Archive for the ‘Uncategorized’ category

Dongeng Mama untuk Sofia (1)

January 13th, 2010

Setiap hendak tidur malam, ritual rutin Sofi adalah dibacakan buku atau didongengin. Soal buku mah tinggal pilih yang dia suka. Tapi paling sering buku The Complete Book of First Experiences-nya. Kalau soal dongeng, dia paling suka mendengarkan dongeng karangan Mamanya sendiri, saya :) .

Pengalaman saya, saya mendongeng dengan tujuan menasehati Sofi. Lewat mendongeng dia akan mendengarkan dengan seksama dan dia senang sekali mengingat-ingatnya karena lebih menarik. Isi dongengnya juga tergantung saya mau nasehatin apa ke dia. Sejauh ini sih baru 3 cerita yang saya karang untuknya.

Cerita pertama yang saya tulis di bawah ini asal mulanya adalah Sofi susah disuruh mandi. Sejak kecil sampai usia 2 tahun lebih maunya mandi pakai air anget. Gak mau pakai air dingin. Juga kalau disuruh mandi alesannya adaaa aja. Beginilah dongeng itu berkisah:

Cici Enggak Mau Mandi

Sudah sampai lantai masih belum bangun juga.

.: Suatu hari Cici si kelinci dan temannya Cica sedang bermain bersama. Mereka bermain asyiiiikkk sekali. Maen masak-masakan bareng, main adek-adekan pakai boneka juga maen yang lain-lain. Mereka berdua mainnya nggak pakai bertengkar. Karena mainnya barengan trus kadang-kadang tuker-tukeran mainan. Asyik deh.

Tiba-tiba Cica di panggil Mamanya,”Cica! Ayo pulang dulu nak, mandi!. Sudah sore nih.”
“Ohya baik Maaa… ” kata Cica.
Trus Cica bilang sama Cici,”Cici, aku mau pulang dulu ya, mandi. Kamu mandi dulu sekalian nggak? Nanti kita bisa maen bareng lagi..”
Cici jawab,”Enggak ah! Aku mau maen aja. Kamu pulang dulu aja. Nggak papa kok.”
“Oh ya sudah kalo begitu. Aku pulang dulu ya!”, kata Cica.
“Iyaa..”, Jawab Cici

Trus, Cici pun pulang kerumah. Mandi. Ganti Baju. Sisiran. Trus balik lagi ke tempat mainnya sama Cici.
“Kamu beneran nggak pulang mandi dulu tadi Ci?”, tanya Cica.
“Enggak.” Jawab Cici.
“Oohh ya sudah kalo begitu. Ayo kita main lagi!”, kata Cica
“Yuk yuk.” Jawab Cici

Mereka pun bermain lagi dengan asyiknya. Sampai tiba-tiba suara adzan Maghrib berkumandang. ALLAHUAKBAR ALLAAAAAHUAKBAR! …
“Wah udah maghrib Ci, kita pulang yuk!” Kata Cica kepada Cici.
“Iya neh, udah sore banget. Tapi kita beresin bareng-bareng dulu yuk!” Ajak Cici.
“Ayuk ayuk.” Jawab Cica.

Lalu mereka memberesin mainannya trus pulang ke rumah masing-masing.
“Asyik ya mainannya. Besok kita maen lagi ya Ca!”, kata Cici kepada Cica.
“Ho oh asyik. Iya, besok kita main seperti ini lagi.” Kata Cica
“Daaa!”
“Daaa!”

Sampai di rumah, Cici ditanyain  sama mamanya,”Eh anak Mama sudah pulang. Udah mandi tadi nak?”, tanya mama.
“Udah Mah.” Jawab Cici bohong. Padahal kan belom mandi, masak bilang sudah mandi ya? (Saya cerita sambil berbisik)
“Ya sudah, sekarang kita sholat dulu yuk!”, ajak mama Cici.

Setelah sholat, Cici dan keluarganya makan, trus sholat isyak, trus bermain sebentar trus waktunya bobok malem datang.
“Sudah waktunya bobok nak, ayo sikat gigi, pipis trus cuci kaki ya!”, kata mama kepada Cici.
“Oh ya, Ma.” Jawab Cici.

Cici pun ke kamar mandi sikat gigi, pipis trus cuci kaki. Setelah itu dia ke kamarnya sendiri, tidur. Mamanya juga ke kamarnya sendiri, tidur. Tapi setelah beberapa saat, mamanya denger suara anak nangis.
“Loh. Siapa itu ya? Kok kayak ada anak nangis? Masa Cici? Coba aku lihat ke kamarnya.” Mama Cicipun ke kamarnya Cici. Eh. Beneran Cici yang nangis. Mamanya pun kaget.
“LOH! Cici… kenapa nangis sayang??”, tanya mama kepada Cici.
“Badan Cici gatel semua, Maa. Cici nggak bisa tidur. Hu hu hu”, kata Cici sambil nangis.
“Aduhh… kok bisa gatel semua ya? Padahal Cici tadi kan sudah mandi?”, kata Mama.
“Eeee… sebenarnya… sebenarnya Cici tadi belum mandi Maa.” Kata Cici ketakutan.
Mamanyapun kaget. “APA?!! Belum mandi??!!”
“hu hu hu iya Ma. Maafin Cici ya ma…” rengek Cici minta maaf ke Mamanya.

Mamanya menarik nafas panjang lalu berkata,”Pantesan kamu gatel-gatel. Ya itu, karena belom mandi. Trus juga bohong sama mama.” “Ya sudah, mama maafin, karena Cici sudah mau bicara jujur sama Mama. Tapi lain kali jangan diulangin lagi ya! Nggak mandi dan bohong sama mama itu.” Kata mama menasehati Cici.
“Iya Ma. Cici nggak akan bohong lagi.” Kata Cici lega. Karena dia sudah berani berkata jujur ke Mamanya.

“Ya sudah. Ayo sekarang mama sibinin* dulu.” Kata Mama.
Kemudian Cici disibinin mamanya trus di bedakin trus diganti bajunya. Kemudian Cici disuruh kembali tidur.
“Gimana, sudah nggak gatel kan?” Tanya Mama.
“Iya Ma, nggak gatel lagi. Makasih ya Maa.” Kata Cici.
“Ya sudah, sekarang Cici bobok. Jangan lupa berdoa ya nak!” Kata Mama.
“Iya Ma.” Jawab Cici.

Kemudian Cici tidur. Mamanya mematikan lampu kamar Cici lalu balik ke kamarnya sendiri. :.

*) sibinin: mandi tapi cuma dielap-elap saja.

Tips:
Jangan lupa dongengin anak anda dengan gaya bicara yang asyik ya, biar dia makin antusias dengerinnya :) .

Lanjut Nge-blog

June 18th, 2009

Halo halo! Wew, akhirnya saya bisa ngeblog lagi. Terima kasih buat suamiku yang akhirnya sempat memindahkan blogku yang di Friendster (yang sudah jarang saya kunjungi :) ) ke halaman baru blog baruku ini. Senang rasanya, karena dengan WP saya bisa upload dan edit lewat aplikasi di iPod saya.

Setelah lama nggak mengupdate blog saya ini, kini saya semakin bergairah menjalani hidup yang penuh lika dan liku. Dengan kata kunci “legowo” saya merasa lebih dewasa dalam mengelola hati, pikiran, dan perasaan saya sehari-hari. Saya libur nulis karena banyaknya sekali kegiatan yang semakin menyita pikiran dan waktu saya, sehingga mempengaruhi juga mood untuk menulis.

Banyak sekali kejadian dalam rentang waktu kurang dari setengah tahun sejak saya terakhir ngeblog. Diantaranya:

1. Sofia kini sudah sekolah di TK Mini Pak Kasur Pasar Minggu, namun karena keluarga kecil kami pindah kontrakan ke komplek Alvita Ciputat, maka sekolahnyapun kami pindahkan ke Pamulang, cabang TK Mini juga.

2. Pindahan rumah, fiuh! sangat melelahkan ternyata pindahan rumah yang lumayan menjauh dari rumah lama. Kami harus bolak balik tiap minggu untuk hunting, transaksi, dan ngecek rumah yg sedang direnovasi sebelum kita tempati. Ya, pemilik memang meminta kami bayar dimuka separoh harganya sebelum kami menempatinya dua bulan kemudian. Tak lain dan tak bukan untuk membenahi rumah bekas disewa TK dan hampir setahun tak ditempati ini.

Tapi semua itu terbayar lunas dengan puass! Karena kami kini menempati rumah yang bagi kami sangat luas dibandingkan yang di Pejaten Timur. Rumah seluas 170an M2 ini memiliki ruang tamu dan ruang keluarga yang bagi kami seperti lapangan bola saking lapangnya :) . Dengan tiga kamar tidur yang luas, bisa mengakomodir kebutuhan kami, yaitu kamar tidur utama, kamar tidur Sofia, dan juga kamar kerja Suami (yang ini tak kalah pentingnya). Disamping itu, didalam lingkungan komplek perumahan menjadikan kami lebih percaya diri untuk lingkungan pergaulan Sofi. Ditambah lagi suasana yang masih asri dengan banyaknya pepohonan membuat hawa lebih adem. tak jarang jam 9 malam kabut (masih ada) turun. Bonusnya adalah masjid yang berada persis di depan kanan rumah kami. Dan tepat di depan kami adalah lapangan masjid seluas 1 hektar. Kamipun tanpa ragu langsung teken 2 tahun disini. Apalagi harganya juga lebih murah dibanding kontrakan yang lama.

Alhamdulillah, kami bisa diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup yang lebih sehat dan lebih damai disini, semoga barokah dan dirahmati olehNya.

3. Hari minggu kami pindah rumah, hari seninnya saya berulang tahun yang ke-26. Sepertinya rejeki ini menjadi kado istimewa buat saya :)

4.Yang tak kalah happeningnya adalah keberangkatan suami untuk ke-3 kalinya ke Vegas dan untuk ke-4 kalinya mengikuti final lomba di Top Coder di Amerika. Karena setiap kali dia berangkat, setiap kali itu juga pikiran saya tak pernah tenang. Jauhnya perjalananlah hal utama yang membuat saya dag dig dug. Soal menang atau kalah saya selalu enjoy aja. Yang penting berangkat dan pulang dalam keadaan sehat dan selamat itu sudah menjadikan saya sangat gembira :) . Apalagi wabah Swine Flu juga membuat saya cerewet soal masker dan hand sanitizer. Tapi alhamdulillah, suami pulang dengan selamat dan sehat wal afiat :) .

5. Berikutnya adalah soal kuliah saya yang mulai memasuki masa skripsi. Alhamdulillah kurang 1/4 jalan lagi. Sayangnya keinginan saya untuk selesai tahun ini tak bisa tercapai, karena saya masih ngutang 2 mata kuliah :( , tapi gak papa, semua pasti ada hikmahnya. Yang penting Skripsinya selesailah heee.

6. Akhir bulan Juni ini, tepatnya tanggal 21, saya akan menghadapi UAS. Tapi bukan UASnya yang bikin saya deg-degan melainkan rencana saya dan suami setelah UAS, yaitu backpacking!

7. Ya, kami memang telah melingkari 10 hari di bulan Juli nanti untuk berbackpacking ria. Tapi cuma ke sebagian Asia Tenggara. Hari-hari itu tinggal menghitung hari. Dan saya selalu deg-degan jika membayangkan Sofi yang kami tinggalkan selama itu. Memang dia di tangan Embahnya yang paling dekat dengannya, tapi putri kami tak pernah jauh dari kedua orang tuanya sampai selama itu. Kami berdua hanya berharap putri kami “yang bisa diajak ngomong ini” akan mengerti.

Semoga tulisan ini sebagai langkah awal untuk menjaga blog saya tetap bernyawa :) .

Sakit Diawal Tahun

January 4th, 2009

Tentang kambing hitam ditulisan saya sebelumnya benar-benar bukan isapan jempol. Puncaknya sebenarnya minggu ini. Karena dalam dua minggu waktu UAS, jadwal saya semuanya diminggu pertama. Tapi kalo sedang ujuan saya malah tenang. Hebohnya malah kalau kuliah day-to-day-nya. Saya sampai kolaps. Tepatnya minggu kemaren. Dua hari setelah Ibu saya pulang ke kampong. Tiap kali datang menstruasi, dihari-hari pertama kondisi badan saya selalu drop. Bisa dipastikan tensi saya turun drastis bahkan sampai 70/90. Trus yang kemarenan juga begitu.

Sakit kepala sebelah sudah saya rasakan sejak menjelang sore. Bukan masuk angin tapi semacam migren. Dan juga badan saya biasa-biasa saja. Untuk mengantisipasi (biasanya manjur) saya minta suami membelikan sate kambing di gerobak mangkal langganan kami (sebelah Volvo Pasar Minggu). Makan malam dengan sate sudah amblass, sangobion sudah saya telan. Sayapun menemani Sofi nonton Disney sampai jam 9 malam. Tapi kepala saya sudah berdenyut-denyut hebat sejak jam delapan. Namun saya tahan-tahan. Karena tak tahan, saya panggil suami di kamar kerjanya yang sedang mengejar deadline jam satu dini hari.

Suami bingung. Antara mengejar deadline. Merawat saya. Atau meladeni Sofi yang minta temen main. Saking nggak kuatnya saya sampai menangis. Bayangkan, dengan posisi bagaimanapun kepala saya tak memberi jeda sedetikpun untuk tak sakit. Duduk sakit. Berbaring sakit. Merem sakit. Melek apalagi. Dan itu semua dibarengi rasa mual.

Saya pun pindah dari depan TV ke tempat tidur. Saya sudah tak peduli lagi dengan deadline suami. Sofiapun saya abaikan. Yang saya inginkan hanya tidur untuk melupakan sakit ini. Tapi apa yang terjadi. Saya tiba-tiba malah teringat teman sebangku saya waktu SMA, Mita Rosyana, yang telah meninggal dunia dua tahun lalu. Saya sedih karena setahun kemudian baru tahu kabar itu. Saya menangis sejadi-jadinya (tanpa suara dan bukan meraung-raung loh). Dan sakit itu juga makin menjadi-jadi. Saya merasa seperti mau mati. Tapi saya tak yakin apa begitu rasanya mau mati.

Tak menunggu lama setelah saya berbaring tiba-tiba…

Ya begitulah. Semua yang ada dilambung saya sudah pindah di atas tempat tidur. Sampai bersih kali karena dibilas berkali-kali. Untungnya perlak alas tidur Sofia yang masih suka ngompol sudah saya gelar. Jadi selamat deh. Nggak ngotorin tempat tidur hehehe…

Eh, enggak ketawa dulu deng. Awalnya saya berpikir. Kalau udah bisa “vomit” pasti kepala saya entengan. Tapi apa yang terjadi. Tetep saja ternyata. Teh hangat yang dibuatkan suami saya teguk setengah. Saya mau tidur! Harus tidur! Sofia yang dari awal melihat saya “vomit” tampak sekali salah tingkahnya. Dia lalu lalang sendiri. Kesana kemari serba salah. Saya tak mampu untuk sekedar mengomentari tingkah lakunya. Kasihan dia.

Saya coba tidur tapi Sofia yang ingin menunjukkan rasa sayangnya pada saya malah mengganggu saya. Dia ngusel-usel pengen minta dikelonin. Karena terbujuk rasa tak mau kehilangan kantuk yang mulai menyengat mata. Keinginan marahpun keluar juga. Tapi setelah saya minta “DIAM! Kalo mau mama kelonin!” diapun diam memeluk saya dan saya tak tahu lagi kapan dia benar-benar tidur karena saya sudah bersumpah untuk tidur dan akhirnya terlelap sampai esok harinya.

Paginya, rasa pening masih samar-samar terasa. Tak saya biarkan dia enak-enakan nongkrong dikepala saya. Saya tetap mengerjakan rutinitas pagi saya. Masak, beres-beres dan segala pernak-perniknya untuk melupakannya dan berhasil. Semoga ini tak terulang lagi. Jangan ya!

Happy Birthday Anakku!!

June 9th, 2008

Alhamdulillah wa syukurillah. Hari ini tanggal 9 Juni 2008 putri kami Sofia genap berusia 2 tahun. Semua doa yang baik-baik menurut kami, kami persembahkan untuknya. Saya jadi teringat 2 tahun yang lalu waktu berjuang melahirkannya. 9 Juni 2006 bertepatan dengan pembukaan piala dunia. -sekarang Sofi kalo liat pertandingan sepak bola di TV selalu berseru "Macaowoh!" (Masyaallah)- Sofia lahir normal dibantu dengan induksi karena sudah seminggu bukaan satu terus :D . Sofi juga lahir seminggu setelah kakek buyutnya meninggal. Dan Sofi pun akhirnya merasakan udara ber AC di dunia ibunya setelah di vakum dan saya dibantu bernafas dengan oksigen (hahh.. seperti melayang rasanya). Sakit, sudah pasti apalagi selama diinduksi dari pukul 7 pagi sampai 1/2 1 siang tapi sekarang sudah lupa bagaimana rasa sakit itu :D . Akan tetapi semuanya dibayar lunas bahkan lebih oleh Allah SWT dengan lahirnya seorang bayi putih dan bersih. Saya, suami juga, sempat kaget waktu diangkat anakku kok bersih banget dan putih nggak ada merah-merahnya kayak jabang bayi yang selama ini saya lihat. Dan kini bayi dengan panjang 51cm berat 3.3kg ini telah berusia 2 tahun.

Hut

Dengan segala keajaibannya dia tumbuh dan berkembang bersama kami. Begitu banyak hal-hal yang menakjubkan yang dia tunjukkan kepada kami selama ini.  Dari semua itu, tak ada kata lain  selain syukur dan syukur kepada Allah SWT. Kami telah dikaruniai  putri yang  indah, lucu, dan pintar. Kenakalan-kenakalan yang ada hanyalah timbul karena keegoisan kami. Seperti kaset kosong yang sedang merekam, begitu pula anakku. Dia melihat, mendengar dan merasakan apa yang ada didepan matanya dan disekitarnya dan mungkin juga banyak yang belum dia mengerti, dia pun memahami sebatas kemampuannya. Karena kebelumtahuannya itulah yang membuat kami -seyogyanya tidak- kesal. Dan kami sebagai orang tua baru, akan selalu dan selalu belajar bahkan berusaha sepenuh hati untuk mendidik, membimbing dan menuntun anak kami dengan benar dan di ridhai Allah SWT. Selamat ulang tahun yang kedua putriku, semoga selalu dalam lindungan Allah ta’ala, sehat selalu, pintar dan banyak ilmu yang bermanfaat bagi semua makhluk didunia. Amin ya robbal alamin.. mama love you.

NB: Dihari ulang tahun ke-2 ini, Sofia mendapat kado dari ayah sebuah blog sofia.widianto.com yang akan berisi foto, video dan tulisan tentang Sofi. Diantara kesibukannya ayah berjanji untuk meluncurkannya tgl 9 Juni ini jadi kalo ada hal-hal yang masih kurang mohon dimaklumi karena ayah mendesain sendiri blog ini. Silahkan berkunjung ya om, tante,, dan semua :D karena sudah bisa dibuka. 

Libur Tlah Tiba… (2)

April 24th, 2008

Ya, setelah puas dengan panorama di GWK, perjalanan kami berlanjut menuju arah uluwatu. Kurang lebih 1/2 jam bermotor menyusuri jl raya uluwatu, kami sampai juga diujung jalan panjang ini. Dipintu gerbang menuju pura Luhur Uluwatu ini kami di tarik uang masuk 1000 rupiah satu motor. Kami tanyakan ke bapak penjaga tentang arah menuju pantai Suluban, “o belokan kekiri itu ikutin saja terus” yang artinya sebelum sampai pintu gerbang ini tadi ada belokan kekanan. Uang masukpun tak jadi ditarik karena kami putar balik ke suluban dulu, lagian waktu masih menunjukkan pukul 4 sore padahal tari kecak dimulai jam 1/2 6 an kabarnya.

The Awesome Suluban

Kami terus melipir dikiri jalan ini, ada pertigaan jangan ambil yg kekanan karena itu mengarah ke pantai padang padang. Jalan mentok. Tak ada kerumunan yang mencolok yang menandakan disitu gerbang menuju pantai. Hanya ada kurang dari 10 sepeda motor disana sebagian komplit dengan ragangan disebelah kanan tempat pengendaranya membawa papan selancar, dan dua atau tiga buah mobil terparkir. Suasananya begitu asing. Yang membuat ada bau pantainya hanya dua pasang bule yang baru muncul dari jalan menurun dengan rambut basah dan badan bermandikan peluh menuju motor mereka.

Untuk meyakinkan diri, kami bertanya kepada sekelompok ibu-ibu yang pas pulang baru kami ketahui bahwa mereka yang menarik uang parkir dan juga jualan minuman dan baju. Padahal tak satu helai kainpun mereka pajang. “ya lewatnya sini mbak”, kata mereka.

Kami menuruni jalan yang bertangga sangat banyak dan melelahkan, awalnya bukit2 terjal tampak di kanan jalan, tapi kemudian disebelah kirinya juga, komplit dengan monyet-monyet bergelantungan. Setelah sampai dijalanan landai kurang lebih 100 m, kami dibuat gamang dengan jalanan yg menurun tajam! dan sangat curam dan harus melewati lorong. Suami yang menggendong Sofi bahkan tak berani turun, saya yang menggendong tas menyatakan berani. Tapi karena suami tak mau turun dan mengusulkan balik, saya sewot. Udah kepalang tanggung. Dan untuk balik mendaki tangga yg panjang dan menanjak lagi tanpa mendapatkan apa-apa rasanya rugi. Tapi saat saya lihat lagi jalanan dibawah sana saya juga jadi ragu. Melihat bule-bule yang naik dengan enaknya sambil membawa papan selancarnya kami termotivasi. Pasti ada sesuatu yang luar biasa di balik sana karena pantai terhalang oleh tebing yang membentuk lorong dibawahnya. Kami penasaran.

Sofi saya ambil alih bertukar dengan tas punggung kami. Sandal ditenteng dengan bismilah saya turun duluan. Sialan, saya yg gak pobia ketinggian jadi gemetar lutut saya karena gendong Sofi. ditengah jalan kami bertanya pada bule ganteng yang berpapasan dengan kami. “How’s the wave sir?” “ough awesome!” jawabnya antusias dengan terengah-engah dan makin meyakinkan kami.

Sampai bawah setelah melewati lorong kami mendapati pemandangan yang luar biasa INDAH!
Pasirnya putih bersih berbulir-bulir, airnya yang jernih dan berkilatan ditempa sinar matahari, tebing-tebing tinggi yang menjadi bingkai bibir pantai ini, suasana yang jauh dari kata ramai, ombak besar yang ditunggangi para peselancar di jauh sana, bule-bule berjemur dan ada juga yg topless hehe. Saya dan suami yang karena gak bisa berenang dan gak suka pantai langsung menyatakan jatuh cinta pada pantai satu ini saat itu juga hehehee…

Keinginan mandi dipantai langsung menyergap. Sayang sekali Sofi takut dengan air. Saya sedih. Tiap kali saya masuk air dia meraung. Lagi-lagi saya sedih. Sedih sekali. Kami berjalan kearah timur dibalik tebing lain. Hanya ada satu dua orang. Saya ajak Sofi bermain air tetap tak mau. Dia erat mendekap saya. Saya turunin ke pasir tidak mau. Saya gemas. Saya pancing mainan pasir, dia tertarik dan akhirnya mau turun. Saya mendekat keair dan saya lihat sekelompok ikan-ikan kecil diceluk. Saya bilang Sofi ada ikan dan saya ajak melemparinya dengan pasir dia tertarik. Saya lega tapi tetap tak mau masuk air lebih ketengah. Payah.

Sampai pukul lima lebih kami disuluban, kami bergantian masuk ke air, bermain pasir sepuasnya dan mencari kerang yg cantik-cantik. Kami sempat bercakap dengan bule yg akan berselancar, diantaranya datang dari kepulauan karibia, waow! rasanya enggan meninggalkan pesona suluban tapi waktu memaksa kami mentas dari air, kami harus mengejar jam tayang kecak dance.

Kecak Dance in Action

Dipinggir tebing ujung selatan pulau Bali ini tarian itu dimainkan. Dengan latar belakang hamparan laut biru dan pemandangan sunset yang cantik membuat pertunjukan ini jadi luar biasa dimata kami. Dengan membayar rp50rb per orang kami dapat menikmati kurang lebih satu jam pertunjukan tarian api ini.

Ohya, setelah bayar karcis masuk area uluwatu ada anjing yang mengejar motor kami. huhuhu saya takut sekali. untung orang-orang disana segera mengusirnya dengan melempar batu. Satu pemandangan yang tidak saya sukai di Bali adalah banyaknya anjing-anjing buduk yang berkeliaran, apalagi sempat pula mengejar kami.

Hari telah gelap saat kami meninggalkan Uluwatu. Perjalanan kami adalah balik kearah Kuta dan untuk makan malam kami berencana makan di Jimbaran yang terkenal dengan bakar-bakaran seafoodnya. Kami kebablasan, padahal jalan ke Jimbaran adalah belokan kekiri yg barusan kita lewati. Karena kami ragu apakah benar jalan tadi ke arah jimbaran maka kami memutuskan berhenti dan bertanya pada beberapa satpam di pintu gerbang Bali Intercontinental resort. Untung kami bertanya, memang benar itu jalurnya tapi hari ini tempat-tempat makan di Jimbaran tutup semua dan sepi karena masih banyak yg merayakan Galungan. Mendengar itu kami kecewa tapi juga senang. Kecewa karena nggak jadi mencicipi seafood Jimbaran, senang karena kami bertanya dulu bukannya langsung kesana dan kecewa ditempatnya heheheh.

Ya sudah, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Sampai diarea kuta kami memperlambat laju motor untuk menikmati suasana. Sampai di depan Bubba Gump jl raya pantai kuta, kami memutuskan untuk mengganti seafood Jimbaran ke sini :) disamping itu suami ingin membandingkan masakan dan harganya dengan bubba gump di orlando yang pernah dia singgahi beberapa bulan yg lalu. Anda yang suka atau pernah nonton film Forest Gump pasti ngerti istilah bubba gump, bubba adalah teman Forest Gump yg terobsesi dengan udang heheheh.

Karena sudah malam bagi sofi (jam 10), maka kami memutuskan balik ke hotel untuk mandi dan lalu istirahat.

Masih berlanjut di posting berikutnya ya, soalnya keesokan harinya kita gak ngapa-ngapain di Bali, bingungkan?!