Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung?

Bahkan Mice pun sadar dng masalah sekolah di negeri ini! @ Kompas 4/3/2012

Pertanyaan bpk ANH:

Apa dengan tidak mengajarkan ke anak (Calistung) di usia emas nya itu berarti memanjakankan anak yang memiliki kemampuan akademisnya…..

Kita khan bisa menyelipkan huruf2 ato angka2 dalam proses bermain anak. Kalau mereka mampu kenapa tidak diteruskan (kemampuan otak anak juga berbeda-beda ada yang mudah nangkap dan ingatannya tajam dan ada juga yang tidak khan Bu…..)

Jawaban:

Jd begini Pak, kami menyadari bahwa mayoritas orang Indonesia itu tdk memahami perkembangan otak anak, hal itu mengakibatkan para ortu salah mengasuh dan para guru salah mendidik. Dan apa akibatnya dr salah2 itu?

Kita bisa lihat orang tua yg seharusnya sdh dewasa bertingkah spt anak2. Banyak. Contoh gampangnya anggota DPR kita yth. Tingkahnya persis anak TK. Kerja nggak bener tp minta imbalan lebih, nggak dikasih ma rakyat tp malah ngelunjak.

Contoh ke-2, kita lebih banyak mencetak insan2 bermental pegawai bukan visioner, bukan pakar/ahli dibidang masing2, bukan orang2 yg bermental pengusaha pembuka lowongan kerja. Rakyat Indonesia tdk suka mengambil resiko kegagalan, pilih jd pegawai krn tenang mendapat gaji bulanan tp ketika di PHK kelabakan nggak punya keterampilan.

Contoh ke-3, kita terbiasa mengapresiasi rangking teratas (5/10 besar), nilai sempurna (80-100) kita jarang mengapresiasi kerja keras mereka dalam belajar. Padahal ada anak yg sudah belajar mati2an tapi mereka tetep gak dpt nilai bagus gak dapet rangking krn kemampuan mereka tdk sama dan bakat mereka pun beda2. Akibatnya? ketika UN sekolah melakukan kecurangan diamini oleh ortu (sdh terjadi bukan?) Kalau anak2 kita terbiasa dihargai kerja kerasnya bukan angka atau nilainya semata, mereka pasti menolak disuruh curang, karena mereka PD dengan hasil usaha belajarnya sendiri, tapi nyatanya…buanyakkk anak2 itu yg melaksanakan perintah memalukan itu. Dan kita sekarang pun memiliki pahlawan cilik kejujuran segala.

Para ahli otak di dunia termasuk di Indonesia semacam Indonesian Neuroscience Society sdh lama melakukan penelitian bahwa: otak anak2 itu belum berkembang sempurna(matang) hingga dia berusia 20-25th! stlh sempurna baru mereka dianggap yg namanya “Dewasa”. Bayangkan!

Otak kita dibagi 3: batang otak (diatas leher), limbik (kepala bg belakang), dan pre frontal cortex/PFC (kepala bag depan/di jidat). Perkembangan ketiganya itu pun sesuai dng urutan diatas. Jd PFC itulah yg terakhir berkembang dng sempurna dan yg menandakan seseorang mjd dewasa.

Kita pasti sdh familiar dengan kisah Rosulallah yg ketika mengimami sholat beliau sujudnya lamaaaa sekali. Lalu para sahabat bertanya: “kenapa lama? apakah Rosulallah sedang menerima wahyu dr Allah SWT?” Rosul menjawab:”tidak, cucuku tadi menaiki punggungku”. Jd beliau menunggu sampai cucunya turun dr punggungnya. Beliau tdk memberi isyarat pd cucunya unt turun. Tak spt kita, kalau kita paling dicubit itu anak hahaha.. benar bukan?

Apa yg kita petik dr kisah diatas? Rosul lebih mementingkan/mendahulukan cucunya yg sedang bermain2 ketimbang ibadahnya! Subhanallah…!

Dan apa hubungan kisah diatas dengan perkembangan otak?

Sambungan otak anak2 itu belum sempurna, otak mereka baru siap menerima hal2 kognitif pada usia 7-8 th. Sebelum usia itu, dunia mereka yg pantas adalah hanya bermain, bermain dan bermain. Dan mereka PUN tidak boleh DIMARAHI. Allahuakbar! Sebelum ada ahli otak yg meneliti, Rosulallah sudah menerapkan hal itu pada cucunya!

Lalu apa akibatnya kalau masa2 usia bermain mereka direnggut untuk belajar hal2 yg kognitif? –> Dewasanya kelak mereka bertingkah spt anak kecil: suka mengurung burung demi kesenangannya sendiri, sakit2an karena ingin diperhatikan orang2 sekitarnya, spt anggota DPR yg saya tuliskan di atas, korupsi demi kepentingan diri sendiri/keluarga/golongan dan tdk merasa bersalah malah ngeles terus di pengadilan, dannn sikap kekanak2an lainnya

Kalau kita ingin membuktikannya, ada ciri2 yang mudah kita lihat bahwa perkembangan otak anak2 belum siap untuk menerima hal2 kognitif :

(1) ketika kita membacakannya sebuah cerita/dongeng mereka akan meminta kita mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Kita yg tua sampai bosen tp dia tak pernah bosen mendengar cerita kesukaannya itu diulang2 berkali-kali berhari-hari.
(2) mereka yg antusias belajar membaca lalu bisa, tapi mereka tidak paham dengan apa yg mereka baca.

Silahkan dipraktikkan.

Kalau mereka hari ini minta dibacakan cerita A besok minta cerita B besoknya lagi C esok lagi D dan kalau mereka sdh paham dengan apa yg dibacakan, artinya otak mereka sdh siap menerima hal2 yg kognitif.

Lalu apa yg seharusnya kita ajarkan pada mereka (0-7/8th)?

1. JANGAN DIMARAHI

2. TIDAK DIAJARKAN MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG.

3. Bermain role play; memahami bahasa tubuh, suara dan wajah; berbagi hal yg memberikan pengalaman emosional, field trip, mendengarkan musik, mendengarkan dongeng,

4. Bahkan, anak usia 0-12th pengasuhan dan pendidikannya ditujukan untuk membangun emosi yg tepat, empati, (mood & feeling)

 

Jadi, aturan pemerintah tentang usia masuk SD harus minimal 7th itu bukan tanpa alasan.

Tentu boleh2 saja menyelipkan angka dan huruf, tapi tidak belajar membaca dan menulis dan menghitung.

Mudah nangkep & ingatannya tajam atau tidak bukanlah ukurannya.

Bagaimana dengan tidak mengajarkan anak calistung diusia emas diartikan kita memanjakan anak? wong dia belum bisa mikir itu sudah waktunya dipelajari atau belum :) Usia emas itu jualannya susu Formula Pak.. :) Usia emas semestinya kita artikan sebagai masa2 tumbuh kembang anak yg paling pas untuk kita tanamkan budi pekerti dan akhlak yg mulia.

Slogan TK: bermain sambil belajar, belajar seraya bemain JANGAN diartikan dng BELAJAR calistung.

Para peneliti otak diseluruh dunia sepakat bahwa PFC seorang anak belum siap untuk dijejalkan hal2 yg kognitif. Apa akibat dr pemaksaan terhadap hal2 kognitif?

– membuat anak tidak mampu menunjukkan emosi yg tepat.

– kendali emosi (intra personalnya terganggu)

– sulit menunjukkan empati.

Sudah banyak ortu yg mengeluhkan: anak2nya ketika masih usia dini sangat antuasias belajar CALISTUNG lalu ortunya merespon dengan memberikan porsi lebih banyak entah mengajari sendiri secara intensif atau memasukkannya ke les2 calistung daaannnn ujung2nya datang pada satu masa anak2 itu bosan lalu akhirnya mogok belajar mogok sekolah. mereka menjadi malas. Itu terjadi karena otaknya yg terforsir sudah kelelahan. Bahkan ada yg saat mau ujian malahan blank, nggak bisa mikir sama sekali.

Tenang, Pak… kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ini sudah terbukti.

Jadi sudah sangat jelas alasan saya tidak setuju dengan diadakannya lomba calistung untuk anak TK dan sederajat di Madrasah kita. ahh belum lagi efek kejiwaan yg dihasilkan pd anak2 itu karena mengikuti lomba2 terlalu dini apalagi calistung. Sudah terlalu panjang, kapan2 Insyallah saya tulis jg disini.

Wassalam.

 

*Pengetahuan yg saya tulis diatas saya dapatkan (sarikan) dari hasil mengikuti seminar2 parenting ibu Elly Risman, Psi dan talkshow2 serta tulisan2 Ayah Edy.

*Ini saya lampirkan Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen tentang larangan Calistung pada PAUD dan larangan ujian/tes untuk masuk SD. Silahkan di download. Bisa ditunjukkan pada sekolah yg memberlakukan syarat tes calistung untuk masuk SD dan sederajat.

 

 

43 responses to “Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung?

  1. ardiles

    Mohon maaf nih sblmnya, namun di daerah saya utk masuk sklah dasar saja musti, memenuhi syarat spt; umur 7 tahun, harus bisa berhitung dan membaca, nah kalau kayak gitu gimana? Itu sd negri, kalo swasta sih masih boleh diluar ketentuan tsb.

    Thanks

  2. cakfu

    kenyataanya jarang ada TK yg tidak mengajarkan calistung pada anak didiknya …anak saya saja kalau masuk ke SD Negeri pasti tidak diterima karena tidak bisa calistung. Untung ada SD swasta yg mau terima calon murid yg belum bisa calistung. Kemana sih perannya Kemendiknas. Sekarang jarang ada guru kelas satu SD negeri yang mengajarkan calistung. Lihat saja kurikulumnya semuanya mengharuskan murid harus sudah bisa membaca. Tidak ada lagi pelajaran membaca di kelas satu SD. Tidak seperti jaman saya dulu. Kita tentu masih ingat dengan pelajaran membaca seperti ini : ini budi …ini ibu budi …ini kakak budi …dan seterusnya …

    • Ayat Al Qur\’an pertama yang dnrtuuikan adalah perintah untuk membaca: Iqro! yang terdapat di dalam surat al-Alaq. Kemudian diulang lagi di ayat ketiga. Kemudian pada ayat keempat disebutkan bahwa Allah mengajar manusia dengan pena. Ayat kelima dikatakan mengajarkan apa saja yang tidak diketahui. Dari kelima ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan itu diawali dengan membaca. Dengan membaca orang menjadi tahu (berilmu). Kemudian kalau ilmu itu dituliskan maka berarti kita menyampaikan ilmu kita kepada orang lain. Melalui tulisan kita dapat mengajarkan kepada orang lain apa yang tidak diketahuinya. Perintah membaca dan menulis sudah ada di dalam al-Qur\’an yang dnrtuuikan 15 abad yang lalu.

  3. kl kata sy jd malah kyk lingkaran setan bu.. gak tau siapa yg mulai.. surat edaran itu sy udah pernah liat dulu, tp tetep aja pada prakteknya msh byk sekali sekolah yg melakukan tes masuk calistung utk SD. Sy juga termasuk yg gak setuju, makanya sy gak terlalu memaksa..

    • Bener mbak. Dan kitalah yang mesti memutus sendiri lingkaran setan itu :) Memang masih ada walau jarang sekolah yg tdk memberlakukan tes calistung unt masuk SD,spt sekolah alam anak saya. Fyi kami kebetulan akan pindah daerah dan didaerah tersebut kami belum menemukan sekolah yg ramah otak anak, jd kami akan meng-unschooling-kan putri kami :)

  4. din

    Jadi umur berapa ya bu yang ideal untuk mengenalkan calistung??

  5. nurjanah

    bu,anak saya usia masuk 4 tahun alhamdulilah sudah bisa membaca dan berhitung sederhana,iqronya sudah iqro 3,hapal al quran ayat2 pendek dan ayatul qursi tapi asal nya karena saya suka beli poster edukatif di tempel di kamar tidur,belajarnya sambil ngobrol dan dia suka bahkan dia sering bertanya kapan lagi kita belajar ummi,apakah langkah tersebut kurang cocok untuk proses belajarnya nanti?mohon sarannya.tq

    • Bu Nurjanah,,,sebelumnya saya beritahukan bahwa saya bukan ahlinya untuk menjawab pertanyaan ibu. Tp pertanyaan ini mirip dng milis parenting yg saya ikuti dan jawabannya begini:
      “Tdk apa bila hafal krn terbiasa & tau aplikasinya, lebih jauh asah kemampuan berpikir dgn beri kesempatan utk memecahkan masalah.” Demikian.

  6. motorkotor

    artikel menarik.. 0-8th dilarang calistung??.. sekarang masuk esde guru dah terima beres anak anak udah pandai. kl gak bisa calistung ya siap siap aja gak lulus tes.. kl kaya ya bs aja home schooling..

    • Itulah bedanya jaman dulu dng sekarang, Pak. Dulu anak sekolah biar pinter, sekarang pinter dulu baru sekolah.

      Soal homeschooling hanya bisa bagi yang kaya saya tidak setuju. Kebetulan kami sekarang malah meng-unschoolingkan putri kami. Dan saya punya banyak kenalan homeschooler family. Dr yg bpknya bekerja sbg penjual buku keliling, sampe ada yg bpk ibunya S3 alias doktor. Bagi kami para pelaku homeschooling, homeschooling adalah sebuah ideologi tentang learning (pendidikan) bukan sekedar studying (sekolah) dan bukan alternatif pendidikan.

      • siti

        mba bgni, q px masalah, selama ini q selalu survei ke tk2 terdekat di tempt tinggal sya, di sna anak2 di ajarkan menulis namun dibiarkan begitusaja. tidak dibantu untuk bagaimna cara memgang pensil yang baik, cara membuat garis yang baik, tetapi gurux hanya melihat hasilx. mmng benar dngan tidak diperbolehknnya calistung pada anak. hanya saja yang saya ingin tanyakan apakah mengenalkan cara memulai menulis awal dari memgang pensil yang baik, posisi buku dan badan yang sesuai masih diperbolehkan atau ttap tidak boleh?

  7. Pingback: Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung? | Yani Widianto | Blog Hanungbayu

  8. Pingback: Mengapa Anak TK Tak Boleh Diajari Calistung? | miracletopia

  9. rendy

    Tahun ajaran ini saya akan unschoolingkan anak saya. Saya minta bantuan utk materi dan cara melakukan homeschoolingkan anak. Terima kasih.

  10. navik

    Maaf saya sangat tidak setuju dengan pendapat anda karna mnurut saya kbiasaan it kan awalny dr kecil klo dr kecil ank tdk d ajrkan untuk bljar justru nanty besarnya dia tidak akan pandai belajar itu tidak mngenal waktu tempat Θά̲ŋ usia

  11. Guru SD kelas 1 tidak mau repot, bahkan ada yang masuk TK saja sudah di tes,haduhhhh

  12. gimana cara yg terbaik memberikan penjelasan kepada para orangtua anak didik dalam menyikapi hal ini.?

  13. Artikelnya bagus sekali mbak, saya jadi sangat menyesal sering memarahi anak saya dengan suara yang agak keras. Tapi sekolah TK tetap perlu ya?Pertanyaan saya kalo PAUD dan TKnya 3 tahun kelamaan ga?Berpengaruh ga dia nanti gedenya jadi bosen sekolah. Terimakasih.

  14. abah

    Ya ! saya sependapat Bu…
    dulu masuk SD udah gede-gede banget, 7-8 thn, ada juga yang udah berjenggot :) heee.
    pada cuek aja dan biasa aja tuh… para orangtua juga biasa aja, masing2 ngeliat sikon anaknya dan sikon duit buat biaya sekolahnya :)
    dan mulai biasa ngitung dan baca itu ya di SD, gurunya telaten ngajarin bocah2 yang bukan anaknya sampe bisa, hingga bener-bener layak dapet predikat “Pahlawan tanpa tanda Jasa”

    Sekarang, anak saya paling gede (6.5 tahun), mau masuk SD pake ditanya udah TK belum Pak ?
    Kalau belum TK ga terima, karena harus sudah bisa baca dan hitung…
    Lah ente jadi guru kelas 1, terima gajian buat ngajarin apaan ??
    Udah kebijakan katanya,,, tapi menurut saya kebijakan bisnis kali ya…

    Balik lagi juga ke mental orang tua sekarang yang paradigma-nya “kudu lebih dari” atau “ngga mau ketinggalan” dari orang lain.
    Bangga kalo anak balita-nya udah jago baca, pinter bahasa inggris walau kosa kata bahasa indonesia-nya balelol, bangga anak nenteng2 dan jago pake tablet bahkan punya facebook yang naasnya di culik orang, dll….
    Sebaliknya minder kalo udah 6 taun belum masuk SD takut dibilang bego, bangga ngeliat anak lulus di usia sangat muda dan dibilang pinter atau di atas rata2 atau indigo atau apa lah,,,,
    Tapi lupa pembentukan mental dan budi pekertinya dimasa seharusnya mereka di didik untuk itu, terlebih lupa bahwa anak2 kecil kita ya memang bermain kerjaan utamanya,sebagai media belajar berinteraksi, komunikasi, berempati, sosialisasi, belajar beremosi positif sehingga bisa rukun dan tepa salira saat besar nanti…
    Sehingga terbuktilah mental anak2 sekarang, liat dah dengan jujur sama kita semua: jarang nemu tuh bocah lewat depan orangtua pake bungkuk tanda menghormati yang tua. dan anehnya yang tua nya juga santai aja bocah2 pada begitu, sempurnalah merosotnya mental penerus bangsa kita ini.
    Siapa bilang kepintaran lebih baik dari sopan santun membungkuk tanda hormat ke orangtua, banyak petinggi negeri ini pinter2 tapi jahat akhlaknya…
    tetapi kalau anak kita tau arti sopan santun dan akhlak baik, insyaAlloh lebih bergaransi untuk tidak jahat kepada orang lain.

    mental kita para orangtua kudu di revisi lagi.. supaya anak kita nanti jadi ayah/ibu yang berwawasan dan visioner..
    hebatan orang tua kita dulu yang kaga pada sekolah, tapi akhlaknya bae bae, nurut ke ajaran yang bener, dan takut ngelanggar yang salah.
    Dengan “pamali”, “kearifan lokal” atau “kearifan pedesaan”, sukses mendidik kita.
    contoh “jangan maen maghrib2 tar di culik kelong wewe”, “jangan duduk di tengah pintu tar susah jodoh”, dll
    tapi visi misi nya jelas pengen anaknya lebih bae dari mereka dan berdoa supaya jalan ke arah kebaikannya itu adalah yang berkah, dengan cara yang hebat (pamali, kearifan pedesaan, yang walaupun kata orang ‘pinter’ itu cara membodohi anak) tapi buktinya mantan anak jaman dulu terbukti lebih berkarakter dan bae, dibanding anak sekarang yang pinter tapi blinger. Dan secara logika juga sebenernya “pamali” itu didasarkan pada akibat yang disamarkan:
    “udah waktunya sholat maghrib, cepetan sholat, jangan maen mulu”
    “kalo duduk di tengah pintu, ya orang susah lewat”

    orang sekarang pinter meniliti apa itu “pamali, kearifan lokal”, segala logikanya dibedah, tapi hasilnya anak2 sekarang jadi pada kaga lebih bae tuh, malah pada tambah kurang ajar, meremehkan metode nenek kakek dengan “pamali”nya dan dianggap kampungan, tidak ilmiah dll..
    Ko gitu hasilnya ya ? karena nelitinya ga pake hati, ga pake wahyu ilahi, dan ga pake takut sama ajaran yang bener, sehingga kesimpulannya cuma di penjelasan, bukan dari subtansi tujuan keselurahan.

    komen ini bukan keluhan karena anak saya diharuskan TK, alhamdulillah kami dikaruniai anak yang baik dan cerdas -ngga TK juga tetap pinter karena cukup porsi main dan belajar di dunia balitanya- tapi berniat saling mengingatkan bahwa kita lah orang tua yang harus bertanggungjawab ke anak dengan wawasan yang mumpuni.

    Kalau tidak berwawasan, habislah kita di ulur-ulur pemerintah/dep pendidikan yang seolah cuek aja bisa kecolongan buku anak SD ada cerita esek-esek-nya atau ada soal cerita “selingkuh” dan bla bla bla yang bikin miris hati. Ko bisa para petinggi yang pinter2 itu begitu ya ?
    Atau kita akan ludes di kadalin pabrik susu yang kudu mimum susu ini, susu itu, yang kata iklannya supaya anak kita jadi wuuuaaHHH pinternya, yang sayangnya pemerintah juga adem ayem bae yang penting ada komisi, sebodo amat para penerus bangsa pada blo’on juga :(
    padahal ilmuwan sedunia bilang yang terbaik itu ASI, bukan susu sapi serbuk apalagi susu sintetis..

    mudah2an kita para orang tua dan masyarakat nusantara mau jujur bahwa memang kita telah mengalami kemerosotan moral dan mental, dan mau bersama2 menerima adanya info dan wawasan yang membangun anak2 kita, bukan menyanggah info2 membangun tsb hanya untuk pendapat/show/kepentingan pribadi.

    Berharap kepada pemerintah seperti pungguk merindukan bulan.
    Anak2 punk di lampu merah (yang katanya ingin hidup bebas tapi mengganggu orang lain) saja didiamkan oleh Polisi yang liat tepat di depan jidat.. karena tidak bisa ditilang supaya keluar duit, dan tidak ada laporan masyarakat katanya..
    Harusnya di amankan karena keliatan pake mata mengganggu: para penumpang di angkot (ngamen tapi maksa)/pengemudi mobil (suka menggores mobil bila tidak diberi uang)/perempuan yang melintas (digoda tidak layak)/ kencing sembarangan/ kaga mandi/ dll
    gimana anak mau jadi penerus bangsa.. ??
    Gimana polisi mau jadi pelayan dan pelindung rakyat ?? dll dll dll

    apalagi ngurusin perbaikan program pendidikan, yang notabene jadi bisnis besar buat para petinggi… kayanya ngimpi kali yee…

    pun, pendapat ini masih umum, belum disarikan seutuhnya dengan ajaran Rosululloh saw karena saya awam bin bodoh binti kufar..
    bila dikaitkan dengan ajaran islam, maka semakin banyak yang melenceng di pendidikan nusantara ini dan harus diperbaiki.

    akhirnya, kita sendiri yang harus menciptakan keluarga dan lingkungan yang berwawasan tsb.
    mari waspada pada keluarga kita sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulailah dari hari ini juga, dan doa agar nusantara kita jadi lebih baik

    terimakasih
    semoga berkenan dan semoga manfaat

    • marnimsylva

      Sepakat pak…dulu akhlak nomer 1 pendidikan no.2, jaman sekarang malah dah kebalik…orangtua lebih mengutamakan gengsi jdx ank yg dikorbankan

  15. Ry-Nay

    Pendapat yg menyatakan anak TK dan SD belum dibolehkan belajar calistung sy rasa tidak sepenuhnya jg benar, krn anak2 hrs dididik dan dibina sejak dini. Hanya cara, waktu dan tekniknya yg harus dikembangkan agar lebih baik dan lebih tepat.

    • Ryu

      Saya setuju dengan Ry-Nay, kadang cara pembelajaran guru/orangtua ke anak berbeda. konsep cara membaca dan berhitung yang harus diubah. tidak diajarkan 1+1 = 2 itu salah, itu pengajaran yg KOLOT, jika anaknya hobi berhitung / membaca dan ingin tahu knp kita tidak memberikan ilmunya. masa kita larang. jika anaknya bosen ya tdk dipaksakan bukan TIDAK BOLEH DIAJARI CALISTUNG. menurut saya judul artikelnya yg harus diperbaiki. memang untuk TK yg penting anak harus merasa senang untuk pergi ke sekolah. tidak harus wajib bisa, yg penting si anak senang dengan sekolah ( pemikiran TK/paud )bahwa sekolah th bermain.. tp jgn terlalu dipaksakan hrs bisa CALISTUNG.

      mungkin judul artikelnya saja yg terlalu ekstrim :)

      jika salah mohon pencerahannya…

  16. Pendidikan yang utama bagi anak adalah pengenalan kepada Allah, apabila dia telah mengenal tuhannya dengan benar niscaya Allah melimpahkan kecerdasan baik jasmani maupun ukhrawinya…

  17. intan syafri

    Pengalaman kami sbg guru TK dimana di sekolah kami yang ditekankan adalah pendidikan karakter n budi pekerti dimana diharapkan agar seorang anak akan memiliki kematangan emosi di saat dewasa. Dengan tidak menekankan pelajaran calistung bertentangan dengan kenyataan yg ada dimana di SD kls 1 anak anak sdh harus bisa calistung. sehingga jika anak anak tidak di ajar-
    Kan calistung di TK maka anak anak otomatis tidal bias masuk SD atau akan ketinggalan pelajaran nantinya. Belum lagi tuntutan beberapa ortu yg in gin anaknya cepat bisa calistung. Padahal kalaupun anak sdh bisa membaca, apakah dia sdh bisa mengerti APA yang dipaparkan di buku cetak?apakah dia sudah mengerti perintah suatu soal misalnya?Inilah yang menjadi kendala di banyak TK di Indonesia. Semoga bisa menjadi bahan masukan untuk pemerintah spy kurikulum SD di sesuaikan dgn kurikulum TK.

  18. Harusnya depdiknasnya yg bertidak tegas,klau cm surat edaran percuma.Karena kenyataan d lapangan berkata lain,ank yg tdk bs CALISTUNG akn susah mengikuti pelajaran di kelas 1 karena kurikulumnya sangat susah kl anknya blum bs calistung.Terus yg ngasih kurikulum siapa,bukannya dr depdiknas juga?Terus siapa yg hrs d slhkan kalau bgitu,walpun ortunya mengerti kl msa balita tdk d perbolhkan bljr calistung tapi tuntutan kurikulumnya SD hrs bs calistung.Pasti org tua tdk mau anknya g bs mengikuti pelajaran,bhkan smpai tinggl kelas gr2 gk bsa calistung.Jd mhon jgn mnylhkn pra ortu..anda2 yg pintar2 benahi dlu sistem pendidikan dan kurikulumnya.Kalau sudah sesuai dg apa yg d katakan d artikel,psti ortu jg tdk mmaksakan ank2nya untuk belajar calistung.Terimakasih…

  19. marnimsylva

    Betul bu intan, akibatnya ank2 sd saat menjawab soal test lebih sering bingung krn mereka bisa baca tak mengerti maksudnya. Apa jwbn yg diminta oleh soal.
    Yang saya amati pula dr cara ank2 saya menjawab soal, mrk cemderung menjawab secara pendek2, sehingga klo jawabanx meski benar terasa kurang mengena. Tdk seperti cara saya tempo dulu wkt sekolah dimana cara menjwb soal essai adalah dgn menyertakan bagian dr pertanyaannya, sehingga kedengarannya lebih klop.
    Kalau saya menanyakan kenapa cara jawabx pendek2…mereka bilang mmg begitu karna gurunya nyuruhnya begitu.
    Kadang rasanya sistem pendidikan yg jadul dulu lebih enak drpd yg sekarang.

  20. Setuju buanget ama artikel ini. Lucunya di daerah saya tk belajar bahasa inggris seperti kewajiban. Karena masuk sd ada tes bahasa inggris. Indonesia perlu berbenah bukan hanya revolusi mental untuk guru da penyelenggara pendidikan, tetapi juga revolusi kurikulum. Maw di jadikan apa penerus bangsa ini, INGAT penerus bangsa ini salah satunyammerupakan anak cucu anda. Tulisan ini wajib di share dan dbc kan agar indonesia lebih mawas. Kalo mau komen negatif silahkan buat anda sendiri. Buat guru tk jangan tersinggung tp jadikan sebagai koreksi, saya guru tk juga kok.

  21. Amalia ulfa

    kurikulum 2013 sudah mulai jalan kok tahun ini yg memntingkan sikap akhlak dan budi pekerti 80% ilmu pengetahuan 20 persen. sempet ada rapat ortu dengan diknas tujuan kurikulum ini adalah membentuk generasi indonesia emas dimana anak akan lebih terbentuk sikap dan akhlaknya kelak dewasanya menjadi generasi yg jauh lebih baik lagi. fyi kurikulum kaya gini sudah dipake diluar negri puluhan tahun yg lalu. coba deh jalan2 kesekolah singapore pada saat jam istirahat cuci tangan antri tangan dilipat subhanallah disiplin banget tujuannya biar gag saling dorong satu dengan yg lain (bandungkan dengan sekolah disini lari2an ujung2nya main air ). Contoh budaya barat yg baik2nya. Dijepang service exelent untuk retail. disuiplin penduduknya pun sangat tinggi perhatiin deh kalo org jepang ambil barang trus gag jadi beli dia akan kembalikan barang tersebut ditempat asalnya. Semua terjadi gag begitu aja mereka dididik disiplin dari dini, akhlaknya oke terbukti dengan prakteknya.

    Pendapat mba yani memang terbukti saya merasakan, angkatan saya sd tanpa tk oke kelas satu baru belajar baca ini ibu budi, saya sendiri alhamdulillah sudah bisa membaca dan membaca alquran sebelum masuk sd karena terbiasa dengan linkungan kakak2 saya. saya yg berkeinginan belajar jadi tanpa dipaksa.
    Kalau saya bandingkan dengan ank2 saya ampuun maesti super ngejar ngedidik akhlaknya sempet bangga si tk aja udah bisa berhitung puluhan diluar kepala krn saya masukin les sempoa cuma saya rada keteter dengan sifat egois tdk begitu peduli dengan sekitar, ngerapihin kamar mesti ngoceh ampe 3x baru didenger. mungkin itu karena saya mengedepankan ilmu pengetahuan ketimbang akhlak. Berbanding terbalik dengan cara didik ortu saya.

    Intinya mengedepankan akhlak dan disiplin lebih penting, bisa efek kesemua baik dilingkungan sekolah, rumah, maupun pekerjaan.

    Salam

  22. dhiey

    saya setuju dengan postingan mba yani ,, saya begitu ingin menulis tentang pendidikan mental dan budi pekerti untuk kurikulum 2013 …
    terima kasih

  23. Ibu bilang kitalah yg hrs memutus lingkaran setan itu, tp kl semua sekolah adalah lingjaran setan, lalu bagaimana kita memutusnya? Kl Home schooling apa dapat ijazah yg bisa diakui setara ijazah sekolah umum? Kl kita mengikuti aturan anak tk tidak diajarkan calistung, sementara saat dia masuk sd, dia akan minder krn teman2nya semua sudah bisa calistung, bagaimana memutus lingkaran setan ini tanpa harus home schooling?

  24. Mbak Yani, file pdf-nya kok kagak bisa diunduh ya….

  25. ida

    Bagus artikelnya….membuat qt guru TK pingin segera bertaubat…. BUT kalau tobatnya bukan tobat nasional…qt bs jadi kambing hitam juga…. jangan masuk TK itu…tdk akan bs masuk SD misanya…gmn…….

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: