Backpacking#4 Singapura

Astagfir…. lelet banget ya saya ngupdate blog ini? Yaa begitulah. Mohon dimaafkan. Hehehe…

Peta sudah siap. Poto sudah siap. Catatan yang minim juga siap. Tinggal ingatan neh yang berusaha disiapkan. Rewind my mind! Well e well e well, langsung saja ya. Hari ke dua di Singapura ini agenda kami ke Kampong Glam dan Arab Street, trus ke Little India, lanjut ke Botanical Garden habis itu jalan ke Orchard Road. Buktinya, silahkan simak kemana kami keblasuk.

Bugis Street

Nah loh! Baru mulai saja sudah nggak sesuai dengan agenda. Tapi disitulah enaknya backpacking, keluar jalurpun kami tetep bisa enjoy. No problemo. Ga da yang mo marahin. Paling nanti juga ketahuan siapa yang marah-marah hihihi. Penasarankan?

Jam sepuluh pagi kami baru keluar dari Rucksack Inn. Hujan, ya. Singapura terkenal tak punya musim. Jadi tiap hari bisa hujan bisa pula panas. Wajar kalo aksessoris wajib warga Singapura adalah payung.

Dari penginapan kami berjalan ke Fu Tong Sen Street. Sebelumnya sarapan berat ke restoran melayu “Hikmah” yang menyediakan makanan halal di seberang jalan Fu Tong Sen yaitu New Bridge Road. Hasil nyoba-nyoba ternyata disini makanannya lebih mahal daripada di Circular road :D.

Kenyang. Kami sedikit berdebat mau naik kereta atau bis. Akhirnya dihitung-hitung lebih irit naik bis. Setiap rute yang ditentukan kami hanya membayar @S$0.90 dengan bis AC ini. Kami pun mengarah ke Bugis Market.

Karena tertarik dengan frasa “belanja di Singapura”, kami ditengah jalan memutuskan ke Bugis Street. Pasar oleh-oleh menurut saya. Karena disana yang dijual ya pernak-pernik berbau singapura dari gantungan kunci sampe baju dann lain-lainnya. Lihat saja foto-foto dibawah ini:

Bugis Street

Accecories Booth - Bugis Street

Bugis Street Map

Karena masih dua negara yang harus kami singgahi, maka disini saya cuma nyari gantungan kunci hehehe… Ingat, penghematan!

Arab Street dan Kampong Glam

Puas muter-muter pasar sampe mentok, kami kembali ke halte untuk naik bis. Lalu turun di perempatan Ophir road dan Victoria street. Tujuan kami adalah ke Sultan Mosque disekitaran Arab street untuk sholat dhuhur. Sultan Mosque adalah masjid terbesar di Singapura. Karena sampai sana belum masuk waktu dhuhur, maka kami memutuskan untuk makan siang dulu.

Sultan MosqueJalan terus membuat perut cepet lapar, euy! Bingung mo makan apa, akhirnya diputuskan mencoba lagi lagi mencoba masakan India. Kamipun terdampar di Al-Baik Mariam Restaurant Pte Ltd, menyediakan makanan India seperti beriani, martabak, roti perata dan lauk pauk India khususnya dari daerah Kerala. Kami memesan nasi beriani dan martabaknya dengan minuman wajib teh tareeekkkk… Butuh testimoni? Yang pasti mak nyus! dan pantas dicoba hehehe.

Nasi Beriani Ohya, lokasinya tepat di seberang Sultan Mosque ya. Alamatnya 709 North Bridge Road. Tambahan lagi, pemiliknya Encik Abdul Majid Ismail (45th) ternyata pernah tinggal di Jakarta, sodara sodara. Jadi obrolan kamipun nyambung :).

Setelah adzan dhuhur berkumandang kamipun sholat dhuhur disana. Inilah fakta-fakta yang  kami temui di masjid ini:

  1. Tempat wudhu laki-laki ada tempat duduknya dan mereka berwudhu dengan duduk.
  2. Di toilet laki-laki sangat bersih. Dan kalau mau ke toilet disediakan sendal. Tempatnya juga super duper bersih dengan interior yang keren
  3. Tempat wudhu perempuan merangkap dengan toiletnya jauh terpisah dari bangunan masjid. Sudah pasti bersih juga.
  4. Disana disediakan gamis sewaan tapi gratis. So, para lelaki jangan khawatir kalo bercelana pendek gak bawa sarung :).
  5. Yang perempuan sholatnya dilantai dua. Juga disediakan mukena gratis nan bersih-bersih (mohon jangan bandingkan dengan mukena masjid di sini ya, maaf jauh mbak) yang tertata rapi di gantungan maupun di lemari.
  6. Tiap habis sholat diadakan ceramah. Kebetulan waktu di sana yang ceramah seorang Chinese, Subhanallah! 🙂
  7. Masjid ini juga termasuk tempat wisata. Buktinya waktu itu sedang ada kunjungan rombongan remaja turis asing.
Tempat Wudhu Laki-laki

Tempat Wudhu Pria

Toilet Pria

Toilet Pria

Gratis Sewa Gamis

Gratis Sewa Gamis

Penceramah setelah Sholat Dhuhur

Penceramah

Begitulah. Setelah sempet bbs beberapa saat sambil dengerin ceramah, kami lanjut menyusuri Busaroh street. Belok kiri ke Baghdad street trus belok kiri lagi ke Sultan Gate. Disana kami mentok di Istana Kampong Glam. Dulunya adalah istana Sultan Singapura. Baru-baru ini direstorasi menjadi Pusat Kebudayaan Melayu.

Bussaroh Street

Bussaroh Street

Istana Kampong Gelam

Istana Kampong Gelam

Keluar dari situ kami berada di Kandahar street. Lalu Jalan Pisang dan kembali bertemu Victoria street. Kami sempat bingung mo kemana lagi. Karena waktu. Antara ke Little India atau ke Botanical garden. Keinginan Mbak Murni mengunjungi kebun anggrek yang pernah ia lihat di TV mendominasi aura tujuan kami. So, bye-bye Little India! maybe we meet you tommorow. Let’s see.

Botanical Garden

Kami naik bis lagi. Turun untuk oper bis tapi sempat jalan-jalan di sekitaran Victoria street, Raffles Hotel Shopping Arcade, Stamford road, juga numpang poto di sebuah Katedral.

Jam 03:07 Di perempatan Stamford Court
Chatedral of the Good Shepherd

Di Stamford naik bis lagi turun Grange road. Lalu jalan kaki sampai di Napier road. Jalanlah kami sepanjang Napier road sampai ketemu plang Cluny road. Berarti kami sudah sampai. Karena kebun nasional ini terletak di pojokan seberang kami. Artinya, kami masuk melalui Tanglin Gate.

Allahuakbar! Singapura benar-benar luarr biasa. Ada aja kejutan yang kami dapatkan di negara mungil ini. Belum habis kami terheran-heran dengan trotoar-trotoar di seluruh pelosok negeri ini -trotoar yang memanusiakan manusia, saya bilang- kami sudah dikejutkan lagi dengan sajian kebun raya yang luar biasa luas dan indah ini.

Karena waktu sudah hampir pukul empat sore, kami bergegas menuju National Orchid Garden. Hanya saya dan kakak saya yang masuk. Suami dan Mas Deni pilih tinggal di luar. Selain alasan capek ya maklumlah, laki-laki kaga ngerti indah-indahnya bunga. Huh! menyebalkan.

In the Gate of National Orchid Garden

O iya deng, selain itu tiket masuknya mahal buat kantong backpacker yang nggak tertarik bunga. Dewasa: S$5, pelajar dan usia diatas 60th: S$1, sedangkan anak-anak dibawah 12th: gratis. Ada kejutan lagi, saya cuma bayar S$1!!! Bukan karena saya sudah nenek nenek looohhh. Karena saya bawa kartu mahasiswa saya. Yeay! Berasa boo.. secara kakak saya musti bayar S$5 dan sudah pasti dia ngiri hihihi.

Di depan pintu masuk taman anggrek ini saja saya dan kakak sudah dibikin lemes dengan keindahan bunga yang di depan. Pas masuk, JEDER!!! rasanya saya pengen mati!! Oh Tuhanku.. Ya Robbi Ya Maha Suci!!! Inikah surgamu untukku???? Rasanya saya benar-benar sudah mati dan masuk surga. Klepek klepek saya melihat keindahan yang maha indah ini. Semua kosokata indah-indah yang dihiperbolakan digunakan untuk mengungkapkan taman anggrek ini.

Saya bilang ke kakak,”apakah disini menerima tukang kebun seperti aku? aku rela tidur disini. Rela!”. Kalo jadi tukang kebun saja nggak masuk kualifikasi saya jadi ketar ketir, apakah saya pantas masuk surga yang sesungguhnya? Hallah ngelantur! Maap. 😀

Kami pun memuas muaskan diri menikmati setiap jengkal keindahannya. Saya mabuk. Tak hirau waktu sibuk memotret, merekam dan membekukan semua keindahan ini dalam kamera. Sampai-sampai saya dan kakak sempat terpisah dan saling mencari dikebon luas ini. Pontang-panting seperti orang gila. Waktu sudah setengah tujuh (tapi masih seperti jam lima sore waktu Indonesia). Kami belum puas padahal sudah muter-muter disini sejak jam empat. Saya inget suami yang menunggu pasti jenuh dan bakal kena marah, tapi pikiran itu segera sirna saat anggrek-anggrek itu kembali menghipnotis saya.

Dengan hati seberat-beratnya dan dengan ancaman ditinggal kakak saya. Saya akhirnya menyerah dan keluar dari situ. Karena saya masih ada warasnya ternyata. Sampai diluar kami kena marah suami masing-masing. “Appaaa an sih?! Sudah setengah tujuh neh!” Hah?!!! Saya tertawa licik. Emang enak? Hahahahahahahahahahaha

Tapi suami bilang,” Enggak kok. Saya mah sudah tau kalau istri saya ini gila bunga anggrek”. OHHHHH ROMANTISNYAH! Itu, itulah bagi saya kata-kata paling romantis dari suami saya. I LOVE U, HONEY… MUUACH! (Hmm… plis deh, ini blog mbak!)

Okelah. Untuk foto-foto yang lebih lengkap silahkan klik flicker Suami saya disini ya!

Orchard Road

Lelah, lungkrah, tapi masih tetep semangat. Suami dan Mas Deni sempet istirahat. Sedangkan saya dan kakak energinya terisi di kebun anggrek tadi. Bener bener dua lelaki itu, ga da insting mengagumi keindahan bunga sama sekali. Milih tidur malah. Ahh God Bless Both of You! Dan kamipun memutuskan jalan lagi ke arah Orchard road yang kondang itu lewat Tanglin road terlebih dahulu.

Orchard road terkenal buat belanja. Surga belanjanya Singapuralah semua bilang. But, sory, we are light backpacker. Jalan-jalan pake ransel bukan pake koper. So we just window shoping here, Sir! hiehehe…

Kalo saya bilang, Orchard road lebih mirip sudirman euy ramenya. Lalu lalangnya. Cuma atmosfirnya sih laen aja gitu. Bersihnya jangan ditanya ya! Tapi teee tep, asik boo jalan-jalan malem-malem berduaan gandengan tangan. Kapan lagi dot com? Biar kata nggak belanja kami rela kok hehehe…

Korean Food

Korean Food

Kami jalan terusss dan terus jalan, sampai di Lucky plaza. Denger-denger dari blog tetangga (yang mana lupa. Banyak soalnya :D), di basementnya ada food court yang menyediakan makanan melayu. Masakan Indonesia juga ada. Tapi yang kami cari makanan halal. Dan kamipun memilih masakan Korea yang membuat saya jadi  lapar kelamaan nulis blog ini heehhh… maap cari ransum dulu.

Lumayan, kacang Deka dan pepaya. Moga gak jadi lemak.

Oke, lanjuttt. Kami terus jalan menyusuri Orchard road sambil mencari cara yang tepat  balik kepenginapan. Gara-gara salah baca jalur bis, kami jadi bolak balik kayak seterikaan. Mana kaki udah cenutt cenuttt, cuapeknya baru kerasa lagi. Biasa, udah lowbat. Jadinya kepala mulai panas neh. Persis kayak the Amazing Race deh :D. Akhirnya keputusannya, naik bis!

Orchard road

Orchard road

Akhirnya bis yang mengantar kami balik ke penginapan menurunkan kami di North Bridge road deket Hongkong street di mana Rucksack inn berada. Tinggal jalan sak nyuk an, kita pun sampai.

Nah udah ketauankan, siapa yang marah marah? Ya yang nulis blog ini, saya-red. hehehe. Biasa, kalo udah kecapekan maunya uring-uringan. Polah polahe dewe, kata suami saya hihihi.

Tentang Yani

Seorang ibu rumah tangga, mengasuh anak belajar di rumah (homeschooling).

Langganan via Email

Bergabung dengan 58 pelanggan lain

%d blogger menyukai ini: