Meniup Balon dengan Ragi dan Gula

Siang pulang sekolah Sofia punya ide untuk praktek membuat balon karetnya mengembang dengan cara sains seperti yang pernah dia praktekkan di sekolah. Kebetulan kemarin siang pas take away di Bakmi GM Sofia minta balon. Jadilah balon warna merah itu yang kita buat praktek.

Awalnya Sofia ngotot bahwa bahan & alat yang dibutuhkan selain botol, balon karet, air hangat dan gula adalah garam. Saya enggak yakin tapi   saya diam saja. Baru ketika kami mau memulainya saya minta Sofia melihat ulang apa yang dibutuhkan di portofolio TK A-nya. Setelah bongkar-bongkar portofolio jaman TK A, ketahuan deh kalo bahannya enggak pakai garam melainkan RAGI 😀

Berlatih Membeli

Kami tak punya ragi, saya pun mengajaknya membeli ragi ke warung. Mengingat kemarin pas open school di sekolah Sofia sangat bangga pada dirinya karena ternyata dia berani membeli sendiri sebuah craft di bazar kakak SD, maka kali ini saya suruh dia sendiri yang beli raginya.

Saya tunggu dia di atas motor di depan warung, saya beri uang rp5,000,- saya ajarin untuk bilang: beli (ragi) Fermipant, bu. Awalnya dia menolak karena malu. Seperti biasa klugat klugetnya. Tapi saya ingatkan betapa bangganya dia pas beli sendiri di bazar kemarin. Dengan senyum dia bertanya: nanti kembaliannya berapa? Saya bilang enggak tahu, nanti kita lihat saja. Atau nggak tanyain berapa harganya. Eh dia malah pingin mundur lagi gara-gara terdengar ribet. Jadinya saya suruh saja memberikan uangnya nggak pake nanya berapa harganya. Dia pun semangat masuk warung yang sedang sepi.

Karena nggak ada orang di warung, dia mendekat ke rumah si pemilik warung sambil berteriak: BELIII!!! Hihihi senang deh melihat anakku makin berani. Lalu dia keluar dengan senyum lebar menyerahkan si ragi dan uang kembalian pada saya. Ini berapa, Ma? Saya pun mengajari dia pengurangan 5,000 – 1,500 (uang kembalian). Dia mengangguk-ngangguk tapi sedikit bingung hahaha. Tapi dia tahu kalau itu uang logam seribu dan lima ratus rupiah.

Let’s Practice!

Ragi sudah ada. Lalu dengan menggunakan botol bekas cairan Dettol kami mulai bereksperimen: setelah saya siapin air hangat, Sofia yang memasukkan 2 sendok gula pasir dan dua sendok ragi ke dalam botol. Lalu dia tuangkan air hangatnya. Lalu dia kocok-kocok. Karena mulut botol lebar, dia kesulitan memasang lubang balon ke mulut botol. Maka saya yang melakukannya. benar-benar sulit dan butuh tenaga ekstra euy! Seru deh, Sofia sampai ketawa ngakak karena emaknya mleset terus hehehe. Setelah terpasang, kita taruh itu di teras belakang deket meja makan.

Tak lama kemudian saya menyiapkan makan malam, eh saya lihat balonnya sudah mengembang! Kami pun kegirangan. Ayah langsung mengajak tos Sofia karena keberhasilannya. Tak ketinggalan tos juga sama mamanya 🙂 Sofia sangat takjub karena katanya di Sekolah dulu butuh waktu lama nunggu balonnya mengembang, sedangkan sekarang tak sampai satu jam balon itu sudah mengembang hehehe..

Kata Ayah kalau gulanya lebih banyak bisa lebih besar mengembangnya 🙂

Pengetahuan yang di dapat Sofia

Kami pun menjelaskan kenapa si balon dengan begitu bisa mengembang sendiri? Karena si Ragi memakan si gula yang pada prosesnya menghasilkan gas karbondioksida / CO2 yang lalu membuat si balon mengembang. CO2 itu sama dengan nafas yang kita keluarkan. Jadi kalau kita meniup balon itu kita meniupkan CO2. Eh iya, kalo kita bernafas itu yang kita hirup oksigen / O2.
Mendengar penjelasan kami Sofia menyeletuk:
Jadi kalo kita niup balon, nafas kita ada di dalam balon dong, Ma!
Hehehehe…iya nak…

Bermain Akting

Sofi makan di meja makan, saya nyupir di dapur. Tiba2 dia tutup pintu dapur sambil bilang: Mammaa, Sofia mau pergi mammaa, Sofia mau pergii… (sedih)
Me: Sofffia, jangan tinggalkan mamma soffiaa.. Jangan tinggalkan mamma (menangis)

Lalu kembali dia buka pintu dan bilang: kita tadi akting ya ma? (wajah lempeng)
Me: iya (tak kalah lempeng)

…hening. Dia melanjutkan makan, saya tetap nyupir…

Sofi Kira Allah Salah Ngasih Hujan

Ciputat mendung agak gelap. Tp gerimisnya maju mundur. Kita pun ngobrolin hujan.
Jd menurut dia ada hujan sebentar buat nyiramin taneman & hujan yg agak lama buat basahin bumi. Saya tanya knapa ada hujan yg sampe bikin banjir. Dia bilang gak tahu. Me: Itu krn Allah ingin ngasih peringatan pd org yg suka buang sampah sembarangan. Soalnya org tuh banyak yg ngeyel. Makanya Allah kasih banjir.
Sofia: OOOOOOOOOO ya Allah ma, sofia kirain tuh Allah itu ngasih banjir gitu2 tuh salah… (mukanya takjub! Dan obrolan makin panjang :D)

Sofia Sakit 3 Minggu

Minggu pertama Sofia sakit panas 3 hari 2 malam. Kami mengira dia kecapekan balik dari mudik 2 minggu. Jadinya dia 3 hari, Senin sampai Rabu, nggak masuk sekolah. Kamis dia kembali ke sekolah dan Jumatnya kami ijinkan dia mengikuti kelas renang di di sekolahnya. Kami anggap dia sudah sehat. Dan hari Sabtunya kami semua mengikuti family gathering di sekolahannya.

Pulang dari family gathering Sofia tampak kepayahan. Mana kehujanan lagi. Akhirnya hari Minggunya Sofia panas lagi. 3 hari badannya demam sampai 39 derajat celcius. Dia juga jadi ngantukan. Yang biasanya susah tidur, kini dia nempel bantal langsung lelap. Trus gitu tiap pagi dia selalu nampak sehat, mainan sendiri muter kesana kemari. Tapi siangnya badannya mulai panas lagi sampai malam. Akhirnya minggu kedua ini diapun nggak masuk dari Senin dan mulai masuk hari Kamisnya.

Anak ini kalau demam tingkahnya seperti anak nggak sakit. Jadi ortunya juga cuek. Baru yang minggu kedua kemaren itu sempet saya kasih parasetamol sekali. Ya cuma sekali saja. Soalnya dia nampak payah banget dan memperlihatkan tanda-tanda sakit, lemes dan mata sayu.

Rabu itu sebenernya panasnya sudah turun. Jadinya mau nggak mau dia saya ajak besuk temen di RS Puri Indah. Sebelumnya kami ajak ke showroom dulu. Tak dinyana kami nunggu lama di rumah sakit dan jadinya seharian penuh sampai malam dia diluar bersama kami. Nampaklah dia sangat kecapekan. Duh, maafin mama dan ayah ya nak!

Sabtunya kami harus kembali ke showroom, Sofia juga harus ikut karena memang nggak ada orang yang jagain dia dirumah. Paginya dia mencret-mencret. Sudah 3 kali ke kamar mandi. Langsung saya buatkan dia perasan kunyit. Ternyata mampet. Setelah makan siang di Kopitiam Oey, saya ajak dia nyusul ayahnya yang sudah di showroom duluan.

Sampai malam juga urusan di showroom dan Sofi mengeluh terus perutnya sakit namun nggak minta ke kamar mandi. Tengah malam dia kebangun minta pup dan mengeluh sakit perut. Ternyata mencret lagi. Langsung saya buatkan perasan kunyit + madu lagi.

Tiga hari kedepannya dia tetep mengeluh sakit perut. Saya agak was-was. Hasil dari browsing saya takut dia kena demam berdarah yang demamnya model pelana kuda. Yaitu dua tiga hari panas tinggi kemudian beberapa hari turun sama sekali lalu panas lagi. Dan sakit perut serta diare setelah demam pelana kuda juga merupakan tanda-tanda DB.

Tapi Sofia panasnya naik turun. Bukannya yang panaaasss terus tapi nggak turun-turun walau dikasih penurun panas. Dan juga tak ada bintik-bintik dikulit tubuhnya. Tapi saya tetep senewen karena katanya DB sekarang nggak pake bintik-bintikan. Suami meyakinkan saya bahwa ini bukan DB soalnya kalau DB anaknya pasti lemes banget. Soalnya dia sudah pernah kena DB 13 tahun yang lalu. Dia malah curiga Sofi kena tipes/typus. Tapi saya lihat lidahnya enggak putih.

Selama dia mengeluh sakit perut dan mencret, setelah beberapa kali saya kasih perasan kunyit tetep nggak mempan, akhirnya kami putuskan memberinya norit. Sehari sekali saya kasih dia norit selama 3 hari. Alhamdulillah hari rabunya fesesnya mulai membentuk. Tapi tetep mengeluh sakit perut.

Ohya, selama sakit perut dia nggak pernah kentut. Walau sudah saya kasih minyak kayu putih berulang kali tetep nggak keluar tuh kentut. Saya jadi mulas sendiri membayangkan rasanya kalau nggak kentut. Untung hari Senin pas si mbak masuk dia saranin kasih parutan bawang merah. Langsung saya buatkan dan saya balurin keperut dan belakang perut. Tak lama kemudian benar saja dia kentut. Hahaha, senang kali kita walau baunya bisa membunuh ikan selaut! Malamnya saya kasih lagi dia bawang merah. Selanjutnya beberapa kali bisa kentut.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa kami tak segera membawa Sofia ke dokter. Biar segera tuntas keluhan-keluhan Sofia. Jawabannya adalah: Dengan track record Sofia yang lulus S3 yaitu saya susuin ASI sampai umur 2 tahun tanpa tambahan susu formula [sejak umur 1 th sesekali saya kasih susu segar] dan pola makan Sofia yang terlatih mau memakan segala jenis makanan baik sayur dan buah-buahan, hal itu membuat kami PD dan tak lekas panik menghadapi Sofia yang sakit. Kita pakai logika saja, toh semua penyakit membutuhkan waktu untuk sembuh dan kami selalu memberi kesempatan daya tahan tubuh Sofi yang telah terbentuk untuk bekerja secara maksimal. Saya juga berusaha tak malas memberikannya obat-obatan yang tersedia didapur terlebih dahulu. Juga rela begadang memangku anak yang rewel. Alhamdulillah selama ini usaha tersebut berhasil.

Kesimpulan kami tentang sakit Sofia selama 3 minggu itu adalah karena kecapekan. Ditambah istirahat yang tidak optimal sehingga sakitnya tak lama pergi dan datang lagi. Alhamdulillah sejak Kamis kemarin dia sudah masuk sekolah lagi. Walau Jumatnya belum kami ijinkan ikut kelas berenang. Yang penting kini sakit perutnya sudah hilang dan wajah serta senyum cerianya telah kembali.

%d blogger menyukai ini: