Archive for the ‘Sofia Twitter’ category

Sofi Merusak Anggrek Saya

June 20th, 2008

Pagi tadi saya biarkan Sofi mainan didepan rumah sementara saya masak
untuk makan siang. Gorden saya buka lebar supaya saya bisa melihat dia
dari dapur. Sayapun membukanya sekedar biar saya bisa melihat dia saja,
tapi bukan melihat apa yang dia lakukan. Saya biarkan dia bermain
dengan pot-pot kecil saya yang berisi tanah. Berani kotorkan baik. Dan
yang saya ketahui dia berdiri diatas kursi depan bermain dengan
memindahkan tanah di pot satu ke pot yang lainnya dengan sekop kecil di
tempat saya menaruh anggrek-anggrek saya yang salah satunya sedang
berbunga penuh.
Anggrek

Tanpa curiga saya sibuk di dapur sambil sesekali memastikan bahwa
dia masih dalam jangkauan penglihatan saya. Sampai akhirnya saya
selesai masak dan beberes dia tetap asyik mainan disitu tanpa beranjak,
saya panggil dia masuk rumah untuk membersihkan diri lalu diapun
bermain di dalam rumah. Siangnya saya suapin dia dan Ayahnya pun pulang
dari urusan di luar rumah. Waktu ayahnya cuci tangan saya menengok
kedepan rumah dan alangkah terkejutnya, anggrekku sudah brindil! Saya
berteriak ke ayahnya,
"Yahh,, anggrekku!!", antara kaget, mau marah tapi didalam hati saya tertawa geli.
"Knapa Mah?!" tanya suamiku kaget.
"Anggrekku di protoli Sofi!"
"Alah
yo wes, udah jangan dimarahin anaknya", kata suamiku, karena dia tahu
saya paling marah kalo ada yang mengusik bunga-bungaku apalagi anggrek.
Tapi saya enggak bisa marah sama sekali. Melainkan gemas dan geli
sekali. Saya membayangkan Sofi tanpa dosa memreteli bunga anggrekku
yang berwarna kuning berlidah ungu itu. Pantesan dia anteng saja saya
tinggal dibelakang tadi. Padahal biasanya ada aja yang dia rengekkan,
ikut mama masaklah, minta minumlah, minta gendonglah, tapi enggak untuk
tadi.

Anggrek_mama

Saya bertanya ke Sofi siapa yang memetik bunga mama dan dia
menjawab,"Opia!" sambil senyum senyum klugat kluget dengan lagak
khasnya kalo merasa bersalah. Saya menghargai kejujurannya dan saya
hanya bilang pada Sofi,"Sofi, lain kali jangan suka petik-petik bunga
mama ya, kalo dipetikinkan bunganya nggak bisa dilihat lagi, jadi
jelekkan kalo berindil gitu". "Iya mama", jawabnya cepat sambil gigit
jari dan saya jadi gemas. Setidaknya saya masih bersyukur tidak menaruh
serta anggrek bulan saya yang sedang mekar juga disitu. Kalo ya?

Sofia Paska Disapih

June 1st, 2008

1
Dua minggu setelah sofia disapih, ada beberapa perubahan extreme
padanya. Saya jadi berpikir ini adalah pengaruh psikologis karena tidak
lagi nenen mamanya. Dia menjadi lebih berani dan percaya diri. Mungkin
itulah mengapa didalam Alquran pun mengisyaratkan agar anak disusui
sampai usia dua tahun.


Sore itu seperti biasa Sofia harus mandi. Tapi kali ini dia ingin
dimandiin ayahnya. Tak dinyana dia yang sudah pasti menangis
menjerit-jerit kalo mandi pake air dingin (harus air hangat) tiba-tiba
mau nyebur ke bak mandinya sambil beramain-main dengan senangnya tanpa
dosa. Saya dan suami terheran-heran, kok bisa ya?. Belum hilang rasa
heran kami, kami dibuat bengong Sofi lagi. Belum selesai berpakaian,
dia mendengar suara odong-odong dengan lagu-lagu anaknya yang khas.
Sepontan dia berteriak, "Ma odong-odong!". "Sofi mau liat?" tanya saya
dan suami, "mauu, Sofi mau odong-odong!" jawabnya tak sabaran.
Teriakannya itu tak membuat kami heran karena dia memang senang melihat
teman-temannya naik odong-odong. Hanya melihat sambil menikmati
lagu-lagu yang diputar dan keceriaan teman-temannya karena dia tak mau
naik. Kalau kami suruh naik, pegangannya akan semakin kencang dan tak
mau lepas dari gendongan kami. Anehnya, setelah selesai berpakaian,
bersama ayahnya Sofi lihat odong-odong. Saya kaget waktu ayahnya pulang
tergopoh-gopoh ambil uang ribuan. "Sofi mau naek mah! gak mau turun,
ini yang kedua kalinya!". "Hah?! dia mau naek?!". Kamipun tertawa
bersama.

2

Keesokan harinya Sofi kami ajak berbelanja di mall Kalibata. Karena
waktu sudah menunjukkan jam makan siang, maka kami putuskan mampir di
KFC nya. Seperti biasa, disana Sofi langsung bermain diarena bermain
KFC yg dilengkapi dengan seluncuran besar dan lumayan tinggi. Ada yang
lurus juga ada yang berliku. Biasanya dia hanya berlari-lari disekitar
situ. Selalu menolak bila kami suruh mencoba dengan mengangkatnya di
seluncuran. "Sofi takut mah/yah!" sambil meronta. Tapi anehnya, kali
ini dia mencoba meniti tangga lebar dan lurus yang tangannya belum
sampai untuk berpegangan pada kanan dan kirinya. Kami selalu sengaja
membiarkan Sofi berbuat apa saja semaunya kecuali yang membahayakan
dirinya. Karena gagal dan juga tak mau saya pegangin akhirnya dia
berpindah  keseluncuran yang lurus. Awalnya dia bermain dimulut
seluncuran, tapi lama kelamaan dia mencoba naik keatas lewat
seluncurannya dan berhasil. Merasa bisa, dia semakin agresif bermain.
Berkali-kali dia naik dan berseluncur. Diapun mulai penasaran dengan
seluncuran yang lebih tinggi dan berliku. Dia naik dari seluncuran
lurus lalu dengan agak takut dia merangkak naik ke tempat yang lebih
tinggi hingga mencapai mulut seluncuran berliku. Diapun jadi senang
bisa meluncur disana. Karena sudah mencoba, diapun bermain semaunya
sendiri bahkan naik lewat seluncuran yang berliku sambil dada dada pada
kami dan bernyanyi nyanyi, duhh anakkuu… Kami hanya bisa tersenyum
padanya dan menyemangatinya,"Keep going Sofia!"

3

Hal lain yang Sofi lakukan paska saya sapih adalah, dia kini memanggil
dirinya sandiri dengan kata ganti "AKU" bukan lagi "APIA (Sofia)". Ini
semakin hari semakin sering kami dengar. Saya dan suami enggak tahu
dari mana dia belajar. Padahal kalau ditanya, aku itu siapa, dia tidak
bisa menjawab dan ngomong yang lain. Contohnya, waktu saya menawarkan
teh, "siapa mau teh?", Sofi langsung jawab, "Aku mauu!! mah, aku mau
teh". Kalau dia kaget dengan sesuatu dia langsung berseru. "Kaget aku!
mah aku kaget". Kalau disuruh tidur, "aku nggak mau tidur..!", dan
masih banyak yang lainnya. Kami belum tahu apakah anak seusia dia
memang sudah menggunakan kata ganti aku untuk menyebut dirinya.

Sofia Melempar Sikat Gigi

May 13th, 2008

"Afia mau dimandiin mama!", jawab Sofi tadi pagi waktu ibuku (embahnya Sofi) menanyakan padanya mau mandi sama siapa. Beberapa hari kemaren dia memang minta dimandiin ibuku terus. Karena baru Jumat kemarin beliau datang, mungkin Sofia kangen dimandiin embahnya. Yang pasti  dia merasakan perbedaan mandi dengan embahnya dengan mandi dengan saya. Tapi selama mandi dengan embah, Sofi pasti lupa sikat gigi.

Setelah badan sudah bersih dari sampo dan sabun saya bilang pada Sofi, "sekarang sikat gigi dulu ya nak?!", "iya ma, sikat gigi", jawabnya. Saya taruh sedikit pasta gigi kesukaannya diatas sikat lalu saya serahkan dia. Sofia sudah bisa memegang sikat gigi dan menyikat giginya dengan benar untuk anak seusia dia (23 bulan) setelah saya beri contoh cara memegang dan menyikat gigi (anak ini daya ingatnya sangat tinggi dengan apa yang pernah saya ajarkan).

Awalnya dia hanya menghisap-hisap sikatnya saja (pasta gigi Sofi aman bila tertelan). "Ayo disikat dengan benar!", pintaku sambil berjongkok. Lalu dia menyikatkan sikatnya sekali saja kemudian dibuat mainan setelah pasta giginya habis dia hisap-hisap. Saya sadar saya harus tetap sabar. "Mama bantuin sikat gigi ya nak?", "NGGAK MAU!". Saya diam saja dan dia tetap main-main dengan sikatnya. "Ayo disikat yang bener! kalo nggak disikat dengan bener nanti bisa sakit gigi trus harus minum obat lho!" kataku panjang lebar dengan nada agak tinggi seraya saya ambil alih sikatnya. Namun dia bersi keras memegang sikatnya. Dia malah marah, "NGGAK MAU! NGGAK MAU! NGGAK MAU! NGGAK MAU!" dan dilemparnya sikat itu masuk ke ember. Saya diam saja. Ibu saya yang sedang didapur menimpali,"biarin saja tho nduk kalo biasanya mau, anak kecil ini." Saya tetap diam tidak menjawap kata-kata ibu saya.
Dengan tetap jongkok berusaha mata saya tetap sejajar dengan mata Sofi, saya diam dengan terus memandanginya dengan tatapan (pura-pura) sedih bercampur marah. Sesekali dengan diam juga Sofi memandang mata saya, sesekali juga dia melemparkan pandangannya ke obyek lain tapi saya tetap tak bergeming memandanginya.
Kira-kira 2 menit kami diam seperti itu. Akhirnya Sofi mengambil sikat yang masuk kedalam ember dan,"ini ma, buat sikatan Apia","Oh ya, sini sofi mama sikatin dulu ya, itu giginya masih ada sisa makanan, biar sofi nggak sakit gigi. Mamakan sayang sama Sofi, jadi mama nggak mau Sofi Sakit gigi". Saya perhalus nada ucapan saya dan saya beri alasan sejelas mungkin, karena Sofia selalu mendengarkan alasan-alasan saya. Setelah saya cium sambil berkata anak mama pinter, saya sikatin gigi sofia dengan lancar karena dengan senang hati dia Hiiiii dan Haaaaa. Selesai sikatan dia bilang,"Apia pinter ya mah? iyaaa Apia pinterrr…. tuuu gak papa kan…?", katanya sambil menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. "Iya anak mama pinter dan hebat", jawab saya.

Setelah itu seperti biasa dia minta sisa air di ember diguyurkan ke badannya. Lalu kulilitkan handuk dibadannya dan keluar dari kamar mandi. Ibu saya yang melihat dari dapur tersenyum. Saya balas senyumnya dengan mengedipkan kedua mata. Begitulah Sofi bila merasa dia yang salah.