas Lorena, katanya biasanya jam 5.30 baru masuk terminal. Kamipun ikhlas menunggu. Jam 6 kurang dikit saya tanya lagi.

“Tunggu dulu aja mbak, kmaren aja jam 1/2 7 baru dateng.” Kata petugasnya lagi.

WoTT!! buset deh! knapa kita suruh dateng jam LIMA kalo bisnya dateng jam segitu?!

Kesel sih sudah pasti. Tapi tetep kami sabar-sabarkan hati ini. Yang bikin saya dan Suami jadi gak sabar juga karena sikap Sofia. Ya, dia berulang kali bilang,”Bisnya kok lama sih…?” Berrrr kali kali. Mungkin lima menit sekali. Kamipun sibuk menenangkan dia yang mulai bosan.

Akhirnya bisnya datang juga. Tapi jam sudah menunjuk angka 7 kurang 10 menit. Dan jam 7 an bis yang kami tumpangi meluncur dengan tujuan akhir Blitar.

Di jalanan setelah keluar tol Cikampek, perjalanan kami sempat tersendat oleh macet. Penyebabnya adalah penyempitan jalan. Ya, jalur Pantura sedang bersolek. Biasalah setiap mo lebaran ya begitu. Jadinya, jalan yang seharusnya dua arah, hanya satu jalur yang digunakan untuk dua arah.

Untuk menghibur penumpang, pak kernet memutar VCD. Video klip dan lagu-lagu dangdut dari Moneta Group dan RBS. Menyebalkan sekali. Lebih banyak gak sopannya video klipnya. Yang saya sesalkan, anak saya ikutan nonton dan mendengarkan lagu-lagunya yang jorok. Saya bilang ke Sofi, “Nduk, itu tantenya yang nyanyi bajunya jelek ya? masak nggak malu ya?”, jawaban Sofi,”Iya ya mah..”. Untuk lirik-lirik lagu dan goyangannya saya bilang ke Sofi,”Sofi gak boleh lo yaa ngikutin jogetannya ma lagunya itu! jelek tuh nak.” Sofi menjawab singkat lagi, “Iya ma.”

Tapii beberapa hari kemudian, saya dan Suami mendapati Sofia joget di depan kami dengan gerakan yang baru kali ini kami lihat. Suami memandangi saya. Dia bilang, jangan-jangan niru yang di Bis! Karena bocah kecil, jadinya ya lucu. Kami pun menanyai Sofi, yang ngajarin nari gitu sapa? “Sofia sendiri!” katanya. Saya bilang saja ke Sofi, Sofi gak boleh lo ya niru-niru yang nyanyi di bis kemaren! “enggak kok Ma.” Jawabnya. Duhhhh….

Karena sebel dengan isi video dan badan sudah capek serta mata minta merem. Jam 9 malam ayah menegor supir dan kernet bisnya. Ayah minta untuk dimatikan saja TVnya, waktunya istirahat. Setelah TV mati legaa rasanya.

Jam 6 pagi harinya kami sampai di alas Roban. Jam 9 sampai di Solo, yang tinggal 1/2 jam ke rumah Embahnya Sofi. Tapi kami enggak mampir. Bis terus melaju dan mampir sarapan pukul 10 di Sragen. Akhirnya jam 2 kami sampai di Nganjuk. Di sana, om Pipin dan ame Ayu yang menjemput kami sudah menunggu.

Kamipun sampai ditujuan akhir, rumah Eyang Sofi, 2 1/2 jam kemudian.

Ternyata enak juga naek bis. Walau baru kali ini kami menempuh perjalanan selama itu, tapi kami merasa senang senang saja di dalam bis. Pantat sih panas juga waktu memangku Sofia yang bobok. Tapi kalo dinilai, bis AC excutive Lorena yang kami tumpangi ini dapat angka C+. Yang bikin C adalah hiburannya tok! Untuk makannya yang prasmanan dan enak yang bisa bikin + juga gaya nyopir pak sopir yang ngebut itu juga yang saya suka hehe. Belom B, karena tempat duduknya belum nyaman untuk kaki ayah yang panjang hehe.

Untuk perjalanan Jombang – Solo dan Solo – Jakarta akan saya tulis di postingan lain biar nggak kepanjangan.

Persiapan Backpacking

Persiapan. Saya langsung bingung apa yang harus dipersiapkan untuk keperluan backpacking kami. Maklum, baru pertama kali. Tapi untungnya ada buku Lonely Planet edisi Southeast Asia on a shoestring, situs seat61.com, dan situs travel independent yang sangat sekali membantu kami. Lewat mereka kami tau apa yang harus kami bawa dan apa yang tidak boleh.

Setidaknya berikut ini adalah hal-hal yang telah kami persiapkan yang mungkin ada sisi informatifnya untuk anda:

  1. Passport/visa
    Untuk hal yang satu ini, bisa dilihat dipostingan Akhirnya Punya Passport. Yang artinya kami sudah memilikinya. Jika anda melakukan perjalanan sebatas kenegara-negara anggota ASEAN, anda tidak memerlukan Visa. Seperti halnya kami ini.
  2. Tiket pesawat Jakarta-Batam dan Bangkok-Jakarta.
    Bicara soal tiket PP diatas, kami telah memesannya jauh-jauh hari. Tak tanggung-tanggung sudah satu tahun yang lalu :). Yaa begitulah yang namanya tiket promo. Memaksa orang-orang yang pengen terbang dengan biaya murah untuk merencanakan perjalanan mereka jauh-jauh hari. Dan kamilah korbannya.

    Sebagai info, kami menggunakan layanan jasa pesawat Air Asia. Hanya dengan Rp1.000.000,- kami sudah bisa menikmati pererbangan diatas. Kalau anda berminat, silahkan menjadi anggota Air Asia. Supaya anda mendapatkan pemberitahuan lebih awal apabila mereka akan melaunching promo. Biasanya mereka membuka layanan pemesanan online pada pukul 11.pm jadi siap-siap setengah begadang. Demii.

  3. Tiket kereta api Sing-MY.Melalui situs www.ktmb.com.my kami memesan tiket untuk perjalanan dari Singapura ke Kuala Lumpur, Malaysia. Situs ini cukup lengkap dan informatif. Anda bisa merencanakan perjalanan anda maksimal 65 hari dimuka. Berbagai kelas ditawarkan dan kami memesan kelas 2 untuk kali ini. Jadi untuk kelas dibawahnya dipastikan lebih murah. Dengan harga kira-kira Rp600.000,- (untuk 2 orang) kami bisa mencapai Kuala Lumpur, Malaysia dalam waktu kurang dari semalam. Ya kami memilih perjalanan malam sekalian menghemat ongkos penginapan (tidur di perjalanan-red).Sebagai tambahan informasi, harga tiket dalam bentuk Ringgit Malaysia. Kalau anda memesan tiket PP Sing-KL, ambilah terlebih dahulu tiket Sing-KL. Untuk perjalanan pulang, KL-Sing, silahkan diambil di Kuala Lumpur. Karena ada sesuatu yang aneh bin ajaib tapi nyata: seumpama harga tiket 25 RM, jika diambil di Singapura, anda akan membayarnya dlm dolar Singapura (Sing$ 25). Tapi kalo anda mengambilnya di Malaysia, anda akan membayar tetap mata uang Malaysia (25RM), bisa rugi kurs kan?Untuk perjalanan dari Malaysia ke Thailand, kami belum memesan tiket. Jadi segala kemungkinan bisa terjadi. Dan kemungkinan besar kami akan naik bis untuk mencapai Hat yai Thailand dari Kuala Lumpur kemudian lanjut ke Krabi. Dari Krabi, kami akan menuju Bangkok dan kemudian kembali ke Jakarta.Menurut seorang teman, beli tiket bus langsung ditempat lebih murah, tapi naek kereta pas di border lebih aman dan mudah. Berhubung kami enggak dapet keretanya ya kita mo nyoba bis.Rencananya kami terus ke Angkor Watt di Kamboja. Tapi setelah dihitung-hitung, 10 hari perjalanan ini tidak akan cukup sehingga kami menunda rute tersebut. Semoga lain kali terwujud, amieenn…
  4. Sebuah backpack untuk saya (model perempuan) ukuran 35lt.Namanya juga backpacking masak bawa koper?! hee..
    Saya nemu backpack ukuran 35 liter di counter Eager. Women series, sangat nyaman untuk perempuan terutama pengait yang ada didepan dada :). Prodak Eager adalah favorit saya. Mulai dari sendal, celana panjang dan ikat pinggang (dan sekarang backpack) semuanya Eager šŸ™‚ tapi kalo sendal udah pindah kelain hati, Merrell. Sedangkan untuk celana cargo Eager, saya tidak direkomendasikan untuk backpacking karena terlalu tebal dan susah keringnya.
  5. Untuk tetek bengeknya seperti pakaian-pakaian kasual yang direkomendasikan dan lain-lainnya, silahkan klik www.travelindependent.info Soalnya buanyak printil-printilnya. Atau mungkin kalo sudah terkumpul semua bisa saya list di blog saya ini. Tapi insya Allah loh yaa.. šŸ™‚

Sepertinya hal-hal vital tersebut diatas itu dulu yang perlu saya tulis. Selanjutnya saya harus bekerja keras mencari waktu untuk menuliskannya disini. Lagian sekarang sudah jam 1 malam lebih. Sampai jumpa!

Backpacking Pertama

Backpacking, apa itu backpacking?

Yang saya tahu, backpacking adalah jalan keliling dunia (lain dengan turis) dengan biaya murah. Termasuk memakai alat transportasi murah, penginapan kelas bawah bahkan nginep di stasiun dan terminal, dan makan makanan rakyat. Mereka melakukan itu tak lain dan tak bukan adalah untuk menyatu dengan masyarakat tempat dimana kaki mereka menginjak.

Namun backpacking yang akan saya jalani ini sebatas jalan ke negara tetangga tanpa bantuan agen perjalanan dan atas biaya sendiri. Sehingga segala bentuk pesan memesan tiket transportasi sampai tempat penginapan kami sendiri yang mencari dan menentukannya. Untuk penginapan, kami belum sampai yang hanya tidur di stasiun atau terminal. Melainkan di penginapan bertarif agak rendah. Kan masih latihan? Tapi sapa tahu ada kenalan yang bersedia menampung kami, hal itu akan lebih ngirit lagi bahahaa (ngarep.com).

Transportasi juga. Kami tidak memesan pesawat ataupun kereta kelas satu (yang jelas gak ada duitnya). Pokoknya yang murahlah hehehe. Yang penting (saya) bisa menghirup oksigen diluar negara Indonesia dan merasakan atmosfir yang berbeda.

Kebebasan menentukan pilihan kemana kaki menjejak tanpa dibatasi “waktu” yang ditentukan adalah kenikmatan yang kami cari. Sebatas percobaan, kami telah mempraktekkan model perjalanan tersebut di Bali. Namun karena membawa Sofi yang belum genap berusia 2 tahun, hanya kenikmatan yang terbatas yang kami rasakan. Walau begitu model perjalanan seperti itu membuat saya dan suami ketagihan :).

Backpacking bukan hal baru. Pun bagi saya. Tapi baru kali ini saya akan menjalaninya. Sehingga saya sangat antusias untuk menulisnya disini. Dan rencana rute perjalanan saya kali ini adalah jakarta-batam-singapura-malaysia-thailand.

Bagi saya, tidak ada alasan untuk melarang seorang ibu rumah tangga beranak satu, belum punya rumah, kendaraan cuma motor honda bebek dan sekolah belum kelar, untuk keliling (dunia) negara tetangga. Bisa dibilang, keinginan saya dan suami klop. Dan semua itu adalah sebuah pilihan. Punya rumah komplit dengan mobil dulu baru mikirin jalan-jalan atau memilih seperti kami :). Kami memang keluarga suka-suka hehehe. Suka kemana-mana dan suka hidup dimana saja. Fleksibel. Apalagi bersuamikan seorang freelancer, sehingga kami harus rajin menabung dan pintar-pintar mengatur keuangan.

Saya ingin tulisan pengalaman kami ini bisa membantu teman-teman yang ingin mencoba berbackpacking juga. Untuk itu saya akan menuliskannya sedetil mungkin. Termasuk harga-harga. Bukan untuk pamer tapi untuk memberikan informasi yang nyata bagi anda. Dan saya senang jika ada yang berguna bagi anda. Apalagi sampai mempengaruhi anda untuk berbackpacking juga :). Bukankah dalam Alquran ada yang disebutkan,”betebaranlah engkau dimuka bumi untuk mencari rahmatNya.” (kurang lebih begitu deh :D) Karena dengan menyaksikan beragam ciptaan Tuhan (tak hanya pelangi) kadar keimanan kita juga bisa bertambah. Bukan begitu bukan? šŸ™‚

Walaupun anda-anda bisa mencari informasi lewat buku-buku, situs-situs, pengalaman-pengalaman orang dan sumber-sumber lainnya yang lebih lengkap. Setidaknya saya sekalian menyimpan pengalaman itu disini. Dan Semoga saya bisa menjejakkan kaki saya ke lebih banyak tempat di muka bumi yang bulat ini (sedang bermimpi), amien Insya Allah.

Kompilasi Road To Java

Dari pada saya ngutang tulisan di blog sendiri, mending saya gabung saja episode Road to Javanya dalam kompilasi foto-foto. Hal ini disebabkan saya telah aktif lagi kuliah diikuti tugas-tugas yang berjibun dan memaksa saya untuk belajar dan belajar. Saya memang lagi terlalu asyik mengambil kelas-kelas writing en report writing Pak Oei Eng Goan. Ditambah lagi semester ini saya sudah bisa mengambil kelas Research methods in translation, so persiapan skripsi pun sudah dimulai.

Disamping itu proses meng-upload foto-foto yang jumlahnya seribuan ke flickr belum lama selesai. Kamikan juga harus memilih dan memilah terlebih dahulu. Dan kini foto-foto itu telah terupdate di flickr kami http://www.flickr.com/photos/arw.

Selanjutnya biarkan foto yang berbicara saja ya. Soalnya saya tak sempat menulisnya disini. Semoga tulisan ini bisa menghabuskan dosa (berhutang tulisan) saya dibulan puasa ini šŸ˜€ selamat menikmati.

ROAD TO JAVA

Senang, adalah kata pertama untuk menyambut liburan saya semester ini. Rencana liburan sudah dirancang jauh-jauh hari dan suamipun sudah berjanji tak akan mengambil kerjaan selama kami berlibur. Namun kali ini kami hanya akan menghabiskannya disekitaran Jawa Tengah dan Jawa Timur berhubung bersamaan dengan menghadiri pernikahan bulik (tante) saya di Purwantoro -sebuah desa di perbatasan Wonogiri, Jateng dan Ponorogo, Jatim. Kebetulan juga sewaktu di Jombang kami diajak menjadi rombongan iring-iringan pengantin keponakan bapak mertua saya.

Pertama-tama kami terbang ke Solo tanggal 24 Juli dengan Airasia yang telah kami pesan dua bulanan yang lalu. Dengan 500 ribu rupiah nett kami bertiga bisa sampai Solo dari Jakarta šŸ˜€ dalam waktu 1 jam perjalanan. Dilangit Solo kami disambut angin kencang yang membuat pesawat ini bergoyang-goyang menegangkan saat akan mendarat di Bandara Adi Sumarmo. Suhu 29 derajat celcius dan berangin sudah membuat udara dingin di musim bediding ini. Dimana kembang-kembang pohon randu mulai bermekaran (atau pohon kapuk yang menghasilkan kapuk kapas sebagai bahan membuat kasur) dan pohon-pohon di kanan kiri jalanan kota Sukoharjo yang selama musim kemarau berguguran mulai bersemi dengan daun-daun light greennya atau hijau pupus.

Rencana liburan dua minggu ini kami isi dengan berbagai kegiatan wisata. Mulai dari wisata alam diantaranya ke ketep pass -menikmati pemandangan gunung merbabu merpapi- yang terletak diantara dua gunung tersebut, ke pantai Parangtritis Yogyakarta, ke Songgoriti -menikmati suasana puncak- di kota malang. Wisata budaya diantaranya menyaksikan kirab keraton Surakarta dalam rangka HUT naik tahta raja Surakarta dan kami beruntung bisa melihat dengan sangat dekat putri bung Karno dengan Dewi Sukarno yaitu Kartika yang datang bersama suami dan anaknya, kami juga mengunjungi candi Borobudur karena saya belum pernah šŸ˜€ dan juga mampir ke pasar Klewer Solo dan pasar Bringinharjo di Malioboro yang semakin padat. Untuk wisata pertanian atau agro wisata kami ke kebun strobery Agrokusuma di Batu Malang. Tak ketinggalan kami juga melakukan wisata kriminal yang sekarang sedang hot di masyarakat Indonesia yaitu wisata ke rumah Ryan Sang Jagal dari Jombang yang kebetulan lokasinya di Kampung sebelah kampung suami saya :D.

Walau kami sendiri wong jowo, tapi masih sangat banyak tempat wisata di sekitaran Jateng dan Jatim pada umumnya yang belum pernah kami kunjungi. Untuk selengkapnya silahkan baca tulisan-tulisan saya dalam episode Road To Java berikutnya šŸ˜‰

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: