Indonesia is a Fatherless Country!

Mumpung msh hangat, yg kemarin lihat Matanajwa dan ada pak Puspo Wardoyo sang penerima poligami award.

Jadi pak Puspo ini sibuuuuk sekali ekspansi ayam bakar Wong Solonya, jadinya dia perlu istri unt mendampinginya kemana2 jdnya sekarang istrinya 4: 1 di Bandung, 1 di Jakarta, 2 di Medan.
Saking sibuknya, pak Puspo sampe lupa. Katanya anaknya 12, stlh dia sebut namanya satu2, akhirnya ketahuan kalo ternyata 13. Eeeeeh… Ujung2nya dia bilang: “soal anak urusan ibunya” *petir pun menyambar* Bahkan ketika Najwa bilang “Nabi saja tak rela anaknya dipoligami” pak Puspo tetep keukeuh mengajarkan anaknya tentang berpoligami bahkan sejak dini (TK).

Astagfirullah… Pak Puspo ini lupa, bahwa anak2 tak sekedar butuh materi, tp juga figur bapak bagi jiwa2 mereka. Saya kasihan dng beliau karena apa? Berat hishabnya di hadapan Allah dng tanggung jawab ke 12 atau 13 anaknya itu!
Dia lebih mementingkan memperbanyak cabang wong solo (hartanya) drpd mengasuh jiwa anak2nya. Dia pikir yang penting dia sudah menafkahi, bahkan lebih. Dia kira kalau sudah bayar ustad, sudah sekolahin anaknya di sekolah islam yg mahal2, trus ngarepin doa Robighfirlli…dr ke 12 atau 13 anaknya dia akan masuk surga. Dia lupa tanggung jawabnya menjadi bapak bagi jiwa anak2nya.

Ibu Elly Risman mengingatkan kami para orang tua: Masa depan macam apa sih, yg orang tua harapkan pada anak2nya? Orang tua mana yg tahu anaknya kelak menjadi apa? Kita sibuk menekan anak kita dng apa yg kita bilang demi masa depanmu! Kita sibuk mencari uang unt membayar sekolah, kursus2 yg tak pernah mereka inginkan, yg tak sesuai dng minat dan bakatnya dng mengesampingkan kebutuhan jiwa mereka. Kita lupa. Lupa. Bahwa masa depan sesungguhnya anak2 kita yang pasti adalah menjadi orang tua juga seperti kita saat ini.

Cukup pak Puspo Wardoyo yg kita kasihani, jangan bapak2 anak2 kita, jangan suami kita kita para istri.

Wallahu A’lam bi-alShawab…

*Itulah kenapa NEGARA DENGAN PENDUDUK MUSLIM TERBESAR DI DUNIA ini dijuluki: FATHERLESS COUNTRY.

Orang Tua, Sadarlah!

Repost status FB mas Anton DHN
Jika engkau ingin melihat kecemasan-kecemasan orang tua, lihatlah pada wajah anaknya. Kebanyakan anak lebih banyak hidup dalam kecemasan orang tua ketimbang ia didorong lewat harapan-harapan penuh percaya diri. Orang-orang tua adalah orang yang cemas dan sikap cemas ini kerap menjadi penjara bagi kaum muda.
Komentar saya:
Yani Widianto

Benar sekali, Mas. Orang tua harusnya menciptakan zero emotion pd jiwa anak. Tp nyatanya, ortulah yg kini membuat anak2nya tertekan. Banyak memendam emosi yg tak tersalurkan. Akibatnya: tawuran antar pelajar sdh jamak, pun tawuran antar warga! Mereka merasa puas karena pada akhirnya bisa melampiaskan emosi tanpa berpikir panjang. Ortu lah yg membuat anak2 generasi penerus bangsa ini berhenti berpikir! It’s all about SALAH ASUH & SALAH MENGASUH.
Yani Widianto Jaman sdh berubah, dulu petani miskin bekerja bersama dng anak2nya yg banyak bisa sambil menanamkan nilai2 hidup pengisi jiwa. Tp kini, kedua ortu kerja diluar tanpa ada waktu berbagi nilai hidup dng “weekend children” mereka. Mereka menyerahkan pengasuhan pd pembantu & suster dng membayar murah!! Sadarlah wahai para orang tua, jng hanya mengeluh negeri ini bobrok! Krn kalianlah penyebabnya!!
Yani Widianto Jangan hanya berkoar-koar menyuruh para pemuda pemudi Indonesia bangkit! It’s not FAIR!

Kita para orang tua yg tak lagi pemuda/pemudi jng merasa lepas tanggung jawab. Kita juga harus bangkit. Orang tua seperti kita-kita inilah yang melahirkan para pemuda pengecut atau pemuda yang bangkit tanpa disuruh-suruh!


Tak Hanya Pemuda, Orang Tua juga harus Bangkit!

Jangan hanya koar2 nyuruh pemuda pemudi Indonesia bangkit. It’s not fair!

Kita para orang tua yg sudah tak lagi pemuda&pemudi juga harus bangkit, jangan lepas tanggung jawab. Kita musti sadar bahwa ortu seperti kita2 inilah yg bakalan melahirkan pemuda pemudi pengecut atau pemuda pemudi yang bangkit tanpa harus disuruh-suruh!

Dua Cara Mengasuh Anak

Mengasuh anak dng penuh emosi, ngomel2, bentak2, marah2 dan ngasuh anak dng penuh usaha unt sabar, usaha unt tersenyum itu sama2 menguras energi dan melelahkan.

Obatnya pun juga sama, yaitu wajah polos anak-anak kita.

Bedanya yg satu tak menimbulkan penyesalan.

Ibu, Pembantu, Pembantu, Bapak

Kalau Nabi Muhammad SAW masih hidup dan tinggal di Indonesia lalu melihat kekacauan bangsa ini, beliau pasti akan mengubah redaksi sabdanya dalam Hadist yg diriwayatkan oleh at-Tirmizi:

“Daripada Muawiyah bin Haidatal Qusyairi katanya aku bertanya Rasulullah SAW, siapakah orang yang paling patut aku berbuat baik?,
Rasulullah SAW menjawab : ibumu (krn dia telah hamil & melahirkanmu),
kemudian aku bertanya lagi siapa?,
Rasulullah menjawab : pembantumu/pengasuhmu/sustermu (krn dia yg mengasuhmu dan merawatmu sehari-hari),
kemudian aku bertanya lagi siapa?
Rasulullah menjawab: pembantumu/pengasuhmu/sustermu (krn dia yang sehari-hari kamu bentak & kamu pancing emosinya),
kemudian aku bertanya lagi siapa?
Rasulullah menjawab : bapamu (krn dia hanya merasa sudah menafkahimu), kemudian orang yang paling hampir dekat denganmu dan seterusnya”.

Wallahu A’lam bi-alShawab…

Kesalahan Ortu Kita

Yuk, sekarang kita menoleh kebelakang sebentar, kita cari apa kesalahan dan kebenaran ortu kita sehingga kita menjadi pribadi yg seperti sekarang ini (hanya untuk yg sudah paham bagaimana dirinya).

Kalo begituan dosa, biar saya yg nanggung dosanya. Soalnya saya yg ajak2. Maksud saya adalah bukannya unt cari2 kesalahan ortu, tp agar kita bisa belajar dari kesalahan mereka dan kita tidak akan mengulanginya pada anak2 kita. (Memutus lingkaran setan)

Kalau ternyata salah mereka banyak, kalau kita ngaku sebagai anak sholeh dan sholehah berarti kita musti harus kudu muakin buanyaaaak ndoain orang tua!

Itulah mengapa ada mata pelajaran sejarah. Agar kita tak melupakan sejarah dan belajar dari sejarah. (Cocok ya diriku jd guru sejarah? wkwkwkwk *daftar akta4* )

Orang Tua, Hati-Hati dengan Doa-mu

Sbg orang tua kita harus hati2 dng doa yg kita panjatkan pd Tuhan unt anak2 kita. Konsekwesinya berat. Contoh:

Kita berdoa agar anak kita menjadi presiden. Konsekwensinya, kita harus benar2 mengasuh jiwa anak ini agar kelak menjadi pemimpin yg sesuai harapan rakyatnya. Apesnya ternyata kita salah mengasuhnya lalu Tuhan benar2 mjdkannya presiden tapi diktator, mengesampingkan hak rakyatnya, parahnya presiden yg taunya nyanyi!

SIAPA YG IKUT MENANGGUNG DOSA PEMIMPIN NEGARA YG TELAH MENYAKITI MANUSIA SEBANGSA ITU? orang tuanya sayang….

Ganti redaksi doa kita kepada Tuhan YME…

Kesalahan Orang Tua (Kultwit Mbak Alissa Wahid)

“@AlissaWahid: Orangtua bekerja keras meningkatkan kualitas hidup keluarga, utamanya adalah untuk anak2 yang dicintainya..”

“@AlissaWahid: Mencari keseimbangan antara memberikan kenyamanan dg menumbuhkan sikap sadar nilai/harga, itu PR byk orangtua utk anaknya”

“@AlissaWahid: Kesalahan terbesar orangtua adalah memudahkan segalanya untuk anak2nya, sebab pertumbuhan terletak pada tantangan.”

“@AlissaWahid: Sayangnya memberikan yg terbaik kpd anak2 kadang melewati batas optimal, sehingga anak2 justru menjadi silver-spoon kids”

Perbaiki Hubungan antar Ibu & Ayah Baru Perbaiki Tingkah Anaknya

Ibu Elly bilang: Kalau kau ingin memperbaiki anakmu, perbaiki dulu dirimu, perbaiki dulu hubunganmu dng suami/istrimu. Karena bukan anakmu yg salah, tetapi ORANG TUANYA.

Problem kami sbg orang tua terletak pd kami berdua. Kami mengakui sama2 individu yg cerewet pd anak! Pengennya ngomooooong terus sama anak ngasih pengertian ini itu. Pdhl ujung2nya kita jd ngomong yg sebenarnya enggak perlu diomongkan. Dan ujung2nya si anak nangis. Krn anak kami sangat sensitif dng perasaannya. Kalo anak saya pendiam mungkin dia diam saja tapi sakit hati. Dongkol.

Ini PR yg harus kami garap dng tekun! Bagaimana dng problem anda? Tak perlu ditulis dikolom komentar ini, tp tanyakan saja pada diri anda masing2. Ingat jng salahkan anak!

Tp serba salah deh. Klo gw diemm aja dia pasti bilang: aaaah bosen. Nggak asik! Klo gak Anak gw yg bertingkah semacam meluculah. Kalo cuma ditanggepin dng senyum dia bilang: kok mamma nggak ketawa siiiihhh???
Me: ohhh kamu td ngelucu ya nak?

Dia tuh sukanya emaknya ngoceh2 ngebanyol. Tertawanya sampe ngakak2 gitu maunya. Trus maknya suruh ngulang2 lg. Smacam badut eike dibuatnya. Ntar klo maknya becanda trus kelewatan dianya ngambek, marah, lari ke ruang laen. SUSAH EUY JD ORANG TUA :p

Belajar jadi Ortu dari Ortu

Berbahagialah para ortu yg dulu dibesarkan oleh ortunya dng pola asuh yg baik. Karena tak ada sekolah mjd ortu, maka kita mempelajarinya secara turun temurun. Saya yg berbapak galak (kalau memakai skala mak icih, galaknya ada di level 10 xixixi) sedangkan suami mengaku lebih banyak diasuh dng manja oleh kakek neneknya krn kesibukan ke2 ortunya.

Tp bukan berarti kita harus menyalahkan ortu/orang2 yg telah mengasuh kita! Bisa kualat 7turunan awak! Itukan namanya mengingkari takdir?
Tugas kita sekarang adl belajar dr kesalahan ortu kita, ambil yg baik buang yg buruk dan doakan mereka. Dan belajar dari para ahlinya. Baca bukunya, ikuti seminarnya, demi untuk kebahagian kita sendiri hehehehe… Kan kalo anak kita bahagia ortunya bahagia, kan?

Komentar:

  • Nurul Fitriana SUPER sekali….sangat setuju sama mbakyu cantik ini…. subhanallah… :)November 17 at 10:20pm ·
  • Yani Widianto Nah,,, tanya adekku yang cantik ini kalo nggak percaya kalo bapakku galak hahahaha! Ya kan dek?November 17 at 10:22pm ·
  • Alfin Mustikawan Tahun 1980an di UGM ada 3 bersaudara yang meraih gelar Cumlaude! setelah mereka diwisuda banyak orang bertanya, dia anak siapa dan bagaimana cara mengasuh ketiga anak tsb. Ternyata ketiga anak tersebut seorang hanyalah seorang anak Janda buta huruf yang tidak bisa baca tulis, ketika diberi kesempatan untuk memberikan sambutan sang ibu itu bercerita bagaimana dia mengasuh dan mendidik ketiga puteranya tsb ibu itu berkata “Saya tidak menyangka dan mengira ketiga anak saya menjadi anak yang seperti ini, karena saya tidak tahu apa yang mereka pelajari dan lakukan di sekolah karena saya juga tidak pernah sekolah, yang saya lakukan sedari mereka kecil hingga dewasa hanyalah ketika mereka tidur saya elus-elus kepala mereka dan berkata Nak jadi anak yang pinter ya Nak begitu setiap hari setelah sholat malam”

    November 17 at 10:31pm ··

  • Nurul Fitriana hahahaa…tau sendiri mb,kalo aku malah galak kubik bukan kuadrat lagi xixixiii…
  • betul yang penting jangan jadikan anak ajang “balas dendam” kalo pola asuh ortu dl “cukup keras” dan juga jangan melemah krn pola asuh ortu dl yang “cukup longgar”…
  • anak2 jaman sekarang beda betul sama jaman kita dl mb… yang terpenting komunikasi, afeksi, trust, tapi tetep kontrol… 🙂 betul ga sihh?? hehee….
  • ahh seneng ya kalo udh jad orangtua, asik gitu sepertinya… jadi pengen *lhohh, hihihii….November 17 at 10:32pm ·
  • Yani Widianto Itu msh relevan unt mengasuh anak di th 80 an yg serba kekurangan, om. Era digital abad 21 ini tugas ortu semakin berat. Paparan negative mudah didapat dr mana2. Internet mudah diakses unt disalah gunakan tanpa kita bisa mengontrol mereka dng pengawasan mata. Kini doa saja tidak cukup. Setelah diteliti oleh para ahli parenting, yg harus kita lakukan kini sbg ortu adl menjaga agar jng sampai jiwa anak2 itu kosong! Orang tua makin sibuk dng atas nama pekerjaan demi anak. Sibuk dng gadgetnya demi sosialite. Anak butuh didengarkan hatinya, butuh dipahami perasaannya. Kalau tidak? Anak anak kita akan lari keluar rumah! Lari ke pacarnya krn pacarnya lebih mendengar curahan hatinya. Lari ke narkoba krn itu menenangkan walau hanya sesaat!November 17 at 10:39pm
  • Yani Widianto Anak anak itu bisa hidup tanpa harta yg berlimpah dan wah. Buktinya jaman dahulu yg serba kekurangan kini mereka jadi orang2 hebat dibidangnya. Doa dan usaha ekstra keras orang tualah yg mampu mengantarkan anak anak kita menjadi individu yg mampu mengubah dunia. Tapi usaha ekstra keras itu bukan berarti dengan disiplin yg KERAS, HUKUMAN, MEMARAHI,bukann bukan seperti itu. Tp disiplin dengan kasih sayang.November 17 at 10:47pm ·
  • Yani Widianto Dek Nurul: apa yg sampean katakan tidak ada yg salah dek. Nantinya caranya memang begitu. Tapi untuk jaman sekarang yg sering dilupakan ortu tanpa sadar adl, orang tua tdk menghargai perasaan anaknya, tdk menjadi pendengar yg baik isi hati anaknya. Karena mereka sibuk. Sibuuuuk sekali. NO TIME FOR THEIR SUNSHINE. Kalaupun tak sibuk yaa menyibukkan diri. Pdhal yg dibutuhkan anak dr lahir ceprot sampe gede itu waktu orang tuanya unt saling bertukar pikiran; ortu jg Terus menyakiti hati anaknya dng cap2 buruk spt: bandel! Malas! Ngeyel! Pembohong! Nakal! Bodoh! Nyusahin orang tua! Dan label2 buruk lainnya. Itu semacam stempel yg di tok dijiwanya dan akan dibawanya sampai mati. Kalau hal itu terus ortu lakukan, apa2 yg sampean sebutkan itu spt komunikasi, dll tdk akan tercapai dng baik.November 17 at 11:31pm ·
  • Toto Rahman mantab.semua jari jempol deh,,,, eh tapi bapakmu galak jeng… tapi hasile anak yo api iki loh…November 18 at 1:08pm ·
  • Yani Widianto Pak Toto: Teh ga nya pak Toto… Yg bagus cuma sitok iki Pak, daftar ueleke mblerooot huhuhu Eh pak, aku selalu terngiang percakapan kita jaman msh sekantor yg sampean ngomongin om ato siap sampean gitu deh, kalo mendidik anak tuh jng pake kata “JANGAN” tp dibalik dng kata2 yg positif. Contoh: bukan “jangan lari2 di dlm rumah!” tp “kalo di dlm rumah itu gimana?” Itu bener banget lhoh hehehe tengkyu ilmunya ya pak! :)November 18 at 6:02pm ·
  • Toto Rahman sip…jangan malas nak, di ganti ayo yang rajin, ayo jadi anak baik, ayo berbagi, ayo minta maaf, memang harus memahami cara kerja otak…. Tapi ga gampang, klo gampang lahirin aja robot, pasti nurut heheheh… ucapan kita adalah doa kita…. kapan nambah lagi biar tambah tantangannya. eniway, istri ade ndut dah hamil loh..November 18 at 6:16pm ·
  • Yani Widianto Setujuuuuuu!!! Nambah mben dino kali pak kasarane huehehe.. Tp blom dikasih ma Gusti Allah 😀 Jadi pak Ade mo segera punya baby? Alhamdulillaaaahh…… :)November 18 at 6:19pm
%d blogger menyukai ini: