Sofia Tak (Belum) Jadi Punya Adik

dia pergi saat ku sampai pd Surat Al-Rahman. dia coba mengingatkanku bahwa Dia sungguh Mahapemurah walau ada yg Dia ambil dariku

Sofia 'n sepupunya, adek Gendis.

Sofia 'n sepupunya, adek Gendis.

Sebelum memutuskan mudik, saya menemui obgin untuk pemeriksaan rutin sebulan sekali karena masih trimester pertama. Saat di USG, dokter bilang usianya 7 minggu. Saya protes, kok 7 minggu? Konsultasi terakhir sebulan yang lalu saja sudah 5 minggu. Harusnya sudah 10 minggu. Dokter diam saja dan mengukur ulang janinku juga mencoba mencari detak jantung yang tak juga terdeteksi. Lalu dia menjelaskan gambar di layar bahwa ini adalah plasenta yang menyalurkan makanan ke janin. Saya pun tak cemas.

Flek yang Mencemaskan

Di rumah embah, Sabtu, 26 Desember malam saya susah tidur karena saya mendapati bercak kecoklatan di cd saya. Saya berusaha tenang jadi saya tak beritahu suami juga ibu saya. Esok paginya saya lega karena tak lagi kutemui bercak semalam.  Tapi sore bangun tidur siang, kembali saya dapati bercak dengan warna yang sama. Ooh. Saya pun bilang ke suami dan ibu saya. Ibu langsung panik meminta saya pergi ke bidan dulu saja yang kebetulan se-RT dengan kami.

Malam itu hujan sangat deras sekali mengguyur. Menjadi alasan yang kuat bagi saya untuk menolak anjuran ibu pergi ke bidan. Saya bilang, kita lihat besok saja dulu. Mereka pun mengiyakan dalam diam. Semua kepala penuh prasangka. Apakah saya kecapekan menjalani perjalanan panjang enam hari yang lalu?

Esok paginya, hari Senin, bangun tidur, lagi-lagi ada flek disana. Saya sangat khawatir. Karena flek itu tak berwarna coklat tapi merah darah segar. Tanpa pikir panjang kami putuskan mencari dokter kandungan. RS Dr Oen Solo Baru menjadi tujuan utama kami. Atas referensi beberapa keluarga dan tetangga yang ditanyain ibu saya yang panik, RS Oen memiliki banyak pilihan dokter kandungan yang bagus.

Apa Kata Dokter?

Pukul 6 pagi kami sudah meluncur ke RS Oen setelah sarapan. Diiringi doa oleh kedua orang tua saya yang nampak kecemasan diraut muka mereka. Ternyata pendaftaran buka pukul 7 dan dokter datang pukul 8. Tapi pukul 8.45 dokter baru masuk ruang prakteknya. Dokter yang kami pilih adalah dr Kandung Bowoleksono, Spog alasannya hari ini beliau dokter terpagi yang praktek.

Setelah bilang ada flek di kehamilan minggu ke 11 ini, saya langsung di USG. Hasilnya, tak ada detak jantung juga dari janin saya. Dokter bilang setelah diukur menunjukkan usia janin 9 minggu. Saya pun katakan hasil konsul dengan dokter saya di Jakarta. Dia sempat meninggikan suaranya saat tahu kalau tidak ada detak jantung di usia 10 minggu. Katanya sejak 5 minggu detak mulai ada walau lemah. Dan 8 minggu detak sudah sangat kencang. Jadi kalau sampai 10 minggu detak tak juga ada, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan sang janin. Beliau juga bilang kalo flek itu cara sang janin memberikan tanda tentang keadaannya.

Dokter Kandung memvonis saya mengalami Blight Ovum (BO) yaitu kehamilan kosong. Dimana alat penyangga kehidupan bayi ada yaitu air ketuban dan plasenta tapi janinnya tidak berkembang melainkan semakin mengkeret. Buktinya seharusnya sepanjang janin 11 minggu tapi dia cuma 9 minggu.

OH! Begitu reaksi saya sebelum bertanya apa itu BO. Anehnya saya merasa kosong. Tak sedih sedikitpun. Jadi begitu ya? (keadaan kandungan saya) begitu pikir saya. Tapi ketika dokter bilang bahwa saya harus dikuret, baru saya berkaca-kaca menahan airmata luruh. Tapi saya tetap tabah. Buktinya tak ada air mata yang jatuh. Hanya tarikan nafas panjang agar saya lancar bertanya lebih banyak pada dokter. Saya tak tahu apa yang dipikirkan suami. Saya tak tega memandangnya. Dan saya tahu dia memandangi saya.

Saya tanyakan ke dokter, apa yang terjadi kalau tidak dikuret dan biar dia keluar sendiri? Karena saya merasa nyeri mendengar kata kuret. Beliau bilang bisa keluar sendiri tapi tetap harus di kuret biar bersih.

Dokter pun memberikan opsi: Apakah ingin diperyakin dengan USG transvaginal? Atau menunggu dulu seminggu dua minggu? Atau kalau besok mau kuret juga nggak papa. Tapi kalau dikuret dibius total kan dok? Tanya saya. Ohya tentu. Jawabnya menenangkan saya.

Karena kami tak tahu harus memilih yang mana, sayapun meyakinkan suami untuk pulang dulu biar bisa berpikir jernih. Suami lebih banyak diam ketika saya lebih banyak bicara dengan dokter. Kamipun diberi dokter surat pengantar jika sewaktu-waktu memutuskan kuret.

Dalam perjalanan pulang mata sayapun meleleh. Bukan apa-apa. Saya merasa langsung ikhlas ketika dokter bilang janinku tak berkembang dan harus dikuret. Saya menangisi Sofia yang sangat menginginkan kehadiran seorang adik ini. Saya teringat kata-katanya beberapa waktu yang lalu sebelum saya hamil.

Ma, aku ingin ada orang lain di rumah ini.

Maksudnya nak? Kan sudah ada om Taqim? (jawab saya seraya berpikir apakah dia kesepian di rumah)

Bukan, Maa… Aku pengen punya adek.

(Ohh Sofiaa)

Tapi saya segera menghapus airmata ini. Saya nggak mau mengganggu konsentrasi suami yang sedang nyetir.

Mencari Opini Kedua

Sampai di rumah bapak dan ibu sudah menunggu dan mengharapkan segalanya baik-baik saja. Saya tak tahu harus berkata apa. Sambil menahan airmata, sambil masuk kerumah saya bilang lirih “harus dikuret”. HAH?! Astagfirullah… dan entah apalagi reaksi mereka. Saya lihat bapak yang berkaca-kaca sedang menungguin saya yang sedang menangis di dalam rumah. Saya pun bilang. Saya nggak papa kok, pak. Saya cuma kasian sama Sofia…

Rupanya tadi pagi ibu saya sudah menelepon eyang Sofi menceritakan rencana kejutan kami yang sepertinya akan tertunda. Suamipun kembali mengabari keluarga Jombang. Adiknya yang di Malang memberi saran untuk mencari opini dokter lain. Katanya ada temennya yg begitu juga tapi dokter ke dua bilang baik-baik saja dan juga akhirnya lahir sehat wal afiat.

Saya pikir seminggu yang lalu dokter di Jakarta bilang 7 minggu, seminggu kemudian dokter di sini bilang 9 minggu. Saya merasa ada harapan bahwa janinku sebenarnya berkembang. Saya pun mengiyakan ajakan suami mencari opini kedua.

Sore itu juga kami ke dokter Ahmad Sutamad, SpOg yang praktek juga di rumahnya selain di RS Dokter Oen Solo Baru. Hasilnya? Idem. Menguatkan analisa dokter Kandung. Ya sudah semua harus ikhlas. Ibu saya yang mendengar sendiri apa kata dokter Ahmad juga jadi percaya dan hanya pasrah.

Akhirnya saya memutuskan untuk kuret besok pagi dengan beberapa pertimbangan yaitu kalau memang harus dikuret lalu apalagi yang ditunggu? Saya nggak tau kapan janinku akan gugur keluar sendiri, ini lebih mencemaskanku; kalau nunggu kuret di Jakarta akan merepotkan ibuku yang pastinya ngotot ikut padahal bapak sedang tak sehat; dokter Kandung bilang 1 – 2 jam setelah kuret bisa pulang dan pemulihan paling 2 hari. Ya sudah, berarti kalau saya kuret besok pagi saya masih bisa pulang sebelum tanggal 3 Januari karena tanggal itu Sofia kembali masuk sekolah.

Kuret

Selasa 29 Desember. Jam 8 pagi saya diantar Sofia dan ibu dengan disopiri suami kembali ke RS dr Oen untuk kiret. Mbah kakung (bapak) pilih tinggal di rumah. Beliau takut nggak bisa menahan air mata. Kata-katanyalah yang lebih membuat mata saya memerah.

Setelah suami selesai mengurus pendaftaran dan ini itu akhirnya saya menjalani proses untuk kuret. Pertama sampel darah saya diambil. Kemudian diberi obat transvaginal untuk merangsang pembukaan yang berlaku tiap enam jam sekali. Hah?! Seperti melahirkan normal dong kalau begitu? Para suster dan dokternya sih cuma berdalih agar lebih mudah memasukkan alat kuret dan saya tidak banyak menghabiskan obat bius nantinya. Ahh cuma untuk menenangkan hati saya rupanya. Nyatanya obat induksi itu diberikan sampai 2.5 kapsul (setiap pemberian 1 kapsul). Ini mah namanya induksi. Karena setelah kontraksi selama 4 jam akhirnya pecah ketuban dan sejam kemudian segumpal darah yang tak jadi mewujud bayi itu keluar tepat pukul 24:15.

Ahh rupanya dia sebenar-benarnya sayang aku, ibunya. Karena dia lahir sama dengan wetonku, Rabu Legi. Must be a good baby : )

Keesokan harinya, pukul 8 pagi baru saya didorong ke ruang operasi minor untuk dikuret. Pertama paha saya di suntik hanya terasa cekit sedikit. Dan semuanya berjalan sangat cepat secepat si suster bilang, “Infusnya saya suntik ya, buu”. Seketika rasa panas menjalar di tangan kanan saya dan saya menangis kesakitan. Saya tidak malu lagi untuk menjerit. Panasnya minta ampun!

Ternyata itu adalah suntikan bius. Nyatanya bangun-bangun saya masih nangis tapi kok kata suami sudah selesai? Loh, sudah tho? Perasaan saya nangisnya lama, ternyata setelah biusnya hilang saya kembali nangis. Tapi saya menangisi Sofia yang tak (belum) jadi punya adik L begitu kata suami dan ibu saya yang nungguin saya sampai sadar. Maafkan mama, Sofiaa…

Sekepal Raga Tak Terpeluk

Sekepal Raga Tak Terpeluk


Sekepal raga itu tak terpeluk
Lupakan tangisnya
jangan kau tangisi

Sekepal raga itu tak terpeluk
Kenangan yang kau ratapi
adalah luka yang kau buat sendiri

Sekepal raga itu tak terpeluk
Memang bukan milikmu!

Sekepal raga itu tak terpeluk
Setidaknya telah kau genggam
sebelum kau kembalikan

Sekepal raga itu tak terpeluk
Demi waktu,
waktunya abadi dalam pelukan-Nya

.:Untuk anak ke-2 ku yang 11 minggu kupeluk dalam rahimku.

Cerita (Senang & Sedih) Libur Akhir dan Awal Tahun

Horee! Sofia libur 2 minggu. Libur akhir semester pertama plus libur natal dan tahun baru. Saya dan suami pun sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan untuk memanfaatkan libur panjang ini.

Rencana pertama dan satu-satunya adalah pulang kampung :). Alasannya, kita, khususnya suami pengen nyobain nyetir sendiri dari Jakarta ke Solo. Suamipun sibuk ke bengkel dengan si Singa. Mesra banget deh dua makhluk berbeda itu. Ada cacat setitik di cat body aja, kesannya panik gitu ngadepinnya hahaha.

Ijin Obgin

Kepastian jadi pulang kampung apa enggak kita gantungkan pada dokter kandungan saya, dr Soemanadi yang praktik di Pavilium Kenanga, Pondok Pinang. Kehamilan yang baru masuk bulan ketiga trimester pertama ini menjadi prioritas kami. Setelah hari Sabtu kami gagal bikin janji dengan obginku, akhirnya hari Senin kami bisa bertemu.

Setelah menasehati makanan apa yang perlu saya konsumsi, dokter pun bilang nggak papa kalau mau mudik. Asal jangan terlalu capek. Ukuran capek itu hanya ibunya sendiri yang tahu. Begitu kata dokter.

Wokeee dehhh… akhirnya kita positif mudik. Mentang-mentang bawa mobil sendiri, masalah packing santai-santai saja. Karena nggak harus mikir ngatur bawaan di dalam koper. Akhirnya malam itu juga saya yang kebagian packing super cepat segala sesuatunya kecuali gadget n alat tempur suami lainnya alias perlengkapan kerja dia.

Meluncur Ke Solo

Habis subuh jam 5 pagi hari Selasa, 21 Desember 2010, kami start dari rumah. Mampir dulu ke Shell Bintaro buat isi bensin full tank dan cek angin ban. Setelah itu baru kami melakukan perjalanan yang sebenarnya.

Hati kami semua dipenuhi kegembiraan yang tiada tara. Karena ini kali pertama kami mudik dengan berkendara sendiri. Secara psikologis kami sangat menikmati perjalanan panjang ini sehingga kami tak merasakan lelah yang berarti sampai tujuan, rumah embah.

Begitupun Sofia. Putri kami yang baru berumur 4.5 tahun ini mau duduk sendiri di jok belakang dari rumah Jakarta sampai rumah embah di Solo! Luar biasa dia. Setelah diberi pengertian, tanpa protes sedikitpun dia enjoy menikmati perjalanannya dari jok belakang. Anak hebat! 🙂

Jam menunjukkan pukul 23.30 malam saat kami tiba di rumah embah. Total perjalanan kami adalah 16.5 jam dikurangi waktu istirahat hampir 5 jam. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat walau hampir tengah malam sampai tujuan.

Nikmatnya di Rumah Embah

Yuhuuuu! Di rumah embah selalu menyenangkan. Tiap pagi kami sarapan bubur lemu. Soal cuaca sama saja. Sebentar panas sebentar mendung sebentar gerimis tak lama hujan. Tapi anginnya lebih bersahabat. Tak seperti di Jakarta yang anginnya sembribit dan dingin. Nggak enak banget deh pokoknya.

Di rumah embah bisa sering-sering beli serabi notosuman dan makan ayam goreng mbah Karto. Nongkrongnya di depan rumah di bawah po on mangga sambil ngerumpi ngalor ngidul bikin betah hehehe. Asik deh pokoknya. Yang teristimewa, setiap hari dibikinin mbah kung wedang teh anget yang sedap! Nasgitel gitu deh 😀

Kami pun baru sadar kalau perkiraan kelahiran adek Sofia di bulan Juli yang artinya lebaran kami nggak bakalan mudik. Kamipun mantap untuk mengunjungi eyang Sofi di Jombang hari Senin, 27 Desember selepas lohor. Rencananya kami ingin memberikan kejutan kepada eyang Sofia dengan tidak mengabari rencana kami ini.

Tak Jadi ke Rumah Eyang

Rencana tinggal rencana, Allah SWT yang mahamenentukan segalanya. Kami tak jadi berikan kejutan untuk eyang karena ternyata saya harus kiret. Sedih iya tapi sebatas ungkapan saya sebagai manusia biasa. Menangis tentu saja karena saya adalah calon ibu dari anakku kedua. Tapi semua saya ikhlaskan dan serahkan kepada Allah SWT sesaat ketika saya mendengar kata kiret dari dokter. Karena Dia pemilik segalanya.

Pulang

Jadinya kami di rumah embah selama 10 hari nih. Tiga hari setelah saya kuret, kami kembali pulang ke Jakarta. Ternyata pulangnya lebih capek. Tapi saya kira karena factor psikologis aja sih. Lama perjalanan cuma lebih lama 1 jam :). Bedanya sampe Solo jam 1/2 12 malam, sampe Jakarta jam 1 malam hehehe. Yaa begitulah cerita liburan awal th 2011 dan akhir th 2010 keluarga kecil kami.

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: