SIDANG

Beberapa buku referensi yang saya pakai.

Langsung saya luruskan, ini sidang skripsi. Sekian. Eh belum. Saya kan mau cerita dulu. Panjang nihh…

Begini, saya tergerak untuk menuliskan pengalaman sidang pertama saya (pertama? Mau ada yang kedua dong? Stop! Jangan dibahas.) karena kisahnya sangat mengejutkan. Alasan yang lain biar teman-teman dan orang yang tidak saya kenal di luar sana yang hendak menghadapi sidang skripsi tidak bingung, resah, gundah gulana, galau, dan sebagainya, dsb.

Saya harus mengawalinya dengan pengakuan. Sebelum sidang, bahkan jauh hari sebelum tahu kapan jadwal sidang, saya kerap panas dingin. Bukan hanya untuk menghadapi sidang itu sendiri tapi juga menunggu kapan saya dikabari tanggal pasti sidang saya itu. Nangkep kan?

Tapi yang lebih stress mikirin seragam. Baju putih sudah saya dapat di Solo pas pulkam tahun baru kemarin, celana panjang hitam kain saya sudah punya dari jaman perawan. Sekarang sepatu. Masyaampun!!! Paling males nyari alas kaki. Kaki berukuran 41 ini bikin keki. Nyari alas kaki tapi bikin kaki kesel. Giliran dapat size besar dan bekas ee tapi branded (gak nanya) ehh size 43. Alhamdulillah,,, masih ada yang lebih besar dari saya. Tapi saya tercenung, kakinya seberapa ya?

Baiklah, masalah sepatu sudah terselesaikan. Tapi sebenarnya belum. Karena akhirnya kakak saya yang selalu menjadi pahlawan bagi saya punya sepatu sandal hak tinggi warna hitam yang muat di kaki saya. *ohhh adjective phrase yang sangat panjang* Yup! Bukan sebenar-benarnya sepatu. Tapi saya membela diri, bisa saya tutupi bagian belakang yang terbuka dengan celana panjang yang sedikit diturunin.

Lalu? Teman-teman yang sudah lulus saya interogasi bak Jack Bauer di 24 itu. Pokoknya ngapain sih sidang itu? Apa yang harus saya lakukan? Apa saja yang penguji tanyakan? Berapa lama harus di dalam? Berapa banyak pertanyaan yang diajukan? Siapa saja pengujinya? Penguji A bagaimana orangnya? Kalau penguji B bagaimana? Dannnn pertanyaan-pertanyaan klise lain yang sering menghantui para penunggu jadwal sidang. Serem kan? Harus serem.

Akhirnya saya pun dapat kepastian tanggal sidang dari pembimbing saya waktu mengikuti pengajian bulanan di rumah beliau. Ngasih tahunya salah lagi. Kata beliau 1 minggu sejak hari itu! DUARRR! Rumah pembimbing saya lenyap dilempar bom dan saya tinggal sendirian yang survive. Saya elap airmata saya, saya pungut satu persatu puing puing sisa rumahnya, saya dekap skripsi saya yang hangus menyisakan selembar conclusion. Anda benar, saya lebay.

Selesai acara baru ketahuan kalau beliau salah tanggal, yang benar 28 Januari bukan 21. Berarti 2 minggu lagi, begitu. Dan hari itu juga ditengah acara, saya dapat telpon dari TU, saya kira mau memberitahu juga tapi ternyata menanyakan apakah saya sudah bayar sidang? Becanda nih orang. Sejak itu saya menunggu telpon kepastian sidang dari TU tapi nggak di telpon-telpon. Saya juga menjalankan nasehat teman untuk rajin nelpon ke TU eh jawabannya tetep belum ada jadwal. Akhirnya dua hari sebelum hari H saya telpon lagi. Apa kata dia? “Hloh? Bukannya waktu itu sudah dikasih tahu?” Oh yeah, you answer my question with question. Saya pura-pura marah, sedih, takut, bingung. Drama. Sukurin! Padahal saya sudah menyiapkan keynote untuk presentasi sejak sang pembimbing memberitahu saya. Dan Saya sangat pede. Krik krikk…

Saya merancang keynote sedemikian rupa dan suami saya yang mengedit dengan sedemikian canggihnya. Hingga akhirnya terwujudlah sebuah presentasi yang pasti akan ruaarrr biasa. Saya berlatih dan terus berlatih. Memperbaiki sana sini sampai malam larut memudar oleh fajar. Bahkan sambil masakin anak dan bapaknya dan untuk saya juga tentunya, saya ngomong sendiri di dapur. Hasilnya saya hafal diluar kepala apa kata-kata yang akan saya presentasikan di depan juri.

Percaya diri saya terbangun dengan kokohnya. Saya akan maju membawa MacBook Pro kami, mengoperasikan presentasi saya yang keren di keynote dengan remote yaitu iPod/iPhone kami. Akan saya buat mereka tercengang! Sombong embahnya sombong sodara sodara. Yang membuat saya mengekeret cuma satu. Pronunciation lidah dan rahang jawir saya sedikit mengganggu. Sering kepleset lidah. Fine! Silahkan ketawa sambil saya pelototin.

Hari H pun datang. Jum’at, 28 Januari 2011 adalah hari yang sakral bagi saya dan keluarga saya yang sudah bosan menunggu kapan saya lulus??? May, jawab saya.

Semua sudah siap. Seluruh 28 buku referensi yang tertulis di skripsi saya bawa dengan tas belanja Carefour yang warna hijau itu. Penuh dan tentu berat. Laptop, iPod, iPhone, charger, wifi router, semua siap. Diantar suami, ada saya, Sofia dan adik saya berangkat dengan tegang. Saya sendiri sih yang tegang. Tegang tapi pede. Yaa begitulah.

Saya dapat nomor urut 5 yaitu nomor terakhir dan dijadwalkan pukul 3. Kami berangkat pukul 1. Mana suami pakai harus menyelesaikan deadline lagi. Bikin snewen dueh. Tapi sampai sana orang ketiga masih di dalam. Syukurlah. Saya pun memanfaatkan ruangan sebelah bekas menyidang juga untuk mengetes alat tempur dan sekalian latihan. Yes! Semua bekerja dengan baik. Bisa konek ke proyektor dan wifi sebagai perantara remote juga jalan. Tenang. Damai.

INI BAGIAN YANG MENGERIKAN

Seperti sub judul diatas. Ini benar-benar bagian yang mengerikan. Silahkan simak:
Hampir 2 jam orang nomor 3 ini dibantai di ruang sidang. Si nomor 4 dan si saya, nomor 5 ketar ketir. Si nomor 3 pas saya lagi di toilet katanya sempet keluar nanyain ada yang bawa bukunya ***** nggak? Dan ternyata tak satu pun teman-temannya yang menungguinya ada yang bawa. Ironis no #1.

Akhirnya si no 3 keluar. Duduk terdiam diantara teman-temannya yang setia. Satu, dua, tiga, hampir sepuluh orang. Dan tiba-tiba dia angkat bicara tapi dengan mata berkaca-kaca. Menangis sesunggukan teman-teman…. Ada yang menyodorkan tisu, membukakan botol minum, mengelus-elus punggungnya. Ohh saya terharu. Pada diri saya sendiri. Karena saya hanya di temani suami, anak, dan adik. Ohhh kemana teman-temanku, kemana??? Eh ya mereka ada bersama saya lewat doa-doa yang mereka kirimkan. Tsahh! Lagian temen-temen saya pekerja kantoran semua huehehehe.

Melihat nomor 3 menangis saya tambah syok. Keringat dingin. Tapak tangan basah kuyup. Tapi ironis yang ke #2 buku referensi dia tentang subyek yang dia pilih cuma 1 (satu) dan itupun buku lawas tahun 1976, ini ironis no #3. Kumplit dengan ironis no #1 lagi (tidak dibawa saat sidang). Parahnya lagi no 3 & no 4 sepakat bahwa susah nyari buku referensi untuk bahan skripsinya itu. Katanya adanya cuma di internet. Batin saya, mbak-mbak sekolah modal dikit dong, saya aja beli The Chicago Manual of Style 15th edition terbitan tahun 2003 lewat Amazon. Dan saya bersumpah semua teori yang kalian butuhkan ada disitu.  Jadi saya nggak jadi panas dingin. Saya pakai banyak referensi dan yang terbaru tahun 2008 dan semua saya bawa. Satu untuk saya kosong untuk dia. Yuuhu!

Tapi dada saya tetep berdegub kencang ketika si no. 3 membeberkan kelakuan para juri dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Apalagi kalau ngomongin pak E***t, ketua penguji yang terkenal killer. Bahkan dia juga memaki-maki beliau. Duhh rasanya saya sudah terbunuh sebelum bertarung. Siapa sih yang nggak kenal pak Dosen satu ini? Siapa yang nggak pernah dibuat kesal sama dia? Siapa?! Ngacung, hah!

Saya semakin ciut ketika mengikuti si no. 3 berkeluh kesah. Duh maakk ni orang muke sini sini aja tapi ngomongnya udah kayak cucunya George Washington. Apa kabar dengan saya nanti di dalam sana? No. 3 bilang kalo kita salah ngomong dikit pasti di sela ma pak ketua. Pokoknya berusaha membuyarkan konsentrasi deh. Yang fasih saja 2 jam, saya bisa sampai subuh mungkin. Oh saya merana *nyari pohon ah buat joget*

Akhirnya si no 3 kembali masuk dan keluar lagi dengan muka tanda tanya sebelum akhirnya dia bilang dapet A. Semua bersorak syukur. Termasuk saya. Tiba-tiba lewat si no. 2 yang memang saya kenal. Dia bilang dapat B. Saya pun hanya bertekat untuk menyampaikan presentasi dengan okeh, masalah nilai saya benar-benar pasrah dari jauh hari. Yang penting lulus.

Giliran si no 4 masuk membawa buku yang sama yang tadi dicari oleh si no 3. Sudah pinjem di perpus katanya. Ealahhh. Sejam lebih juga dia dicincang. Dan keluar dengan muka merah padam. Ala maaakkkkk. Pulang yuk! Yiuuukk…

Kesah yang sama dengan no. 3 tapi dia nggak nangis cuman menyesal karena di dalam dia telah menyalahkan pembimbingnya sendiri yang juga ikut menguji dia, ini ironis no #4. Pembimbingnya adalah pembimbing saya juga. Ya ampunn,,, ibu dosen sepuh, sabar dan baik itu dia marahi malahan? Kualat tau rasa loh. Batin saya. Cuma gara-gara dua hari sebelum sidang dia ngasih acknowledgement ke rumah beliau dan keesokan harinya dia ambil kembali tapi tak ada goresan koreksi. Emang dia kira cuma dia yang bimbingan ma beliau?! Eh ditanyain tentang kesalahan dia di acknowledgement malah mencak-mencak nyalahin pembimbing. *geleng-geleng*

Saya tak sempat menanyakan pada no 4 berapa nilai yang dia dapat, karena saya pontang panting mempersiapkan giliran saya. Pas dia keluar ruangan, kata-kata “dapet apa?” benar-benar sudah di ujung lidah tapi sekretaris penguji sudah memanggil nama saya untuk masuk ruang sidang. Ya sudah, sampai detik ini saya tidak tahu dia dapet angka apa.

(Masak sih) SIDANG (begini?)

Saya masuk tergopoh gopoh dengan hak lancip dan sibuk menutupi dengan celana panjang (bukan) sepatu saya yang terbuka bagian belakangnya. Eh, pembimbing saya malah bilang,”wow, I like your shoes. Sayang saya sudah tua dan nggak mungkin make kaya gitu lagi.” Dan semua penguji memandangi kaki saya. Mereka pun lalu saling ngobrol soal sepatu. Pak ketua ikut komentar tapi yang saya denger cuma “high heels” nya. Dan muka saya pasti bersemu merah jambu bol.

Saya masuk bawa laptop dan temen-temennya, suami bawa buku referensi saya yang se-tas guede. Dia merangkap jadi technical support yang membantu memasang peralatan bertempur saya.

BENCANA PUN DATANG. Rasanya saya ingin menjerit saat itu juga. Presentasi keren yang saya bangga-banggakan bakalan outstanding lenyap di depan mata saya. Suami bingung. Saya linglung. MacBook Pro yang awalnya saya elu-elukan ternyata tak mau konek dengan proyektor yang ada!!! Padahal di ruang sebelah tadi bisa. Mengoperasikan presentasi beremotkan iPod/iPhone pun gagal sudah. Rasanya saya ingin menyarankan ruang sidang pindah ke sebelah. Sungguh berulangkali ingin saya utarakan tapi entah mengapa saya berusaha keras menahan diri untuk mengucapkannya.

15 menit ada mungkin suami, saya dan pak ketua berulang kali mencoba menyambungkan laptop ke proyektor. Saya juga mondar mandir ke TU nyari orang yang mungkin bisa membantu. Padahal saya yakin nggak ada. Saya cuma salah tingkah. Padahal di dalam ruangan itu ada dua proyektor. Satu proyektor permanen seperti yang saya coba di ruang sebelah, satunya proyektor portable di atas meja.

Sampai-sampai sekretaris penguji meninggalkan kami untuk sholat ashar. Dan tinggal pembimbing saya yang ikutan senewen karena nggak segera dimulai dengan pak ketua ngobrolin laptop saya yang katanya terlalu canggih. Pak ketua yang paham soal Mac memamerkan kelebihan-kelebihan si Mac yang mahal ini. Saya cuma cengar cengir. Saya bilang saja kalau It’s suitable for you, mam. Dan beliaupun tersanjung. Saya juga bilang, oh Mam, I’m so confident with this presentation. Dan wajahnyapun ikut melas memandangi saya. Akhirnya dibantu pak ketua, keynote saya ditransfer jadi power point. Saya pun presentasi pake laptop kampus. Si Mac nganggur. Si iPhone dilupakan. Pukulan telak.

Untung tak ada yang banyak berubah setelah keynote di transfer ke power point. Dan presentasi saya pun tetap keren dengan efek-efeknya dan pilihan poin-poin yang tooo the point hehehe. Alhamdulillah saya tampil dengan memukau dan tak lupa senyum tidak tegang. Tapi nggak berjalan lancar. HALLAH!

Tenang, gangguannya lucu kok. Ditengah presentasi tiba-tiba pintu ruang sidang di ketuk. Seorang pegawai kantin dengan nampan di tangan berisi 3 buah nasi goreng yang masih kebul kebul masuk diantar oleh OB. Bau sedapnya menyeruak. Semua mata menengok ke mereka. Para penguji berkomentar. “Wow! Untuk siapa ini?” “Siapa yang pesan?” mata mereka menatap lapar dan mas kantin dan OB klop bilang, untuk mereka.

Saya pun melanjutkan presentasi saya. Baru ngomong dua, tiga kalimat, ada lagi yang mengetok pintu. Mas kantin dan OB yang tadi lagi. Katanya salah ruangan. GERRRRRR!!!! Hebohlah para penguji dan juga saya. Tak ada yang nggak ketawa ha ha ha. Tak lupa saya bilang, nggak papa Pak, setidaknya kita dapat baunya. Itung-itung intermeso lah hehehe.

Presentasi berlanjut sampai selesai. Memang kadang-kadang (tapi sering) disela oleh semua penguji, tak cuma pak ketua tentang pronunciation saya dan saya pun tak malas untuk mengulangi kata-kata saya yang salah sesuai petunjuk mereka juga tak lupa untuk tersenyum. Dan saya pun siap diberi pertanyaan oleh mereka.

Pertanyaan yang mereka ajukan yaa nggak jauh dari isi skripsi saya, seperti hubungan teori dengan analisa saya gitu-gitu deh. Yang lucu pak ketua nih, dia nanya,  “Ini di bab II kamu bilang transposition di bab IV kok transformation. Ini kesalahan kamu apa memang kamu sengaja menghibur kami?”  hahaha… saya ya ngaku saja kalau itu benar-benar kesalahan saya. Tepatnya salah ketik (typos). Pertanyaan yang paling mengagetkan adalah ketika dia menanyakan apakah saya membawa salinan referensi saya yang dari internet source? (sambil nglirik laptop saya) Karena beliau melihat saya membawa begitu banyak buku. Saya bilang saya membawa semua buku referensi saya tapi tidak membawa print-printan internet sources. Uhhhh bodohnya. Padahal sampai rumah saya lihat di laptop memang sudah saya capture referensi-referensi buku dari internet tersebut. Mengapa nggak kepikiran untuk menunjukkannya? Huh.
Dari 36 referensi memang 4 diantaranya saya ambil dari internet. Tapi bukan mutlak dari internet karena saya baca buku-buku itu lewat fasilitas books.google.com, buku juga kan?

Para pengujipun selesai dengan saya dan saya disuruh keluar karena mereka mau rapat dulu. Diluar suami saya senyum senyum. Saya langsung memangku dan memeluk Sofia, tak lupa minta di sayang suami hehehe. “Ma, kok kamu malah banyak ketawa sih?” Tanyanya optimis. “Lha wong emang nggak ada yang mengerikan kok hehehe, malah lucu”, jawab saya. Kembali suami bilang,”Tadi aku bilang ma Taqim (adek saya), wah Qimm,, kayaknya sukses nih, kok banyak ketawanya”

Tak lama. Sebentar kemudian saya kembali dipanggil masuk. Semua penguji senyam senyum santai. Ya karena saya peserta terakhir kali, jadi mereka lega sudah selesai. Begitu saya duduk pak ketua langsung nanya,”How do you feel, Yani?” langsung saya jawab,”so so, Sir.” Eh bu pembimbing langsung nimpalin, “ohya, kamu yang dari Solo ya? Pantesan sopan. bla bla bla”. Akhirnya gongnya di tabuh. Pak ketua membacakan hasil sidang saya, dan ternyataaaaaaaa: Saya dapat nilai tertinggi diantara para peserta dengan nilai 89.5! ALHAMDULILLAH kata saya spontan. Dan para penguji langsung menyalamin saya seraya bilang “congratulation” hihihi jadi malu. Mereka pun tersenyum bangga pada saya. Anehnya saya biasa saja dapet nilai A hehehe. Somse’ dah!

Tapii, mereka juga ngasih pesan bahwa saya harus memperbaiki pronunciation saya. Saya bilang kalau saya mengakui kekurangan saya ini saya berdalih mungkin karena lidah jawa saya. SEMUA PENGUJI LANGSUNG PROTES HA HA HA. Bu sekre bilang saya juga orang Jawa, pak ketua bilang saya di rumah selalu ngomong atau berusaha ngomong jawa dengan istri saya. Saya sanggah that we have different tounges, sir. Di balas, harusnya kamu ikut kelas Phonology saya. Hi hi hi intinya mereka nggak terima dengan alasan saya. Pasti lah. Dan suasana di dalam ruangan pun semakin penuh tawa.
Trus mereka juga nanya heran, kenapa yang lainnya tegang, bahkan nangis, sedangkan saya malah ketawa ketiwi tanpa beban gitu. Hahaha. There isn’t something to be afraid, just prepare and do the best!

Sekian.

Catatan: Semua dialog di dalam ruang sidang dalam bahasa Inggris.

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: