Ingat INI sebelum Menghukum Anak Kita!!

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

Ini yang harus semua orang tua INGAT sebelum buru2 mengHUKUM buah hatinya:
1. Sambungan otak anak2 itu belum sempurna. mereka mo dipukul pake tongkat bisbol pun takkan membuat mereka bisa mikir otomatis kalo bertingkah gini tuh salah. Mereka merasakan EMOSInya langsung berAKSI tanpa PIKIR panjang (EAP). Jd kalo si anak sedang berEAP, ortu pasti EMOSI kan? tp harus PIKIR dulu sebelum AKSI (nyambit, nampar nyubit, dll) – EPA.

2. Anak emosi itu berhubungan dengan kebutuhannya, misal aku butuh menang, maen jauh-jauhan nglempar batu ma si adek, ya mereka terus saling lempar ga mo kalah sampe2 ngenain kaca tetangga! Bikin emosikan?? Tapi dia nggak pake mikir. Itu nggak sengaja.
Contoh lain: Butuh membuktikan dia yg terbaik -> Lg maenan balok2an ma temennya bikin gedung, salah satu bilang “punyaku dong bagus” yg satu jg ga mo kalah “bagusan punyaku!” terusss eyel2an akhirnya bertengkar tuh anak berdua. Itu jg mo bertengkar ga pake mikir!

3. Anak2 belum mempelajari keterampilan beralih dari merasakan EMOSI lalu menggunakan PIKIRANnya.

4. Kalau orang tua sudah memahami cara kerja otak anak2 diatas, APA PANTAS MEREKA DIHUKUM??? hah?! nyeselkan ya? ternyata anak kita benar2 tak berdosa… oooh anakku sayangku buah hatiku pulau baliku…

5. Sebelum ber-AKSI dengan menghukum si anak, PIKIRkan dulu BAGAIMANA PERASAAN ANAK: perasaan apa yg mendorong kelakuan/perbuatan anak tersebut & bagaimana perasaan anak setelah dihukum? Jangan sampai anak jd merasa takut, merasa terhina, merasa bodoh, dst

(Saya jabarkan dari seminar ibu Elly Risman “Disiplin dng Kasih Sayang”)

  • Yani Widianto Kelupaan: mengHUKUM bukan hanya secara FISIK! dengan PERKATAAN spt mARAH2, memaki2, merendahkan, membentak2 itu jg menyakiti jiwa si anak!

    November 21 at 3:10pm ·
  • Thanks ya Bu’ne.. smoga aku bisa smakin sabar dan sadar.. scara ini anak dua selalu uji kesabaran dan kesadaran emaknya.. mengulangi kesalahan yang sama.. dikasi tau baek2 kaga mempan.. emang kalo lagi bengong suka sedih, menyesal dan rasa haru biru lainnya.. tapi kalo udah dihadapi dengan kenyataan dua bocah yang gubrak gabruk smua rasa2 itu suka hilang… smoga skrg bisa semakin baik ya aku memberi contoh ke bocahs lucu2 ituuuww…
    Yesterday at 8:21pm ·
  • Yang paling utama memang ortu hrs sadar terlebih dahulu. Itu akan memudahkannya unt selalu eling unt sabar.
    Ingat EAP vs EPA nya yaa….! :)
    Met berjuang demi kebaikan anak2 kita sendiri :D

Kesalahan Orang Tua (Kultwit Mbak Alissa Wahid)

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

“@AlissaWahid: Orangtua bekerja keras meningkatkan kualitas hidup keluarga, utamanya adalah untuk anak2 yang dicintainya..”

“@AlissaWahid: Mencari keseimbangan antara memberikan kenyamanan dg menumbuhkan sikap sadar nilai/harga, itu PR byk orangtua utk anaknya”

“@AlissaWahid: Kesalahan terbesar orangtua adalah memudahkan segalanya untuk anak2nya, sebab pertumbuhan terletak pada tantangan.”

“@AlissaWahid: Sayangnya memberikan yg terbaik kpd anak2 kadang melewati batas optimal, sehingga anak2 justru menjadi silver-spoon kids”

Memuji Usaha Anak untuk Sehat

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

‎#Pujian
Ini terjadi kemarin pagi. Pas bangun pagi dia pura2 ngagetin kami. Tapi kami jadi kaget beneran soalnya ketahuan ternyata dia kena campak. Krn kami kaget, dia ikut kaget dan sedih. (baca perasaan anak). Saya buru2 menenangkannya. (zero emotion) Saya minta ayahnya ambil iPad, kita ajak googling bareng2 apa & bagaimana itu Campak.

Stlh nemu sumber terpercaya, saya bacakan poin2 yg penting biar dia juga ikut paham akan sakitnya. Disitu dibilang gejalanya demam dll selama 4-5 hari sblm bercak merah muncul.

Hla, diakan cuma demam sekali kemarennya. Kesempatan nih buat muji dia hehehe.

“Tuh nak, disini katanya demamnya 4-5 hari. Padahal Sofi cuma seharrriii demamnya! Cuma kemaren! Asyik ya? Tau nggak kenapa begitu? itu karena Sofia selalu memakan makanan apa saja yang mama berikan! buahlah, sayurlah,,, ya kan? jadi tubuh Sofia itu kuat melawan penyakitnya ini. Seneng ya? duhh Sofia jd ngerti kenapa kita makan gak boleh milih2.”

Senyum bangga akan dirinya sendiri mengembang karena dia paham alasan ilmiahnya, dan makan akan lebih bertanggung jawab hehehe.

Ohya, yg lucu Ayahnya dengan sangat konyol dan heboh mempraktekkan peperangan yg terjadi antara kekebalan tubuh Sofia dng virus penyakit itu hehehe. Kekonyolan yg sangat perlu bagi kami :D

Memuji Gambar Bebek

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

‎#Pujian #jangan segan2 melempar anak ke masa depannya.

Sofia: mama lihat aku gambar bebek! bagus nggak?!
Me: ihhhh Sofia sudah bisa gambar bebek dengan angka dua ya? Ini lama2 kalo Sofia terus berlatih cara gambar bebek pasti akan menjadi sebuah lukisan yang innnnndah! Trus nanti Sofia bisa memamerkan lukisannya keliling DUNIA! Hebat kan??

(Bu, pak… bocah melukis jangan diharap langsung sebagus MONET ya… jadi jangan dibilang: “idih, gambar apaan itu? Gambar bebek tuh gini…” Anak2 itu susah payah mengerahkan segala kekuatan imajinasinya untuk menggambar bebek!
Jd orang tua memang harus lebay, lebay dlm mendoakan anaknya hehehe)

Pujilah Anak karena Jerih Payah/Usahanya

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

Msh tentang #pujian #parenting

Banyak cara untuk menjadikan anak merasa bangga akan dirinya karena usaha yg telah ia lakukan dlm mencapai sebuah prestasi.
Jangan hasilnya yg dipuji, tetapi PROSES yg telah mereka jalani.
Bukan nilai A-nya yang dipuji, tetapi katakan dengan awalan mama/ayah: Mama/ayah/mama&ayah bangga karena engkau telah belajar dengan tekun/rajin/giat sehingga mendapatkan nilai A.

Kalau tidak, menyontek massal seperti pada ujian nasional yg kita saksikan sendiri di negeri ini akan terus terulang dan terulang.
IRONISNYA, orang tuanya sendiri (yg salah asuh) pun ramai2 mendukung gerakan menyontek massal yg di prakarsai gurunya (yg salah ajar). Dan murid2nya pun dng senang hati melaksanakannya.

Tapi TIDAK DENGAN ANAK YG BANGGA AKAN SEBUAH KERJA KERAS yg dapat membuahkan sebuah prestasi. Mereka akan menolak! Mereka malu melakukan hal2 diatas, yaitu MALU PADA DIRINYA SENDIRI.

-CUKUP ANAK ORANG, JANGAN ANAK KITA!-

Pujilah Anak dengan Benar

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

Anak yg tdk pernah dipuji & yg dipuji tp dng cara yg salah itu akan menghasilkan produk yg sama: kemana2 yg dicari pengakuan unt mendapatkan pujian. Melakukan apa saja yg tujuannya hanya unt mendapat pujian, baik di rumah, tempat kerja maupun di sekolah.

Parahnya, beramal saja mereka cari muka. Bukankah itu namanya ngga Lillahita’ala. Melupakan pepatah: kalau tangan kanan memberi, tangan kiri jng sampai tahu.
Coba lihat, orang2 mati keinjek2, meregang nyawa desek2an ngantri sembako dr orang kaya yg sedang membayar zakat milyaran rupiah. Ironis yah?
CUKUP ANAK ORANG, JANGAN ANAK KITA!

Perbaiki Hubungan antar Ibu & Ayah Baru Perbaiki Tingkah Anaknya

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

Ibu Elly bilang: Kalau kau ingin memperbaiki anakmu, perbaiki dulu dirimu, perbaiki dulu hubunganmu dng suami/istrimu. Karena bukan anakmu yg salah, tetapi ORANG TUANYA.

Problem kami sbg orang tua terletak pd kami berdua. Kami mengakui sama2 individu yg cerewet pd anak! Pengennya ngomooooong terus sama anak ngasih pengertian ini itu. Pdhl ujung2nya kita jd ngomong yg sebenarnya enggak perlu diomongkan. Dan ujung2nya si anak nangis. Krn anak kami sangat sensitif dng perasaannya. Kalo anak saya pendiam mungkin dia diam saja tapi sakit hati. Dongkol.

Ini PR yg harus kami garap dng tekun! Bagaimana dng problem anda? Tak perlu ditulis dikolom komentar ini, tp tanyakan saja pada diri anda masing2. Ingat jng salahkan anak!

Tp serba salah deh. Klo gw diemm aja dia pasti bilang: aaaah bosen. Nggak asik! Klo gak Anak gw yg bertingkah semacam meluculah. Kalo cuma ditanggepin dng senyum dia bilang: kok mamma nggak ketawa siiiihhh???
Me: ohhh kamu td ngelucu ya nak?

Dia tuh sukanya emaknya ngoceh2 ngebanyol. Tertawanya sampe ngakak2 gitu maunya. Trus maknya suruh ngulang2 lg. Smacam badut eike dibuatnya. Ntar klo maknya becanda trus kelewatan dianya ngambek, marah, lari ke ruang laen. SUSAH EUY JD ORANG TUA :p

Belajar jadi Ortu dari Ortu

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

Berbahagialah para ortu yg dulu dibesarkan oleh ortunya dng pola asuh yg baik. Karena tak ada sekolah mjd ortu, maka kita mempelajarinya secara turun temurun. Saya yg berbapak galak (kalau memakai skala mak icih, galaknya ada di level 10 xixixi) sedangkan suami mengaku lebih banyak diasuh dng manja oleh kakek neneknya krn kesibukan ke2 ortunya.

Tp bukan berarti kita harus menyalahkan ortu/orang2 yg telah mengasuh kita! Bisa kualat 7turunan awak! Itukan namanya mengingkari takdir?
Tugas kita sekarang adl belajar dr kesalahan ortu kita, ambil yg baik buang yg buruk dan doakan mereka. Dan belajar dari para ahlinya. Baca bukunya, ikuti seminarnya, demi untuk kebahagian kita sendiri hehehehe… Kan kalo anak kita bahagia ortunya bahagia, kan?

Komentar:

  • Nurul Fitriana SUPER sekali….sangat setuju sama mbakyu cantik ini…. subhanallah… :) November 17 at 10:20pm ·
  • Yani Widianto Nah,,, tanya adekku yang cantik ini kalo nggak percaya kalo bapakku galak hahahaha! Ya kan dek?November 17 at 10:22pm ·
  • Alfin Mustikawan Tahun 1980an di UGM ada 3 bersaudara yang meraih gelar Cumlaude! setelah mereka diwisuda banyak orang bertanya, dia anak siapa dan bagaimana cara mengasuh ketiga anak tsb. Ternyata ketiga anak tersebut seorang hanyalah seorang anak Janda buta huruf yang tidak bisa baca tulis, ketika diberi kesempatan untuk memberikan sambutan sang ibu itu bercerita bagaimana dia mengasuh dan mendidik ketiga puteranya tsb ibu itu berkata “Saya tidak menyangka dan mengira ketiga anak saya menjadi anak yang seperti ini, karena saya tidak tahu apa yang mereka pelajari dan lakukan di sekolah karena saya juga tidak pernah sekolah, yang saya lakukan sedari mereka kecil hingga dewasa hanyalah ketika mereka tidur saya elus-elus kepala mereka dan berkata Nak jadi anak yang pinter ya Nak begitu setiap hari setelah sholat malam”

    November 17 at 10:31pm ··

  • Nurul Fitriana hahahaa…tau sendiri mb,kalo aku malah galak kubik bukan kuadrat lagi xixixiii…
  • betul yang penting jangan jadikan anak ajang “balas dendam” kalo pola asuh ortu dl “cukup keras” dan juga jangan melemah krn pola asuh ortu dl yang “cukup longgar”…
  • anak2 jaman sekarang beda betul sama jaman kita dl mb… yang terpenting komunikasi, afeksi, trust, tapi tetep kontrol… :) betul ga sihh?? hehee….
  • ahh seneng ya kalo udh jad orangtua, asik gitu sepertinya… jadi pengen *lhohh, hihihii….November 17 at 10:32pm ·
  • Yani Widianto Itu msh relevan unt mengasuh anak di th 80 an yg serba kekurangan, om. Era digital abad 21 ini tugas ortu semakin berat. Paparan negative mudah didapat dr mana2. Internet mudah diakses unt disalah gunakan tanpa kita bisa mengontrol mereka dng pengawasan mata. Kini doa saja tidak cukup. Setelah diteliti oleh para ahli parenting, yg harus kita lakukan kini sbg ortu adl menjaga agar jng sampai jiwa anak2 itu kosong! Orang tua makin sibuk dng atas nama pekerjaan demi anak. Sibuk dng gadgetnya demi sosialite. Anak butuh didengarkan hatinya, butuh dipahami perasaannya. Kalau tidak? Anak anak kita akan lari keluar rumah! Lari ke pacarnya krn pacarnya lebih mendengar curahan hatinya. Lari ke narkoba krn itu menenangkan walau hanya sesaat!November 17 at 10:39pm
  • Yani Widianto Anak anak itu bisa hidup tanpa harta yg berlimpah dan wah. Buktinya jaman dahulu yg serba kekurangan kini mereka jadi orang2 hebat dibidangnya. Doa dan usaha ekstra keras orang tualah yg mampu mengantarkan anak anak kita menjadi individu yg mampu mengubah dunia. Tapi usaha ekstra keras itu bukan berarti dengan disiplin yg KERAS, HUKUMAN, MEMARAHI,bukann bukan seperti itu. Tp disiplin dengan kasih sayang.November 17 at 10:47pm ·
  • Yani Widianto Dek Nurul: apa yg sampean katakan tidak ada yg salah dek. Nantinya caranya memang begitu. Tapi untuk jaman sekarang yg sering dilupakan ortu tanpa sadar adl, orang tua tdk menghargai perasaan anaknya, tdk menjadi pendengar yg baik isi hati anaknya. Karena mereka sibuk. Sibuuuuk sekali. NO TIME FOR THEIR SUNSHINE. Kalaupun tak sibuk yaa menyibukkan diri. Pdhal yg dibutuhkan anak dr lahir ceprot sampe gede itu waktu orang tuanya unt saling bertukar pikiran; ortu jg Terus menyakiti hati anaknya dng cap2 buruk spt: bandel! Malas! Ngeyel! Pembohong! Nakal! Bodoh! Nyusahin orang tua! Dan label2 buruk lainnya. Itu semacam stempel yg di tok dijiwanya dan akan dibawanya sampai mati. Kalau hal itu terus ortu lakukan, apa2 yg sampean sebutkan itu spt komunikasi, dll tdk akan tercapai dng baik.November 17 at 11:31pm ·
  • Toto Rahman mantab.semua jari jempol deh,,,, eh tapi bapakmu galak jeng… tapi hasile anak yo api iki loh…November 18 at 1:08pm ·
  • Yani Widianto Pak Toto: Teh ga nya pak Toto… Yg bagus cuma sitok iki Pak, daftar ueleke mblerooot huhuhu Eh pak, aku selalu terngiang percakapan kita jaman msh sekantor yg sampean ngomongin om ato siap sampean gitu deh, kalo mendidik anak tuh jng pake kata “JANGAN” tp dibalik dng kata2 yg positif. Contoh: bukan “jangan lari2 di dlm rumah!” tp “kalo di dlm rumah itu gimana?” Itu bener banget lhoh hehehe tengkyu ilmunya ya pak! :) November 18 at 6:02pm ·
  • Toto Rahman sip…jangan malas nak, di ganti ayo yang rajin, ayo jadi anak baik, ayo berbagi, ayo minta maaf, memang harus memahami cara kerja otak…. Tapi ga gampang, klo gampang lahirin aja robot, pasti nurut heheheh… ucapan kita adalah doa kita…. kapan nambah lagi biar tambah tantangannya. eniway, istri ade ndut dah hamil loh..November 18 at 6:16pm ·
  • Yani Widianto Setujuuuuuu!!! Nambah mben dino kali pak kasarane huehehe.. Tp blom dikasih ma Gusti Allah :D Jadi pak Ade mo segera punya baby? Alhamdulillaaaahh…… :) November 18 at 6:19pm

Terima Kasih Ibu Elly Risman & Betsy Brown Braun

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »
Anak gue gak bakalan jd sekarang ini kalo kami nggak mengikuti seminar ibu Elly Risman! Panjang umur untuk beliau atas ilmu parenting yang beliau sebarkan pada ortu2 seperti kami.
Selain dari ikut seminar2 parenting ibu Elly Risman, berkat buku ini pula kami merasa PD mengasuh anak kami. Saya yg awalnya sangat paranoid sbg ibu dr anak perempuan kini enggak lagi! Kami kini lebih siap dng pengetahuan parenting yg kami miliki dan sisanya kami pasrahkan pd Allah ta’ala. FYI, kami ga sengaja dapet buku ini dng diskon 70% di Gramedia. God Bless!

www.amazon.com

Parents are often perplexed by their children’s typical behaviors and inevitable questions. This down-to-earth guide provides “Tips and Scripts” for handling everything from sibling rivalry and the food wars to questions about death, divorce, sex, and “whyyyy?” Betsy Brown Braun blends…

Belajar jadi Ortu dari Ortu

November 26th, 2011 by Yani Widianto No comments »

Berbahagialah para ortu yg dulu dibesarkan oleh ortunya dng pola asuh yg baik. Karena tak ada sekolah mjd ortu, maka kita mempelajarinya secara turun temurun. Saya yg berbapak galak (kalau memakai skala mak icih, galaknya ada di level 10 xixixi) sedangkan suami mengaku lebih banyak diasuh dng manja oleh kakek neneknya krn kesibukan ke2 ortunya.

Tp bukan berarti kita harus menyalahkan ortu/orang2 yg telah mengasuh kita! Bisa kualat 7turunan awak! Itukan namanya mengingkari takdir?
Tugas kita sekarang adl belajar dr kesalahan ortu kita, ambil yg baik buang yg buruk dan doakan mereka. Dan belajar dari para ahlinya. Baca bukunya, ikuti seminarnya, demi untuk kebahagian kita sendiri hehehehe… Kan kalo anak kita bahagia ortunya bahagia, kan?

Komentar:

  • Nurul Fitriana SUPER sekali….
    sangat setuju sama mbakyu cantik ini…. subhanallah… :)

    November 17 at 10:20pm ·
  • Yani Widianto Nah,,, tanya adekku yang cantik ini kalo nggak percaya kalo bapakku galak hahahaha! Ya kan dek?

    November 17 at 10:22pm ·
  • Alfin Mustikawan Tahun 1980an di UGM ada 3 bersaudara yang meraih gelar Cumlaude! setelah mereka diwisuda banyak orang bertanya, dia anak siapa dan bagaimana cara mengasuh ketiga anak tsb. Ternyata ketiga anak tersebut seorang hanyalah seorang anak Janda buta huruf yang tidak bisa baca tulis, ketika diberi kesempatan untuk memberikan sambutan sang ibu itu bercerita bagaimana dia mengasuh dan mendidik ketiga puteranya tsb ibu itu berkata “Saya tidak menyangka dan mengira ketiga anak saya menjadi anak yang seperti ini, karena saya tidak tahu apa yang mereka pelajari dan lakukan di sekolah karena saya juga tidak pernah sekolah, yang saya lakukan sedari mereka kecil hingga dewasa hanyalah ketika mereka tidur saya elus-elus kepala mereka dan berkata Nak jadi anak yang pinter ya Nak begitu setiap hari setelah sholat malam”
    November 17 at 10:31pm ··
  • Nurul Fitriana hahahaa…

    tau sendiri mb,kalo aku malah galak kubik bukan kuadrat lagi xixixiii…
    betul yang penting jangan jadikan anak ajang “balas dendam” kalo pola asuh ortu dl “cukup keras” dan juga jangan melemah krn pola asuh ortu dl yang “cukup longgar”…
    anak2 jaman sekarang beda betul sama jaman kita dl mb… yang terpenting komunikasi, afeksi, trust, tapi tetep kontrol… :) betul ga sihh?? hehee….
    ahh seneng ya kalo udh jad orangtua, asik gitu sepertinya… jadi pengen *lhohh, hihihii….

    November 17 at 10:32pm ·
  • November 17 at 10:39pm
  • Yani Widianto Anak anak itu bisa hidup tanpa harta yg berlimpah dan wah. Buktinya jaman dahulu yg serba kekurangan kini mereka jadi orang2 hebat dibidangnya. Doa dan usaha ekstra keras orang tualah yg mampu mengantarkan anak anak kita menjadi individu yg mampu mengubah dunia. Tapi usaha ekstra keras itu bukan berarti dengan disiplin yg KERAS, HUKUMAN, MEMARAHI,bukann bukan seperti itu. Tp disiplin dengan kasih sayang.

    November 17 at 10:47pm ·
  • Yani Widianto Dek Nurul: apa yg sampean katakan tidak ada yg salah dek. Nantinya caranya memang begitu. Tapi untuk jaman sekarang yg sering dilupakan ortu tanpa sadar adl, orang tua tdk menghargai perasaan anaknya, tdk menjadi pendengar yg baik isi hati anaknya. Karena mereka sibuk. Sibuuuuk sekali. NO TIME FOR THEIR SUNSHINE. Kalaupun tak sibuk yaa menyibukkan diri. Pdhal yg dibutuhkan anak dr lahir ceprot sampe gede itu waktu orang tuanya unt saling bertukar pikiran; ortu jg Terus menyakiti hati anaknya dng cap2 buruk spt: bandel! Malas! Ngeyel! Pembohong! Nakal! Bodoh! Nyusahin orang tua! Dan label2 buruk lainnya. Itu semacam stempel yg di tok dijiwanya dan akan dibawanya sampai mati. Kalau hal itu terus ortu lakukan, apa2 yg sampean sebutkan itu spt komunikasi, dll tdk akan tercapai dng baik.

    November 17 at 11:31pm ·
  • Toto Rahman mantab.semua jari jempol deh,,,, eh tapi bapakmu galak jeng… tapi hasile anak yo api iki loh…

    November 18 at 1:08pm ·
  • Yani Widianto Pak Toto: Teh ga nya pak Toto… Yg bagus cuma sitok iki Pak, daftar ueleke mblerooot huhuhu Eh pak, aku selalu terngiang percakapan kita jaman msh sekantor yg sampean ngomongin om ato siap sampean gitu deh, kalo mendidik anak tuh jng pake kata “JANGAN” tp dibalik dng kata2 yg positif. Contoh: bukan “jangan lari2 di dlm rumah!” tp “kalo di dlm rumah itu gimana?” Itu bener banget lhoh hehehe tengkyu ilmunya ya pak! :)

    November 18 at 6:02pm ·
  • Toto Rahman sip…jangan malas nak, di ganti ayo yang rajin, ayo jadi anak baik, ayo berbagi, ayo minta maaf, memang harus memahami cara kerja otak…. Tapi ga gampang, klo gampang lahirin aja robot, pasti nurut heheheh… ucapan kita adalah doa kita…. kapan nambah lagi biar tambah tantangannya. eniway, istri ade ndut dah hamil loh..

    November 18 at 6:16pm ·
  • November 18 at 6:19pm