Lulus Jadi Kontraktor

Setelah 8th lebih menikah dan tinggal di kontrakan di 4 tempat yang berbeda, akhirnya kami memiliki sebuah rumah sendiri. Rumah. Iya rumah..

Awalnya karena sering pindah rumah kontrakan, kami pernah berinisiatif untuk hidup nomad saja. Di dukung jg oleh pencerahan yang kami dapat di tengah tahun 2012 yaitu meng-unschooling-kan Sofia. Apalagi pada dasarnya suami kerjanya memang di rumah jadi tak terikat tempat.

Alasan di atas itulah yang mendasari kami untuk keluar dari Jakarta. Ehya, ditambah karena kami gak betah dengan kehidupan di sana. Ya lalulintasnya ya ruang terbukanya yang tidak nyaman.

Akhirnya setelah menelusuri peta dan melakukan beberapa riset, kami memutuskan di Jepara sebagai rumah kontrakan kami berikutnya. Sempet lho kami tergoda hijrah ke luar pulau. Yaitu Sulawesi atau Kalimantan!

Proses kepindahan kami yg kami urus sendiri mulai dari packing dan unpacking ternyata sangat luar biasa melelahkan. Walau tetep kami happy sekali. Tapi badan rasanya remek ketika itu. Dan terbersit kata “kapok pindahan” hahaha
Lalu tepat setahun kami tinggal di Jepara, lahirlah putri kedua kami, Sonia.

Kami telah betah di Jepara. Kota kecil ini berjarak kurang lebih dari 2 jam berkendara pribadi tanpa macet ke Semarang. Dimana tempat-tempat yg mendukung kehidupan kami (fav kami yg terbawa dr Jakarta) selama ini berada yaitu TB Gramedia, mall, bioskop, super/hyperrmarket, bengkel Peugeot & kantor cabang sekuritas.

Karena jarak yang lumayan, hal itu menjadikan kami jauh mengurangi gaya hidup hedonis. Bayangkan, di Jakarta butuh apa2 larinya ke mall, mall dan mall. Godaan mata dan perut sangat sulit terhindarkan. Awalnya ga butuh beli ini jadi dibeli. Padahal sdh masak di rumah jadi jajan di tempat makan langganan. Lha gimana, udah laper kalo nunggu nyampe rumah tapi pasti macet menghadang. Kepaksa kan?
Sungguh kami lega akhirnya mampu melepaskan diri dari kegilaan Jakarta.

Semakin lama di Jepara, kami pun semakin bisa mengukur kebutuhan kami. Contohnya: beli sesuatu yg penting kami bisa mensurveinya terlebih dahulu secara online, jd kalau kirakira lebih murah beli online + ongkir ya ga usah lari ke Semarang. Kan ke Semarang butuh pertamax.

Bioskop. Kami belum pernah nonton di bioskop Semarang. Keinginan untuk nonton pilm terbaru sudah hilang dari kamus kami. Satu mahal, dua jauh, tiga ga ngaruh, empat sayang waktu, lima ga penting hehehe. Mending nongkrong di depan BBC Knowledge sambil bercengkrama dengan keluarga ^_^ tp langganan tv kabel udh kami hentikan pas pindah ke rumah beneran ini. Kami pun memanfaatkan internet cepat di rumah jd tontonan kami pindah ke bioskop25 dan hulu hehehe.. Apa itu? Googling sendiri ya.. 🙂

Nah, kalau urusan belanja mingguan kami bisa mengandalkan swalayan disini. Memang sih ga segede Giant/Carrefour/Hypermart/Lottemart dkk. Tp juga ga sekecil Superindo kok. Jd klo cuman kebutuhan sehari-hari disitu cukup mendukung.
Nah klo pingin sedikit jalan2 sambil belanja mingguan kami bisa ke Hypermart Kudus. Jaraknya 45menit tanpa macet 🙂

Untuk yg lainnya ini ga bisa ditawar. Mau ga mau harus ke Semarang: beli buku ke Gramedia, ke bengkel si merah dan ke sekuritas.
Untuk itu biasanya kami menjadikannya dalam satu hari kunjungan sekaligus. Dan sekalian membeli barang2 kebutuhan yang susah dicari di Jepara dan Kudus. Contoh: [gula aren semut, saringan Pure it, minyak goreng kelapa /coconut oil dan belakangan pospak harga miring buat Sonia :)] ternyata semua sdh bisa kami penuhi dari Jepara. Horee!

Serius. Kami jadi lebih banyak berhemat tanpa berasa kiamat dengan tinggal jauh dari kota besar. Sangat membanggakan malah.

Hal lainnya yang membuat kami betah tinggal disini antara lain:

1. Kehausan kami akan buku bacaan terpenuhi di Perpustakaan Daerah yg cukup memuaskan. Ada pada angka 7 lah dari 1 – 10. Selain Perpusda ada juga taman bacaan yaitu di dekat alunalun kota. Kalau ingin baca koran gratis tinggal ke tempat koran publik yg setiap pagi diganti. Setahu kami ada dua titik di dalam kota ini yaitu dekat alunalun selokasi dengan taman bacaan dan di bagian depan terminal bis utama. Setiap saat selalu ramai oleh pembaca. Lucunya mereka kebanyakan masih pakai helm saat membacanya 😀

2. Pantai berpasir putih berair jernih tempat berburu sunset or sunrise? Ga perlu booking tiket pesawat or penginapan. Cuma 15 menit dari kami tinggal.

3. Taman kerang ada dekat dari rumah. Letaknya di tengah2 simpang empat. Ada playgroundnya n bisa buat joging juga. Jadi kalo anakanak bisa dilepas maenan sendiri, ortunys bisa joging atau sekedar nongkrong liatin kendaraan lewat atau (penting) pacaran ngobrol tentang kita hahay.. :))
Taman yang lain banyak sih..selain alunalun, di dua belah alunalun juga ada taman bermain anak lengkap dengan playgroundnya. So terpenuhilah urusan anak maen di luar.

4. favourite outdoor place iiiiiiisssss alunalun…mo ngapain? Just morning or afternoon walk? Joging? Nongkrong sambil makan jagung bakar/rebus? kadang nonton wayang, karnaval budaya, pameran a-z. Akh…we love alunalun.

5. Ngga bising. Coba deh yang tinggal di Jakarta n sekitarnya, mo kita tinggalnya keliatannya di kampung bukan di perumahan, kalo lagi sekitar kita sepi tapi pasti kedengeran suara kendaraan nun jauh disana. semacam denger tawon berdengung. apalagi malem! We called it: polusi suara.
Disini? Kalo malem bisa sampe taraf sepi banget ngeeet. Senyap.

6. Mo makan di luar? tempat makan banyak yg enak. Mo yang murah ato mahal ada. Resto jepang/korea hayuk. Apalagi menu barat. Secara ya, Jepara tempat turis transit mo ke Karimunjawa n tempat bisnis furniture para pengekspor. Jadi bule bukan barang langka. Rumah belakang aja dikontrak bule. Trus?? Gapapa si cuma ngasih tau aja.

7. Tempat nongkrong (kerja) dng wifi. Banyak, titik.

8. Pasarrrrrr dengan ikan segar sampe segede paha orang dewasa ada! Aneka seafood tinggal milih. Lha iya wong pesisir kok 🙂

9. Apalagi yaa?? ubi. krupuk. Komunitas. kolam renang. Ada. Ada. Ada.

We love Jepara!

SIDANG

Beberapa buku referensi yang saya pakai.

Langsung saya luruskan, ini sidang skripsi. Sekian. Eh belum. Saya kan mau cerita dulu. Panjang nihh…

Begini, saya tergerak untuk menuliskan pengalaman sidang pertama saya (pertama? Mau ada yang kedua dong? Stop! Jangan dibahas.) karena kisahnya sangat mengejutkan. Alasan yang lain biar teman-teman dan orang yang tidak saya kenal di luar sana yang hendak menghadapi sidang skripsi tidak bingung, resah, gundah gulana, galau, dan sebagainya, dsb.

Saya harus mengawalinya dengan pengakuan. Sebelum sidang, bahkan jauh hari sebelum tahu kapan jadwal sidang, saya kerap panas dingin. Bukan hanya untuk menghadapi sidang itu sendiri tapi juga menunggu kapan saya dikabari tanggal pasti sidang saya itu. Nangkep kan?

Tapi yang lebih stress mikirin seragam. Baju putih sudah saya dapat di Solo pas pulkam tahun baru kemarin, celana panjang hitam kain saya sudah punya dari jaman perawan. Sekarang sepatu. Masyaampun!!! Paling males nyari alas kaki. Kaki berukuran 41 ini bikin keki. Nyari alas kaki tapi bikin kaki kesel. Giliran dapat size besar dan bekas ee tapi branded (gak nanya) ehh size 43. Alhamdulillah,,, masih ada yang lebih besar dari saya. Tapi saya tercenung, kakinya seberapa ya?

Baiklah, masalah sepatu sudah terselesaikan. Tapi sebenarnya belum. Karena akhirnya kakak saya yang selalu menjadi pahlawan bagi saya punya sepatu sandal hak tinggi warna hitam yang muat di kaki saya. *ohhh adjective phrase yang sangat panjang* Yup! Bukan sebenar-benarnya sepatu. Tapi saya membela diri, bisa saya tutupi bagian belakang yang terbuka dengan celana panjang yang sedikit diturunin.

Lalu? Teman-teman yang sudah lulus saya interogasi bak Jack Bauer di 24 itu. Pokoknya ngapain sih sidang itu? Apa yang harus saya lakukan? Apa saja yang penguji tanyakan? Berapa lama harus di dalam? Berapa banyak pertanyaan yang diajukan? Siapa saja pengujinya? Penguji A bagaimana orangnya? Kalau penguji B bagaimana? Dannnn pertanyaan-pertanyaan klise lain yang sering menghantui para penunggu jadwal sidang. Serem kan? Harus serem.

Akhirnya saya pun dapat kepastian tanggal sidang dari pembimbing saya waktu mengikuti pengajian bulanan di rumah beliau. Ngasih tahunya salah lagi. Kata beliau 1 minggu sejak hari itu! DUARRR! Rumah pembimbing saya lenyap dilempar bom dan saya tinggal sendirian yang survive. Saya elap airmata saya, saya pungut satu persatu puing puing sisa rumahnya, saya dekap skripsi saya yang hangus menyisakan selembar conclusion. Anda benar, saya lebay.

Selesai acara baru ketahuan kalau beliau salah tanggal, yang benar 28 Januari bukan 21. Berarti 2 minggu lagi, begitu. Dan hari itu juga ditengah acara, saya dapat telpon dari TU, saya kira mau memberitahu juga tapi ternyata menanyakan apakah saya sudah bayar sidang? Becanda nih orang. Sejak itu saya menunggu telpon kepastian sidang dari TU tapi nggak di telpon-telpon. Saya juga menjalankan nasehat teman untuk rajin nelpon ke TU eh jawabannya tetep belum ada jadwal. Akhirnya dua hari sebelum hari H saya telpon lagi. Apa kata dia? “Hloh? Bukannya waktu itu sudah dikasih tahu?” Oh yeah, you answer my question with question. Saya pura-pura marah, sedih, takut, bingung. Drama. Sukurin! Padahal saya sudah menyiapkan keynote untuk presentasi sejak sang pembimbing memberitahu saya. Dan Saya sangat pede. Krik krikk…

Saya merancang keynote sedemikian rupa dan suami saya yang mengedit dengan sedemikian canggihnya. Hingga akhirnya terwujudlah sebuah presentasi yang pasti akan ruaarrr biasa. Saya berlatih dan terus berlatih. Memperbaiki sana sini sampai malam larut memudar oleh fajar. Bahkan sambil masakin anak dan bapaknya dan untuk saya juga tentunya, saya ngomong sendiri di dapur. Hasilnya saya hafal diluar kepala apa kata-kata yang akan saya presentasikan di depan juri.

Percaya diri saya terbangun dengan kokohnya. Saya akan maju membawa MacBook Pro kami, mengoperasikan presentasi saya yang keren di keynote dengan remote yaitu iPod/iPhone kami. Akan saya buat mereka tercengang! Sombong embahnya sombong sodara sodara. Yang membuat saya mengekeret cuma satu. Pronunciation lidah dan rahang jawir saya sedikit mengganggu. Sering kepleset lidah. Fine! Silahkan ketawa sambil saya pelototin.

Hari H pun datang. Jum’at, 28 Januari 2011 adalah hari yang sakral bagi saya dan keluarga saya yang sudah bosan menunggu kapan saya lulus??? May, jawab saya.

Semua sudah siap. Seluruh 28 buku referensi yang tertulis di skripsi saya bawa dengan tas belanja Carefour yang warna hijau itu. Penuh dan tentu berat. Laptop, iPod, iPhone, charger, wifi router, semua siap. Diantar suami, ada saya, Sofia dan adik saya berangkat dengan tegang. Saya sendiri sih yang tegang. Tegang tapi pede. Yaa begitulah.

Saya dapat nomor urut 5 yaitu nomor terakhir dan dijadwalkan pukul 3. Kami berangkat pukul 1. Mana suami pakai harus menyelesaikan deadline lagi. Bikin snewen dueh. Tapi sampai sana orang ketiga masih di dalam. Syukurlah. Saya pun memanfaatkan ruangan sebelah bekas menyidang juga untuk mengetes alat tempur dan sekalian latihan. Yes! Semua bekerja dengan baik. Bisa konek ke proyektor dan wifi sebagai perantara remote juga jalan. Tenang. Damai.

INI BAGIAN YANG MENGERIKAN

Seperti sub judul diatas. Ini benar-benar bagian yang mengerikan. Silahkan simak:
Hampir 2 jam orang nomor 3 ini dibantai di ruang sidang. Si nomor 4 dan si saya, nomor 5 ketar ketir. Si nomor 3 pas saya lagi di toilet katanya sempet keluar nanyain ada yang bawa bukunya ***** nggak? Dan ternyata tak satu pun teman-temannya yang menungguinya ada yang bawa. Ironis no #1.

Akhirnya si no 3 keluar. Duduk terdiam diantara teman-temannya yang setia. Satu, dua, tiga, hampir sepuluh orang. Dan tiba-tiba dia angkat bicara tapi dengan mata berkaca-kaca. Menangis sesunggukan teman-teman…. Ada yang menyodorkan tisu, membukakan botol minum, mengelus-elus punggungnya. Ohh saya terharu. Pada diri saya sendiri. Karena saya hanya di temani suami, anak, dan adik. Ohhh kemana teman-temanku, kemana??? Eh ya mereka ada bersama saya lewat doa-doa yang mereka kirimkan. Tsahh! Lagian temen-temen saya pekerja kantoran semua huehehehe.

Melihat nomor 3 menangis saya tambah syok. Keringat dingin. Tapak tangan basah kuyup. Tapi ironis yang ke #2 buku referensi dia tentang subyek yang dia pilih cuma 1 (satu) dan itupun buku lawas tahun 1976, ini ironis no #3. Kumplit dengan ironis no #1 lagi (tidak dibawa saat sidang). Parahnya lagi no 3 & no 4 sepakat bahwa susah nyari buku referensi untuk bahan skripsinya itu. Katanya adanya cuma di internet. Batin saya, mbak-mbak sekolah modal dikit dong, saya aja beli The Chicago Manual of Style 15th edition terbitan tahun 2003 lewat Amazon. Dan saya bersumpah semua teori yang kalian butuhkan ada disitu.  Jadi saya nggak jadi panas dingin. Saya pakai banyak referensi dan yang terbaru tahun 2008 dan semua saya bawa. Satu untuk saya kosong untuk dia. Yuuhu!

Tapi dada saya tetep berdegub kencang ketika si no. 3 membeberkan kelakuan para juri dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Apalagi kalau ngomongin pak E***t, ketua penguji yang terkenal killer. Bahkan dia juga memaki-maki beliau. Duhh rasanya saya sudah terbunuh sebelum bertarung. Siapa sih yang nggak kenal pak Dosen satu ini? Siapa yang nggak pernah dibuat kesal sama dia? Siapa?! Ngacung, hah!

Saya semakin ciut ketika mengikuti si no. 3 berkeluh kesah. Duh maakk ni orang muke sini sini aja tapi ngomongnya udah kayak cucunya George Washington. Apa kabar dengan saya nanti di dalam sana? No. 3 bilang kalo kita salah ngomong dikit pasti di sela ma pak ketua. Pokoknya berusaha membuyarkan konsentrasi deh. Yang fasih saja 2 jam, saya bisa sampai subuh mungkin. Oh saya merana *nyari pohon ah buat joget*

Akhirnya si no 3 kembali masuk dan keluar lagi dengan muka tanda tanya sebelum akhirnya dia bilang dapet A. Semua bersorak syukur. Termasuk saya. Tiba-tiba lewat si no. 2 yang memang saya kenal. Dia bilang dapat B. Saya pun hanya bertekat untuk menyampaikan presentasi dengan okeh, masalah nilai saya benar-benar pasrah dari jauh hari. Yang penting lulus.

Giliran si no 4 masuk membawa buku yang sama yang tadi dicari oleh si no 3. Sudah pinjem di perpus katanya. Ealahhh. Sejam lebih juga dia dicincang. Dan keluar dengan muka merah padam. Ala maaakkkkk. Pulang yuk! Yiuuukk…

Kesah yang sama dengan no. 3 tapi dia nggak nangis cuman menyesal karena di dalam dia telah menyalahkan pembimbingnya sendiri yang juga ikut menguji dia, ini ironis no #4. Pembimbingnya adalah pembimbing saya juga. Ya ampunn,,, ibu dosen sepuh, sabar dan baik itu dia marahi malahan? Kualat tau rasa loh. Batin saya. Cuma gara-gara dua hari sebelum sidang dia ngasih acknowledgement ke rumah beliau dan keesokan harinya dia ambil kembali tapi tak ada goresan koreksi. Emang dia kira cuma dia yang bimbingan ma beliau?! Eh ditanyain tentang kesalahan dia di acknowledgement malah mencak-mencak nyalahin pembimbing. *geleng-geleng*

Saya tak sempat menanyakan pada no 4 berapa nilai yang dia dapat, karena saya pontang panting mempersiapkan giliran saya. Pas dia keluar ruangan, kata-kata “dapet apa?” benar-benar sudah di ujung lidah tapi sekretaris penguji sudah memanggil nama saya untuk masuk ruang sidang. Ya sudah, sampai detik ini saya tidak tahu dia dapet angka apa.

(Masak sih) SIDANG (begini?)

Saya masuk tergopoh gopoh dengan hak lancip dan sibuk menutupi dengan celana panjang (bukan) sepatu saya yang terbuka bagian belakangnya. Eh, pembimbing saya malah bilang,”wow, I like your shoes. Sayang saya sudah tua dan nggak mungkin make kaya gitu lagi.” Dan semua penguji memandangi kaki saya. Mereka pun lalu saling ngobrol soal sepatu. Pak ketua ikut komentar tapi yang saya denger cuma “high heels” nya. Dan muka saya pasti bersemu merah jambu bol.

Saya masuk bawa laptop dan temen-temennya, suami bawa buku referensi saya yang se-tas guede. Dia merangkap jadi technical support yang membantu memasang peralatan bertempur saya.

BENCANA PUN DATANG. Rasanya saya ingin menjerit saat itu juga. Presentasi keren yang saya bangga-banggakan bakalan outstanding lenyap di depan mata saya. Suami bingung. Saya linglung. MacBook Pro yang awalnya saya elu-elukan ternyata tak mau konek dengan proyektor yang ada!!! Padahal di ruang sebelah tadi bisa. Mengoperasikan presentasi beremotkan iPod/iPhone pun gagal sudah. Rasanya saya ingin menyarankan ruang sidang pindah ke sebelah. Sungguh berulangkali ingin saya utarakan tapi entah mengapa saya berusaha keras menahan diri untuk mengucapkannya.

15 menit ada mungkin suami, saya dan pak ketua berulang kali mencoba menyambungkan laptop ke proyektor. Saya juga mondar mandir ke TU nyari orang yang mungkin bisa membantu. Padahal saya yakin nggak ada. Saya cuma salah tingkah. Padahal di dalam ruangan itu ada dua proyektor. Satu proyektor permanen seperti yang saya coba di ruang sebelah, satunya proyektor portable di atas meja.

Sampai-sampai sekretaris penguji meninggalkan kami untuk sholat ashar. Dan tinggal pembimbing saya yang ikutan senewen karena nggak segera dimulai dengan pak ketua ngobrolin laptop saya yang katanya terlalu canggih. Pak ketua yang paham soal Mac memamerkan kelebihan-kelebihan si Mac yang mahal ini. Saya cuma cengar cengir. Saya bilang saja kalau It’s suitable for you, mam. Dan beliaupun tersanjung. Saya juga bilang, oh Mam, I’m so confident with this presentation. Dan wajahnyapun ikut melas memandangi saya. Akhirnya dibantu pak ketua, keynote saya ditransfer jadi power point. Saya pun presentasi pake laptop kampus. Si Mac nganggur. Si iPhone dilupakan. Pukulan telak.

Untung tak ada yang banyak berubah setelah keynote di transfer ke power point. Dan presentasi saya pun tetap keren dengan efek-efeknya dan pilihan poin-poin yang tooo the point hehehe. Alhamdulillah saya tampil dengan memukau dan tak lupa senyum tidak tegang. Tapi nggak berjalan lancar. HALLAH!

Tenang, gangguannya lucu kok. Ditengah presentasi tiba-tiba pintu ruang sidang di ketuk. Seorang pegawai kantin dengan nampan di tangan berisi 3 buah nasi goreng yang masih kebul kebul masuk diantar oleh OB. Bau sedapnya menyeruak. Semua mata menengok ke mereka. Para penguji berkomentar. “Wow! Untuk siapa ini?” “Siapa yang pesan?” mata mereka menatap lapar dan mas kantin dan OB klop bilang, untuk mereka.

Saya pun melanjutkan presentasi saya. Baru ngomong dua, tiga kalimat, ada lagi yang mengetok pintu. Mas kantin dan OB yang tadi lagi. Katanya salah ruangan. GERRRRRR!!!! Hebohlah para penguji dan juga saya. Tak ada yang nggak ketawa ha ha ha. Tak lupa saya bilang, nggak papa Pak, setidaknya kita dapat baunya. Itung-itung intermeso lah hehehe.

Presentasi berlanjut sampai selesai. Memang kadang-kadang (tapi sering) disela oleh semua penguji, tak cuma pak ketua tentang pronunciation saya dan saya pun tak malas untuk mengulangi kata-kata saya yang salah sesuai petunjuk mereka juga tak lupa untuk tersenyum. Dan saya pun siap diberi pertanyaan oleh mereka.

Pertanyaan yang mereka ajukan yaa nggak jauh dari isi skripsi saya, seperti hubungan teori dengan analisa saya gitu-gitu deh. Yang lucu pak ketua nih, dia nanya,  “Ini di bab II kamu bilang transposition di bab IV kok transformation. Ini kesalahan kamu apa memang kamu sengaja menghibur kami?”  hahaha… saya ya ngaku saja kalau itu benar-benar kesalahan saya. Tepatnya salah ketik (typos). Pertanyaan yang paling mengagetkan adalah ketika dia menanyakan apakah saya membawa salinan referensi saya yang dari internet source? (sambil nglirik laptop saya) Karena beliau melihat saya membawa begitu banyak buku. Saya bilang saya membawa semua buku referensi saya tapi tidak membawa print-printan internet sources. Uhhhh bodohnya. Padahal sampai rumah saya lihat di laptop memang sudah saya capture referensi-referensi buku dari internet tersebut. Mengapa nggak kepikiran untuk menunjukkannya? Huh.
Dari 36 referensi memang 4 diantaranya saya ambil dari internet. Tapi bukan mutlak dari internet karena saya baca buku-buku itu lewat fasilitas books.google.com, buku juga kan?

Para pengujipun selesai dengan saya dan saya disuruh keluar karena mereka mau rapat dulu. Diluar suami saya senyum senyum. Saya langsung memangku dan memeluk Sofia, tak lupa minta di sayang suami hehehe. “Ma, kok kamu malah banyak ketawa sih?” Tanyanya optimis. “Lha wong emang nggak ada yang mengerikan kok hehehe, malah lucu”, jawab saya. Kembali suami bilang,”Tadi aku bilang ma Taqim (adek saya), wah Qimm,, kayaknya sukses nih, kok banyak ketawanya”

Tak lama. Sebentar kemudian saya kembali dipanggil masuk. Semua penguji senyam senyum santai. Ya karena saya peserta terakhir kali, jadi mereka lega sudah selesai. Begitu saya duduk pak ketua langsung nanya,”How do you feel, Yani?” langsung saya jawab,”so so, Sir.” Eh bu pembimbing langsung nimpalin, “ohya, kamu yang dari Solo ya? Pantesan sopan. bla bla bla”. Akhirnya gongnya di tabuh. Pak ketua membacakan hasil sidang saya, dan ternyataaaaaaaa: Saya dapat nilai tertinggi diantara para peserta dengan nilai 89.5! ALHAMDULILLAH kata saya spontan. Dan para penguji langsung menyalamin saya seraya bilang “congratulation” hihihi jadi malu. Mereka pun tersenyum bangga pada saya. Anehnya saya biasa saja dapet nilai A hehehe. Somse’ dah!

Tapii, mereka juga ngasih pesan bahwa saya harus memperbaiki pronunciation saya. Saya bilang kalau saya mengakui kekurangan saya ini saya berdalih mungkin karena lidah jawa saya. SEMUA PENGUJI LANGSUNG PROTES HA HA HA. Bu sekre bilang saya juga orang Jawa, pak ketua bilang saya di rumah selalu ngomong atau berusaha ngomong jawa dengan istri saya. Saya sanggah that we have different tounges, sir. Di balas, harusnya kamu ikut kelas Phonology saya. Hi hi hi intinya mereka nggak terima dengan alasan saya. Pasti lah. Dan suasana di dalam ruangan pun semakin penuh tawa.
Trus mereka juga nanya heran, kenapa yang lainnya tegang, bahkan nangis, sedangkan saya malah ketawa ketiwi tanpa beban gitu. Hahaha. There isn’t something to be afraid, just prepare and do the best!

Sekian.

Catatan: Semua dialog di dalam ruang sidang dalam bahasa Inggris.

Sofia Sakit 3 Minggu

Minggu pertama Sofia sakit panas 3 hari 2 malam. Kami mengira dia kecapekan balik dari mudik 2 minggu. Jadinya dia 3 hari, Senin sampai Rabu, nggak masuk sekolah. Kamis dia kembali ke sekolah dan Jumatnya kami ijinkan dia mengikuti kelas renang di di sekolahnya. Kami anggap dia sudah sehat. Dan hari Sabtunya kami semua mengikuti family gathering di sekolahannya.

Pulang dari family gathering Sofia tampak kepayahan. Mana kehujanan lagi. Akhirnya hari Minggunya Sofia panas lagi. 3 hari badannya demam sampai 39 derajat celcius. Dia juga jadi ngantukan. Yang biasanya susah tidur, kini dia nempel bantal langsung lelap. Trus gitu tiap pagi dia selalu nampak sehat, mainan sendiri muter kesana kemari. Tapi siangnya badannya mulai panas lagi sampai malam. Akhirnya minggu kedua ini diapun nggak masuk dari Senin dan mulai masuk hari Kamisnya.

Anak ini kalau demam tingkahnya seperti anak nggak sakit. Jadi ortunya juga cuek. Baru yang minggu kedua kemaren itu sempet saya kasih parasetamol sekali. Ya cuma sekali saja. Soalnya dia nampak payah banget dan memperlihatkan tanda-tanda sakit, lemes dan mata sayu.

Rabu itu sebenernya panasnya sudah turun. Jadinya mau nggak mau dia saya ajak besuk temen di RS Puri Indah. Sebelumnya kami ajak ke showroom dulu. Tak dinyana kami nunggu lama di rumah sakit dan jadinya seharian penuh sampai malam dia diluar bersama kami. Nampaklah dia sangat kecapekan. Duh, maafin mama dan ayah ya nak!

Sabtunya kami harus kembali ke showroom, Sofia juga harus ikut karena memang nggak ada orang yang jagain dia dirumah. Paginya dia mencret-mencret. Sudah 3 kali ke kamar mandi. Langsung saya buatkan dia perasan kunyit. Ternyata mampet. Setelah makan siang di Kopitiam Oey, saya ajak dia nyusul ayahnya yang sudah di showroom duluan.

Sampai malam juga urusan di showroom dan Sofi mengeluh terus perutnya sakit namun nggak minta ke kamar mandi. Tengah malam dia kebangun minta pup dan mengeluh sakit perut. Ternyata mencret lagi. Langsung saya buatkan perasan kunyit + madu lagi.

Tiga hari kedepannya dia tetep mengeluh sakit perut. Saya agak was-was. Hasil dari browsing saya takut dia kena demam berdarah yang demamnya model pelana kuda. Yaitu dua tiga hari panas tinggi kemudian beberapa hari turun sama sekali lalu panas lagi. Dan sakit perut serta diare setelah demam pelana kuda juga merupakan tanda-tanda DB.

Tapi Sofia panasnya naik turun. Bukannya yang panaaasss terus tapi nggak turun-turun walau dikasih penurun panas. Dan juga tak ada bintik-bintik dikulit tubuhnya. Tapi saya tetep senewen karena katanya DB sekarang nggak pake bintik-bintikan. Suami meyakinkan saya bahwa ini bukan DB soalnya kalau DB anaknya pasti lemes banget. Soalnya dia sudah pernah kena DB 13 tahun yang lalu. Dia malah curiga Sofi kena tipes/typus. Tapi saya lihat lidahnya enggak putih.

Selama dia mengeluh sakit perut dan mencret, setelah beberapa kali saya kasih perasan kunyit tetep nggak mempan, akhirnya kami putuskan memberinya norit. Sehari sekali saya kasih dia norit selama 3 hari. Alhamdulillah hari rabunya fesesnya mulai membentuk. Tapi tetep mengeluh sakit perut.

Ohya, selama sakit perut dia nggak pernah kentut. Walau sudah saya kasih minyak kayu putih berulang kali tetep nggak keluar tuh kentut. Saya jadi mulas sendiri membayangkan rasanya kalau nggak kentut. Untung hari Senin pas si mbak masuk dia saranin kasih parutan bawang merah. Langsung saya buatkan dan saya balurin keperut dan belakang perut. Tak lama kemudian benar saja dia kentut. Hahaha, senang kali kita walau baunya bisa membunuh ikan selaut! Malamnya saya kasih lagi dia bawang merah. Selanjutnya beberapa kali bisa kentut.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa kami tak segera membawa Sofia ke dokter. Biar segera tuntas keluhan-keluhan Sofia. Jawabannya adalah: Dengan track record Sofia yang lulus S3 yaitu saya susuin ASI sampai umur 2 tahun tanpa tambahan susu formula [sejak umur 1 th sesekali saya kasih susu segar] dan pola makan Sofia yang terlatih mau memakan segala jenis makanan baik sayur dan buah-buahan, hal itu membuat kami PD dan tak lekas panik menghadapi Sofia yang sakit. Kita pakai logika saja, toh semua penyakit membutuhkan waktu untuk sembuh dan kami selalu memberi kesempatan daya tahan tubuh Sofi yang telah terbentuk untuk bekerja secara maksimal. Saya juga berusaha tak malas memberikannya obat-obatan yang tersedia didapur terlebih dahulu. Juga rela begadang memangku anak yang rewel. Alhamdulillah selama ini usaha tersebut berhasil.

Kesimpulan kami tentang sakit Sofia selama 3 minggu itu adalah karena kecapekan. Ditambah istirahat yang tidak optimal sehingga sakitnya tak lama pergi dan datang lagi. Alhamdulillah sejak Kamis kemarin dia sudah masuk sekolah lagi. Walau Jumatnya belum kami ijinkan ikut kelas berenang. Yang penting kini sakit perutnya sudah hilang dan wajah serta senyum cerianya telah kembali.

Kuliah Lagi! (Ada Masalah Lagi)

Mulai besok, Rabo tgl 24 Feb, saya aktif kembali ke kampus. Jangan tanya saya masuk semester berapa? Karena saya sendiri lupa dan malas menghitungnya hehehe. Yang pasti kalo nggak semester genap ya ganjil.

Masalahnya sih bukan masih masuk hitungan kesepuluh jari tangan nggak jumlah semester saya? Melainkan saya ngulang matkul ini ambil jam pertama yaitu pukul 8 pagi!

Karena matkul yg sama ada pd malam hari lagipula dosennya yang dulu ngasih saya D, jd saya putuskan sangat bulat-bulat nggak ngambil dia lagi.

Nah, ini baru masalah sebenarnya. Rumah kini jauh dari kampus. Naek sepeda motor ga berani. Ngangkot oper 4 kali. Macetnya bikin pusing kepala. Satu-satunya cara yang paling sip adalah nebeng Papi. Jadi perjalanan lebih singkat karena lewat tol.

Jadi doa saya semester ini adalah: semoga setiap hari Rabo Papi masuk kantor seperti biasa berangkat jam 7 pagi. Amiiiiiiinnnnn

RUPPA RUPPANYA Allah gak langsung mengabulkan doa saya. Melainkan menguji saya terlebih dahulu. Nyatanya, hari pertama kuliah besok Papi mo tugas ke Palembang! Iiiihik ihik…

Artinya saya harus ngangkot. Berarti saya harus berangkat sangat pagi sekali. Artinya saya harus masak lebih puagi. Berarti saya harus bangun super pagi. Tapi jam segini (11:42 PM) saya malah belum ngantuk! Perasaan gak enak nih besok mata mau melek jam brapa 🙁

Doa lagi ah: Ya Allah, semoga cuma besok saja ya tebenganku gagal. Semoga hari rabo-rabo berikutnya aku bisa nebeng terus. Amiiiinnnnnn….

Bubur Thailand – Khao Tom

Khao Tom Goong

Sejak nemu daun ketumbar di Carefour, saya makin tertarik nyobain resep masakan Thailand. Terutama Thom Yam dan Khao Tom. Soalnya dua makanan itu yang paling melekat di hati pas backpacking ke Thailand tahun kemarin. Trus gitu, mencium aroma daun ketumbar seakan-akan membawa saya kembali ke Krabi dengan bau pantainya yang khas 😀

Thom Yam yang saya lahap pas di Phi Phi island Krabi lah yang selalu terbayang-bayang kenikmatannya. Walau di Bangkok juga bolak balik makan, tapi gak ada yang menandingi kenikmatan yang di Krabi hehe. Kalo Khao Tom, kami hanya mendapatkannya di Krabi. Setiap sarapan kami selalu menuju ke gerobak ibu-ibu berjilbab–yang artinya makanan halal–di emperan pertokoan dekat pasar Krabi.

Tapi Kali ini saya akan bagi resep Khao Tom saja dulu. Thom Yam-nya lain kali ya? 🙂

Nama melayu dari Khao Tom adalah bubur nasi Thailand (Thai Rice Soup). Yaitu nasi yang dimasak dengan campuran daging atau ikan. Ada Khao Tom Goong yang artinya bubur nasi dengan udang, Khao Tom Moo maksudnya bubur nasi dengan daging babi, dan ada juga Khao Tom Pla yaitu bubur nasi dengan ikan. Tapi kemarin yang di Krabi saya lihat buburnya dengan udang dan cumi. So saya meniru yang di Krabi. Sedang namanya anggap saja Rice Soup with Seafood 🙂

Saya mencari resep Rice Soup sampai ke negeri China. Tapi cuma hiperbola hee. Soalnya saya searching, browsing, googling dan ing ing lainnya ke berbagai situs. Anehnya, masing masing situs penyedia resep Khao Tom memberikan bumbu yang berbeda-beda. Yaa soalnya selera orang kan juga beda beda ya?

Akhirnya saya menyarikannya dengan resep yang mudah bagi orang Indonesia seperti saya. Halah. Beginilah resep a la saya:

Siapkan bahan-bahannya terlebih dahulu, yaitu:

  • 2 piring – nasi yang sudah matang (ini untuk 4 orang), beberapa situs menyarankan nasi kemarin atau yang sudah menginap semalam. Mungkin karena untuk orang sakit biar kadar gulanya sedikit kali ya? kali aja sih.
  • 2 sendok makan – kecap ikan atau sauce fish.
  • 1 sendok makan – kecap kedelai.
  • 1/2 sendok teh – lada bubuk
  • Seledri atau daun bawang
  • seruas jahe di iris iris seperti korek api, ini nanti untuk pelengkap.
  • 5 siung – bawang putih diiris iris lalu di cacah-cacah, goreng sampai berwarna coklat ke emasan. Di bagi dua bagian untuk masak dan untuk pelengkap.
  • daun ketumbar secukupnya
  • udang/cumi/ikan kakap/daging ayam/daging sapi.
  • air kaldu. Dikira-kira sendiri ya.

Cara masaknya:

  1. Kemarin saya pakai udang dan cumi jadi untuk kaldunya saya kupas udang terlebih dahulu. Kemudian kulit udangnya yang saya rebus dengan air sebagai kaldu. Sisihkan.
  2. Goreng irisan bawang putih sampai coklat keemasan. Bagi dua bagian.
  3. Didihkan kaldu tadi lagi. Setelah mendidih masukkan sebagian bawang goreng. Aduk.
  4. Lalu masukkan seledri, kecap, kecap ikan, dan lada. Aduk-aduk.
  5. Setelah mendidih masukkan nasinya. Aduk-aduk dan biarkan sampai mendidih.
  6. Kemudian masukkan daging atau seafoodnya. Aduk-aduk sampai matang.
  7. Setelah matang semuanya angkat.
  8. Sajikan dengan di taburi irisan daun ketumbar, irisan jahe, dan bawang goreng.
  9. Bisa juga ditambahin lada atau bubuk cabai kering kalo pengen pedas dan juga cuka.

Bubur ini cocok untuk orang yang sedang sakit atau dalam masa penyembuhan. Karena rempah-rempahnya mempunyai efek menghangatkan tubuh. Sehingga cocok juga di makan ketika hawa sedang dingin seperti musim bediding atau musim penghujan. Kalau di Thailand, bubur ini biasanya dihidangkan untuk sarapan. Disamping bisa membuat orang bersemangat untuk beraktivitas juga karena cara penyajiannya yang cepat.

Okey, selamat mencoba ya! Kalo enak kabar-kabar. Kalo gak enak, coba lagi hehehe.

Cara Kami Menutup Tahun 2009

.:SELAMAT TAHUN BARU 2010:.

Apa yang telah kalian lakukan pada pergantian tahun kemarin? Jalan keluar kota? Atau pesta bakar-bakaran di rumah saja? Saya kira dimana dan kemanapun anda merayakannya pasti sangat menggembirakan, ya kan?

Kebetulan saya dan keluarga menghabiskannya di rumah saja. Seperti biasa. Karena untuk keluar kota sayang biaya, mo jalan-jalan di dalam kota saja sayang keluarga alias kami nggak kuat dengan bau knalpot.

Walau di rumah saja, kami membuat pesta kecil-kecilan. Sengaja saya memasak hidangan makan malam istimewa untuk keluarga kecil saya yaitu Ribs Barbeque with Mushroom Sauce.

Terus terang resep tersebut saya dapat dari majalah Nova edisi minggu terakhir bulan Desember 2009. Saya pun senang sekali nemu resep istimewa dan mudah ini. Mudah dalam artian bahan-bahannya relatif ramah dapur atau mudah didapat dan cara masaknyapun hanya butuh wajan untuk memanggang dan bukan yang butuh oven atau microwave. Karena kami belum punya kedua barang tersebut :).

Eh adzan subuh. Saya ke masjid dulu deh. Tunggu sebentar ya! Setelah ini saya kasih resepnya.

Resep Ribs BBQ with Mushroom Sauce

Siapkan bahan di bawah ini:

  • 500 g iga sapi. diiris tipis (kalo beli di pasar minta dipotongin sesuai selera)
  • 3 sdm saus barbeque Demonte (cari di super market ya!)
  • 1 sdm saus tiram (saya beli yang sachet aja. Kan jarang make 🙂 )
  • 3 sdm bawang bombai parut. (Awas! matanya pedes banget klo marut bawang bombai, hu hu hu)
  • 3 siung bawang putih parut
  • 1 sdt merica hitam tumbuk kasar
  • 1 sdm minyak goreng

Untuk bahan sausnya sebagai berikut:

  • 2 sdm tepung terigu
  • 200 ml susu cair
  • 50 g jamur kancing segar, iris tipis. (Kemarin saya salah beli jamur merang. Tapi tetep enak kok. Lain kali pengen pake jamur kancing beneran. Adanya di super market juga)
  • 1/2 sdt garam
  • 1/2 sdt merica bubuk

Begini cara masaknya:

  1. Rendam iga sapi bersama saus barbeque Delmonte dan bahan lain selama 1 jam.
  2. Panaskan wajan, panggang iga hingga matang. Angkat.
  3. Saus jamur: Panaskan wajan bekas memanggang ikan. Masukkan tepung terigu, aduk rata. Tambahkan sisa bahan. Aduk hingga saus kental, angkat.
  4. Sajikan iga BBQ dengan saus jamur.

Tips:

  • Agar dagingnya cepet empuk, pakai daging baru ya. Jangan daging kemaren. Tapi sebelumnya setelah di cuci bersih masukkan kedalam lemari es dulu biar layu.
  • Kemarin wajan habis manggang saya bersihkan dulu karena bumbunya jadi gosong lalu saya panaskan dan masukkan bumbu sisa merendam iga lalu dicampur dengan bahan saus.
  • Sebaiknya segera dihidangkan, karena paling enak klo iganya masih anget. Juga sausnya cepet mengras kalo terlalu lama didiamkan. Entah kalo penyajiannya di atas hot plate.

Pelengkap

Di dalam resep cara menghidangkannya dilengkapi dengan French fries, selada dan tomat. Karena tidak pake nasi, saya pun  menambahkan rebusan potongan-potongan kecil wortel dan jagung manis yang sudah saya sisir. Soalnya saya takut nanti nggak kenyang hehe. Untuk seladanya saya manfaatkan selada kepala sisa buat burger kemarin.

French fries buatan sendiri

Untuk French friesnya saya bikin sendiri lho. Bukan pakai yang sudah instan yang biasa dijual di super market yang tinggal digoreng itu, Rasanya nggak kalah enak kok. Malah asinnya pas soalnya tanpa MSG trus garingnya juga lebih tahan lama. Begini caranya:

Pilih kentang yang bentuknya panjang-panjang. Kupas dan cuci sampai bersih. Setelah itu potong-potong memanjang seukuran finger food, seukuran french fries lah pokoknya. Kemudian rendam dalam air garam selama 1 jam.

Kentangnya jadi lemes eh. Trus tiriskan sampai setiris tirisnya. Kemudian taburi tepung beras sedikit, aduk aduk pake tangan sampai rata.

Untuk menggorengnya, panaskan wajan dan minyak goreng yang banyak. Bener-bener panas loh ya minyaknya. Kentang yang digoreng harus terendam sepenuhnya. Goreng sampai kecokelatan. Angkat dan tiriskan deh. Kentangpun tinggal dinikmati.

Makan malam tahun baru yang indah

Selepas Isya, Ayah dan Sofia yang pulang dari masjid langsung duduk dimeja makan yang sudah saya siapkan. Dan kamipun menikmati makan malam tahun baru ini dengan penuh kebahagian dan kejutan rasa.

Yang bikin bahagia, Sofia suka sekali dengan kentang goreng dan sayurnya. Kalo dagingnya, awalnya dia mau saya kasih kecil-kecil beberapa kali suap. Tapi setelah kami bujuk untuk ngincipin sausnya juga dia jadinya malah menolak. Katanya rasanya aneh :D. Lucunya pas kita udah selesai makan dan mau keluar ke rumah Mami, ee dia minta diambilin lagi dagingnya. Untung masih sisa satu. Diapun makan berkali-kali. Dan bilang “Sofia sukak”. Dasar bocah hehehe.

Lebih bahagia lagi karena ayah surprise Mama bisa masak kayak gini trus enak. Sampai-sampai ayah nambah terus sausnya hehe. Mama pun dapet berkali kali “sun” dari Ayah trus Sofi juga berkali-kali bilang. “Sofia sukak”, “Makanannya enak”, “Mama pinter masak ya Yah?”, juga “Makasih ya Maa… udah masakin Sofia makanan enak”. Duhhhh anakku… indahnya dunia ibumu 🙂

Dengan perut kekenyangan, kami keluar ke rumah Mami yang lagi bakar-bakar ayam dan jagung serta pesta duren dengan tetangga-tetangganya. Tapi cuma sebentar karena Sofia pengen kembang api. Dia nggak sabar pengen liat kembang api yang sesekali menyala dikejauhan. Padahal masih jam 10 malam.

Akhirnya jam 11 malam kami pun pulang ke rumah setelah nggak dapet kembang api permintaan Sofia. Gimana mau dapet? Ngelihat jalan ramainya minta ampun kami nggak jadi ke jalan raya.

Kamipun siap-siap tidur. Waktu detik-detik pergantian tahun datang, suara petasan dan kembang api bersahut-sahutan memekakkan telinga. Begitupun tetangga-tetangga kami semuanya ramai keluar rumah. Tapi Sofia tidak bergeming sementara saya sedikit kesal, terbangun dan sangat ngantuk tapi kuping kebrebegan jadi nggak bisa nyenyak hehe.

Begitulah kami menghabiskan akhir tahun 2009. Semoga di tahun 2010 ini kesehatan dan keselamatan selalu menyertai kami sekeluarga dan Allah senantiasa merahmati keluarga kecil kami ini. Amien ya Allah.

Sofi dan Tempat Tidur Susun Barunya

Setelah hunting lewat dunia maya dan dunia nyata, akhirnya saya mendapatkan juga tempat tidur susun yang kami inginkan. Malah dapet harga murah lagi. Pertama-tama saya datangi ACE Home Centre di Pasaraya Grande. Soalnya dulu waktu kesana saya pernah ngeliat tempat tidur susun sebiji disana. Waktu saya datangi lagi pas taon baru kemaren, ternyata sudah habis stoknya. Kata masnya harganya 2 juta kurang serebu (tanpa kasur). Menurut masnya lagi, yang ada di Index furniture Pondok Indah. Kamipun pulang.

Di rumah saya lihat di website index ada gambar tempat tidur susun. Saya telp yang di Depok, katanya ada tapi harganya 2 jutaan juga (tanpa kasur). Saya keep dulu info itu lalu saya browsing lagi “tempat tidur susun”. Atas saran seseorang di milis, diminta cek select.co.id disitu memang ada tapi pembeliannya harus online. Rasanya kurang puas kalo beli tanpa lihat dulu barang nyatanya. Akhirnya saya email admin select dan dalam waktu dua hari (karena libur tahun baru) saya mendapatkan jawaban di hari seninnya.

Select merekomendasikan saya untuk menengok gudangnya di Pulo Gadung dan Kalideres dengan menyertakan nomor telp masing-masing, jauhnya duhh! Setelah Pulo Gadung, saya telp yang Kalideres. Senangnya, karena mbaknya yang terima telpon memberikan alamat dan no telpon showroom mereka yang di Pasar Minggu. Langsung saya telpon untuk menanyakan lokasi mereka.

Ternyata e ternyata, tuh showrom cuma selemparan batu dari rumah kami. Mereka bilang di depan Robinson Ps Minggu. Selasa, pulang dari kampus jam enem kurang, saya mampir ke pasar minggu mencari toko mebel tersebut.

Setau saya hanya dua toko mebel di situ. Mereka sodaraan lagi, maksudnya pemiliknya sama. bedanya yang kiri khusus olimpic yang kanan macem-macem. Saya datangi yang olimpic, kata mbaknya untuk merek Hakari disebelah. Tancap!

Disana saya dilayani dengan baik. Secara dulu saya beli Sofa disini jadi saya sudah familiar. Benar juga. Ada tiga contoh yang sudah di display. Singkatnya kami langsng tawar menawar harga pas. Tapi saya gak mau okein dulu soalnya saya mau konsultasi dulu ke suami. Seperti biasa, mereka minta di DP in dulu walau sepuluh rebu rupiah buat ngiket harga diskonnya.

Sampai di rumah, suami langsung oke hehehe. Nggak nunggu besok-besok, menjelang isya saya balik kesana bersama suami dan anak untuk hitung jadi. Hargapun ditutup pada level 1.175.000,- jauhhhh dari harga di ACE maupun Index yang saya lihat barangnya hampir sama. Bahkan dari website select yang mengantar saya kesini juga jauh berbeda. Mereka membandrol harga satu juta setengah kurang serebu rupiah (1.499.000,-).

Persis sama ma punya Sofia.

Persis ma punya Sofia

Esoknya, seperti janji mbaknya yang ngelayani, jam satu siang mereka benar-benar datang mengantarkan barangnya dan langsung dipasang. Benar-benar pelayanan yang memuaskan. Setelah di kasih kasur dan dibungkus sprei, Sofia langsung bermain dan tidur di situ. Polah anak dapet sesuatu yang baru, membuat saya dan suami geli.

Alhamdulillah, akhirnya keinginan kami agar sofi tidur di tempatnya sendiri kesampaian. Bukan ngusir loh nak hehehe,,, Habisnya tempat tidur 180×200 sudah tak muat untuk menampung dua raksasa + satu anak yang tidurnya suka menguasai tempat hihihi.

Tempat tidur kami berdua jadi serasa lapangan bola 🙂 legaa..

New Year, New Yearnings!

Long time no see guys!

Setahun sudah saya tak menulis di sini. Alasannya karena nggak sempet, kehabisan ide, dan yang terakhir mengambing hitamkan tugas-tugas kuliah yang seambreg bregh! Sampai-sampai saya datangkan bala bantuan dari kampung, Ibu saya, untuk mengasuh Sofi sementara saya mengerjakan tugas yang datang silih berganti dan bertubi-tubi. Pun Suami, sedang menghadapi deadline banyak sekali. Tapi Ibu hanya disini dua minggu. Karena suatu hal, beliau harus pulang dulu.Tepatnya habis Natalan kemaren lalu.

Sebelum berlanjut, saya ucapkan…

SELAMAT TAHUN BARU 2009 & 1430 H

Untuk semuanya. Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik dibanding tahun-tahun kemarin untuk kita semua dan untuk semua hal, amin….

Tentunya banyak pengharapan yang kita inginkan terwujud ditahun kerbau ini. Begitupun dengan saya. Diantaranya:

1.Pengen pindah kontrakan yang berkamar tiga karena Sofi sudah waktunya punya kamar sendiri. Semoga dapat tempat yang lebih nyaman, tetap berakses mudah dan dekat kemana-mana (tetep dalam kota) dan harga tetap terjangkau. Kontrakan kami berakhir pada bulan Mei ini

2.Semoga rencana backpacking saya bersama suami ke Singapura-Malaysia-Thailand-Vietnam bulan Juli nanti yang tinggal menunggu waktu itu berjalan dengan lancar.

3.Semoga kuliah saya bisa kelar tahun ini karena saya sudah tak sabar ingin hengkang dari Jakarta. Bali?? Wait on me as yr new resident! 😀

4.Semoga hikmah dari segala halangan,rintangan, cobaan, dan tempaan ditahun 2008 lalu menjadikan saya dan suami lebih solid sebagai partner dalam menghadapi masa depan kami yang cerah!! >:D

5.Terakhir, semoga ditahun 2009 dan tahun-tahun setelahnya, Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kesejahteraan, rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sekeluarga amin-amin-aminn..ya Rob!

Akhirnya, kakipun mulai menapaki jalan setapak 2009 dan waktupun telah mulai menghitung mundur mengukur kehidupan kita. Do the best guys!!

Kemana Sambal Pohon Cabe?

Sambal_favorit

Namanya sudah jatuh cinta ya begini ini. Only you deh. Cuma kamu yang
aku mau pokoknya. Dan ini terjadi juga pada kami, saya dan suami.
Masalahnya bukan cinta sama orang, tapi kami jatuh cinta sama sambel.

Ya.
Sejak kami baca artikel tentang sebuah merk sambal di Kompas yang konon
tanpa bahan pengawet dan pewarna, kamipun kalau ke supermarket pasti
hunting sambal satu ini. Mereknya Sambal Istimewa Pohon Cabe. Kabar
dari koran menyebutkan sambal ini masih beredar terbatas. Hanya
terdapat di supermarket dan telah menjadi langganan restoran-restoran
dan hotel-hotel. Dengan kata lain ini sambal kelas menengah.

Bukan karena sambal kelas menengahnya yang menjadi alasan kami,
tetapi satu-satunya sambal tanpa tambahan bahan pengawet dan pewarna
itulah yang menjadi alasan utama. Karena kami sedang berusaha hidup
sehat dengan makanan-makanan yang sedapat mungkin sehat pula.

Setiap mampir ke supermarket maupun hypermarket kami selalu
menyempatkan diri mencari sambal satu ini. Pernah ke Carefour tidak
nemu akhirnya kami dapatkan di Giant Kalibata yang malahan supermarket
terdekat dari rumah kami. Sejak itulah kami menjadi konsumen setia
Giant untuk membeli sambal Pohon Cabe.

Kenikmatan dari rasa pedas manis dan asin yang sangat mantap di
lidah menjadikan makanan kami serasa uenak semua. Ditambah secara
psikologis kami merasa menyantap sambal yang sehat menjadikan kami
pecandu sambal ini. Bahkan kami senang mempromosikannya ke handai
taulan dan sahabat lewat mulut ke mulut. Kamipun menjadikan sambal
seharga 8.000an pr botol 330 ml ini sebagai buah tangan di kampung
karena yang menerima juga merasa senang dan puas. Apalagi sambal ini
menurut sumber di internet baru terdapat di Jakarta dan Bandung padahal
sudah mengekspor ke Korea juga Amerika.

Masalah muncul minggu-minggu ini. Kami terbiasa menstock sambal
kami. Walau belum sampai habis, kami pasti sudah mencarinya lagi.
Karena sering kali kami lihat stock sambal ini sedikit sekali
dibandingkan sambal atau saos-saos yang lain. Nah, waktu sambal kami
hampir habis kami mulai mencari lagi di Giant Kalibata namun tidak
menemukannya. Kesetiap supermarket yang kami datangi juga, nihil.
Sampai akhirnya sambal yang telah kami koret-koretinpun habis samsek
(sama sekali). Karena sudah nyandu saya pun mengirim SMS untuk layanan
konsumen yang tertera di botol sambal.

Keesokan harinya kami mendapat balasan yang bunyinya:

Kemungkinan brg kosong dan blm d order. coba d carrefour,hero,giant,yogya lainnya.

Pesan
tersebut sangat singkat namun kami puas dengan tanggapan atau pelayanan
yang diberikan. Kamipun kini sedang dalam pencarian sambal tercinta
kami. Dan sebagai gantinya untuk sementara saya buatkan suami sambal
terasi :D. Mbok Siyah Matreng. Lombok terasi uyah tomat digoreng 😀
(cabe rawit, terasi, garam, tomat digoreng) diuleg di atas cobek yang
terbuat dari tanah. Sedappp! 🙂

Promo Mandala Mengecewakan

Saya dan suami sama-sama pengguna layanan GSM Indosat. Bedanya suami
pakai matrix strong sedangkan saya pakai mentari biasa. Tanggal 7
Agustus kemaren waktu masih di kampung, kami berdua mendapat sms dari
indosat yang isinya:

Dapatkan Tiket Gratis Mandala via wap.mandalaair.com dr HP Anda. Berlaku 7-13 Agus08, terbang Jan-Mar09. Ketentuan berlaku. Info: 021-56997000/www.mandalaair.com.

Karena selebaran kalender akademik 2008/2009 kampus saya ada
dirumah sedangkan kami baru akan sampai rumah tanggal 11 maka kami
berpesan untuk saling mengingatkan sesampainya di Jakarta.

Sampai
tanggal 13 sore saya baru ingat, lalu saya melihat jadwal libur saya
semester berikutnya yaitu antara Januari-Februari 2009. Suami yang juga
baru ingat segera mencoba memesan setelah kami tentukan hari dan
tanggalnya.

Kamipun memesan dua seat untuk suami dan saya dengan tujuan
Batam. Seat masih tersedia. Dengan fare 0 Rupiah, kami hanya kena
charge Rp. 1.100.000 sekian untuk PP dua orang. Namun sebelum
mengeksekusi kedua seat tersebut kami menawarkan kepada maminya Sofi
(kakak saya) yang kebetulan sedang menginap dirumah karena suaminya
sedang tugas ke Samarinda. Mamipun langsung menelpon suaminya dan OK.
Kamipun mengulang pemesanan dan memesan untuk empat seat. Tetapi
ternyata sudah sold out.

Ketika kami kembali mencoba memesan untuk dua
tiket, seat masih tersedia. Akhirnya kami memesan dua tiket tersebut
terlebih dahulu.

Kami baru tahu ternyata sistem pemesanan online Mandala tak seperti
punya Airasia dalam pembayarannya. Mandala memberikan kode tertentu
untuk pembayaran via ATM sedangkan Airasia pemesanan sekaligus
pembayaran dengan menggunakan credit card.

Setelah mendapat kode untuk pembayaran dua seat pertama yang mana
batas waktu pembayaran adalah sampai jam 10 malam ini yaitu kurang
lebih 2 jam setelah jam pemesanan, kamipun menyoba memesan lagi satu
seat dan berhasil mendapat kode pembayaran. Saat kami mencoba lagi satu
seat, ternyata sudah sold out. Berarti seat yang tersedia memang hanya
tinggal tiga. Mamipun setuju untuk yang satu seat menggunakan pemesanan
biasa yang berarti dia harus membayar Rp. 900.000 an untuk sekali jalan
atau hampir dua jutaan untuk PP.

Pemesanan kami lakukan pukul 8 malam.  Jam 9  malam suami ke  ATM
mandiri terdekat yaitu di  Pejaten  Timur  belakang stasiun Pasar
Minggu Baru untuk melakukan pembayaran. Saya yang menunggu dirumah di
telpon suami. Dia bilang pembayaran tidak dapat dilakukan pada waktu
masuk menu Mandala. Suami sudah mengontak informasi yang mengatakan
bahwa ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah sistem Mandala sedang error dan atau
kemungkinan ke dua booth ATM tersebut tidak menyediakan layanan
langsung ke Mandala. Petugas tersebut bilang untuk lebih amannya datang
langsung saja ke kantor Mandala yang ada di Tomang. Tomang?? pliss deh!
jam 9 malam lebih gini jauh-jauh ke Tomang dari Pasar Minggu??

Awalnya saya sudah bilang sama suami dan mami kalau memang rejeki
kita ya dapet tapi kalo enggak dapet ya enggak apa-apa. Tapi bayangan
backpacker-an dari Batam ke Singapore by Fery, Singapore ke Malaysia dan
Malaysia ke Thailand by land udah didepan mata jadi suami yang baik hati
dan rajin menabung inipun saya minta pindah ke ATM lain yaitu di booth
mandiri Pasar Minggu. Tapi hasilnya tetap sama dan saya dan mami yang
dirumahpun kecewa. Capek dehh.. Maksudnya apa sih Mandala pake  promo
gratis-gratisan segala tapi malah mempersulit?!

Keesokan harinya waktu mami udah pergi ke  kantor, suami bilang ke
saya,"Ma, untung kemarin enggak dapet. Kalo mau backpacker-an kan
enaknya pas musim panas. Dan bukankah Jan/Feb di Asia Tenggara itu
musim penghujan". O iya-ya, ternyata ada hikmahnya juga hehehe. Berarti
liburan next semesternya lagi dong? (Juli/Agustus – Insya Allah 😀 ).

Sorenya waktu mami pulang kantor saya kasih tau kedia eee dia malah
bilang ya sudah November besok aja. Yee akukan liburnya Jan/Feb?? dan
diapun cuma nyengir dan ketawa hehehe. Waktu saya tawarin berangkat sendiri aja berdua sama suminya, katanya maunya bareng aja biar seru (gak berani). Yo wes.

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: