Libur Tlah Tiba… (2)

Ya, setelah puas dengan panorama di GWK, perjalanan kami berlanjut menuju arah uluwatu. Kurang lebih 1/2 jam bermotor menyusuri jl raya uluwatu, kami sampai juga diujung jalan panjang ini. Dipintu gerbang menuju pura Luhur Uluwatu ini kami di tarik uang masuk 1000 rupiah satu motor. Kami tanyakan ke bapak penjaga tentang arah menuju pantai Suluban, “o belokan kekiri itu ikutin saja terus” yang artinya sebelum sampai pintu gerbang ini tadi ada belokan kekanan. Uang masukpun tak jadi ditarik karena kami putar balik ke suluban dulu, lagian waktu masih menunjukkan pukul 4 sore padahal tari kecak dimulai jam 1/2 6 an kabarnya.

The Awesome Suluban

Kami terus melipir dikiri jalan ini, ada pertigaan jangan ambil yg kekanan karena itu mengarah ke pantai padang padang. Jalan mentok. Tak ada kerumunan yang mencolok yang menandakan disitu gerbang menuju pantai. Hanya ada kurang dari 10 sepeda motor disana sebagian komplit dengan ragangan disebelah kanan tempat pengendaranya membawa papan selancar, dan dua atau tiga buah mobil terparkir. Suasananya begitu asing. Yang membuat ada bau pantainya hanya dua pasang bule yang baru muncul dari jalan menurun dengan rambut basah dan badan bermandikan peluh menuju motor mereka.

Untuk meyakinkan diri, kami bertanya kepada sekelompok ibu-ibu yang pas pulang baru kami ketahui bahwa mereka yang menarik uang parkir dan juga jualan minuman dan baju. Padahal tak satu helai kainpun mereka pajang. “ya lewatnya sini mbak”, kata mereka.

Kami menuruni jalan yang bertangga sangat banyak dan melelahkan, awalnya bukit2 terjal tampak di kanan jalan, tapi kemudian disebelah kirinya juga, komplit dengan monyet-monyet bergelantungan. Setelah sampai dijalanan landai kurang lebih 100 m, kami dibuat gamang dengan jalanan yg menurun tajam! dan sangat curam dan harus melewati lorong. Suami yang menggendong Sofi bahkan tak berani turun, saya yang menggendong tas menyatakan berani. Tapi karena suami tak mau turun dan mengusulkan balik, saya sewot. Udah kepalang tanggung. Dan untuk balik mendaki tangga yg panjang dan menanjak lagi tanpa mendapatkan apa-apa rasanya rugi. Tapi saat saya lihat lagi jalanan dibawah sana saya juga jadi ragu. Melihat bule-bule yang naik dengan enaknya sambil membawa papan selancarnya kami termotivasi. Pasti ada sesuatu yang luar biasa di balik sana karena pantai terhalang oleh tebing yang membentuk lorong dibawahnya. Kami penasaran.

Sofi saya ambil alih bertukar dengan tas punggung kami. Sandal ditenteng dengan bismilah saya turun duluan. Sialan, saya yg gak pobia ketinggian jadi gemetar lutut saya karena gendong Sofi. ditengah jalan kami bertanya pada bule ganteng yang berpapasan dengan kami. “How’s the wave sir?” “ough awesome!” jawabnya antusias dengan terengah-engah dan makin meyakinkan kami.

Sampai bawah setelah melewati lorong kami mendapati pemandangan yang luar biasa INDAH!
Pasirnya putih bersih berbulir-bulir, airnya yang jernih dan berkilatan ditempa sinar matahari, tebing-tebing tinggi yang menjadi bingkai bibir pantai ini, suasana yang jauh dari kata ramai, ombak besar yang ditunggangi para peselancar di jauh sana, bule-bule berjemur dan ada juga yg topless hehe. Saya dan suami yang karena gak bisa berenang dan gak suka pantai langsung menyatakan jatuh cinta pada pantai satu ini saat itu juga hehehee…

Keinginan mandi dipantai langsung menyergap. Sayang sekali Sofi takut dengan air. Saya sedih. Tiap kali saya masuk air dia meraung. Lagi-lagi saya sedih. Sedih sekali. Kami berjalan kearah timur dibalik tebing lain. Hanya ada satu dua orang. Saya ajak Sofi bermain air tetap tak mau. Dia erat mendekap saya. Saya turunin ke pasir tidak mau. Saya gemas. Saya pancing mainan pasir, dia tertarik dan akhirnya mau turun. Saya mendekat keair dan saya lihat sekelompok ikan-ikan kecil diceluk. Saya bilang Sofi ada ikan dan saya ajak melemparinya dengan pasir dia tertarik. Saya lega tapi tetap tak mau masuk air lebih ketengah. Payah.

Sampai pukul lima lebih kami disuluban, kami bergantian masuk ke air, bermain pasir sepuasnya dan mencari kerang yg cantik-cantik. Kami sempat bercakap dengan bule yg akan berselancar, diantaranya datang dari kepulauan karibia, waow! rasanya enggan meninggalkan pesona suluban tapi waktu memaksa kami mentas dari air, kami harus mengejar jam tayang kecak dance.

Kecak Dance in Action

Dipinggir tebing ujung selatan pulau Bali ini tarian itu dimainkan. Dengan latar belakang hamparan laut biru dan pemandangan sunset yang cantik membuat pertunjukan ini jadi luar biasa dimata kami. Dengan membayar rp50rb per orang kami dapat menikmati kurang lebih satu jam pertunjukan tarian api ini.

Ohya, setelah bayar karcis masuk area uluwatu ada anjing yang mengejar motor kami. huhuhu saya takut sekali. untung orang-orang disana segera mengusirnya dengan melempar batu. Satu pemandangan yang tidak saya sukai di Bali adalah banyaknya anjing-anjing buduk yang berkeliaran, apalagi sempat pula mengejar kami.

Hari telah gelap saat kami meninggalkan Uluwatu. Perjalanan kami adalah balik kearah Kuta dan untuk makan malam kami berencana makan di Jimbaran yang terkenal dengan bakar-bakaran seafoodnya. Kami kebablasan, padahal jalan ke Jimbaran adalah belokan kekiri yg barusan kita lewati. Karena kami ragu apakah benar jalan tadi ke arah jimbaran maka kami memutuskan berhenti dan bertanya pada beberapa satpam di pintu gerbang Bali Intercontinental resort. Untung kami bertanya, memang benar itu jalurnya tapi hari ini tempat-tempat makan di Jimbaran tutup semua dan sepi karena masih banyak yg merayakan Galungan. Mendengar itu kami kecewa tapi juga senang. Kecewa karena nggak jadi mencicipi seafood Jimbaran, senang karena kami bertanya dulu bukannya langsung kesana dan kecewa ditempatnya heheheh.

Ya sudah, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Sampai diarea kuta kami memperlambat laju motor untuk menikmati suasana. Sampai di depan Bubba Gump jl raya pantai kuta, kami memutuskan untuk mengganti seafood Jimbaran ke sini 🙂 disamping itu suami ingin membandingkan masakan dan harganya dengan bubba gump di orlando yang pernah dia singgahi beberapa bulan yg lalu. Anda yang suka atau pernah nonton film Forest Gump pasti ngerti istilah bubba gump, bubba adalah teman Forest Gump yg terobsesi dengan udang heheheh.

Karena sudah malam bagi sofi (jam 10), maka kami memutuskan balik ke hotel untuk mandi dan lalu istirahat.

Masih berlanjut di posting berikutnya ya, soalnya keesokan harinya kita gak ngapa-ngapain di Bali, bingungkan?!

Libur Tlah Tiba…. (The Joy of Bali)

Tahun 2008 ini kami awali dengan liburan ke pulau Bali tanggal 22-25 januari kemarin, sengaja nggak lama-lama karena kami bawa sofi yang baru berumur 1 th 7 bulan, takut dianya kecapean. Mulanya karena ada promo dari Airasia, so kamipun tak melewatkannya. Karena ini liburan keluarga, kamipun menyiapkan segala sesuatunya sendiri, dari booking pesawat, hotel sampai sewa mobil kami cari sendiri lewat internet. Awal Desember saya dan suami memesan tiket secara online (2 adults + 1 infant only 1.200.000 PP) dan baru memesan penginapan pada pertengahaan Januari yg mendekati hari H kami menggunakan jasa indo.com yang lumayan lebih murah dibanding layanan online booking hotel lainnya. untuk sewa mobil kami telah memegang no. telp bli Komang sebagai jaga-jaga, karena kami belum pasti apakah mo sewa mobil ato gimana hehehe…

Liburan ini kami tak ingin terikat dengan jasa-jasa tour. kami ingin bebas fleksible kemanapun dan berapa lama mengunjungi tempat-tempat wisata disana. Peta Bali pun kami cari di internet dan di Gramedia (baru tahu ternyata di Balinya sana peta-peta gratis :D).

Setelah pikiran terkuras untuk menegerjakan soal-soal ujian UAS, liburan akhir semesterpun akhirnya tiba…

Selasa tanggal 22 pukul 17.50 kami bertolak ke Bali dari Cengkareng, sampai disana pukul 21.00 waktu Bali (perbedaan waktu Jakarta-Bali 1 jam). Kami langsung menuju hotel Vilarisi dikawasan Kuta Melasti  dengan taksi (taksi bandara gak pake argo,
untuk kawasan Kuta rp.50.000). Sampai hotel setelah sedikit bebenah kami jalan-jalan ke pinggiran pantai kuta sambil cari makan. kami sempatkan mampir ke pantai. Malam ini tepat bulan purnama suasana pantai yang hening dimalam hari disertai gemuruh ombak membuat saya sedikit merinding, bahkan Sofia ketakutan, awalnya dia tidak mau turun dan terus mendekap saya tapi akhirnya dia mau duduk dikursi yg ada dipingir pantai. Acara foto-foto pun tak terlewatkan.

Tidak lama kami disana hanya sebagai pemanasan dulu mengenali suasana Bali, kamipun kembali ke hotel dan dijalan kita menemui masakan padang, suami yg masih sedikit laparpun membeli sebungkus nasi rendang hmmm…

Nonton Barong

Esok paginya 23 Januari kami bingung, sedikit bingung. ternyata hari ini hari pertama HARI RAYA GALUNGAN. yang artinya tempat sewa mobil ataupun motor semua tutup kecuali udah booking jauh-jauh hari kata pegawai hotel. Padahal acara kami pagi ini nonton tari barong jam 10 di Uma Dewi jl. WR Supratman Denpasar.

Kamipun berjalan kaki menyusuri jalan melasti lebak bene mengarah ke pantai kuta, dijalan kami bertanya pada bapak-bapak yang menunggui kiosnya, beliau bilang kalo mau sewa motor nanti datang lagi saja jam 11an siang, karena semua penyewa libur. kamipun memutuskan naik taksi untuk nonton barong.
Rupanya kami kurang beruntung dengan supir taksi ini, karena dia tidak tahu letak Uma Dewi yg saya dapet dari blognya mbak Renee, pak supir yg asli bali ini taunya yg di Batu Bulan yg artinya letaknya lebih jauh. Setelah memasuki jalan WR Supratman kamipun memutuskan untuk turun dan hendak mencarinya sendiri dengan jalan kaki, toh Sofi senang jalan-jalan diatas strollernya.

Panas, tapi kami tak patah arang, niat untuk berpetualang di Bali udah dibawa dari Jakarta. kalau nggak begini nggak bakalan kenal daerah Bali hehehe. pertama kami bertanya pada penjaga kios pakaian yg baru buka dan inti jawabannya adalah kurang tau dengan senyumnya yg ramah disusul ungkapan kalau jalan wr supratman masih jauuuh sekali batasnya.
kedua, kami bertanya beberapa pemuda-pemudi yg sedang menunggui kios bensin eceran+isi pulsa, jawabannya sama dan senyum ramahnya juga sama dan "jauuhh-nya" juga sama, apa karena sama-sama orang bali ya? heee.

Makin panas rasanya matahari. Ternyata benar nasehat-nasehat diinternet kalo orang Bali tuh gak ngerti daerahnya sendiri. Katanya, bisa diitung orang Denpasar yg tau Kuta semacam gitu deh, weleh weleh.. dan kami tetap belum patah semangat tetap berjalan menyusuri wr supratman.

Ketiga, didepan kami melihat pengendara vespa sedang isi bensin di kios eceran dan kamipun bertanya, dan jawabannya: beliau meminjam peta kami menunjuk jalan waribang, menyuruh kami naik angkot kuning, turun diperempatan dan jalan kekanan 200 meteran.
Alhamdulillah,,senang rasanya dapat petunjuk disaat saat yang diinginkan hehehe. Akhir kata, beliau ternyata dari bandung dan merantau kesini jualan korden. aduh pak.. nuhun sanget. moga2 jualannya laris manis tanjung kimpul.
Kamipun menunggu angkot atau taksi, mana yg duluan deh. 15 menit menunggu rasanya seharian, taksi tak pernah nongol di Denpasar ini tanpa dipesan ternyata dan angkot sempat kelewatan satu karena gak tau angkotnya gimana, soalnya jarang juga, dan angkot keduapun didapat tapi penuh! ayahnya Sofi malah sampai duduk didepan pintu sambil megangin stroller hehehe..

Gak sampe 10 menit akhirnya sampai juga di perempatan waribang dan waktu sudah menunjukkakn jam 10 kurang 2 menitan, dipojok perempatan ada tertera tulisan segede gaban: BARONG DANCE 200 M, KECAK/FIRE DANCE 500m.aduh orang Bali emang bener-bener cuek yah. Kami berjalan cepat-cepat, Sofi digendong ayahnya saya pontang-panting dorong stroller hihihi.
Suara gending terdengar dan hati rasanya mak nyess hehehe, barong telah dimulai, bayar 100 ribu berdua (batita gak keitung), kami masuk dan mencari tempat duduk. Syukurnya kami hanya telat 2 menitan. luarrr biasa..

Kami sengaja memilih obyek-obyek wisata yang dimata sofi menyenangkan, so tari barong is the one of them. Tarian ini berlangsung sekitar satu jam.

Pulangnya kami ditelfonin taksi ama pegawai disitu, nunggu 15 menitan lebih. Di taksi kali ini supirnya wong jowo jadi nyambung, pak supir gak percaya kalo supir taksinya yg tadi gak tau tempat barong tadi. ya sutralah pak… kalo gak gini kita gak tau bali:).

Sampai di hotel kami instirahat sejenak untuk sholat dan makan siang, saya dan Sofi turun dihotel, ayahnya Sofi langsung ke tempat sewa motor + cari makan.
Motor sudah didapat, hanya motor matic "nouvo" yang ada dengan sewa rp 40 ribu seharian sepuasnya dan masakan padang 3 bungkus kami habiskan.

Naik Motor ke GWK

Pukul setengah dua-an dengan peta Bali ditangan kami meluncur ke tujuan selanjutnya, kami putuskan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) dimana patung wisnu setengah dada dan kepala burung garuda terpahat besar diatas bukit padas. Memang luar biasa landscape pegunungan padas yg belum terlalu selesai ditata ini.

Dalam perjalanan ke arah GWK kami sesekali melihat peta, rasanya menyenangkan, bak berpetualang beneran hihihi, kanan kiri jalan yg masih hijau seperti di pedesaan, udara yang sejuk, pemandangan yang hijau dan sesekali dapat melihat pantai disisi kanan/kiri saat di jalan menanjak, membuat sensasi berkendara kami luarrr biasa, coba kalo pake mobil, gak kerasa deh yang beginian hehehe.

GWK pun nyampek juga, tiket masuk berdua 30 ribu. Ambil foto sepuasnya, sayangnya awalnya Sofi takut dengan patung segede gedung ini tapi lama2 enggak (malah setelah ini nanya terus "patungnya mana ma? patungnya mana yah? patungnya mana yaa? paaatuuunggg,,,,?- dasarnya cerewet :D)

Wahh udah banyak neh, besok nyambung lagi dehh,,, soalnya setelah GWK kami masih akan ke Uluwatu untuk ke pantai Suluban yang cuantikkkkk luarrr biasa ough awesome! tak terkatakan deh dan nonton tari Kecak di pura Uluwatu dengan background sunset yg cantik. CU next posting!

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: