Promo Mandala Mengecewakan

August 18th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Saya dan suami sama-sama pengguna layanan GSM Indosat. Bedanya suami
pakai matrix strong sedangkan saya pakai mentari biasa. Tanggal 7
Agustus kemaren waktu masih di kampung, kami berdua mendapat sms dari
indosat yang isinya:

Dapatkan Tiket Gratis Mandala via wap.mandalaair.com dr HP Anda. Berlaku 7-13 Agus08, terbang Jan-Mar09. Ketentuan berlaku. Info: 021-56997000/www.mandalaair.com.

Karena selebaran kalender akademik 2008/2009 kampus saya ada
dirumah sedangkan kami baru akan sampai rumah tanggal 11 maka kami
berpesan untuk saling mengingatkan sesampainya di Jakarta.

Sampai
tanggal 13 sore saya baru ingat, lalu saya melihat jadwal libur saya
semester berikutnya yaitu antara Januari-Februari 2009. Suami yang juga
baru ingat segera mencoba memesan setelah kami tentukan hari dan
tanggalnya.

Kamipun memesan dua seat untuk suami dan saya dengan tujuan
Batam. Seat masih tersedia. Dengan fare 0 Rupiah, kami hanya kena
charge Rp. 1.100.000 sekian untuk PP dua orang. Namun sebelum
mengeksekusi kedua seat tersebut kami menawarkan kepada maminya Sofi
(kakak saya) yang kebetulan sedang menginap dirumah karena suaminya
sedang tugas ke Samarinda. Mamipun langsung menelpon suaminya dan OK.
Kamipun mengulang pemesanan dan memesan untuk empat seat. Tetapi
ternyata sudah sold out.

Ketika kami kembali mencoba memesan untuk dua
tiket, seat masih tersedia. Akhirnya kami memesan dua tiket tersebut
terlebih dahulu.

Kami baru tahu ternyata sistem pemesanan online Mandala tak seperti
punya Airasia dalam pembayarannya. Mandala memberikan kode tertentu
untuk pembayaran via ATM sedangkan Airasia pemesanan sekaligus
pembayaran dengan menggunakan credit card.

Setelah mendapat kode untuk pembayaran dua seat pertama yang mana
batas waktu pembayaran adalah sampai jam 10 malam ini yaitu kurang
lebih 2 jam setelah jam pemesanan, kamipun menyoba memesan lagi satu
seat dan berhasil mendapat kode pembayaran. Saat kami mencoba lagi satu
seat, ternyata sudah sold out. Berarti seat yang tersedia memang hanya
tinggal tiga. Mamipun setuju untuk yang satu seat menggunakan pemesanan
biasa yang berarti dia harus membayar Rp. 900.000 an untuk sekali jalan
atau hampir dua jutaan untuk PP.

Pemesanan kami lakukan pukul 8 malam.  Jam 9  malam suami ke  ATM
mandiri terdekat yaitu di  Pejaten  Timur  belakang stasiun Pasar
Minggu Baru untuk melakukan pembayaran. Saya yang menunggu dirumah di
telpon suami. Dia bilang pembayaran tidak dapat dilakukan pada waktu
masuk menu Mandala. Suami sudah mengontak informasi yang mengatakan
bahwa ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah sistem Mandala sedang error dan atau
kemungkinan ke dua booth ATM tersebut tidak menyediakan layanan
langsung ke Mandala. Petugas tersebut bilang untuk lebih amannya datang
langsung saja ke kantor Mandala yang ada di Tomang. Tomang?? pliss deh!
jam 9 malam lebih gini jauh-jauh ke Tomang dari Pasar Minggu??

Awalnya saya sudah bilang sama suami dan mami kalau memang rejeki
kita ya dapet tapi kalo enggak dapet ya enggak apa-apa. Tapi bayangan
backpacker-an dari Batam ke Singapore by Fery, Singapore ke Malaysia dan
Malaysia ke Thailand by land udah didepan mata jadi suami yang baik hati
dan rajin menabung inipun saya minta pindah ke ATM lain yaitu di booth
mandiri Pasar Minggu. Tapi hasilnya tetap sama dan saya dan mami yang
dirumahpun kecewa. Capek dehh.. Maksudnya apa sih Mandala pake  promo
gratis-gratisan segala tapi malah mempersulit?!

Keesokan harinya waktu mami udah pergi ke  kantor, suami bilang ke
saya,"Ma, untung kemarin enggak dapet. Kalo mau backpacker-an kan
enaknya pas musim panas. Dan bukankah Jan/Feb di Asia Tenggara itu
musim penghujan". O iya-ya, ternyata ada hikmahnya juga hehehe. Berarti
liburan next semesternya lagi dong? (Juli/Agustus – Insya Allah :D ).

Sorenya waktu mami pulang kantor saya kasih tau kedia eee dia malah
bilang ya sudah November besok aja. Yee akukan liburnya Jan/Feb?? dan
diapun cuma nyengir dan ketawa hehehe. Waktu saya tawarin berangkat sendiri aja berdua sama suminya, katanya maunya bareng aja biar seru (gak berani). Yo wes.

HAPPY BELATED B’DAY SUAMIKU!

August 11th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Sebenarnya cuma nulisnya disini aja yang ‘belated’ bukan ngucapinnya.

Suamiku

Tepat di hari ulangtahunnya, pagi-pagi selepas subuh saya bawakan suami sebentuk kecil kue tart dengan tiga lilin kecil menyala. Tiga lilin itu sebagai simbol suami beistri dan berputri satu. Kejutan kecil ini membuat suami terkejut bukan buatan.

Sebenarnya saya akan memberikannya tepat jam 12 malam hari ulang tahunnya, tapi karena semalam nonton "Devil Wears Prada" sampai jam 11 malam trus jam 23.30 Sofi sudah minta bobok dan suamipun udah nyerah pada kantuk, ya sudah batal.

Setelah memanjatkan doa syukur dan harapan, lilinpun ditiupnya. Tiba-tiba suami ingin Sofia melihat ayahnya meniup lilin-lilin itu. Jadi kamipun berusaha membangunkan putri kami si jago tidur malam dan bangun siang. Tapi apa boleh buat, Walau digendong di oprak-oprak tetep saja merem dan pulas. Ya sudahlah, lilin yang sudah dinyalakan lagi ditiup kami berdua. Setelah itu saya berikan kejutan yang kedua. Sebuah kado mungil saya serahkan padanya. Isinya rahasia. Dan setelah itu terserah kami berdua. Hahaha.

Tak terasa sudah tiga tahun menikah, anak sudah dua tahun dan semua pencapaian-pencapaian selama ini yang cukup membanggakan, kesehatan keluarga, rizki yang cukup adalah dosa paling besar bila tak disyukuri. Hingga harapan-harapan, doa-doa, cita-cita,dan keinginan-keinginan menjadi lagu pasti setiap hari kepada Illahi Rabbi.

Harapan mama adalah tetap sabar menghadapi mama :D dan Sofi dan anak-anakmu nanti. Tetap sabar menghadapi segala cobaan dari kanan dan kiri karena mama selalu mendampingi. Tetap dan semakin beriman dan rajin mendirikan sholat lima waktu sehari. Menjadi iman bagi keluarga yang mengayomi, menjadi ayah yang patut diteladani, menjadi sahabat yang memiliki dan menjadi suami yang pantang berpoligami hehehehhhh….(yang ini pasti).
Aminn aminn aminn tiga puluh tiga kali semoga Allah mengabulkan doa dan menghapuskan dosa kita sekeluarga.

I love U Hubby!

ROAD TO JAVA

August 11th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Senang, adalah kata pertama untuk menyambut liburan saya semester ini. Rencana liburan sudah dirancang jauh-jauh hari dan suamipun sudah berjanji tak akan mengambil kerjaan selama kami berlibur. Namun kali ini kami hanya akan menghabiskannya disekitaran Jawa Tengah dan Jawa Timur berhubung bersamaan dengan menghadiri pernikahan bulik (tante) saya di Purwantoro -sebuah desa di perbatasan Wonogiri, Jateng dan Ponorogo, Jatim. Kebetulan juga sewaktu di Jombang kami diajak menjadi rombongan iring-iringan pengantin keponakan bapak mertua saya.

Pertama-tama kami terbang ke Solo tanggal 24 Juli dengan Airasia yang telah kami pesan dua bulanan yang lalu. Dengan 500 ribu rupiah nett kami bertiga bisa sampai Solo dari Jakarta :D dalam waktu 1 jam perjalanan. Dilangit Solo kami disambut angin kencang yang membuat pesawat ini bergoyang-goyang menegangkan saat akan mendarat di Bandara Adi Sumarmo. Suhu 29 derajat celcius dan berangin sudah membuat udara dingin di musim bediding ini. Dimana kembang-kembang pohon randu mulai bermekaran (atau pohon kapuk yang menghasilkan kapuk kapas sebagai bahan membuat kasur) dan pohon-pohon di kanan kiri jalanan kota Sukoharjo yang selama musim kemarau berguguran mulai bersemi dengan daun-daun light greennya atau hijau pupus.

Rencana liburan dua minggu ini kami isi dengan berbagai kegiatan wisata. Mulai dari wisata alam diantaranya ke ketep pass -menikmati pemandangan gunung merbabu merpapi- yang terletak diantara dua gunung tersebut, ke pantai Parangtritis Yogyakarta, ke Songgoriti -menikmati suasana puncak- di kota malang. Wisata budaya diantaranya menyaksikan kirab keraton Surakarta dalam rangka HUT naik tahta raja Surakarta dan kami beruntung bisa melihat dengan sangat dekat putri bung Karno dengan Dewi Sukarno yaitu Kartika yang datang bersama suami dan anaknya, kami juga mengunjungi candi Borobudur karena saya belum pernah :D dan juga mampir ke pasar Klewer Solo dan pasar Bringinharjo di Malioboro yang semakin padat. Untuk wisata pertanian atau agro wisata kami ke kebun strobery Agrokusuma di Batu Malang. Tak ketinggalan kami juga melakukan wisata kriminal yang sekarang sedang hot di masyarakat Indonesia yaitu wisata ke rumah Ryan Sang Jagal dari Jombang yang kebetulan lokasinya di Kampung sebelah kampung suami saya :D .

Walau kami sendiri wong jowo, tapi masih sangat banyak tempat wisata di sekitaran Jateng dan Jatim pada umumnya yang belum pernah kami kunjungi. Untuk selengkapnya silahkan baca tulisan-tulisan saya dalam episode Road To Java berikutnya ;)

Akhirnya Datang Juga

August 11th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Akhirnya, senin tanggal 11 Agustus saya sekeluarga tiba kembali di Jakarta dengan selamat sentausa. Kami pulang dari Jombang dengan menumpang kereta api eksekutif Bangunkarta. Setelah menghabiskan dua minggu liburan di kampung halaman saya di Sukoharjo Solo Jateng dan kamhal suami di Jombang Jatim rasanya tak sabar kembali ke depan si Mac (minjem ayahnya Sofi deng :D ) untuk bersafari menjelajahi dunia tanpa batas ini.

Namun walaupun berlibur saya tetep nabung tulisan di Laptop. Jadi siap-siap saja membaca liputan khusus plus photo-photo exclusive dari saya selama saya liburan dalam episode Road to Java. Ini bagi anda yang merindukan membaca tulisan saya. Tapi bagi yang membencinya setelah baca pasti jadi rindu hiehehh heh.

Variasi Sarapan Pagi

July 3rd, 2008 by Yani Widianto No comments »

Bosan juga tiap hari makan nasi, nasi dan nasi lagi. Padahal nasi
bukanlah monopoli sebagai sumber karbohidrat satu-satunya yang
menghasilkan energi. Diantara yang saya ketahui adalah kentang, ketela,
ketela pohon/singkong, makaroni, roti, sereal dan aneka ragam mie dan
pasta lainnya. Dan sejauh ini anak saya juga menyukai semua sumber
kalori tersebut. Biar ketela-ketela  itu dikata makanan kampung saya
nggak pernah gengsi, karena ada saja yang nyeletuk, "lho Sofi makannya
singkong ya?", padahal nilai gizinya kaya juga lho. Malahan saya dengar
singkong itu untuk terapi orang sakit maag. Karena hanya singkonglah
yang tidak membuat perut penderita sakit maag mual. Sejak kecil saya
sesekali mengajarinya makan makanan tersebut dan saya bersyukur Sofi
kini berlidah kampung dan campur-campur

Nah, sebagai variasi sarapan pagi saya siapkan 5 butir kentang AB
ukuran sedang untuk kami ber tiga. Rendam kentang dalam air yang diberi
garam untuk membunuh kuman selama 10 menit. Lalu cuci bersih kentang,
kalau perlu disikat sampai bersih karena kentang tidak perlu dikupas.
Lalu didihkan air kemudian masukkan semua kentang dan rebus sampai
empuk. Setelah matang angkat dan tiriskan. Satu persatu penyet kentang
sampai remuk atau bisa juga dipotong-potong sesuai selera.

Untuk menyajikannya, saya biasanya membuat semacam scrambled egg tapi tanpa milk n butter (belum nyoba).
Caranya sih cuma siapkan teflon, beri margarin secukupnya, setelah
panas masukka telor dan kocok didalam penggorengan, boleh juga
ditambahkan sedikit garam dan merica bubuk lalu goreng jangan sampai
gosong.  Angkat dan sajikan bersama abon dan Sambal istimewa (Chili
sauce) cap Pohon Cabe favorit kami yang tanpa bahan pengawet dan bahan
pewarna. Kalo suami tak pernah nolak ditambah kering tempe yang berisi
tempe dan kacang tanah :P . Tempe forever ya Yah :D .

Cepat dan gampang untuk dicoba bukan?

Udang Kangkung Masak Saus Tiram

July 2nd, 2008 by Yani Widianto No comments »

Separo sisa udang yang saya buat dengan bihun kemarin hari ini saya masak. Ohya sebelumnya untuk memperlakukan udang
setelah beli dan sampai rumah cuci udang dengan bersih. Boleh dikupas
atau dibersihkan kotorannya saja. Kemudian beri air jeruk nipis atau
jeruk lemon yang sudah disiapkan (iris jeruk lalu kucurkan ke dalam
udang) kemudian campur campur hingga merata. Diamkan beberapa menit
lalu bersihkan lagi dengan air. Nah udang tinggal dimasak sesuai selera
atau kalo untuk satu dua hari lagi simpan saja di freezer.

Kangkung_udang_saus_tiram_

Kali ini udang saya campur dengan dua sendok saus tiram dan diamkan
beberapa saat. Saya siapkan satu ikat kangkung dan bumbu tambahannya
adalah 2 bawang merah dan 2 bawang putih serta setengah bawang bombay
dan diiris tipis tipis. Kemudian saya panaskan margarin, tumis bumbu
sampai layu, masukkan udang tadi aduk sampai berubah warna lalu
masukkan kangkung dan masak sampai matang. Saya tidak menambahkan garam
atau gula karena rasanya sudah pas. Dan makan siangpun siap disantap :D .

Daging Sapi Saos Tiram (Harusnya Saus Teriyaki)

July 1st, 2008 by Yani Widianto No comments »

Kemarin di kampus pas jamnya literary criticism, temen saya QQ yang mo
kawin ngasih resep ke saya beberapa masakan praktis kombinasi dengan
saus teriyaki dari temen kantornya. Esok harinya karena saya pergi sama
Sofi, saya nitip saus tiram ke suami yang belanja sendiri ke Giant.
Saya salah memberi pesan kesuami, harusnya saus teriyaki. Ketauannya
pas pagi-pagi ngintip resep dari QQ untuk bikin daging sapi masak saus
teriyaki. Padahal malamnya
biar
bumbu meresap saya sudah mencampurkan 2 ons daging sapi yang diiris
tipis-tipis dengan 2 sendok saos tiram lalu disimpan di lemari es.

Nah, paginya pas mo praktek saya intip lagi catatan QQ. Ternyata
salah saus. Suami saya merasa bersalah tapi saya langsung koreksi bahwa
saya yang salah kasih pesan ke dia. Suami bilang, udah nggak papa coba
aja. Ya saya sih pede aja masaknya wong yang mau dimasakin aja udah mau :D . Akhirnya saya
tumis separuh bawang bombay yang telah diiris tipis-tipis memanjang. Setelah layu saya masukkan daging sapi tersebut. Saya masak sampai daging empuk. Menurut resep, enggak perlu tambah-tambah bumbu lain karena daging sapi kalo masaknya pas rasanya sudah manis. Ee bener, setelah matang dan saya incip, wow! rasanya enak. Jadi teringat menu di hokben.

Untuk daging sapi saus tiram saya ini, saya sajikan dengan makaroni
lafonte (biar nggak nasi melulu).Bentuk kesukaan Sofi yang fusilli -
202 atau bentuk spiral. Ternyata enak juga lho. Variasi sarapan pagi
kami pun jadi lebih menyenangkan ditambah senyum lebar suami dan Sofi
>:D<

NB:

  1. Untuk masak makaroninya, rebus air secukupnya
    kemudian masukkan makaroni dan aduk. Masak selama +/- 8 menit atau
    menurut selera tingkat kekenyalannya. kemudian tiriskan.
  2. Makaroni enaknya dimakan dengan yang bersaus saus. Contohnya daging sapi masak saus tiram :D
  3. Maaf nggak ada fotonya
  4. Siangnya QQ balas sms saya, kata
    temennya kalau udah terlanjur pake saus tiram ditambah bawang merah dan
    bawang putih :D . Wah udah terlanjur masuk perut Q, enak sih :D
  5. Resep ini sangat mudah dan cepat jadi cocok untuk sarapan orang-orang yang selalu berangkat pagi-pagi walau kami bukan hehe.

Bihun Goreng

June 30th, 2008 by Yani Widianto 3 comments »

Aduh mak mak, ngomonginnya akhirnya nggak jauh juga dari urusan dapur.
Untuk resep pertama disini saya mo bagi resep bihun goreng versi saya :D soalnya nggak sesuai dengan versi resep di bungkus bihunnya hehe.

Untuk perbandingan, saya kasih tahu dulu resep aslinya berikut ini:

  • 1 bungkus bihun netto 220 g
  • 1 ons udang kupas
  • 1/2 ons kapri
  • 3 siung bawang putih
  • 2 batang seledri
  • 3 sendok kecap asin
  • 150 cc kaldu ayam
  • 1 1/4 ons daging ayam potong tipis
  • 4 batang daun bawang
  • 8 batang caisim
  • 1 sendok kecap manis
  • merica, garam, vetsin, minyak goreng secukupnya


Bahan-bahan versi saya:

  • 1 bungkus bihun netto 220g
  • 250 gram udang kupas (karena di warung mbak pon jualnya 1/2 kg an)
  • nggak pake kapri (diwarung lagi kosong)
  • 4 siung bawang putih (tambahin satu biar sedap :D )
  • 2 batang seledri
  • gak pake kecap asin (gak punya n di warung susah)
  • 150 cc kaldu ayam
  • beli satu paha di potong tiga direbus dua trus air kaldunya di pake 150cc diatas lalu dagingnya diiris tipis-tipis
  • 2 batang daun bawang (nggak suka banyak-banyak daun bawang)
  • di warung caisim kosong saya ganti dengan sawi hijau 2 rumpun
  • 3 sendok kecap manis ABC soalnya gak punya kecap asin hehehe.
  • seperempat sendok teh merica bubuk; garam secukupnya; anti vetsin; margarin untuk gantiin minyak goreng.
  • NB: Saya tambahin baso sapi 4 butir dipotong tipis tipis.

Cara memasak:

  1. Masukkan
    bihun kedalam air mendidih, setelah 1 menit tiriskan sampai dingin;
    biarkan dingin dulu dan baru boleh diproses selanjutnya.
  2. Irisan bawang putih dan daun bawang ditumis dengan margarin secukupnya.
  3. Setelah 1/2 matang, masukkan merica garam, vetsin, kecap asin/manis; diaduk aduk sampai merata.
  4. Tuangkan kuah ayam, bakso, pangsit juga boleh, dsb menurut selera masing-masing.
  5. Masak hingga mendidih, lalu
  6. Masukkan sayuran.
  7. Setelah sayuran 1/2 matang, masukkan bihunnya dan aduk berlahan-lahan hingga merata.
  8. Jangan lupa sajikan dengan bawang goreng yang gurih itu :)
  9. Terakhir, lebih nikmat dimakan saat masih panas mmm yummyyy!

Nah,
voila!! inilah hasil masakan saya. Saya sajikan untuk sarapan anak dan
suami saya. Komentar suami, enak! serius emang enak bukan karena mo
nyenengin saya lho hehe buktinya pas makan siang dan malam masih nyari
juga >:D<
Bihun_goreng__2

Tak lupa saya tambahkan kering tempe, karena suami saya senang dengan makanan kering-kering (khas e arek jawa timur) hehehe.
Bihun_goreng_2

Karena
satu bungkus itu jadi banyak banget, Akhirnya tetanggapun kebagian :D
Well,, selamat mencoba resep bihun goreng versi saya :D .

Sofi Merusak Anggrek Saya

June 20th, 2008 by Yani Widianto 1 comment »

Pagi tadi saya biarkan Sofi mainan didepan rumah sementara saya masak
untuk makan siang. Gorden saya buka lebar supaya saya bisa melihat dia
dari dapur. Sayapun membukanya sekedar biar saya bisa melihat dia saja,
tapi bukan melihat apa yang dia lakukan. Saya biarkan dia bermain
dengan pot-pot kecil saya yang berisi tanah. Berani kotorkan baik. Dan
yang saya ketahui dia berdiri diatas kursi depan bermain dengan
memindahkan tanah di pot satu ke pot yang lainnya dengan sekop kecil di
tempat saya menaruh anggrek-anggrek saya yang salah satunya sedang
berbunga penuh.
Anggrek

Tanpa curiga saya sibuk di dapur sambil sesekali memastikan bahwa
dia masih dalam jangkauan penglihatan saya. Sampai akhirnya saya
selesai masak dan beberes dia tetap asyik mainan disitu tanpa beranjak,
saya panggil dia masuk rumah untuk membersihkan diri lalu diapun
bermain di dalam rumah. Siangnya saya suapin dia dan Ayahnya pun pulang
dari urusan di luar rumah. Waktu ayahnya cuci tangan saya menengok
kedepan rumah dan alangkah terkejutnya, anggrekku sudah brindil! Saya
berteriak ke ayahnya,
"Yahh,, anggrekku!!", antara kaget, mau marah tapi didalam hati saya tertawa geli.
"Knapa Mah?!" tanya suamiku kaget.
"Anggrekku di protoli Sofi!"
"Alah
yo wes, udah jangan dimarahin anaknya", kata suamiku, karena dia tahu
saya paling marah kalo ada yang mengusik bunga-bungaku apalagi anggrek.
Tapi saya enggak bisa marah sama sekali. Melainkan gemas dan geli
sekali. Saya membayangkan Sofi tanpa dosa memreteli bunga anggrekku
yang berwarna kuning berlidah ungu itu. Pantesan dia anteng saja saya
tinggal dibelakang tadi. Padahal biasanya ada aja yang dia rengekkan,
ikut mama masaklah, minta minumlah, minta gendonglah, tapi enggak untuk
tadi.

Anggrek_mama

Saya bertanya ke Sofi siapa yang memetik bunga mama dan dia
menjawab,"Opia!" sambil senyum senyum klugat kluget dengan lagak
khasnya kalo merasa bersalah. Saya menghargai kejujurannya dan saya
hanya bilang pada Sofi,"Sofi, lain kali jangan suka petik-petik bunga
mama ya, kalo dipetikinkan bunganya nggak bisa dilihat lagi, jadi
jelekkan kalo berindil gitu". "Iya mama", jawabnya cepat sambil gigit
jari dan saya jadi gemas. Setidaknya saya masih bersyukur tidak menaruh
serta anggrek bulan saya yang sedang mekar juga disitu. Kalo ya?

Akhirnya Punya Passport

June 16th, 2008 by Yani Widianto 3 comments »

Jum’at 13 Juni kemarin saya resmi punya passport. Gaya ya, padahal hare
gene baru punya passport hehehe. Gak papah lah. Yang penting rasanya
dunia udah digenggaman tangan walau cuma genggam passport :p. Passport
belom ditangan saja saya sudah membayangkan keliling eropa via trans
siberian. Kebayang deh dari Beijing naek kereta api tutt tutt tutt
tidur dikompartemennya en tau tau sampe Rusia trus blusak blusuk ke
Schengen Treaty countries weleh
weleh! bangun-bangun siang siang kok tidur, ya bolong-bolong mimpinya.
Emang mau kemana sih bu? kalo ditanya gitupun saya juga bingung mau
jawab apa. Terus terang saja, yang ngomporin ya suami saya dan yang
memicu adalah tiket-tiket promo yang murah-murah sampai nol Rupiah itu
(tapi excluding tax loh, jangan seneng dulu) dan juga suami yang dapat
bonus millages dari nortwest buat pp ke seluruh asia-lah yang membuat
saya bikin passport juga. Tapi kapannya itu yang saya tidak tahu.
Semoga saja Allah memberikan rejeki yang cukup untuk traveling keliling
dunia :D , cukup saja sudah seneng kok gak perlu melimpah hehehe dan
memberikan kami sekeluarga umur panjang untuk mewujudkannya, aminn
aminn aminnn :) . Btw ya Allah, keliling Asia dulu juga gak papa kok,
Suer! :) genggamin mimpi kami ya Tuhanku :)

Bagi saya bikin passport sekarang atau nanti itu perlu, karena
berhubungan dengan rencana kehamilan kedua saya (malu ah). Soalnya ntar
ada kesempatan ke luar eh lagi hamil 8 bulan kan gak asyik. Makanya
Sofia juga sedang dalam proses bikin passport, hari selasa 17 Juni ini
giliran dia wawancara. Mumpung sedeng dia mampu dan mau jalan jauh lah
(ribet kalimatnya, jawir banget ;P).

Seluk Beluk Bikin Passport

Bagi yang baru mau bikin passport, ini mungkin bisa sedikit memberi
informasi. Berhubung sekarang sudah online, jadi anda bisa membuat
passport dimana saja. Nggak seperti jaman kakak saya dulu, bikin
passport harus pulang ke solo. Untuk biaya neh, catet ya,
mending jangan bikin passport mepet-mepet mo ke LN, karena kalo
buru-buru maunya sehari kelar ya mau gak mau lewat calo. Dulu kasus
suami saya juga begitu, karena hanya punya waktu satu minggu (gak
nyangka mo ke LN) jadi buru-buru bikin passport buat apply visa. Mata
calo kan awas tuh kalo orang lagi bingung, ya udah kena deh. Tapi kalo
gak pake calo emang at least butuh waktu 2 mingguan sih dari daftar,
wawancara sampai ngambilnya. Tapi lewat calo emang cuma 1 hari terima
beres. Dulu suami saya kena Rp 800.000,- wawancara en fotonya diruang
terpisah dari jalur yang normal lho. Kalo saya hari ini daftar, dua
hari kemudian wawancara trus dua hari kemudian disuruh balik ambil
passport (itu kalo disetujui), pas ngambil punya saya kemarin ternyata
belum jadi sehingga suruh balik lagi keesokan harinya, dan itu hanya
bayar Rp 200.000,- untuk passport 48 halaman ditambah SPLP WNI
perorangan Rp 40.000,- jadi Rp 240.000,-. Bisa juga sih kalo mau yang
24 halaman hanya bayar 50.000,- ditambah SPLP Rp 40.000,- jadi hanya Rp
90.000,-. Tapi karena pernah baca di surat pembaca Kompas ada yang
komplain waktu di singapore passportnya bermasalah di imigrasi sana
karena hanya 24 lembar, jadi kami memutuskan untuk ambil yang 48
halaman.

Syarat-syarar Bikin Passport Baru

Saya bersyukur punya suami yang tertib administrasi. Seperti KTP,
KK, SIM dll selalu valid dan sesuai domisili :D jadi gak keteteran kalo
perlu-perlu mendadak. Dan untuk bikin passport ini dokumen yang
dibutuhkan antara lain:

  1. Mengisi formulir permohonan secara lengkap dengan huruf cetak (dikantor imigrasi)
  2. Melampirkan asli dan 1 lembar foto copy bukti domisili yaitu KTP dan Kartu Keluarga (KK) yang masih berlaku.
  3. Bukti identitas diri berupa:
     
  • Akte kelahiran – kemarin karena akte saya ada di solo kami ganti dengan ijazah terakhir yang dilegalisir ternyata boleh.
  • Ijazah
  • Surat Nikah/Surat Baptis


Bagi anak dibawah 17 tahun melampirkan:

  1. KTP Orang Tua (ayah dan ibu) – saya nggak tahu kalau singgle parent
  2. Surat Nikah Ortu
  3. Surat Pernyataan (Izin) Ortu (ditandatangani diatas materai 6000) – surat dan materainya sudah disediakan oleh pihak imigrasi
  4. Paspor Orang Tua.

Prosedur Bikin Passport

Hari Pertama:

  1. Isi formulir pendaftaran
  2. Ambil nomor antrian – Dimesin otomatis
  3. Serahkan semua berkas yang diminta ke loket dengan membawa dokumen asli setelah nomor antrian tampil dilayar monitor
  4. Pemohon akan mendapat tanda terima dan diminta datang 2 hari kemudian


Hari Ketiga :

  1. Pengambilan berkas di loket 4, kemudian
     
  2. Bayar dokumen di kasir, lalu
     
  3. Ambil nomor antrian di loket 6 untuk wawancara dan foto berbasis biometrik,
     


Hari Kelima:

  1. Mengambil Passpor di Loket 5 – itu kalo disetujui dan udah jadi lho.


So siapkan passport anda jauh jauh hari biar duitnya enggak dikasihin
ke calo melainkan buat tambahan bayar fiskal kan lumayan. :( cape
dehhh, fiskal…


NB:
Pas wawancara kemaren, pertama-tama kita serahin berkas ke meja
pertama setelah pintu masuk ruang pengambilan foto dan sidik jari,
setelah itu ngantri pengambilan foto sekalian sidik jari sepuluh jari
tangan kita. Habis itu berkas kita ambil lagi kita serahkan ke meja
petugas dekat pintu masuk ruang wawancara, setelah dikembalikan kekita,
ngantri lagi untuk wawancara.
Kemaren waktu ngantri giliran wawancara ada bapak-bapak didepan saya
yang mengeluh,"buat ginian aja ribet ya", katanya. Saya jawab,"ya
iyalah pak, namanya juga penting", sambil saya tersenyum tentunya.
Padahal dalam hati, belum tau ni bapak kalo cari visanya, apalagi visa ke AS banyak yang di tolak-tolak sampe mohon-mohon enggak digubris
heheheh. Begini neh budayanya orang Indonesia, untuk yang
penting-penting maunya cepet gampang murah jadinya ya calo betebaran.

RALAT

1. Untuk biaya pasport jalur normal 48 halaman Rp 270.000,-  meliputi:

  • SPRI   Rp. 200.000,-
  • Sidik Jari    Rp. 15.000,-
  • Foto terpadu SPRI Rp. 55.000,-

2. Untuk passport 24 halaman walau di brosur ada tapi kenyataan diloket sudah tidak disediakan lagi.


Related link:

Sofia Juga Punya Passport


Happy Birthday Anakku!!

June 9th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Alhamdulillah wa syukurillah. Hari ini tanggal 9 Juni 2008 putri kami Sofia genap berusia 2 tahun. Semua doa yang baik-baik menurut kami, kami persembahkan untuknya. Saya jadi teringat 2 tahun yang lalu waktu berjuang melahirkannya. 9 Juni 2006 bertepatan dengan pembukaan piala dunia. -sekarang Sofi kalo liat pertandingan sepak bola di TV selalu berseru "Macaowoh!" (Masyaallah)- Sofia lahir normal dibantu dengan induksi karena sudah seminggu bukaan satu terus :D . Sofi juga lahir seminggu setelah kakek buyutnya meninggal. Dan Sofi pun akhirnya merasakan udara ber AC di dunia ibunya setelah di vakum dan saya dibantu bernafas dengan oksigen (hahh.. seperti melayang rasanya). Sakit, sudah pasti apalagi selama diinduksi dari pukul 7 pagi sampai 1/2 1 siang tapi sekarang sudah lupa bagaimana rasa sakit itu :D . Akan tetapi semuanya dibayar lunas bahkan lebih oleh Allah SWT dengan lahirnya seorang bayi putih dan bersih. Saya, suami juga, sempat kaget waktu diangkat anakku kok bersih banget dan putih nggak ada merah-merahnya kayak jabang bayi yang selama ini saya lihat. Dan kini bayi dengan panjang 51cm berat 3.3kg ini telah berusia 2 tahun.

Hut

Dengan segala keajaibannya dia tumbuh dan berkembang bersama kami. Begitu banyak hal-hal yang menakjubkan yang dia tunjukkan kepada kami selama ini.  Dari semua itu, tak ada kata lain  selain syukur dan syukur kepada Allah SWT. Kami telah dikaruniai  putri yang  indah, lucu, dan pintar. Kenakalan-kenakalan yang ada hanyalah timbul karena keegoisan kami. Seperti kaset kosong yang sedang merekam, begitu pula anakku. Dia melihat, mendengar dan merasakan apa yang ada didepan matanya dan disekitarnya dan mungkin juga banyak yang belum dia mengerti, dia pun memahami sebatas kemampuannya. Karena kebelumtahuannya itulah yang membuat kami -seyogyanya tidak- kesal. Dan kami sebagai orang tua baru, akan selalu dan selalu belajar bahkan berusaha sepenuh hati untuk mendidik, membimbing dan menuntun anak kami dengan benar dan di ridhai Allah SWT. Selamat ulang tahun yang kedua putriku, semoga selalu dalam lindungan Allah ta’ala, sehat selalu, pintar dan banyak ilmu yang bermanfaat bagi semua makhluk didunia. Amin ya robbal alamin.. mama love you.

NB: Dihari ulang tahun ke-2 ini, Sofia mendapat kado dari ayah sebuah blog sofia.widianto.com yang akan berisi foto, video dan tulisan tentang Sofi. Diantara kesibukannya ayah berjanji untuk meluncurkannya tgl 9 Juni ini jadi kalo ada hal-hal yang masih kurang mohon dimaklumi karena ayah mendesain sendiri blog ini. Silahkan berkunjung ya om, tante,, dan semua :D karena sudah bisa dibuka. 

Sofia Paska Disapih

June 1st, 2008 by Yani Widianto No comments »

1
Dua minggu setelah sofia disapih, ada beberapa perubahan extreme
padanya. Saya jadi berpikir ini adalah pengaruh psikologis karena tidak
lagi nenen mamanya. Dia menjadi lebih berani dan percaya diri. Mungkin
itulah mengapa didalam Alquran pun mengisyaratkan agar anak disusui
sampai usia dua tahun.


Sore itu seperti biasa Sofia harus mandi. Tapi kali ini dia ingin
dimandiin ayahnya. Tak dinyana dia yang sudah pasti menangis
menjerit-jerit kalo mandi pake air dingin (harus air hangat) tiba-tiba
mau nyebur ke bak mandinya sambil beramain-main dengan senangnya tanpa
dosa. Saya dan suami terheran-heran, kok bisa ya?. Belum hilang rasa
heran kami, kami dibuat bengong Sofi lagi. Belum selesai berpakaian,
dia mendengar suara odong-odong dengan lagu-lagu anaknya yang khas.
Sepontan dia berteriak, "Ma odong-odong!". "Sofi mau liat?" tanya saya
dan suami, "mauu, Sofi mau odong-odong!" jawabnya tak sabaran.
Teriakannya itu tak membuat kami heran karena dia memang senang melihat
teman-temannya naik odong-odong. Hanya melihat sambil menikmati
lagu-lagu yang diputar dan keceriaan teman-temannya karena dia tak mau
naik. Kalau kami suruh naik, pegangannya akan semakin kencang dan tak
mau lepas dari gendongan kami. Anehnya, setelah selesai berpakaian,
bersama ayahnya Sofi lihat odong-odong. Saya kaget waktu ayahnya pulang
tergopoh-gopoh ambil uang ribuan. "Sofi mau naek mah! gak mau turun,
ini yang kedua kalinya!". "Hah?! dia mau naek?!". Kamipun tertawa
bersama.

2

Keesokan harinya Sofi kami ajak berbelanja di mall Kalibata. Karena
waktu sudah menunjukkan jam makan siang, maka kami putuskan mampir di
KFC nya. Seperti biasa, disana Sofi langsung bermain diarena bermain
KFC yg dilengkapi dengan seluncuran besar dan lumayan tinggi. Ada yang
lurus juga ada yang berliku. Biasanya dia hanya berlari-lari disekitar
situ. Selalu menolak bila kami suruh mencoba dengan mengangkatnya di
seluncuran. "Sofi takut mah/yah!" sambil meronta. Tapi anehnya, kali
ini dia mencoba meniti tangga lebar dan lurus yang tangannya belum
sampai untuk berpegangan pada kanan dan kirinya. Kami selalu sengaja
membiarkan Sofi berbuat apa saja semaunya kecuali yang membahayakan
dirinya. Karena gagal dan juga tak mau saya pegangin akhirnya dia
berpindah  keseluncuran yang lurus. Awalnya dia bermain dimulut
seluncuran, tapi lama kelamaan dia mencoba naik keatas lewat
seluncurannya dan berhasil. Merasa bisa, dia semakin agresif bermain.
Berkali-kali dia naik dan berseluncur. Diapun mulai penasaran dengan
seluncuran yang lebih tinggi dan berliku. Dia naik dari seluncuran
lurus lalu dengan agak takut dia merangkak naik ke tempat yang lebih
tinggi hingga mencapai mulut seluncuran berliku. Diapun jadi senang
bisa meluncur disana. Karena sudah mencoba, diapun bermain semaunya
sendiri bahkan naik lewat seluncuran yang berliku sambil dada dada pada
kami dan bernyanyi nyanyi, duhh anakkuu… Kami hanya bisa tersenyum
padanya dan menyemangatinya,"Keep going Sofia!"

3

Hal lain yang Sofi lakukan paska saya sapih adalah, dia kini memanggil
dirinya sandiri dengan kata ganti "AKU" bukan lagi "APIA (Sofia)". Ini
semakin hari semakin sering kami dengar. Saya dan suami enggak tahu
dari mana dia belajar. Padahal kalau ditanya, aku itu siapa, dia tidak
bisa menjawab dan ngomong yang lain. Contohnya, waktu saya menawarkan
teh, "siapa mau teh?", Sofi langsung jawab, "Aku mauu!! mah, aku mau
teh". Kalau dia kaget dengan sesuatu dia langsung berseru. "Kaget aku!
mah aku kaget". Kalau disuruh tidur, "aku nggak mau tidur..!", dan
masih banyak yang lainnya. Kami belum tahu apakah anak seusia dia
memang sudah menggunakan kata ganti aku untuk menyebut dirinya.

TMP Kalibata

May 26th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Tmp_kalibata_1
Hampir tiap sabtu minggu atau tanggal merah saya, Sofi dan ayahnya menghabiskan waktu di pagi hari dengan olahraga atau sekedar mencari matahari pagi sambil cari sarapan di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata. Apalagi setelah direnovasi beberapa bulan lalu, tempat ini kini di lengkapi dengan dua kolam ikan yang lumayan besar dikanan kiri pintu masuk pemakaman. Hal itu makin membuat Sofi betah bermain sambil melihat ikan-ikan koi yang jika dilempar makanan selalu berebutan bahkan berlompatan menimbulkan kecipak air yang mengagetkannya.

Secara keseluruhan komplek pemakaman pahlawan-pahlawan kita ini memang sangat bagus. Sehingga sering kali dikunjungi banyak warga Kalibata maupun sekitarnya sekedar untuk berolahraga maupun bermain-main. Arsirektur yang mengambil desain gunungan dalam dunia pewayangan dengan warna kekuning-kuningan alami batu padas memberikan kesan traditional dan natural pada kiri kanan pintu masuk pemakaman ini. Hamparan hijau rumput gajah dan jepang membuat kesan lapang. Merupakan suatu ruang publik yang sangat diperlukan warga jakarta. Namun ada beberapa hal yang disayangkan dari semua itu.

Pertama, tempat seluas ini tidak ada satupun tempat sampah yang mudah terjangkau oleh pengunjung. Walhasil, sampah seringkali mengotori tempat ini terutama disekitaran kolam ikan yang banyak dikunjungi anak-anak. Banyak bekas bungkus makanan ataupun minuman disekitar kolam ikan bahkan didalamnya yang merusak pemandangan. Bahkan seringkali saya harus membawa pulang bungkus bekas makanan atau minuman yang kami bawa.

Kedua, didepan pintu masuk areal pemakaman memang ada petugas satpam yang menjaga tapi terkadang pergi entah kemana saya kurang tahu. Sehingga ada saja pengunjung yang akan masuk ke areal pemakaman tapi tiba-tiba disemprit kadang ditepokin dari kejauhan (satpam ada di bangunan sebelah kanan makam. Tapi setelah beberapa kali saya amati, keluarga yang hendak ziarah ke makam tersebut melewati pintu kusus didekat bangunan sebelah kanan itu. Kalau begitu mengapa tidak diberi saja sedikit pengumuman di pintu gerbang yang menyatakan "yang tidak berkepentingan dilarang masuk", sehingga tidak mengecewakan pengunjung (bukan keluarga sang penghuni makan) yang penasaran dengan isi pemakaman ini. Dan juga  agar pengunjung tidak malu bila tidak tahu kalau dilarang masuk lalu di tepoki  seperti nepokin  burung dara  yang pasti mengundang perhatian banyak orang.

Sofia Melempar Sikat Gigi

May 13th, 2008 by Yani Widianto No comments »

"Afia mau dimandiin mama!", jawab Sofi tadi pagi waktu ibuku (embahnya Sofi) menanyakan padanya mau mandi sama siapa. Beberapa hari kemaren dia memang minta dimandiin ibuku terus. Karena baru Jumat kemarin beliau datang, mungkin Sofia kangen dimandiin embahnya. Yang pasti  dia merasakan perbedaan mandi dengan embahnya dengan mandi dengan saya. Tapi selama mandi dengan embah, Sofi pasti lupa sikat gigi.

Setelah badan sudah bersih dari sampo dan sabun saya bilang pada Sofi, "sekarang sikat gigi dulu ya nak?!", "iya ma, sikat gigi", jawabnya. Saya taruh sedikit pasta gigi kesukaannya diatas sikat lalu saya serahkan dia. Sofia sudah bisa memegang sikat gigi dan menyikat giginya dengan benar untuk anak seusia dia (23 bulan) setelah saya beri contoh cara memegang dan menyikat gigi (anak ini daya ingatnya sangat tinggi dengan apa yang pernah saya ajarkan).

Awalnya dia hanya menghisap-hisap sikatnya saja (pasta gigi Sofi aman bila tertelan). "Ayo disikat dengan benar!", pintaku sambil berjongkok. Lalu dia menyikatkan sikatnya sekali saja kemudian dibuat mainan setelah pasta giginya habis dia hisap-hisap. Saya sadar saya harus tetap sabar. "Mama bantuin sikat gigi ya nak?", "NGGAK MAU!". Saya diam saja dan dia tetap main-main dengan sikatnya. "Ayo disikat yang bener! kalo nggak disikat dengan bener nanti bisa sakit gigi trus harus minum obat lho!" kataku panjang lebar dengan nada agak tinggi seraya saya ambil alih sikatnya. Namun dia bersi keras memegang sikatnya. Dia malah marah, "NGGAK MAU! NGGAK MAU! NGGAK MAU! NGGAK MAU!" dan dilemparnya sikat itu masuk ke ember. Saya diam saja. Ibu saya yang sedang didapur menimpali,"biarin saja tho nduk kalo biasanya mau, anak kecil ini." Saya tetap diam tidak menjawap kata-kata ibu saya.
Dengan tetap jongkok berusaha mata saya tetap sejajar dengan mata Sofi, saya diam dengan terus memandanginya dengan tatapan (pura-pura) sedih bercampur marah. Sesekali dengan diam juga Sofi memandang mata saya, sesekali juga dia melemparkan pandangannya ke obyek lain tapi saya tetap tak bergeming memandanginya.
Kira-kira 2 menit kami diam seperti itu. Akhirnya Sofi mengambil sikat yang masuk kedalam ember dan,"ini ma, buat sikatan Apia","Oh ya, sini sofi mama sikatin dulu ya, itu giginya masih ada sisa makanan, biar sofi nggak sakit gigi. Mamakan sayang sama Sofi, jadi mama nggak mau Sofi Sakit gigi". Saya perhalus nada ucapan saya dan saya beri alasan sejelas mungkin, karena Sofia selalu mendengarkan alasan-alasan saya. Setelah saya cium sambil berkata anak mama pinter, saya sikatin gigi sofia dengan lancar karena dengan senang hati dia Hiiiii dan Haaaaa. Selesai sikatan dia bilang,"Apia pinter ya mah? iyaaa Apia pinterrr…. tuuu gak papa kan…?", katanya sambil menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. "Iya anak mama pinter dan hebat", jawab saya.

Setelah itu seperti biasa dia minta sisa air di ember diguyurkan ke badannya. Lalu kulilitkan handuk dibadannya dan keluar dari kamar mandi. Ibu saya yang melihat dari dapur tersenyum. Saya balas senyumnya dengan mengedipkan kedua mata. Begitulah Sofi bila merasa dia yang salah.

Sedihnya Menyapih Sofia

May 13th, 2008 by Yani Widianto No comments »

2524298710_e2104906b4_m
Alhamdulillah, 9 Juni tahun ini Sofia akan genap berumur 2 tahun. Itu berarti waktunya untuk saya menyapih dia. Sebagai informasi, saya memang menyusui sofi dari lahir sampai sekarang. Selain karena saya merasa hak seorang bayi mendapat ASI juga karena dalam Alquran mengisyaratkan kepada kita untuk menyusui bayinya sampai usia 2 tahun. Disamping itu, rasanya luar biasa bisa menyusui anakku sendiri sampai sejauh ini.
Kamis minggu kemarin mbah utinya Sofi datang. Beliau akan membantu menghandle Sofi selama saya kuliah karena ayahnya akan lomba lagi di Vegas minggu ini (bukan judi di kasino lho ya). Saat inilah saya dan suami rasa tepat untuk menyapih Sofi, karena ada ibuku yang siap membantu.

Sedihnya saat embahnya datang Sofia sedang sakit. Sebenarnya dia enggak panas atau batuk atau pilek. Cuma dia sedang mencret tapi bukan diare karena intensitas BABnya normal sekali sehari. Memang beberapa hari ini dia susah makan. Hanya makan camilan saja. Makan pake sayur hanya sayuran tertentunya saja yang dimakan, begitu pula dengan telor dan ikan, dia hanya makan telornya saja atau ikannya saja. Sebagai pengganti nasi (karbohidrat) untung dia mau saya rebusin ketela pohon atau ubi jalar sebagai variasi, sereal dan roti tawar dia juga suka.

Kamis pagi embahnya datang. Lalu seharian Sofi sudah kami bilangin kalo nenen mama sudah habis. Kami ganti dengan minum teh tapi susu ultranya tetap saya berikan juga air putih. Waktu tidur siang dia tertidur dengan sendirinya mungkin karena capek bermain dengan embahnya. Padahal biasanya dia takkan tidur kalau tidak sambil nenen.

Malamnya sepulang saya kuliah pukul 8.30 malam, dia merengek minta nenen tapi segera dialihkan perhatiannya oleh ibu saya. Menjelang dia tidur malam, dia mulai lagi merengek minta nenen tapi selalu diambil alih ibu saya. Digendongnya dia namun tetap saja tak mau tidur. Hanya lupa lalu mengajak bermain dan bermain lagi. Sudah larut malam dan saya capek. Ibu suruh saya tidur duluan biar dia yang nemenin Sofi. Sofi terus merengek menangis minta nenen, digendong dan dilipurlah oleh ibuku dan akhirnya karena capek nangis dan ngantuk akhirnya dia tidur. Dia tidur bersama embahnya.

Tengah malam saya terbangun lalu mengangkat Sofi untuk tidur dengan saya dan ayahnya. Tapi tidak begitu lama dia terbangun dan merengek dan menangis sejadinya minta nenen. Saya beri minum air putih tidak mau lalu diambil alih ibu saya sampai dia tertidur lagi kecapekan.

Sampai pagi Sofia terbangun seperti itu hingga empat kali. Waktu terbangun yang kedua saya minta ijin embahnya biarlah saya nenenin dia dulu. Toh saya baru berniat belajar menyapih dia bukannya langsung melarang dia menyusu saya. Tapi saya  malah dimarahin sama mbah uti juga mbah kakung. Mereka bilang kalau disapih ya disapih jangan setengah setengah. Akhirnya saya diam saja dan kembali tidur karena nguantuk sekali. Dan lagi-lagi Sofia juga tertidur lagi karena capek menangis dan sangat ngantuk.

Tapi tidak begitu lama lagi-lagi dia terbangun minta nenen. Tapi kali ini dia menangis meraung-raung minta nenen. Tangisnya seperti orang yang sudah ketagihan nenen tapi nggak dapet nenen. Tangisannya sangat menyakitkan hati saya. Kedengarannya begitu sedih sekali dia tak boleh menyusu pada mamanya. Dalam hati saya mungkin seperti ini orang sakau itu kalau ketagihan. Saya tak mampu menahan perasaan saya. Saya sedih melihat anak saya menangis seperti itu. Saya sedih mengapa sesuatu yang saya miliki yang ingin diminta oleh anakku tidak boleh saya berikan padanya. Saya membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang dipisahkan dengan anaknya. Saya tak tahan dan akhirnya saya pun menangis sesunggukan. Saya bilang kalau anak saya masih mencret dan yang saya ketahui kalo menyapih anak si anak harus dalam keadaan sehat. Tapi ibu dan bapak saya bilang,"udah, nggak papa. Lillahita’ala aja biar disapih nanti malah sehat. Liat saja nanti pasti makannya jadi banyak." Malah saya disuruh nangis nggak papa. Memang biasanya ibunya nggak tega katanya. Sofi yang tertidur lagi karena ngantuk beratpun terbangun lagi karena saya ciumi dan peluki dan juga mendengar saya menangis. Saya bilang ke Sofi,"Sofi, walau Sofi sudah nggak nenen mama lagi, tapi mama tetap sayang lho ya sama Sofi. yaa, mama tetap sayang sama Sofi nak". Suami saya hanya bisa menghibur saya dengan memeluk dan menguatkan hati saya menghadapi Sofia dan orangtua saya sendiri.

Setelah puas menangis mengeluarkan isi hati saya, saya sholat subuh lalu tidur lagi bersama Sofi sampai siang. Dan sampai sekarang sesekali Sofi minta nenen lalu kami bilang nenen mama sudah habis, nenennya sakit nak, karena Sofia sudah besar dan sudah pinter. Nanti nenennya buat adiknya Sofi gantian yaa.., ledek ayahnya. Lucunya lagi kalau dia inget nenen dia akan ngomong sendiri,"Nenen mama habis, sakit ya ma? iyaaa Apia sudah besarrr", katanya dengan kepala geleng kekanan dan kekiri.  Alhamdulillah, so far saya telah berhasil menyapih Sofia. Sakitnya juga sudah sembuh (setelah saya bawa ke puskesmas karena mencret sudah 3 hari) dan nafsu makannya pun mulai meningkat lagi.


Libur Tlah Tiba… (2)

April 24th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Ya, setelah puas dengan panorama di GWK, perjalanan kami berlanjut menuju arah uluwatu. Kurang lebih 1/2 jam bermotor menyusuri jl raya uluwatu, kami sampai juga diujung jalan panjang ini. Dipintu gerbang menuju pura Luhur Uluwatu ini kami di tarik uang masuk 1000 rupiah satu motor. Kami tanyakan ke bapak penjaga tentang arah menuju pantai Suluban, “o belokan kekiri itu ikutin saja terus” yang artinya sebelum sampai pintu gerbang ini tadi ada belokan kekanan. Uang masukpun tak jadi ditarik karena kami putar balik ke suluban dulu, lagian waktu masih menunjukkan pukul 4 sore padahal tari kecak dimulai jam 1/2 6 an kabarnya.

The Awesome Suluban

Kami terus melipir dikiri jalan ini, ada pertigaan jangan ambil yg kekanan karena itu mengarah ke pantai padang padang. Jalan mentok. Tak ada kerumunan yang mencolok yang menandakan disitu gerbang menuju pantai. Hanya ada kurang dari 10 sepeda motor disana sebagian komplit dengan ragangan disebelah kanan tempat pengendaranya membawa papan selancar, dan dua atau tiga buah mobil terparkir. Suasananya begitu asing. Yang membuat ada bau pantainya hanya dua pasang bule yang baru muncul dari jalan menurun dengan rambut basah dan badan bermandikan peluh menuju motor mereka.

Untuk meyakinkan diri, kami bertanya kepada sekelompok ibu-ibu yang pas pulang baru kami ketahui bahwa mereka yang menarik uang parkir dan juga jualan minuman dan baju. Padahal tak satu helai kainpun mereka pajang. “ya lewatnya sini mbak”, kata mereka.

Kami menuruni jalan yang bertangga sangat banyak dan melelahkan, awalnya bukit2 terjal tampak di kanan jalan, tapi kemudian disebelah kirinya juga, komplit dengan monyet-monyet bergelantungan. Setelah sampai dijalanan landai kurang lebih 100 m, kami dibuat gamang dengan jalanan yg menurun tajam! dan sangat curam dan harus melewati lorong. Suami yang menggendong Sofi bahkan tak berani turun, saya yang menggendong tas menyatakan berani. Tapi karena suami tak mau turun dan mengusulkan balik, saya sewot. Udah kepalang tanggung. Dan untuk balik mendaki tangga yg panjang dan menanjak lagi tanpa mendapatkan apa-apa rasanya rugi. Tapi saat saya lihat lagi jalanan dibawah sana saya juga jadi ragu. Melihat bule-bule yang naik dengan enaknya sambil membawa papan selancarnya kami termotivasi. Pasti ada sesuatu yang luar biasa di balik sana karena pantai terhalang oleh tebing yang membentuk lorong dibawahnya. Kami penasaran.

Sofi saya ambil alih bertukar dengan tas punggung kami. Sandal ditenteng dengan bismilah saya turun duluan. Sialan, saya yg gak pobia ketinggian jadi gemetar lutut saya karena gendong Sofi. ditengah jalan kami bertanya pada bule ganteng yang berpapasan dengan kami. “How’s the wave sir?” “ough awesome!” jawabnya antusias dengan terengah-engah dan makin meyakinkan kami.

Sampai bawah setelah melewati lorong kami mendapati pemandangan yang luar biasa INDAH!
Pasirnya putih bersih berbulir-bulir, airnya yang jernih dan berkilatan ditempa sinar matahari, tebing-tebing tinggi yang menjadi bingkai bibir pantai ini, suasana yang jauh dari kata ramai, ombak besar yang ditunggangi para peselancar di jauh sana, bule-bule berjemur dan ada juga yg topless hehe. Saya dan suami yang karena gak bisa berenang dan gak suka pantai langsung menyatakan jatuh cinta pada pantai satu ini saat itu juga hehehee…

Keinginan mandi dipantai langsung menyergap. Sayang sekali Sofi takut dengan air. Saya sedih. Tiap kali saya masuk air dia meraung. Lagi-lagi saya sedih. Sedih sekali. Kami berjalan kearah timur dibalik tebing lain. Hanya ada satu dua orang. Saya ajak Sofi bermain air tetap tak mau. Dia erat mendekap saya. Saya turunin ke pasir tidak mau. Saya gemas. Saya pancing mainan pasir, dia tertarik dan akhirnya mau turun. Saya mendekat keair dan saya lihat sekelompok ikan-ikan kecil diceluk. Saya bilang Sofi ada ikan dan saya ajak melemparinya dengan pasir dia tertarik. Saya lega tapi tetap tak mau masuk air lebih ketengah. Payah.

Sampai pukul lima lebih kami disuluban, kami bergantian masuk ke air, bermain pasir sepuasnya dan mencari kerang yg cantik-cantik. Kami sempat bercakap dengan bule yg akan berselancar, diantaranya datang dari kepulauan karibia, waow! rasanya enggan meninggalkan pesona suluban tapi waktu memaksa kami mentas dari air, kami harus mengejar jam tayang kecak dance.

Kecak Dance in Action

Dipinggir tebing ujung selatan pulau Bali ini tarian itu dimainkan. Dengan latar belakang hamparan laut biru dan pemandangan sunset yang cantik membuat pertunjukan ini jadi luar biasa dimata kami. Dengan membayar rp50rb per orang kami dapat menikmati kurang lebih satu jam pertunjukan tarian api ini.

Ohya, setelah bayar karcis masuk area uluwatu ada anjing yang mengejar motor kami. huhuhu saya takut sekali. untung orang-orang disana segera mengusirnya dengan melempar batu. Satu pemandangan yang tidak saya sukai di Bali adalah banyaknya anjing-anjing buduk yang berkeliaran, apalagi sempat pula mengejar kami.

Hari telah gelap saat kami meninggalkan Uluwatu. Perjalanan kami adalah balik kearah Kuta dan untuk makan malam kami berencana makan di Jimbaran yang terkenal dengan bakar-bakaran seafoodnya. Kami kebablasan, padahal jalan ke Jimbaran adalah belokan kekiri yg barusan kita lewati. Karena kami ragu apakah benar jalan tadi ke arah jimbaran maka kami memutuskan berhenti dan bertanya pada beberapa satpam di pintu gerbang Bali Intercontinental resort. Untung kami bertanya, memang benar itu jalurnya tapi hari ini tempat-tempat makan di Jimbaran tutup semua dan sepi karena masih banyak yg merayakan Galungan. Mendengar itu kami kecewa tapi juga senang. Kecewa karena nggak jadi mencicipi seafood Jimbaran, senang karena kami bertanya dulu bukannya langsung kesana dan kecewa ditempatnya heheheh.

Ya sudah, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Sampai diarea kuta kami memperlambat laju motor untuk menikmati suasana. Sampai di depan Bubba Gump jl raya pantai kuta, kami memutuskan untuk mengganti seafood Jimbaran ke sini :) disamping itu suami ingin membandingkan masakan dan harganya dengan bubba gump di orlando yang pernah dia singgahi beberapa bulan yg lalu. Anda yang suka atau pernah nonton film Forest Gump pasti ngerti istilah bubba gump, bubba adalah teman Forest Gump yg terobsesi dengan udang heheheh.

Karena sudah malam bagi sofi (jam 10), maka kami memutuskan balik ke hotel untuk mandi dan lalu istirahat.

Masih berlanjut di posting berikutnya ya, soalnya keesokan harinya kita gak ngapa-ngapain di Bali, bingungkan?!

Libur Tlah Tiba…. (The Joy of Bali)

April 24th, 2008 by Yani Widianto No comments »

Tahun 2008 ini kami awali dengan liburan ke pulau Bali tanggal 22-25 januari kemarin, sengaja nggak lama-lama karena kami bawa sofi yang baru berumur 1 th 7 bulan, takut dianya kecapean. Mulanya karena ada promo dari Airasia, so kamipun tak melewatkannya. Karena ini liburan keluarga, kamipun menyiapkan segala sesuatunya sendiri, dari booking pesawat, hotel sampai sewa mobil kami cari sendiri lewat internet. Awal Desember saya dan suami memesan tiket secara online (2 adults + 1 infant only 1.200.000 PP) dan baru memesan penginapan pada pertengahaan Januari yg mendekati hari H kami menggunakan jasa indo.com yang lumayan lebih murah dibanding layanan online booking hotel lainnya. untuk sewa mobil kami telah memegang no. telp bli Komang sebagai jaga-jaga, karena kami belum pasti apakah mo sewa mobil ato gimana hehehe…

Liburan ini kami tak ingin terikat dengan jasa-jasa tour. kami ingin bebas fleksible kemanapun dan berapa lama mengunjungi tempat-tempat wisata disana. Peta Bali pun kami cari di internet dan di Gramedia (baru tahu ternyata di Balinya sana peta-peta gratis :D ).

Setelah pikiran terkuras untuk menegerjakan soal-soal ujian UAS, liburan akhir semesterpun akhirnya tiba…

Selasa tanggal 22 pukul 17.50 kami bertolak ke Bali dari Cengkareng, sampai disana pukul 21.00 waktu Bali (perbedaan waktu Jakarta-Bali 1 jam). Kami langsung menuju hotel Vilarisi dikawasan Kuta Melasti  dengan taksi (taksi bandara gak pake argo,
untuk kawasan Kuta rp.50.000). Sampai hotel setelah sedikit bebenah kami jalan-jalan ke pinggiran pantai kuta sambil cari makan. kami sempatkan mampir ke pantai. Malam ini tepat bulan purnama suasana pantai yang hening dimalam hari disertai gemuruh ombak membuat saya sedikit merinding, bahkan Sofia ketakutan, awalnya dia tidak mau turun dan terus mendekap saya tapi akhirnya dia mau duduk dikursi yg ada dipingir pantai. Acara foto-foto pun tak terlewatkan.

Tidak lama kami disana hanya sebagai pemanasan dulu mengenali suasana Bali, kamipun kembali ke hotel dan dijalan kita menemui masakan padang, suami yg masih sedikit laparpun membeli sebungkus nasi rendang hmmm…

Nonton Barong

Esok paginya 23 Januari kami bingung, sedikit bingung. ternyata hari ini hari pertama HARI RAYA GALUNGAN. yang artinya tempat sewa mobil ataupun motor semua tutup kecuali udah booking jauh-jauh hari kata pegawai hotel. Padahal acara kami pagi ini nonton tari barong jam 10 di Uma Dewi jl. WR Supratman Denpasar.

Kamipun berjalan kaki menyusuri jalan melasti lebak bene mengarah ke pantai kuta, dijalan kami bertanya pada bapak-bapak yang menunggui kiosnya, beliau bilang kalo mau sewa motor nanti datang lagi saja jam 11an siang, karena semua penyewa libur. kamipun memutuskan naik taksi untuk nonton barong.
Rupanya kami kurang beruntung dengan supir taksi ini, karena dia tidak tahu letak Uma Dewi yg saya dapet dari blognya mbak Renee, pak supir yg asli bali ini taunya yg di Batu Bulan yg artinya letaknya lebih jauh. Setelah memasuki jalan WR Supratman kamipun memutuskan untuk turun dan hendak mencarinya sendiri dengan jalan kaki, toh Sofi senang jalan-jalan diatas strollernya.

Panas, tapi kami tak patah arang, niat untuk berpetualang di Bali udah dibawa dari Jakarta. kalau nggak begini nggak bakalan kenal daerah Bali hehehe. pertama kami bertanya pada penjaga kios pakaian yg baru buka dan inti jawabannya adalah kurang tau dengan senyumnya yg ramah disusul ungkapan kalau jalan wr supratman masih jauuuh sekali batasnya.
kedua, kami bertanya beberapa pemuda-pemudi yg sedang menunggui kios bensin eceran+isi pulsa, jawabannya sama dan senyum ramahnya juga sama dan "jauuhh-nya" juga sama, apa karena sama-sama orang bali ya? heee.

Makin panas rasanya matahari. Ternyata benar nasehat-nasehat diinternet kalo orang Bali tuh gak ngerti daerahnya sendiri. Katanya, bisa diitung orang Denpasar yg tau Kuta semacam gitu deh, weleh weleh.. dan kami tetap belum patah semangat tetap berjalan menyusuri wr supratman.

Ketiga, didepan kami melihat pengendara vespa sedang isi bensin di kios eceran dan kamipun bertanya, dan jawabannya: beliau meminjam peta kami menunjuk jalan waribang, menyuruh kami naik angkot kuning, turun diperempatan dan jalan kekanan 200 meteran.
Alhamdulillah,,senang rasanya dapat petunjuk disaat saat yang diinginkan hehehe. Akhir kata, beliau ternyata dari bandung dan merantau kesini jualan korden. aduh pak.. nuhun sanget. moga2 jualannya laris manis tanjung kimpul.
Kamipun menunggu angkot atau taksi, mana yg duluan deh. 15 menit menunggu rasanya seharian, taksi tak pernah nongol di Denpasar ini tanpa dipesan ternyata dan angkot sempat kelewatan satu karena gak tau angkotnya gimana, soalnya jarang juga, dan angkot keduapun didapat tapi penuh! ayahnya Sofi malah sampai duduk didepan pintu sambil megangin stroller hehehe..

Gak sampe 10 menit akhirnya sampai juga di perempatan waribang dan waktu sudah menunjukkakn jam 10 kurang 2 menitan, dipojok perempatan ada tertera tulisan segede gaban: BARONG DANCE 200 M, KECAK/FIRE DANCE 500m.aduh orang Bali emang bener-bener cuek yah. Kami berjalan cepat-cepat, Sofi digendong ayahnya saya pontang-panting dorong stroller hihihi.
Suara gending terdengar dan hati rasanya mak nyess hehehe, barong telah dimulai, bayar 100 ribu berdua (batita gak keitung), kami masuk dan mencari tempat duduk. Syukurnya kami hanya telat 2 menitan. luarrr biasa..

Kami sengaja memilih obyek-obyek wisata yang dimata sofi menyenangkan, so tari barong is the one of them. Tarian ini berlangsung sekitar satu jam.

Pulangnya kami ditelfonin taksi ama pegawai disitu, nunggu 15 menitan lebih. Di taksi kali ini supirnya wong jowo jadi nyambung, pak supir gak percaya kalo supir taksinya yg tadi gak tau tempat barong tadi. ya sutralah pak… kalo gak gini kita gak tau bali:).

Sampai di hotel kami instirahat sejenak untuk sholat dan makan siang, saya dan Sofi turun dihotel, ayahnya Sofi langsung ke tempat sewa motor + cari makan.
Motor sudah didapat, hanya motor matic "nouvo" yang ada dengan sewa rp 40 ribu seharian sepuasnya dan masakan padang 3 bungkus kami habiskan.

Naik Motor ke GWK

Pukul setengah dua-an dengan peta Bali ditangan kami meluncur ke tujuan selanjutnya, kami putuskan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) dimana patung wisnu setengah dada dan kepala burung garuda terpahat besar diatas bukit padas. Memang luar biasa landscape pegunungan padas yg belum terlalu selesai ditata ini.

Dalam perjalanan ke arah GWK kami sesekali melihat peta, rasanya menyenangkan, bak berpetualang beneran hihihi, kanan kiri jalan yg masih hijau seperti di pedesaan, udara yang sejuk, pemandangan yang hijau dan sesekali dapat melihat pantai disisi kanan/kiri saat di jalan menanjak, membuat sensasi berkendara kami luarrr biasa, coba kalo pake mobil, gak kerasa deh yang beginian hehehe.

GWK pun nyampek juga, tiket masuk berdua 30 ribu. Ambil foto sepuasnya, sayangnya awalnya Sofi takut dengan patung segede gedung ini tapi lama2 enggak (malah setelah ini nanya terus "patungnya mana ma? patungnya mana yah? patungnya mana yaa? paaatuuunggg,,,,?- dasarnya cerewet :D )

Wahh udah banyak neh, besok nyambung lagi dehh,,, soalnya setelah GWK kami masih akan ke Uluwatu untuk ke pantai Suluban yang cuantikkkkk luarrr biasa ough awesome! tak terkatakan deh dan nonton tari Kecak di pura Uluwatu dengan background sunset yg cantik. CU next posting!